About Me

Foto saya
A beautiful girl in His eyes. A girl with a BIG dream, BIG vision, with BIG passions for her town. Interested in a lot of things. Talkative and longing to travel in many new places. Is thinking hard what she can do to her country.

Jumat, 27 April 2012

Jatuh Bangun Merintis Usaha

Mungkin di antara teman-teman yang baca post saya sebelumnya tentang perjalanan wirausaha, beranggapan bahwa jalan saya enak dan mulus sekali. Kok rasanya cepet banget, dalam kurun waktu seminggu udah bisa buka toko en tahu-tahu laris pesenan. Well, bener kalau dalam jangka waktu seminggu kami udah bisa buka toko, en usaha ini berjalan baik. Tapi ini juga ada perjuangan en pergumulannya tersendiri bow, terutama dari saya pribadi. Jadi ga tahu langsung-langsung dalam sekejap jadi toko cokelat gitu hehe.

Pingin tahu ceritanya? Pingin tahu?? Pingiiin???

Here we go :3

Saya memulai usaha ini dengan tentangan yang keras dari ortu. Lho?? Kok bisa?? Harusnya orang tua seneng donk anaknya udah bisa rintis usaha sendiri.... well, harusnya emang begitu. Tapi yang saya liat dan alami sendiri, banyak anak-anak muda yang ditentang orang tuanya untuk memulai dan merintis bisnis sendiri. Bukan hanya saya, tapi juga teman-teman saya yang lain. Termasuk  public figure seperti Merry Riana, yang mula-mula juga ditentang ortu untuk berbisnis. Rata-rata ortu menginginkan anaknya untuk sekolah yang tinggi dan bekerja di perusahaan ternama, kalau perlu di perusahaan internasional. Keinginan seperti itu tentu saja tidak salah. Tapi bagaimana bila tiba-tiba anaknya punya hasrat yang kuat untuk berbisnis? Atau lebih tepatnya, inspirasi. Intuisi. Pastor saya bilang, tidak semua orang dikarunai gift untuk berwirausaha. Dan biasanya, intuisi seorang pewirausaha itu hampir selalu tepat hehe :p Maksud saya dengan orang2 yg berwirausaha disini bukanlah wirausahawan pada umumnya, tapi yang benar-benar memiliki passion untuk merintis usaha sendiri. Karena kalau kita lihat, banyak sekali orang-orang di pinggir jalan yang berjualan. Jualan bakso, lumpia basah, martabak manis/asin, buka warung, dll. Apakah mereka bisa disebut sebagai wirausahawan? Well, menurut saya, tidak semua. Ada yang produk atau makanannya begitu enak dan digilai orang-orang, tiap hari pasti rame pengunjung. Tapi tidak sedikit pula yang gulung tikar. Saya berpendapat bahwa seseorang seharusnya berwirausaha bukan karena terpaksa, tapi karena PILIHAN yang didasari pertimbangan matang.

Saya akan mengambil saya sendiri sebagai contohnya. Saya beberapa kali ditawari bekerja di perusahaan yang cukup ternama, misalnya di perusahaan suppliernya Nike, perusahaan sekuritas, termasuk perusahaan rokok Sampoerna yang mentereng itu lo. Kalau ditotal, kira-kira ada lebih dari 10 perusahaan, entah itu saya melamar sendiri atau ditawari. Tapi saya menolak semuanya, karena.... ya memang saya ga minat hehe. Jadi bukannya saya nyombong atau apa. Saya ingin mengerjakan sesuatu yang saya sukai,dan menyukai pekerjaan yang saya lakukan. Dan semua perusahaan itu ga ada yang cocok pleg di hati saya. Yang paling saya yakini waktu itu ya mengembangkan susu jahe saya (pas masih berjuang sendiri).

