About Me

Foto saya
A beautiful girl in His eyes. A girl with a BIG dream, BIG vision, with BIG passions for her town. Interested in a lot of things. Talkative and longing to travel in many new places. Is thinking hard what she can do to her country.

Jumat, 05 Oktober 2012

Days in Geneva: God is All I Need ~ What is Grace to You?

Minggu-minggu ini gue lalui dengan penuh kesibukan kuliah. Tapi gue lumayan terkejut dengan minggu2 pertama. I was having a little hard time with it. I thought this is going to be easy for me. Sebagai anak yang sudah dicap sama temen2 sebagai mahasiswa teladan, murid pinter, rajin, dll, i thought everything is going to be easy. Dan sebagai bekas mahasiswa S-1 yang tergolong aktif di kampus, yang catetannya pernah beredar di seluruh kampus en dipake buat contekan selama UTS-UAS (hahahah "bangga" :p well, that's another story), gue pikir gue bisa menjalani semuanya dengan mudah. Well, perkiraan gue SALAH!!


Master is completely different with undergraduate degree. Ada 5 mata kuliah (makul) yang gue ambil - i finally dropped "Anthropologie et Developpement" class, due to languange barrier hahah - dan kuliah gue cuma hari Senin, Selasa, n Rabu; tapi, seperti yang gue tulis di post sebelumnya, bahan bacaan yang harus dibaca banyak sekali. So, hari kamis-minggu, selain dipake buat relax en jalan2 serta ke gereja, juga harus dipake buat belajar. Belum ditambah dengan kesibukan les bahasa Prancis (which is gratis, thankfully ^^), review session, kerja kelompok, dll. OH NO! Di Eropa, yang namanya mahasiswa umumnya tuh pada serius belajar. Ada siiih anak2 yang termasuk golongan yang suka party-party, tapi biasanya selama semester pelajaran udah mulai, yang namanya party itu jarang banget ada. Ntar kalo libur panjang 3 bulanan (3 bulan libur winter & 3 bulan libur summer), baru deh mulai keluar party2nya huehehe. Bahkan biasanya waktu libur itu dipake buat pulang kampung (kalo pas winter) ato buat kerja/magang, entah di dalam maupun luar negeri (summer).


Beberapa hari kemarin, gue curhat2an sama Kak Dinna, Bang Morris, Kezia, en Ci Oline lewat BBM. Juga ke Ci Shinta & Ci Nelly lewat skype. Gue cerita and sharing ke mereka bahwa tantangan belajar di luar negeri (LN) itu cukup besar.... Standar disini begitu tinggi. Students are expected to read before class starts. Jadi guys, buat yang baca ini en masih S-1, en yang pingin lanjutin sekolah di LN, biasakanlah membaca bahan sebelum kelas mulai mulai dari sekarang ya hehehe. Selama S-1 mungkin kita masih didulang/disuapin sama dosen.... Tapi ketika kita lanjut master, kita kudu ngerti topik yang dibicarain itu apa. Dosen memang bakal nerangin (gak tahu ya kalo di indo gimana, kayanya bakal lebih banyak research. Di Geneva, dosen2 disini bisa dibilang masih kayak ngajarin murid2 S-1 hehe), tapi mahasiswa sudah lebih dituntut untuk aktif berpartisipasi.


