About Me

Foto saya
A beautiful girl in His eyes. A girl with a BIG dream, BIG vision, with BIG passions for her town. Interested in a lot of things. Talkative and longing to travel in many new places. Is thinking hard what she can do to her country.

Jumat, 13 Juli 2012

Tangan-Nya Membentukku

warning: This is a looong post....

First of all, I want to say that even tough this is a Friday the 13th, but this is the Friday the 13th ever!! Selain karena ultah gue jatuh di hari ini (hahahah!), gue juga banyak sekali merasakan limpahan kasih sayang dari orang2 yg gue cintai. Dari papa, mama, dedek, en teman2… baik teman2 HI maupun teman2 gereja. I feel so awfully loved & blessed! Dede gue pasang status di bbnya, “Hepi birthday Nik Nok…. Best sister ever existed”. Aaaw melting deh gue…. Beberapa orang teman pasang status ultah gue di bbnya. Tapi yang sangat membuat gue terharu, en nge-boost gue buat bikin postingan ini adalah, saat ada beberapa dari mereka yang bilang that I am their inspiration. That I am their wonder woman (wanita hebat). Nah loh, siapa bilang Friday the 13th itu hari/tanggal sial? Hari yang malang? Bukankah semua hari itu baik? Tuhan menciptakan semua hari dan masa baik adanya :) Buat gue, Friday the 13th kali ini berasa special sekali…. Thank you sooo much guys!! :’D  Ga terasa waktu setahun sudah berlalu begitu cepat sejak gue nulis postingan ttg ultah gue yang ke-21…


Well, here is an update about what I’ve been throught this past 3 months. Buat kalian yang sudah menganggap gue teladan, inspirasi, wanita hebat, thank you so much…. But do know that I’m still learning, en yang menjadikan gue berhasil itu Tuhan di belakang gue. 



Now, some of you maybe are wondering, kenapa Nonik jarang nulis. Jawabannya: lagi males karena banyak masalah hauehaoehuehueaheuehaueo. Buset selama 3 bulan terakhir ini, gue merasakan betul tanganNya membentukku. Ada begitu banyak masalah.... yet in the midst of these problems, I strongly feel His presence.

Salah satunya adalah soal persiapan S2 untuk ke Swiss nanti. Gue banyak kali merasakan keraguan, perasaan marah, sebal, kecewa, dan stress. Kenapa? karena rasanya sudah mentok sana sini. I've done everything I can, tapi rasanya jawaban tidak datang2. Ada pintu2 yg belum terbuka. Gue merasa terjepit, dan sudah marah2 tak terhitung sama Tuhan. Ini beberapa di antaranya:

1. Visa yang belum kelar-kelar, padahal apply udah dari tanggal 24 April. Setiap minggu gue selalu follow up dan email ke Embassy, jawabannya itu-itu lagi, itu-itu lagi, "It is still pending for the authorization from the Migration Office in Geneva." Memang sih dari awal, pihak Embassy & Universitas sdh bilang, apply visa itu luamaaaa. Bisa 2-3 bulan (8-12 weeks, which is closer to the 12 weeks ;p). Tapi perasaan menunggu ini, apalagi dg hari yang terus bergulir, membuat gue semakin resah en gelisah *bahasanya puitis amat.... maklum lagi galau wkwkwkwk.*


2. Karena visa belum kelar, otomatis gue belum bisa booking a flight (soalnya rata2 harus bayar or ambil dari kartu kredit saat itu juga). And jujur aja, semakin lama booking, harganya bisa melambung makin tinggi. Bisa sih sebenarnya booking... tapi gimana yah, I just feel more secure if I have obtained my visa. Kemarin Minggu, ketika gue searching buat jadwal flight ke Geneva, gue bingung sekali antara klik tombol "purchase" atau tidak. Papa gue udah mengizinkan gue buat beli tiket itu.