Kalau kalian baca bukunya Merry Riana yang berjudul A Gift From a Friend, Merry menjelaskan perbedaan antara tangga wirausaha dengan tangga karyawan. Penjelasannya benar-benar merasuk di hati saya. Berikut adalah kutipannya:

Tangga ini (tangga wirausaha) sangat berbeda dengan tangga satunya (tangga perusahaan/karyawan). Bagian bawahnya terlihat tidak lebar dan stabil. Selain itu hanya sedikit orang yang memilih untuk menaiki tangga ini dibandingkan dengan tangga yang pertama. Tangga Perusahaan kelihatannya lebih mudah dicapai dibanding Tangga Wirausaha, tetapi kenyataannya, pada Tangga Wirausaha setiap anak tangga yang Anda naiki membuat kenaikan menuju puncak menjadi semakin mudah. Pada tangga ini, yang menentukan kesuksesan Anda adalah impian dan tekad Anda untuk mengambil tindakan yang akan membuat langkah Anda lebih dekat ke impian itu.

Tangga tersebut juga menjadi semakin lebar ketika Anda naiki. Tapi Anda mungkin bertanya bagaimana ini bisa terjadi. Mari saya jelaskan.

Dilihat dari sudut pandang Tangga Wirausaha, awalnya selalu yang paling berat, karena Anda belum mempunyai modal, relasi, dan pengalaman yang cukup --> hati saya berdebar kencang membaca ini, karena ini sama sekali persis seperti yang saya alami dulu!

Tetapi, dengan berjalannya waktu, Anda akan menyadari bahwa Anda mulai mendapatkan semakin banyak kenalan, pengalaman, dan keahlian baru. Nantinya, relasii, pengalaman, dan keahlian baru inilah yang akan membantu Anda mendaki ke puncak (Merry Riana, 2011: 123, 125-126) à saya bergetar lagi. Inilah yang saya rasakan di hari-hari terakhir hehe.

Bukan berarti menjadi seorang karyawan itu enggak baik. Jadi karyawan juga bagus kok. Malah ada karyawan yang karena pekerjaannya yang bagus, ia terus dipromosikan sehingga akhirnya menjadi pemilik suatu perusahaan. Dan kalau semua orang jadi pengusaha, siapa yang mau jadi karyawannya?? Biar bagaimanapun suatu usaha tetap membutuhkan tenaga kerja alias karyawan agar usaha itu bisa berjalan. Tentang cara-cara dan tulisan mengenai karyawan yang baik, itu sudah banyak dibahas dan diulas di buku-buku lain sehingga ga akan saya tulis lagi disini.

Nah, kembali ke topik semula hehe. Jadi, pada awalnya saya disetujui orang tua untuk berbisnis. Mereka membiarkan saya, karena pikirnya, ini anak pasti cuma coba-coba doank. Ga mungkin serius. Tapi saya bertekad membuktikan kepada mereka bahwa saya serius!! Saya benar-benar melangkah dan melakukan sesuatu, sekecil apapun itu. Dimulai dari kisah susu jahe, saya mencari bahan-bahan baku sendiri, menguji coba resep sendiri, mencari supplier kemasan dan pasokan bahan baku sendiri, belanja sendiri, mengolah sendiri, mencari desain yang cocok sendiri, dan memasarkannnya sendirian pula.

Tapi tentangan orang tua menjadi bertambah hebat ketika tahu bahwa saya diterima S2 di luar negeri dengan beasiswa penuh. Dan luar negerinya gak tanggung-tanggung, bukan di China, Singapura, atau Australia, tapi di Switzerland. Swiss!! Jelas sekali bahwa ortu saya menghendaki saya untuk melanjutkan studi.(Ini di posting berikutnya yah hehe).