Tantangan lain yang kadan kala bisa cukup membuat kita stress adalah bahasa. Pada umumnya, bahasa Inggris orang Indonesia itu sangat bagus. Tapi tidak setiap hari kita bisa selalu ngomong pake bahasa Inggris. Dan gak setiap saat juga kita bisa mengerti isi mata kuliah 100% dengan bahasa Inggris, mau itu kuliah teknik kek, kedokteran kek, termasuk kuliah seperti jurusan gue di bidang sosial politik (i'm studying Master in Development Studies, btw). Sekalipun bahasa Inggris gue bisa dibilang termasuk di atas rata2, seringkali gue merasa kesulitan untuk mengungkapkan beberapa perasaan, maksud, ataupun istilah dalam bahasa Inggris, entah itu soal pelajaran atau kehidupan sehari-hari. Hal lain yang bisa dianggap sebagai double challenge buat gue adalah: gak ada mahasiswa dari Indo tahun ini yang diterima di fakultas gue! Di satu sisi, ini bisa menjadi kebanggaan tersendiri. Tapi di sisi lain, gue merasa kesepian, seperti yang gue alami baru-baru ini :(  Ga ada temen yang bisa diajak curhat sedalam-dalamnya, ataupun untuk mendiskusikan materi pelajaran (like what i said, gak semua isi pelajaran bisa kita mengerti 100% dalam bahasa inggris). Semuanya diungkapkan dalam bahasa inggris yang bukan bahasa ibu kita. Ada sih 2 orang kakak kelas yang dari Indonesia... tapi kan jarang banget ketemu. Lingkup pergaulannya udah beda. Hal ini sangat berbeda dengan orang2 Eropa atau Latin Amerika. Ada negara-negara yang menggunakan bahasa yang sama: misalnya, bahasa Jerman digunakan di negara Jerman, Austria, dan sebagian besar Swiss yang menggunakan bahasa Jerman. Kemudian bahasa Spanyol dipake di negara Spanyol dan Amerika Latin. Bahasa Prancis dipakai di Prancis, Madagaskar, negara2 Afrika Utara (Tunisia, Maroko, Aljazair); bahasa Arab yang dipake di negara2 Arab, dan lain-lain. Sedangkan bahasa Indonesia??? Hanya dipake di Indonesia doang!! Oke, and also Malaysia. But it's slightly different. And gak ada mahasiswa dari Malaysia juga di fakultas gue :(  Jadi, kalo temen2 gue bertemu dengan sesama teman lain yang berbicara bahasa yang sama, mereka bisa saling curhat, saling diskusi materi pelajaran, en ngobrol. Kadangkala gue merasa "being left out" juga dalam hal ini. I wish i could have someone here who speak the same native language.....


Tapi biar bagaimanapun, gue tahu gue gak sendiri. Tantangan bahasa bukan satu2nya yang dialami gue. Umumnya, tantangan ini bisa terasa lebih berat buat orang2 yang berasal dari Cina, Korea, Thailand, Jepang, or negara2 Asia yang mempunyai alfabet sendiri dan memiliki ucapan yang sama sekali berbeda dengan pengucapan bahasa inggris. Beberapa kali gue melihat teman2 gue yang dari Cina en Jepang kesulitan buat memahami materi pelajaran. Tapi setidaknya mereka punya teman yang berasal dari negara yang sama, so mereka bisa diskusiin materi itu bareng-bareng hehe. Secara grammar & pronounciation, i think orang Indonesia bisa belajar lebih baik. Tentu pendapat gue ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyamarata-kan semua kasus. Ini hanya sbg gambaran besar saja.


Dan yang menjadi tripple challenge: in the next semester, some lectures are going to be given in French. Ya ampun, bahasa Inggris aja masih ada beberapa hal yang gak ngerti, gimana pake bahasa Prancis booo.... makanya universitas memberikan kursus bahasa dengan harga murah selama 1-2 semester buat para mahasiswa yang non-French speakers. Thankfully, this is Geneva, satu2nya kota yang sangat multinasional & multikultural di dunia. So, bahasa Inggris masih dipake & menjadi lingua franca heheheh :p Jadi.... dari tulisan ini, mudah2an kalian mengerti sulitnya & tantangan yang dialami para mahasiswa whose native language is not English. Sebenernya, banyak juga loh orang bule yang gak lancar bahasa Inggrisnya. Jadi beneran deh jangan mikir, semua bule itu pasti bisa bahasa inggris. Belum tentu guys! Haha. Banyak kok orang bule yang ngambil kursus bahasa Inggris maupun Prancis disini. Cuma.... rata2 bagi mereka, belajar bahasa Inggris/Prancis itu lebih gampang secara grammar & oral. Kenapa? Karena umumnya bahasa2 di Eropa itu berasal dari rumpun yang sama, en memiliki tata bahasa yang sama pula. Ada rumus buat bentuk present, past, & future. Ada kata ganti orang & benda yang macam2. Beberapa memiliki gender, seperti feminin-maskulin dan netral. Kata-katanya juga kurang lebih sama, gak beda jauh. Misalnya, bahasa Inggris & Jerman, ataupun bahasa Inggris & Prancis (kalo gue punya waktu, ntar gue susun daftar kosakata yang mirip2 antarbahasa di Eropa wakakakak). Hal ini sungguh sangat berbeda dengan bahasa di Asia, yang secara pengucapan sudah sangat jauh berbeda; kadang kala punya aksara sendiri, en pada umumnya tidak mengenal gender, bentuk jamak, maupun bentuk present-past-future. Lihat aja bahasa Mandarin, Jepang, Thailand, Korea, termasuk bahasa Indonesia!