But when I was about to click the button, I felt no peace. Kenapa? Karena gue tahu, motivasi gue untuk pesen tiket itu didasari atas rasa TIDAK AMAN. Rasa tidak percaya, bahwa Tuhan mampu menyediakan. Akhirnya gue putuskan untuk ga beli tiketnya sekarang. Itu alasan pertama. Alasan kedua adalah, gue sudah sungkan sekali meminta uang Papa. Gue ini pengangguran!! Kerjaan cuma jadi wirausaha coklat (ini ada pergumulannya, hebat juga, tapi kapan2 deh ceritanya hahaha) dan penghasilan sangat tidak seberapa. Papa gue sudah habis2an untuk pendidikan anak-anaknya, apalagi dd gue juga udah mulai kuliah di Bandung tahun ini di ITB (Praise God for that....^^). Jadi, walaupun my dad has given his approval for a ticket flight, it still takes a lot of money.


Alasan ketiga, harga tiket yang termurah waktu itu kurang menyenangkan jadwal penerbangannya. Jam terbang dari Jakarta itu pukul 17.40, which is no problem for me. Terus transit dulu di Dubai (woooow!!). Nah, tapi jam transitnya itu lama booow, sampai Dubai sekitar pukul 22.00 en lanjut terbang ke Geneva itu pukul 05.00 keesokan harinya @.@ Gue udah pikiran macem2, berarti gue harus nginep di bandara. Nah, itu butuh visa gak ya? Thanks to Mbak Dhieta yang udah kasih info, as long as you don't leave the airport, you don't need a visa.

Di satu sisi, gue khawatir luar biasa. Tapi somehow in deep, deep in my heart, I'm still hoping for a miracle. Gue percaya, Tuhan Yesus mampu sediakan tiket dengan caraNya yang ajaib. Yang ga usah memberatkan ortu pokoknya. Gue diingetin banget sama ayat yang sepertinya sudah dianggap remeh oleh orang2 Kristen, "MINTALAH, maka akan diberikan kepadamu; carlah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang MEMINTA, MENERIMA dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan..... Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang MEMINTA kepadaNya." (Mat 6:7,8, 11b).

Entah kenapa kata yang sangat merhema en mengena di hati gue itu kata MEMINTA. Ya udah, gue meminta sama Tuhan Yesus, "Tuhan.... Nonik sangat butuh tiket. Tiket yang tanggal keberangkatannya pas. Tiket yang harganya tidak memberatkan papa. Tiket yang jadwalnya juga enak" huahahahaha.


3. Persiapan baju winter. Again, this also needs MONEY!! It's all about the money money money.... Gue emang dapet full scholarship dari Univ tapi untuk visa, tiket dll gue harus bayar sendiri bow ahahaha. Waktu gue searching and survey baju winter di toko musim dingin Twig House (sebelahnya PVJ Bandung), aje gile kayanya bisa abis lebih dari 3 juta buat beli perlengkapan winter. Coat yang bagus, harganya itu 2 jutaan ke atas.... ada sih yang harganya sekitar 800 ribuan, tapi made in China en kok kayanya agak2 gimana gitu :p Biasanya yang bener2 hangat itu yang dari bulu angsa (but thanks God some people said that it's really unnecessary to buy a 'swan's-fur-made-coat', mantel biasa aja udah cukup). Pikiran ini makin berdenyut-denyut karena gue membutuhkan long john (daleman buat winter), ear muff or tutup kuping, sarung tangan, syal, boots..... en ga mungkin kan gue semuanya beli cuma sepasang doang wahahaha. Gue inget banget, satu hari setelah itu, gue nulis di kertas semua yang gue butuhkan en perkiraan biayanya, terus gue acungin kertas itu ke udara en doa, "Lord.... I need ALL OF THIS. You bring me into it, then You'll bring me THROUGH IT!! I KNOW You can finish all things for me. You are my provider. Jehovah Jireh! Amen.
  