Perasaan saya gimana? Jujur aja, saya galau banget. Saya sangat dilema dan tercabik antara dua pilihan: ambil s2 atau terus menekuni usaha ini? Di satu sisi, saya begitu yakin dan percaya bahwa usaha yang saya rintis ini akan berhasil. PASTI berhasil! Sedangkan di pihak lain, saya juga pingin S2. Bohong besar kalau saya bilang saya gak pingin S2 hehe. apalagi, Swiss adalah salah satu negara impian saya, negara yang begitu saya dambakan untuk saya kunjungi bertahun-tahun lamanya. Jika saya ambil S2, berarti usaha ini harus saya lepas. Dan bagaimana jika saya berhasil? Pokoknya di pikiran saya waktu itu, saya ini sudah sukses ahahaha. Cerita S2 bisa dibaca di post berikutnya, di postingan ini saya mau tulis tentang jatuh bangun en pait manisnya merintis usaha.

Singkat kata, saya bergumul. Saya bergumul selama kira-kira 2 bulan. Dan dalam masa 2 bulan itu, saya merasa Tuhan diam saja. Gak menjawab doa saya, en blas gak kasih pencerahan. Saya sudah doa puasa segala, tapi tetep aja bingung jalan mana yang harus saya pilih. Orang-orang bisa dengan enak ngomong, “udah lu ambil S2 aja. Di Swiss booo, dapet full scholarship pula. Kalo gue jadi elu sih, gue pasti pergi. Ngapain ngurus usaha yang belum tentu berhasil.” Saya tahu omongan mereka benar, tapi buat saya yang mengalaminya, kenyataannya gak segampang itu sih. Soalnya pas itu saya yakin-seyakinnya akan usaha ini. Saya bahkan udah ngatur strategi sendiri akan begini begini begitu. Bandul di hati saya terus bergoyang ke kanan dan ke kiri, dan saya sama sekali tidak bisa mengambil keputusan. Saya tanya dan minta pendapat ke banyak orang. Rata-rata mereka mendukung pilihan apapun yang saya pilih, karena Praise the Lord, semuanya sama-sama baik. Saya bisa berhasil entah di bidang akademis maupun wirausaha, tapi syaratnya hanya satu: saya harus FOKUS! Ga mungkin kan kaki saya menginjak di dua perahu sekaligus.

Saya tahu saya harus memutuskan. Beasiswa ini diberi tenggang waktu sampai tanggal sekian, mau diambil atau enggak. Pernah loh ada satu waktu ketika saya merasa super yakin, saya akan menekuni wirausaha dan ga akan ambil beasiswa. Itu setelah saya doa jungkir balik. Tapi ortu saya sudah mendesak sekali agar saya mengambil beasiswa ini. Itu adalah saat dimana untuk pertama kalinya, kedua orangtua saya bersatu hati menghadapi saya. Biasanya, kalau lagi ngadepin sesuatu, saya akan curhat ke orang tua yang ngebela saya :p tapi kali ini, dua-duanya sama-sama bersikeras kalo saya harus pergi S2! Mama bahkan bilang dengan sangat tegas di sms-nya, “Turutin apa kata papamu Nik.”Papa bahkan saat itu datang ke Bandung, selain buat nyariin kos buat dede yang juga mau kuliah di Bandung, juga buat bicara serius sama saya tentang apa yang sedang saya lakukan. Waktu itu saya lagi jadi single fighter ngembangin susu jahe. Sebelum papa datang, saya sempat doa gini ke Tuhan, “Lord, kalau papa nglarang saya untuk wirausaha dengan sangat tegas, ya sudah, saya akan nurut.”