****

Oke, itu tantangan belajar di negeri orang ;) Lanjut ke topik semula. Gue curhat dengan temen2 di Indonesia, bahwa gue sangat membutuhkan bantuan kiriman rudal doa hahaha (like what i wrote in previous post, kebanyakan lingkungan & teman2 gue agnostic-atheist). Untuk pertama kalinya, melalui obrolan dg mereka, gue setidaknya mengerti satu hal kenapa Tuhan bawa gue ke Switzerland. Bukan sekadar untuk belajar dan dapet beasiswa. Yeee itu sih apa bedanya sama orang2 lain :p  Lewat percakapan dg Ci Nelly & Ci Shinta, gue tahu bahwa Swiss ini adalah PADANG GURUN gue!! Ya kayak Israel yang dibawa Tuhan ke padang gurun dulu sebelum masuk tanah terjanji gitu lah hehehe. Bayangin, Swiss, salah satu negara yang paling maju, paling damai, en paling makmur, bisa menjadi "padang gurun" bagi seseorang. Kalo di bukunya Ci Grace "Tuhan, Mengapa Aku Harus ke China?" Mungkin bisa sedikit dimaklumi kalo China yang komunis diibaratkan padang gurun. But Swiss!! Haha. Yah, proses tiap orang beda-beda.


Di Swiss, untuk pertama kali gue merasakan yang namanya kekeringan & kehausan rohani. Belum punya komunitas, belum merasa 100% nyambung dengan orang2 bahasa karena kendala bahasa, ga ada teman2 seiman (dari sekitar 170an mahasiswa, gue baru nemu SATU orang yang Kristen & lahir baru. BARU SATU guys!! En rasanya pas kenal dia itu seperti nemu harta karun kekekekek), ga ada keluarga rohani seperti yang gue miliki di Indonesia. Tapi, dari hal ini gue merasakan yg namanya kapasitas diperbesar, imannya di-stretching, dan hanya bergantung dg Tuhan seorang. Asupan spiritual gue sekarang tidak lagi bergantung dg yang namanya gereja, bapak ibu gembala, pendeta, ataupun komunitas rohani. Gak. Asupan rohani gue datengnya ya dari Tuhan doang: lewat saat teduh, Alkitab, doa, en praise & worship. Gue gak bilang ke gereja & berkomunitas itu kurang penting. Oh No. Dua-duanya sama-sama penting!!


Komunitas adalah orang2 yang membantu kita tetap berada on track: yang ngingetin kita kalo salah, yang menghibur & menguatkan kita. Tapi, ada masa2nya Tuhan akan deal dengan kita pribadi demi pribadi, cepat atau lambat. Di Swiss, gue jadi belajar untuk menghargai hal-hal yang kelihatan kecil dan sepele, termasuk dalam hal-hal rohani. Melalui obrolan dengan Mas Gideon Agus, suaminya Ci Nelly lewat skype, ada saatnya Tuhan bawa kita seperti ke tengah2 padang belantara. In the middle of nowhere. Gak ada siapa2 dimana kita bisa bergantung, selain sama Tuhan. Dan di Swiss ini, banyak sekali hal-hal yang Tuhan singkapkan, seperti gimana sih kalo gue ada masalah. Di Swiss inilah gue bisa ngliat fondasi iman gue yang sesungguhnya.

****

Nah, sekarang bicara tentang Grace atau kasih karunia. Baru aja hari ini (kemarin waktu Indonesia), Tuhan berikan pelajaran yang lebih mendalam tentang GRACE. Ini dimulai dari tugas kelompok makul "International Law & Development". Kelompok gue hari ini (kamis kemarin) presentasi, dengan topik International Court of Justice (ICJ) atau Mahkamah Internasional. Selama gue studi S-1 di Bandung, pada umumnya gue yang jadi leader dalam kelompok :p Unless ada orang yang betul2 mengerti topiknya en menjadi pemimpin, biasanya secara otomatis i'll take the position as the leader.


But this time, it was really different. Untuk pertama kalinya, gue merasa takut en sangat2 gak pede buat presentasi. Dibandingkan teman2 lain, gue yg paling gak siap. Bukan gak siap dalam arti sesungguhnya, hmmm gimana yah ngungkapinnya. Gue merasa yang paling bodo gitulah. Untuk pertama kalinya, gue disepet sama temen sekelompok sendiri, dikatain gak cukup belajar or berusaha :P  Tapi gue belajar. I really tried hard to understand the case so well. Gue spent time 5 jam buat mendalami kasus itu di depan laptop selama 2 hari. Sehari sebelum presentasi, gue merasa begitu takut & kawatir, sampe gue cerita en nangis sesenggukan ke temen gue. If I look back, i really can't believe that i cried before presentation, for the very first time ever!! Gue sungguh2 doa, gue berkali-kali bilang ke diri sendiri kalo Tuhan sudah ada di hari esok, jadi gue gak perlu merasa takut.