4. Soal Housing. Ini persoalan yang ga kalah peliknya. Jelas kita harus punya atap untuk bernaung & berlindung di Geneva sono. Kita harus nyari kos2an dulu, bisa yang berupa kamar biasa, studio, or apartemen. Uang untuk tempat tinggal juga dicover beasiswa, tapi tempatnya gue kudu cari sendiri :D Pihak Univ 'hanya' membantu dengan memberikan link-link dan alamat email berbagai macam student housing yang bisa dihubungi. And you know what, I've emailed NO LESS THAN 40 DIFFERENT HOUSING, and I got 95% rejected because they are almost fully booked till the end of the year!! *0* Sebenarnya, Univ tempat gue juga lagi bangun asrama buat students, tapi mahalnya luar binasa. Ada 2 tipe, kamar biasa en studio (semacam apartemen). Yang kamar biasa cukup "murah", 650-740 CHF (asumsikan 1 CHF setara dengan Rp 10.200), tapi itu semua sudah fully booked. Yang ada tinggal studio, which is 940-1040 CHF. Wahahaha. Kos-kosan sebulan disana, kalo dikonversi ke rupiah, harganya udah Rp 10 juta lebih T____T Sedangkan kos gue di Bandung per tahunnya cuma Rp 5,7 juta :P


5. Pergaulan disono yang termasuk bebas. Gue takut kalo gue keseret en jadi ikut-ikutan yang ga bener. Misalnya, pacaran yang gerayangan. Buat orang barat, mungkin udah biasa kali ya kalo pacaran ada kissing-nya. Nah pikiran gue itu udah macem2. Misalnya gue ketemu cowok yang cuakep, pinter, finansial juga oke hahah. Tapi ga seiman. Terus somehow gue suka sama dia en dia juga sama gue. Terus ditembak deh, en pacaran. Terus gerayangan…. Yah gitu-gitu deh. Parah parah =.=” Pokoknya gue ga mau kaya gitoooo…. Or maybe dugem. Clubbing. Drinking. Aaaarrghh!


6. And hal-hal lainnya…. Seperti kayak mau kerja apa abis lulus S2 nanti???


***


Nah, sekarang seperti biasa, let us see the Almighty Hands who work behind all these….

Selama masa-masa ini (kira-kira 3 bulan terakhir), karakter gue yang jelek-jelek banyak sekali dikerat sama Tuhan Yesus. Impatience-ness. 
Anger. 
Anxiety. 
Bad talk. 
Lack of trust. 
Pride.


Terutama yang paling banyak gue rasain itu soal impatience-ness alias ketidak sabaran. Kenapa? Ya karena gue orangnya ga sabaran :p  Gue tipe orang yang kalo bisa kerjain sekarang, kenapa harus tunda besok? En gue paling sebel sama orang2 yg sukanya nunda2 pekerjaan or ngaret (tapi karena di Bandung udah terbiasa gini ya, so kalo janjian sama orang gue juga datengnya santai hahahah. Menyesuaikan kultur, istilahnya….). mungkin itu termasuk wajar. Semua orang juga ga kalo janjian dg orang yg ga pernah ditepati or bisa mundur sampe berhari-hari, apalagi batal. Tapi sifat ketidaksabaran gue itu juga termasuk: ga sabar ngantri en ga betah nunggu. Entah itu nunggu antrian di kasir, di jalanan, nunggu pesenan makanan datang, dll. Berhubung gue tipe orang yang suka mengerjakan segala sesuatunya dengan cepat, gue jadi ga betah dengan semua orang yang berlambat-lambat dan berlama-lama dalam mengerjakan sesuatu. Tapi sisi jeleknya, gue jadi terkesan selalu buru-buru, ga pernah tenang, sering khawatir, dan suka memburu-buru orang. and itu juga ga baik karena gue jadi ga pernah santai….. aaarrgh. 


Dan sifat ketidaksabaran ini ternyata merembet ke hal-hal yang lain: suka marah-marah (tapi gue bukan pemarah ya), sering khawatir, ngomong kasar, en ujung2nya jadi mempertanyakan Tuhan lagi, menodong Tuhan. Well, to sum it up, sifat ketidaksabaran gue dalam menunggu visa dan segala sesuatunya membuat susana dalam hati gue menjadi sangat tidak karuan. Gue ga mood nulis dalam 3 bulan terakhir ini. I can’t sit and pray. I can’t hear God. Pernah gue mencoba buat berpuasa, dengan tujuan untuk belajar duduk tenang en berdiam diri. Alamak, ternyata saat puasa, sifat-sifat jelek gue pada keluar semua. Mereka pada bermunculan dengan deras. Ada satu sifat tambahan lagi which I can share with you, that is gluttony alias tidak bisa mengendalikan nafsu makan. I'll write this struggle in another post. 