Daaan.... Begitu papa datang ke kos saya dan melihat semua yang saya lakukan, beliau dengan sangat tegas mengatakan, “Papa gak pingin kamu terusin usaha ini. Sekali liat saja Papa sudah tahu usahamu gak akan berhasil! Kamu sehari untung berapa, hah?” begitu papa tahu saya hanya untung sedikit, beliau langsung menggebrak: “Ga boleh. Kamu harus ambil S2 ini, titik! Sehabis S2 kamu mau ngapain, itu terserah kamu. Tapi tahun ini, kamu harus pergi.” Waduuuh saya sedih banget dibilang gitu L Tapi saya jadi teringat perkataan seorang teman, yang ngingetin saya untuk tetap submit dan menghormati perkataan ortu. Teman saya itu bilang begini, “Well.... elu sudah konsultasi ke banyak orang. Ke pendeta lu, ke cici PA lu, ke sodara-sodari rohani lu. Tapi, gue gak denger tuh lu cerita or minta pendapat ke ortu.... Inget Nik, ortu itu otoritas yang Tuhan tempatin langsung atas diri kita. Pendapatnya harus jauh lebih diperhitungkan daripada otoritas kita yang lain, sekalipun dia pendeta. Coba lu omongin baik-baik ke ortu lu, en dengerin kata mereka. Jangan bantah. En hormati apapun yang mereka katakan. Lagian, hormat dengan ortu itu menunjukkan kalo kita respect juga sama God. Inget inget, salah satu dari 10 perintah Allah yang ada embel-embel imbalannya adalah soal menghormati ortu. Perintah lain Cuma berisi larangan jangan begini jangan begitu, tapi perintah soal menghormati ortu ini spesifik sekali, Tuhan sampai berikan imbalan bahwa kita akan berumur panjang di bumi.”

Saya sangat tersentak dan terdiam lama mendengar perkataannya. Benar juga apa yang dia bilang, selama ini saya sama sekali tidak mempertimbangkan pendapat orang tua. Atas dasar peringatan itulah, saya memantapkan hati untuk say yes terhadap tawaran beasiswa itu.Sekali lagi, boong kalo dibilang saya ga pingin S2. Saya juga ngebeeet banget pingin pergi ke Swiss. Kan kereen gitu ceritanya ahaha. Dan saya juga bersyukur bahwa saya mempunyai dua orangtua yang menaruh perhatian begitu tinggi terhadap pendidikan anak-anaknya. Pernah sekali waktu saya curhat ke pendeta saya, “Pastor.... ada satu hal yang Nonik sesali.”

Pastor saya kaget. “Apa itu?”

Saya menjawab, “soal S2 Pastor. Saya menyesal kenapa yah dulu saya mendaftar S2 tanpa pertimbangan yang matang....” Jadi dulu tuh saya daftar S2, selain karena keinginan yang kuat dari ortu, juga saya pikirnya biar gak nganggur abis lulus ahaha. Kalo misalnya, buat kasus terburuk, saya ga diterima kerja, ya udah saya bisa persiapin diri buat S2. At least ga akan nganggur selama setahun.

Jawaban Pastor saya sangat mengagetkan tapi juga menyadarkan saya. “Jangan begitu Louisa. Kamu tahu gak, dengan 2 pilihan yang sama-sama sulit ini, Tuhan sedang melatihmu untuk bertanggung jawab atas dirimu.”

Saya bingung. “Apa maksudnya Pastor? Saya bergumul banget nih soalnya Tuhan kok diem terus, ga kasih jawaban or pencerahan apa-apa T.T”

“Jadi kamu sedang sangat dilema dan bergumul akan dua pilihan. Dan keduanya itu sama-sama baik. Tidak sedikit orang yang sukses di bidang bisnis, bahkan Bill Gates dan Mark Zuckenberg pun adalah orang-orang terkaya di AS dan mereka drop out kuliah! Tapi kamu juga bisa sukses di bidang akademis. Saya percaya S2 ini akan memperlengkapi kamu untuk membantu mencapai visimu. Apalagi jurusan yang kamu ambil sangat sesuai. Manapun yang kamu ambil, itu adalah pilihan yang baik. Tuhan ingin kamu bertanggung jawab sepenuhnya atas hidupmu. Manapun jalan yang kamu pilih, itu adalah keputusan yang kamu buat secara SADAR. Bukan karena perkataan saya atau paksaan dari orang lain. Kalau kamu S2, kamu tidak akan S2 karena terpaksa or ga ada pilian lain. Demikian pula, kalau kamu memutuskan menekuni wirausaha ini dan gak S2, juga bukan karena kamu terpaksa or karena ini adalah jalan satu-satunya. Menurut saya, dengan dihadapkan oleh dua jalan ini kamu belajar bertanggung jawab sepenuhnya dalam memutuskan, apa yang terbaik buat hidupmu. Tuhan akan tetap menyertai kok”:D

Dan saya sangat legaaaa mendengar jawaban Pastor....