Pagi sebelum presentasi, gue minta kiriman doa dari Kak Dinna & teman2 training visi. Rudal doa langsung dikirimkan, wuuuusss hahaha. En Gue gak merasa begitu takut en kawatir lagi. Presentasinya itu cuma 10 menit (plus waktu untuk sesi tanya jawab), tapi semua bagian sudah diambil temen2 gue. Yang bicara cuma 1 orang doang, sedangkan 4 orang lainnya (tiap kelompok ada 5 orang) jadi panelis. Well, to cut it really short, selama presentasi, bisa dibilang gue sama sekali gak kontribusi apa2. Selama sesi tanya jawab, semuanya disamber temen gue. Gue ga jawab apa2....


Sehabis presentasi, gue jalan2 en duduk merenung di danau (univ gue deket sama danau Geneva juga wakakak. A perfect place to isolate yourself :p). Gue merenung en ngomong sama Tuhan.... kalo gue sedih, gue gak kontribusi apa2 selama presentasi. Hal ini sangat berbeda dg Indo. Di Indo, semua kelompok dapet bagian ngomong & juga jawab pertanyaan. Sifat sosial & kolektifnya lebih kuat. kalo dalam 1 kelompok ada anggota yang gak begitu ngerti soal topik yang dibahas, pasti didiskusiin bareng2, or orang yang berperan/bertindak sbg "pemimpin" pasti ngajarin. Tapi di kelompok gue, yang terjadi adalah: bagian elu ya bagian lu. Kalo ada yang gak ngerti en lu sampe buat kesalahan, ya itu tanggung jawab lu. Gue sampe ngrasa shock lah dengan how the system works. Teman2 pada bilang kalo presentasi kelompok gue sangat bagus. Bahkan dosennya pun ngomong gitu. Cuma gue ya gak merasa apa-apa karena gue gak berkontribusi apa-apa. Bobot presentasi ini 20%, en I am thankful kalo gue bisa dapet nilai bagus. But somehow i still feel that, kalo gue dapet nilai bagus itu ya karena usaha gue. Sedangkan kemarin ini.... I did nothing and suddenly i got a good mark?? Selama kuliah di Indo, setiap kali gue dapet nilai bagus, itu karena gue merasa sudah selayaknya gue dapet nilai bagus karena gue belajar & gue berusaha. And that's when the Holy Spirit said to me the meaning of grace.


Grace atau kasih karunia adalah sesuatu yang diberikan CUMA-CUMA, sama sekali gak bergantung dengan usaha kita. 

Kita mungkin sudah kenal/hafal betul arti kasih karunia soal keselamatan. Kita selamat, sama sekali tidak bergantung dengan usaha ataupun berapa perbuatan baik yang kita lakukan. Tapi seberapa dalamkah kita mengerti hal itu? If we live by grace, we shouldn't be live under the law (gue baca bukunya Joseph Prince yang berjudul "Destined to Reign", bagus banget deh). Sungguh menarik bahwa gue belajar arti kasih karunia secara lebih dalam lewat peristwia ini. Dalam konteks sebagai mahasiswa, gue gak bilang agar kita ga usah belajar en hanya ongkang2 kaki berharap nilai A jatuh dari langit. Nooo. We must do our part too. God knows that I studied hard to understand this case. Gue juga buat catetan2 di notes, sayangnya selama di sesi tanya jawab I didn't answer anything karena semuanya sudah disamber sama temen2 gue.


So, kasih karunia Tuhan cukup buat gue. Hari-hari ke depan, gue yakin akan ada banyak peristiwa dimana kasih karunianya akan lebih besar lagi, terutama saat sebenernya gue sangat tidak layak en tidak pantas untuk menerima karunia itu, tapi itu tetap diberikan ke gue.... ternyata belajar untuk menerima itu gak gampang juga yah.