So, hingga beberapa waktu kemaren, gue sempat merasakan kekecewaan yang sangat mendalam sama God. Gue juga marah-marah. I asked Him so many times, countless times. I doubted Him also. Gue marah-marah, tanya ke Tuhan apa benar ini pintu en jalan yang Dia mau buat gue pergi ke Swiss? Gue bersyukur gue diberi kesempatan pergi kesana, tapi kok sekarang ini jalannya kerasa ketutup semua? Visa yang lamaaaa banget keluarnya (waktu itu), tiket pesawat yang mahal, baju2 winter juga mahal, cari housing yang susah, dan lain-lain. Intinya, gue khawatir soal uang. Udah ga enak lagi minta-minta sama papa, even tough he’s my financial support & provider. Gue pengangguran boow!! Gue ga ngapa2in selain duduk manis di kos, belajar bahasa, en main sama teman-teman. Gue sedih karena itu semua kegiatan yang tidak menghasilkan uang, tapi menghabiskannya. Gue tanya ke God, “Tuhaaan…. Apa benar ini yang Engkau mau? Apa benar ini jalan Nonik buat S2 ke Swiss? Kalo iya, kok rasanya Nonik kekurangan? Nonik butuh uang banyak sekali buat beli ini, beli itu Tuhan! Kenapa Engkau ga kunjung menyediakan?” Yah, begitulah :p Gue menginginkan penyediaan Tuhan yang ajaib, kalo perlu papa ga usah keluar uang sepeserpun! Waktu itu, gue rasanya begitu terjepit. Begitu terdesak. Sampai-sampai gue ga percaya lagi dengan penyediaanNya. Terpikir di benak gue untuk kembali kerja. Bukankah banyak perusahaan yang menawari gue kerja? En mereka bukan perusahaan yang ecek-ecek. Mereka perusahaan yang punya nama. Pabrik supplier-nya Nike, PT Ultra Jaya, PT Sampoerna, dan masih ada berbagai perusahaan sekuritas lainnya. Gue mikir, jangan-jangan Tuhan salah pilihin jalan. Jangan-jangan Tuhan bercanda…. What a stupid thought! Hahaha :p


Pernahkah kalian merasakan itu guys? Semua jalan tertutup, kalian terjepit. Kalo udah gitu, godaan buat lari dari Tuhan besar banget bukan? Well.. I’ve been through it! Sampe akhirnya Tuhan bawa gue flashback lagi pergumulan gue 4 bulan yang lalu, how He has opened the doors, how He remembered every single detail of my dream, how my parents gave me their blessing and how they still totally support me to go until this time, etc.

Di saat itulah, kisah tentang Saul yang mendahului Nabi Samuel mempersembahkan korban sangat mengena di hati gue. 

“Ia (Saul) menunggu tujuh hari lamanya samapi waktu yang ditentukan Samuel. Tetapi ketika Samuel tidak datang ke Gilgal, mulailah rakyat itu berserak-serak meninggalkan dia…. aku melihat rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku, dan engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah berkumpul di Mikmas, maka pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal, padahal aku belum memohonkan belas kasihan Tuhan; sebab itu aku memberanikan diri mempersembahkan korban bakaran.” (1 Sam 13: 8, 11-12).


Wauw. Cobalah untuk membayangkan apa yang dialami Saul waktu itu. bukankah ia dalam keadaan yang terjepit? Yes he was. Tetapi, karena Saul gak sabaran…. Saul lancang mempersembahkan korban yang seharusnya hanya boleh dilakukan Samuel sebagai seorang imam dan nabi. Dan apa akibatnya? Kerajaannya dicabut darinya!! Tuhan tidak lagi berkenan kepada Saul. 


“Kata Samuel kepada Saul: perbuatanmu itu BODOH. Engkau tidak mengikuti perintah Tuhan, Allahmu, yang diperintahkanNya kepadamu; sebab sediaNya Tuhan mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap…”( 1 sam 13: 13-14). 


