About Me

Foto saya
A beautiful girl in His eyes. A girl with a BIG dream, BIG vision, with BIG passions for her town. Interested in a lot of things. Talkative and longing to travel in many new places. Is thinking hard what she can do to her country.

Rabu, 25 Juli 2012

Entering the Promising Land

I have a confession to make. 

Selama persiapan ke Swiss, attitude gue lebih banyak jeleknya daripada bagusnya T____T Gue lebih sering complain, marah-marah, asking God, doubting God, demanding Him, confront Him, etc etc. Gue kurang bersyukur, lebih banyak dihantui rasa takut, dan lain-lain. Fokus gue selama ini teralihkan, dari yang seharusnya fokus ke God en malah jadi fokus ke berbagai hambatan yang menghadang gue. Rasanya sudah jenuh, penat, lelah berkutat dengan semua ini. Gue banyak sekali mempertanyakan janji Tuhan soal kepergian S2 ini. Padahal benar-benar apa yang gue dapet ini tidak semua orang bisa mendapatkannya. Sampe akhirnya, gue benar-benar ditegur dengan perkataan Mbak Dhieta yang bilang, "Kelakuanmu ini seperti orang yang gak mengenal Allahmu saja", en tulisan Mbak Mega yang bilang "Kalo selama ini kita gak percaya padaNya, mungkin karena kita gak mengenalNya dengan baik.
 Ada banyak hal yang berbeda sewaktu kita percaya dan sungguh-sungguh mengenal Tuhan"
di post yang judulnya Apa yang Terjadi kalau Kita Percaya.

Berikut ini adalah suatu peristiwa kecil yang sebenarnya cukup konyol kalo gue ingat-ingat lagi:

Di facebook, ada salah satu grup yang isinya itu calon-calon mahasiswa master dan Ph.D yang mau studi di Geneva. Nama grupnya IHEID 2012-2014. IHEID itu nama sekolahnya, singkatan dari Institute des Hautes International et du Developpement. 2012-2014 menunjukkan angkatan para mahasiswa yang diterima masuk. Di grup itu, semua orang saling “berkenalan” dari negaranya masing2 sebelum ketemu muka demi muka di Geneva huehehe. Bener-bener jaman teknologi dah…. Berbagai hal di-posting di situ: curhatan orang-orang soal visa yang lama gak kelar-kelar (ada yang lebih dari 4 bulan masih belon dapet visa ‘0’), cara housing yang susah buanget, nama berbagai mata kuliah, prospek kerjaan ke depan, kapan sampe ke Geneva, berangkat naik pesawat apa, dll. Macem-macem pokoknya. Di situ gue kenalan dengan berbagai orang dari banyak negara, mulai dari Singapore sampe Rusia en Rumania. Tiap hari hampir selalu ada postingan baru, mulai dari orang yang “teriak-teriak” kesenengan karena visanya udah keluar, posting dari anak baru, yang masih pusing cari housing, dll. Gue bahkan udah video call pake Skype dengan 3 orang dari antara mereka.

Mulanya, acara chatting ini berlangsung dengan seru.  Sampe suatu hari gue ngeliat postingan yang tiba-tiba membuat gue takut, ciut, en lagi-lagi… kawatir. Postingan itu adalah adanya event suatu konferensi para pemuda internasional atau One Youth Conference Worldwide atau apa gitu, agak-agak lupa namanya. Beberapa orang dari teman-teman di grup sudah tergabung dengan acara itu, yang tahun ini diadain di Pittsburgh, AS bulan Oktober nanti. Ada salah satu temen gue dari Jepang yang jadi semacam panitia, en dia promosi acara ini sekaligus buat narik peserta di acara yang sama tahun depan, yang bakal diadain di…. AFRIKA SELATAN boooow!! Gue menganga pas baca en tertarik banget. Itu konferensi benar-benar acara yang bergengsi banget, tahun lalu aja dihadiri mantan Presiden Bill Clinton, Uskup Agung Desmond Tutu, en beberapa tokoh terkenal lainnya (gue ga apal siapa aja hahaha).

Nah di saat itulah gue merasa keder en minder. Tiba-tiba gue merasa bodoh sekali berada di kumpulan di antara mereka. I felt so stupid, really really stupid. Gue merasa dikelilingi oleh raksasa-raksasa akademik! Omongan mereka benar-benar sangat intelektual. Mereka itu kaya-kaya en sudah bepergian ke banyak negara. Rasanya bukan hambatan besar bagi mereka untuk ikut event-event besar tahunan kaya gini.