That’s why saya mengambil tawaran beasiswa ini dengan iman.Tapi, karena saya juga lagi semangat buat bisnis, akhirnya saya kompromi dengan ortu saya: saya akan pergi S2, tetapi selama beberapa bulan ini sebelum pergi, saya akan terus mengembangkan bisnis yang saya rintis. Dan mereka pun setuju. Jadi 22nya akan bisa jalan. Saya juga sudah ngomong terus terang dengan 2 teman saya, kalau saya ga bisa terlibat penuh selama setahun pertama. Saya paling hanya punya waktu sekitar 4-5 bulan di bisnis ini, habis itu cao deh. Saya tak bisa berkata-kata saat kedua teman saya ini menyetujui dan mendukung tindakan yang saya ambil. Dengan kata lain, saya tetap pergi, tapi bisnis terus berjalan dan hasil akan tetap dibagi tiga (tentunya dengan kemungkinan bahwa bagian saya akan lebih kecil saat sudah pergi nanti). Saya ternganga.... Keinginan saya untuk punya passive income tercapai sudah!! That’s why saya mati-matian dan fokus untuk mengembangkan usaha ini. Bukan karena saya ingin uangnya, bukan karena saya ingin dapat bagiannya, tapi karena saya memang merasa memiliki bisnis ini dan saya murni ingin mengembangkannya.


Beberapa beranggapan bahwa saya terlalu termakan oleh tulisan Merry Riana dan film Billionaire, kisah sukses si snack rumput laut Tao Kae Noi. Benar bahwa saya sungguh sangat terinspirasi dengan kisah dan perjuangan mereka. Tapi saya mendapat VISI dan minat untuk berwirausaha ini jauh sebelum saya membaca buku Merry Riana ataupun menonton film Billionaire. Saya bahkan sempat membenci Merry Riana!! Pas itu saya mikir, ini cewek siapa sih? Belagu banget, sok sok nulis buku. Emang dia nulis apa gitu? Dan etelah saya baca bukunya, saya yang jadi kagum banget sama dia hohoho. Saya bahkan memeluk Merry saat hadir di seminarnya, The Billionaire Codes tanggal 17 Maret yang lalu! Jadi, keinginan saya untuk menjadi wirausaha sama sekali bukan karena ingin ikut-ikutan doank. Tapi karena saya memang ingin dan suka melakukannya!


Di bawah ini adalah hal-hal yang saya pelajari, saya baca, tetapi juga saya PRAKTIKKAN dan ALAMI sendiri tentang menjadi seorang pengusaha:

1. Cek Motivasi

He? Apa maksudnya cek motivasi? Maksudnya begini. Banyak orang ingin menjadi pebisnis karena mereka ingin kaya. Tidak salah dengan itu, tapi sebenarnya, apa yang ingin kita kejar? Semua orang bekerja juga agar bisa cepat kaya dan pensiun dini, entah dengan jadi pengusaha atau karyawan di perusahaan. Tapi apabila yang kita kejar atau tuju hanya uang semata-mata.... well, saya bisa katakan kita ga akan kemana-mana. Semua motivator-motivator mengatakan bahwa kita harus mencari kepuasan dan kebahagiaan orang lain dahulu, baru diri sendiri. Sebenarnya, semua omongan motivator itu ada di Alkitab!  Intinya, kita ada di atas untuk memberi dampak positif bagi sesama. Kita diangkat dan menjadi kaya agar kekayaan itu bisa memberkati orang lain bukan hanya diri sendiri.