Mengerikan. Gue ga tau apa yang ada di benak Saul dan apa yang dilakukannya pada waktu itu. Mungkin dia menyesal habis-habisan. Mungkin dia menangis meraung-raung. Aaah, andai saja aku bersabar, sedikit lagi saja!! Sedikit lagi saja…. Dan gue juga diingatkan, bahwa tokoh-tokoh di Alkitab, yang karena ketidaksabarannya, ternyata berakhir jauh lebih buruk daripada jika mereka menanti-nantikan Allah. Karena ketidaksabarannya…. Sara membujuk Abraham untuk menikahi Hagar. Esau dengan mudahnya menukarkan hak kesulungannya dengan Yakub. Musa membunuh dua orang Mesir. Dll. Tuhan ingin kita sabar, karena sabar adalah buah Roh (Galatia 5:22). 


Setelah Roh Kudus ingetin lagi kisah di atas, gue jadi lebih tenang. Emang ga mudah, gue juga ga langsung tenang. Butuh proses. Hati en daging gue ini masih meronta sekeras-kerasnya. Sumpah serapah gue keluar lagi dari mulut. Gitu-gitu deh. Dan lagian, gue bisa apa? Tidak ada apa-apa yang gue lakukan kecuali menunggu. Mau tanya Embassy soal visa pun, mereka juga ga punya wewenang buat keluarin visa tanpa disetujui pihak imigrasi Swiss. Paling jawabannya gitu-gitu lagi. Gue udah capek cari housing tanpa hasil karena emang semuanya pada penuh. Soal tiket en perlengkapan winter, gue udah pasrah hahaa. Kemarin-kemarin, gue berontak hebat. Tapi gue memutuskan to let God mold me and shape me, meskipun itu rasanya sakit. Karena lebih baik gue dikerat buat jadi lebih baik pas TY dateng lagi nanti, daripada didiemin tapi karakter yang busuk-busuk masih bersembunyi di dalem! 


*****



Tanggal 9 Juli 2012 yang lalu, hari Senin, akhirnya visa gue keluar. Ga tergambarkan betapa senangnya perasaan gue waktu itu…. I am so, so, so happy!! Well, sebenernya, I actually did do something. Gue minta bantuan univ di Geneva buat nge-push kantor imigrasi sono buat kasih approval buat issue-in visa gue hahaha. Soalnya pihak Kedutaan juga suruh gue berbuat itu. Tapi tentu saja, hasil akhirnya ada di tangan mereka. Habis ngemail, ya gue Cuma bisa duduk manis en menunggu lagi. Makanya gue seneng banget pas visa udah keluar. Yeaaay ^^ ternyata memang benar bahwa pihak kampus mempunyai “power” dalam menghubungi kantor imigrasi to issue the visa. Capee deh…



Sekarang, gue sudah jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari kemarin. Pas curhatan sama Mbak Dhieta, dia bilang, “Kamu terlalu banyak memberi makan kekhawatiranmu Nik. Jangan beri makan rasa khawatirmu. Beri makan imanmu!” and she’s right. Yah iman gue ga akan bisa tumbuh kalo gue hanya fokus sama semua masalah ini. Pastor gue juga bilang, iman dan kekhawatiran itu berbanding terbalik. Keduanya ga bisa jalan bersamaan. Semakin tinggi imanmu, harusnya tingkat kekhawatiranmu juga mengecil. Kita ga bisa bilang, kita punya iman gede, tapi pada saat yang bersamaan kita juga khawatir akan banyak hal.