Rasa minder en takut itu lumayan menekan, en malamnya gue berdoa. Gue ungkapin semua yang gue rasain ke God. Waktu dengerin lagunya True Worshippers yang judulnya Sukacita Surga, ada lirik yang mengena banget di hati gue: “Ku dibri kuasa, dari Raja Mulia…. Menaklukkan musuh, di bawah kakiku….”  Kata-kata menaklukkan musuh itulah yang nancep banget. Selama ini, kita menyanyikan lagu tersebut dengan sorak-sorai en nuansa kemenangan. Tapi, pernahkah terpikir oleh kita, bahwa siapa tahu, mungkin, lirik lagu tersebut tercipta setelah kemenangan yang besar setelah mengalahkan musuh? Pernahkah kita menghadapi musuh-musuh kita? Tagihan-tagihan keuangan, kebutuhan hidup yang mendesak, penyakit, orang-orang yang benci or sirik sama kita, or mungkin musuh yang berupa rasa takut en kekhawatiran akan hari esok?? Dalam kasus gue waktu itu, musuhnya adalah raksasa-raksasa akademik yang tampaknya syerem banget hehe. Balik lagi ke topik, malem itu gue dapet rhema. Gimana gue mau merasakan kemenangan, kalo gue ga pernah bertempur? Kalo gue ga pernah punya “musuh” ato rintangan yang harus ditaklukkan, dikalahkan? Nyanyian tersebut akan berbeda jika dinyanyikan oleh orang yang pernah merasakan bertempur dan menang, dengan orang yang sekadar nyanyi aja.

Sehabis itu, gue pun jadi tenang hehe. Emang fokus kita tuh kudu ke TY doank, coz He is the Author and Perfector of our faith. Kalo fokus ke rintangan yang dihadapi, ya pasti bakalan stress.


Ketika gue curhat soal ini sama Ci Grace en Bang Morris, perkataan mereka itu benar-benar menenangkan gue. Ci Grace tanya balik ke gue, “Kenapa kok kamu takut? Coba tanya ke dirimu sendiri.” En gue merenung-renung, bertanya-tanya kenapa gue bisa takut. I must be honest with myself. Gue takut, karena gue tidak mau tersingkirkan en dianggep bodoh. Dengan kata lain, selama bertahun-tahun gue sangat menikmati posisi dan predikat sebagai anak pintar. Anak yang cerdas dan selalu dapat nilai bagus, yang disayang en jadi favorit guru-guru. Dan begitu tau bahwa teman-teman gue di Swiss nanti pinter-pinter, gue takut tergeser. Gue jadi minder haha. Minder adalah bentuk lain dari sombong yang sama aja negatifnya. This is very very ridiculous, I know!! Of course lah yaw anak yang masuk institut nanti pasti pinter-pinter…. Masak bodo-bodo? Lah kalo bodo-bodo or ga lebih pinter, apa gunanya gue sekolah jauh-jauh ke luar negeri? Kenapa gak sekolah aja di Indonesia? En Ci Grace said, “Apakah menurutmu temen-temenmu sekarang ga merasa minder sama kamu yang dapet kesempatan buat belajar di luar negeri? Menurutmu gimana perasaan mereka nanti saat kamu udah balik ke Indonesia, en ceritain semua pengalaman yang kamu dapet?”


Gue terdiam manggut-manggut…. She’s right. Bukankah ini seharusnya menjadi kesempatan buat berjalan lebih lagi bersama Dia? Gue bener-bener harus menghilangkan perasaan minder ini nih. Sombong itu sangat ga baik. Tapi minder juga sama aja gak baiknya. Seharusnya gue bersyukur sama Tuhan udah boleh di-stretching lagi kapasitasnya. Bang Morris bilang, ga semua orang mendapatkan kesempatan atau “privilege” seperti ini. Banyak orang yang mencarinya, but I’m the one who get it, bisa berada dengan sekumpulan orang-orang yang pintar dari mancanegara, yang tentunya akan mengasahku menjadi lebih tajam lagi dan lagi.


Ada satu perkataannya yang cukup menggetarkan gue *emang geledek? Hahaaha :p*.  “Dek, yang penting adalah Siapa yang di belakang kita bukan?” Gue diem lagi. Bener juga. Kalo gue ragu, takut, kawatir, keder, minder dll, secara ga langsung itu juga sama dengan meragukan kemampuan Tuhan yang sudah membawa gue ke langkah ini. 