Btw, waktu gue cerita soal ini ke my bestfriend (orang Filipina yang sejurusan sama gue), dia bilang, "Aaaah don't worry Louisa. Gue gak suka sama dia juga. Dia bukan pemimpin yang baik, yang gak kasih kesempatan anggotanya buat menjawab pertanyaan. Harusnya pemimpin yang baik tuh ya yang mau membantu en membimbing anggotanya, diskusiin materinya bareng2 kalo mereka gak ngerti... bukannya ninggalin mereka buat berjuang sendiri. Apa gunanya kerja kelompok kalo gitu??" I feel so so so relieved to hear the words!! Tanpa bermaksud membenarkan diri sendiri, gue jadi ingat kisah gue saat memimpin kelompok gue di Praktik Diplomasi (Prakdip). You can read the story HERE. Jadi pemimpin itu gak mudah. Menjadi pemimpin sama sekali bukan berarti kita meninggalkan anggota kita berjuang sendirian. Gue seneng banget karena kerja kelompok buat mata kuliah ini udah selesai. Fiuuuu! En di kerja kelompok mata kuliah yang lain, semua anggota gue baik-baik banget! Misalnya, di mata kuliah statistik, gue sekelompok dengan teman2 dari Colombia, Equador, en Peru. Coba tebak, kesamaan apa yang ada dari mereka? Yep, all of them speak Spanish. Only me who don't. But you know what, i never feel being left out in this group. Gue malah merasa sangat diterima. Dan hal yang sangat menyentuh gue, they often use English to speak with each other so that I can understand & follow the conversation also. Dan teman gue yang paling tahu soal rumus-rumus dalam software "Stata" (software buat ngerjain statistik), dia sama sekali gak bersikap bossy atau exclude yang lain. And I respect her so much!! Beda banget sama kelompok di makul hukum internasional, bahasa inggris mereka jauh lebih bagus loh.


Thank you guys buat semua doa2nya. This note is dedicated to you. Terima kasih for always been supporting, encouraging, comforting, strengthening :') Terutama, terima kasih banyak buat semua kiriman rudal doa-doanya!! Love you and miss you always in Geneva :)
Nonik.

5 komentar:

  1. iya ya..kadang kita udah pede di satu sisi. trus kalo udah diperhadapkan sama org yg lebih pinter dari aku..bisa ngebuat minder juga.. he2..
    makasi ya.. post mu bagus bgt... palagi ni aku mau ambil s2 juga..jadi rada2 ada gambaran gimana medan perangnya..

    BalasHapus
  2. halo nonik. when i pray to you. Lord please bless and guide nonik in geneva. give her succes there and importan things Tuhan bawa hati nonik menjangkau teman2nya yg 'jauh lebih parah' dari segi bahasa dan menangkap matakulia. buat nonik punya hati menolong mereka sama2 maju dlm kulia. sehingga nyata kemuliaan T.Yesus buat classmate nonik yg dri jepang,cina,iran dkk. God bless u. loves from manado. jane

    BalasHapus
  3. Nonik.....Big hug ya...smoga itu bs confort Nonik. aku emang gak pernah skolah di luar negeri, cuma suami ku sekolah di Jepang, dari ambil S1 dan jg S2, dia sempet byk cerita dulu..gmana stress nya berhadapan dgn bahasa Jepang yang bukan alfabet.Apalagi dia dari SMA langsung pergi ke Jepang, tanpa tahu bahasanya kayak apa, ( even di sana , jg dapet kursus untuk bahasa ) but he like to chalange him self, dan punya ke yakinan dia pasti bisa. Setelah berjuang mendapatkan beasiswa, pasti Tuhan juga yang akan bantu kita buat menyelesaikan smuanya. Nonik tetep semangat,mungkin kita gak menjadi leader lagi kayak dulu, so we can humble our self, dan bergantung pd Kasih Karunia tadi..Kerahkan kemampuan terbaik, dan even blom jd yang terbaik, at least you try, and even hasilnya average, next time will be much better. Semangat slalu ya..aku support Nonik dalam doa :)

    BalasHapus
  4. nonik *sok deket banget ya, langsung manggilnya gitu*, yang semangat ya. I experience what u feel. Dulu pas baru pindah ke sini, di skola bener2 ga ada Indo, dan smuanya ngomong pake cantonese (padahal di Canada). I felt left out, but somehow I passed through that moment. and by being alone, kehidupan rohaniku bertumbuh. Just be grateful kalo ga ada orang indo di sana, artinya nonik di kasih kesempatan buat latian ngomong dan memperlancar bahasa asing. Sama koq non, di sini bete juga ga ada temen curhat. but let see everything in its positive way. *ini lebih tua siapa, koq ya ngegurui* hihi. just sharing experience ya non. :)
    you are on my prayer, smangat kuliahnya! kita bisa koq kalo ada niat jalaninnya. GBU.

    BalasHapus
  5. Hai Nonik salam kenal :)
    Di Eropa memang beda ya sistemnya. Aku juga merasakan yg sama. Good luck untuk studinya. Kapan2 klo main ke Geneva semoga bisa berjumpa :)

    BalasHapus

hey guys, please leave your mark print here! it give me a boost to keep writing you know! ^^