Selama masa-masa ini, gue belajar lebih dalam lagi sifat Tuhan. Yaitu bahwa Dia setia. Dia menyertai gue. Jalan keluar ga langsung blaaammm dibuka semua tapi Dia tuntun gue selangkah demi selangkah. Misalnya, ada grup khusus buat calon-calon mahasiswa yang mau studi di univ yang sama (namanya IHEID) angkatan 2012-2014. Dari grup itu, gue dapet banyak sekali kenalan temen2 dari mancanegara. Mulai dari Singapore sampai ke Romania dan Slovakia ada. Dan di grup itu, we shared a lot of things. Mulai soal urusan visa, golek housing, cara bikin bank account, beli kartu telepon, dll. Dari situ gue banyak terbantu dari info-info yang didapat. Ada satu temen dari India, ini sudah lebih dari 3 bulan en visanya belum keluar :( Oh how I know how it feels…! Malah ada cerita kakak kelas dari Turki yang proses visanya itu sampe 4 bulan!! Ternyata bukan gue aja yang mengalami semua keribetan tetek bengek persiapan S2. Ketidaksabaran gue-lah yang membuat semuanya tampak begitu kacau and seems without no way out =.=’  tapi ada juga orang-orang yang untuk masuk Swiss ga butuh visa. Biasanya sesama negara EU, juga negara-negara seperti Jepang en Singapore itu ga perlu pake visa. Enaknyo…. 



Ada cerita yang meneguhkan iman gue, kalo Tuhan itu emang Maha Tahu. Suatu malem gue bbman sama Om yang ada di Jakarta. Tiba-tiba obrolan mengalir ke arah baju winter. Ya gue ceritain aja apa yang jadi gue pikiran gue, tanpa minta dibeliin or apa. Eeeh tiba-tiba Om gue tanya…. “Nik, nomor rekeningmu berapa?” Wah pikiran gue udah nylonong kalo si Om pasti bakalan transfer duit heueheaheueaheueo. Gue seneng sih, tapi gue ga enak juga. Soalnya udah dididik sama papah, sebisa mungkin jangan ngrepotin orang lain. Gue ga jawab lamaaaa, si Om ndesak-ndesak minta sebutin nomor rekening gue. Gue ceritain lah soal ini ke papah, tanya baiknya gimana. Bokap Cuma ketawa en bilang, “Ya udah, beritahu aja.” Eeeeh besoknya gue ditransfer sejumlah uang yang cukup buat beli mantel dari bulu angsa dong. Bulu angsa booow!! ‘0’  Tante en Om gue sampe bilang, “Kamu harus beli yang dari bulu angsa ya, biar anget. Beli yang paling bagus sekalian. Ga usah yang murah-murah tapi malah jelek.”  Gue speechless banget en cuma bisa sujud syukur. Wow God!



Untuk housing, so far gue dapet studio en bakal share sama cewek lain dari Singapore. Tebak namanya siapa? Yup, namanya Louisa juga!! Hahaha ^o^ Studio ini milik siswa IHEID yang ikut program exchange ke USA sampe Desember. So studionya kosong, sedangkan dia masih harus terus bayar sewa. Jadi ya disewain deh. Emang hampir semua tempat disini pake sistem sewa kaya gitu. Kalo ada mahasiswa yang pulang kampung ke negerinya pas liburan misalnya, housing-nya disewain ke orang lain yang membutuhkan, meskipun itu hanya untuk 1-2 bulan. Biasanya mahasiswa yang mau magang di badan-badan PBB or NGO-NGO pada butuh kos-kosan sementara kaya gitu hehe. Caranya, ya pasang di iklan or facebook. Mereka yang tertarik, kirim message ke orangnya. Thanks God I got a place to stay… meskipun Cuma sampe Desember, tapi gue mau percaya, ntar Tuhan bakal sediain gue rumah buat tinggal. Amen!! Capek deh khawatiran terus haha.



Somehow, gue bertanya-tanya, apa maksud Tuhan di balik masa penantian & berdiam diri ini. Apalagi kalo gue melihat orang-orang seperti Regina dan Sean yang telah berhasil mencapai mimpi mereka di Indonesian Idol. Rasanya begitu mengingini sekali. I said to God, “Tuhan, mereka sudah bergerak sekian langkah. Mereka sudah mewujudkan mimpi mereka. Tapi kok Nonik masih begini-begini saja…. Nonik bosen nganggur nih God. Nonik pingin bergerak, pingin sibuk lagi.” This is another character which God deals with. Sampai akhirnya perkataan Febe menyadarkan gue: “Well Nik, mungkin ini belum waktunya Tuhan. Regina itu siapa setahun yang lalu? 6 bulan yang lalu? Sebulan yang lalu? Ia bukan siapa-siapa! Tapi bertahun-tahun yang lalu, mungkin Regina juga mengalami apa yang kamu rasakan. Ia berjuang, ia menanti. Ia mengeluh dan asking God why…. Nah, mungkin kamu lagi di masa ini. Kita gak tahu kan, 5 or 6 tahun ke depan Tuhan akan ngangkat kamu seperti apa, yang sesuai di bidangmu.” 