Teman-teman yang luar biasa en ‘mengerikan’ pintarnya ini memang menjadi tantangan tersendiri buat gue. Rasanya seolah-olah gue menghadapi “my giants” sendiri. Raksasa-raksasa akademis yang hebat. Tapi di balik pertempuran yang hebat dan besar ini, akan ada kemenangan yang dahsyat pula di baliknya. Gue membayangkan Daud bertempur melawan Goliath. Mungkin di masa-masa mendatang, gue akan sering merasa kecil seperti Daud menghadapi “raksasa-raksasa” en hambatan yang besar, sebesar Goliath. Tapi kalo Daud berani menghadapi Goliath, gue juga berani. Kalo Daud bisa mengalahkan Goliath, gue juga bisa. En Daud bisa dan berani karena dia tahu ada Allah Maha Perkasa yang menyertainya, Allah di atas segala Allah. Daud sangat percaya bahwa Tuhan yang akan memberinya kemenangan. En gue juga harusnya tahu en percaya itu. Pokoknya kalo gue berhasil, itu semua karena campur tangan Dia :D

Kemudian, gue diingatkan lagi dengan kotbah di gereja bulan Maret yang lalu. Kotbahnya tentang kisah bangsa Israel yang hendak memasuki tanah terjanji. Ada rhema mendalam disini yang dibagikan: Ketika Tuhan menjanjikan tanah terjanji kepada mereka, suatu tanah yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ada bagian yang harus mereka lakukan, yaitu:

1. Memasuki dan menduduki tanah tersebut
2. Mau "memerah susu dan mengambil madu"nya, dalam artian harus mau mengambil risiko/ willing to take the risk

Bangsa Israel tidak akan pernah memasuki tanah tersebut bila mereka hanya berdiam diri saja. Pastor gue mengilustrasikan, "mereka pasti pernah merasakan yang namanya 'ditendang sapi' atau 'disengat lebah'". You got what I mean, right? :p 

Sikap pengecut dan memilih untuk fokus pada musuh yang menghadang, bukan kepada Allah yang memampukan mereka pun dialami oleh bangsa ini. Dan Allah benar-benar serius saat berurusan dengan sikap pengecut dan ketidak percayaan mereka. Dari 10 pengintai, hanya 2 yang membawa laporan positif, selebihnya negatif semua.  Dan hanya generasi kedua mereka (alias anak-anak mereka) yang diperbolehkan masuk ke padang gurun. Mereka semua yang bersungut-sungut, ga boleh masuk. Titik. Ga ada tawar-menawar.

Wadow. Kalo gue jadi Musa yang dilapori hal seperti itu.... gue bakal ciut juga kayanya. Terus bilang, "Wah kok gitu ya?? Ya udahlah kita mundur aja.... Netep aja di padang gurun.... Ga usah masuk... Takut ah...." Thanks God bahwa Musa memilih untuk tetap mempercayai Tuhan dan laporan Kaleb serta Yosua. 

Relevansinya dengan pengalaman gue, yah.... selama ini gue lebih fokus dengan berbagai hambatan en kesulitan birokrasi yang ada dibandingkan dengan janji & penyertaan Tuhan :( And it's so sad.... Tuhan sungguh sangat baik bila Dia gak lantas bilang, "Oke Nonik, kalo kamu takut gini terus, mending ga usah masuk tanah terjanji (baca: Swiss) aja." Huaaaah. Ngeri boooo.

Akhirnya, gue bisa tenang en ga khawatir lagi ^^ Intinya bukan apakah gue akan bisa ikut konferensi internasional yang bergengsi itu. Juga bukan apakah gue akan mampu menjadi yang terhebat, terpintar, en ter- ter- lainnya. Yang penting apakah gue tetap percaya en mengandalkan Dia di setiap langkah gue. Kalo Dia mau, Dia bisa angkat gue, melebihi dari apapun yang gue pikirkan. Tapi kalopun enggak, gue akan tetap bersyukur en bersukacita di dalam Dia. En gue baru merasakan apa yang dinamakan, that having Him is enough, more than enough….


2 komentar:

  1. Jangan takut sayaaanggggg......!! ^^V
    Hahahahahaa

    BalasHapus
  2. jadi kayany kata "jangan takut' di Alkitab itu ada 365 hari dan itu cukup lah buat setahun, hahahaha^^

    BalasHapus

hey guys, please leave your mark print here! it give me a boost to keep writing you know! ^^