Kemudian gue ceritain lagi semua kekhawatiran gue ke Febe soal pergaulan disana dll. And she said, “Nah, kamu kan gamau terjebak pergaulan yang salah. Makanya kamu harus tertanam kuat di dalam Tuhan.  Kalo akarmu kuat di dalam Dia, ya seberapa kencang angin bertiup, kamu ga akan tumbang or roboh…. Kayanya Tuhan pingin deh Nik, masa-masa diem seperti ini kamu habiskan buat tertanam di dalam Dia.” I was so strucked with what she said and my jaw was dropped. 



Terus gue tanya, “Pas di Korea dulu, lu ngalamin kekeringan rohani gak Feb?” “Iya lah!” Febe jawab. “Aku ga tenang pas sate. Mana bisa tenang, karena tiap hari diburu-bru sama kerjaan kampus. Aku bersyukur banget kalo bisa terus dijagai sampe sekarang. Makanya mumpung masih ada waktu Nik, kamu pake deh waktu ini buat fokus ke Dia. Only look upon Him. And bukannya fokus ke kekhawatiranmu itu.”



Thank you Febe!!! So glad that we met last Sunday :p 



Yes, gue ogah khawatir lagi. Akhir-akhir ini gue lagi baca bukunya Magdalene Kawotjo yang judulnya “Not Without Temptation” and “True Colors”. Di situ dia cerita gimana pertolongan en penyediaan Tuhan selalu ada en ajaib, sekalipun dia juga mengalami banyak sekali masa-masa terjepit. Dari situ gue dikuatin lagi. 



Penguatan yang terakhir gue terima, en yang gue pake sebagai penutup posting ini, datengnya dari cici kelas gue yang studi di Beijing selama setaon. As usual, persiapan buat studi ke LN itu emang ribetnya seabrek-abrek. Tapi, cici kelas gue itu selama setaon di Beijing selalu merasakan penyertaan Tuhan yang ajaib. Dia ngalamin kering rohani juga,tapi tetep stick close to God. Tetep ke Gereja, sekalipun gereja disono kagak memberikan asupan rohani yang cukup. Malah gaya hidupnya menjadi berkat en kesaksian buat orang-orang disana. And she told me the verse from Matthew 6:34.



“Karena itu janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” 

****



Well, that’s it. Cerita ini belum selesai. Gue menantikan apa yang akan diajarkan-Nya kepada gue di Swiss nanti. Surely there will be a lot of stories to tell…. :)



7 komentar:

  1. AWWWWW HAPPY BIRTHDAY NONIIIIIKK..
    Ultah di FB di hide jadi nggak tauu dehh ~,~
    gileeeee Tuhan kita sihh emang super qren yaaa nik, bener2 awesome lohhhhh.. Kisah tentang keajaiban Tuhan ini harus lu ingaad2 terus nik, nanti di Geneva pasti ada momen2 dimana lu mulai meragukan pertolongan Tuhan lagi. enn saat2 seperti itu ingeeed hal ini. enn bilang dengan iman, "Kalau dulu Tuhan tolong, hari ini juga Tuhan pasti tolong!" Wohoooooo..

    http://kezioong.blogspot.com/2012/07/testimony.html
    gue hari ini juga baru nulis tentang testimony.hahahahaa. cerita lu ini pasti bakal memberkati banyak orang nik! :D
    God bless youuu =)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyah thank you ya Kes.... gue tahu kayanya di Swiss nanti pembentukannya bakal lebih heboh lagi hohoho ^^ En gue mo nulis buku "Tuhan Kenapa Aku Harus ke Swiss" kaya yang Ci Grace tulis wkwkwkwk :P

      btw ultahnya gue hide, soalnya ntar rame lah wall-nya diposting sama orang2 hahahaha *Ge-er*. Lagian, gue jg mau "ngetest" siapa sih yang bener2 inget sama ultah gue en siapa yang enggak. En ternyata ngefek banget bow. Tahun lalu, ada 100 lebih orang yg ngewall gue. sedangkan di ultah sekarang, yang ngucapin di wall fb itu ga sampe 20 :P Wahahaahaha. (Tapi kalo keluarga en temen2 deket ya ngucapin lewat bbm, telpon or sms gitu).

      Hapus
  2. Happy B'day Nonik!!!

    Panjang yaaa sekalinya posting...Hahhaha.. Tapi sangat memberkati. Kebayang rasanya diburu-buru..pengen cepet-cepet ini itu...Rasa ga sabar dan pengen cepet beres.

    Pengalaman ini jadi hadiah paling berharga dong ya, Nik. Kapan berangkat, jeung?? Hehehhehe.... Dirimu membuatku iri. Swis itu satu2nya negara luar yang pengen saya kunjungi... T.T. sudah 2 orang yang bikin iri.

    Chayooo ya, Nik. Bagus banyak-banyak jujur sama Tuhan (walaupun kesannya ngeyel), biar belajar ngeliat siapa aslinya kita.. jadinya ngerti juga kalau semua yang kita terima cuma karena kasih karunia *curcol.. Hehehhehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. thank you Kak Lasma!! ^^

      Wow, siapa sajakah 2 orang tersebut?? hehehe. Jangan khawatir Kak, ntar pasti ada waktunya kakak ke swiss. ntar bilang2 aku dulu yah biar bisa aku ajak puter2 :D

      aku rencana berangkat tgl 25 Agustus Kak, mudah2an si udah fix en ga ada perubahan waktu lagi ya hehe. ntar bakal ada cerita2 seru lagi selama di Swiss :p

      Hapus
  3. Nik...soal sifatmu yang ga sabaran itu ya harus dilatih terus. Apalagi kalo ntar dah tinggal di negri orang yg jauh lebih disiplin dari orang kita sendiri. Menurut pengalaman mami, sering kali kesabaran kita diuji waktu harus ngantri. Ya ngantri mau pipis di toilet umum, ya ngantri di counter imigrasi, ya ngantri mau check-in di bandara, ya nunggu kalo pesawatnya delay, atau bahkan ngantri bayar barang2 'sale' di sono.... Siap-siap aja ya! Kamu pasti bisa!!.....:))

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini Mami to? btw kalo mo post comment, di bagian profil pilih aja yang "guest" terus tulis namanya Mi hehe. kadang suka bingung kalo anonim :p

      Thank you Mi for commenting on my blog hahaha. sekarang sering baca blogku ya? :p

      iya Mi kayane di Swiss aku bakal lebih digembleng lagi sama Tuhan buat jadi orang sabar..... hahaha.

      Hapus
  4. Halo mbak Nonik, salam kenal, nama saya Ika Afifah. maaf ya mbak, tiba-tiba saya nyelonong aja ikutan komen di sini. abis ga tau lagi gimana mau ngehubungin mbak.
    Jadi gini mbak, hehe, saya masih belajar di jurusan antro di jogja, udah mau selesai gitu. Nah, saya kepengen bisa dapat beasiswa untuk belajar lagi di luar negeri. saya tertarik banget buat belajar di Graduate Institute Geneva mbak. saya udah googling kemana2 tentang hidup di geneva, trus kebetulan sampe deh di blog mbak ini. Mbak kampusnya di Graduate Institute kan ya? kebetulan lagi itu mbak (semoga bukan cuma kebetulan, hehe)..
    saya berharap mbak berkenan untuk sharing info dengan saya, boleh ya mbak? hehe, saya mohon maaf mbak, kalo belum apa2 udah sksd gini.. saya mohon bantuan mbak.. makasih banyak..

    BalasHapus

hey guys, please leave your mark print here! it give me a boost to keep writing you know! ^^