Cek motivasi kita, apakah untuk mengejar visi dan impian kita itu, harus dilakukan dan hanya bisa dilakukan dengan bisnis saja? Banyak orang sukses bukan karena menjadi pebisnis atau pengusaha, tapi karena mereka tahu apa yang mereka kejar dan apa yang menjadi VISI hidup mereka. Misalnya, Agnes Monica dan Oprah Winfrey yang kerjanya ngrumpi en mewawancarai orang doank tapi bisa dikenal orang-orang sedunia. Mereka tidak mengejar uang, mereka kejar visi mereka.

2. Pengusaha adalah orang yang pantang menyerah

Well, ini jelas lah ya hehe. Saya juga harus bersusah-susah dulu selama 4 bulan lebih untuk perintisan bisnis ini sebelum akhirnya bisa buka toko seperti sekarang. Tanyailah semua pebisnis sukses, dan pasti mereka akan super setuju dengan hal yang satu ini. Merry Riana berkata demikian. Donald Trump berkata demikian juga. Ittiphat, pemilik Tao Kae Noi, mengatakan: “Jangan pernah menyerah. Sekali kita menyerah, habislah sudah.”dan perkataan itu benar. Andaikan saya menyerah, pasti saya tidak akan berada di fase ini. Dan saya tahu betul, fase dimana saya berada sekarang sama sekali belum di titik puncak.

3. Berani membayar harga

Pepatah bilang, there’s no free lunch in the world. Bukan hanya dalam hal-hal rohani saja kita harus membayar rohani. Tapi dalam dunia sekuler pun, ada banyaaak sekali hal-hal yang harus dibayar. Bahkan keselamatan kita pun sebenarnya tidak gratis. Itu Tuhan Yesus yang bayar dengan mati di kayu salib karena harganya yang sangat mahal. Saya rasa, inilah hal yang pada akhirnya membuktikan, apakah sesesorang benar-benar serius menekuni dan mencari apa yang ingin didapatkannya atau tidak. Apakah dia mau membayar harganya? Kita akan mendapat apa yang kita mau sesuai dengan besarnya harga yang kita bayar.

Saya juga membayar harganya. Saya membaca banyak buku-buku bisnis, saya mengikuti seminar-seminar bisnis. Bukan hanya itu, saya mempraktikkan semua yang apa yang saya baca! (Tentunya dengan selektif en pake hikmat ya hehe). Setiap hari saya terbangun dengan pikiran apa yang bisa saya lakukan di bisnis ini, apa rencana ke depannya, dll.

4. Be flexible

Usaha susu jahe saya boleh tertunda di tengah jalan, tapi bukan berarti saya menyerah dengan tidak mencoba sesuatu yang lain. Saya sekarang justru berhasil melakukan bisnis cokelat isi ini. Jadi, jangan keukeuh harus di bisnis ini atau cara ini. Kalau gagal, cobalah di bidang atau cara yang lain.

5. Berani meminta

Saya mengalami sekali secara nyata perkataan dua ayat berikut.

Yang pertama adalah ayat yang berbunyi: Mintalah, maka kamu akan diberi. Carilah, maka kamu akan mendapat. Ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena barangsiapa meminta, diberi dan barangsiapa mencari, mendapat dan barangsiapa mengetok, baginya pintu dibukakan.

Waktu itu, hanya satu hal yang benar-benar saya minta dari Tuhan: partner bisnis!! Lagi-lagi, itu waktu saya masih berjuang keras ngembangin susu jahe. Saya sudah merasa kewalahan, ga lagi sanggup sendirian melakukan bisnis ini. Saya butuh seseorang yang bisa diajak kerjasama, seseorang yang juga punya jiwa wirausaha kuat dan mengembangkan bisnis. Bukan orang yang sekadar kerja demi dapat gaji. Siapa sangka, di titik ketika saya merasa mentok, saya justru dikasih Tuhan 2 orang teman yang bahkan berjiwa lebih wirausaha daripada saya wahahaha ^o^

Ayat kedua yang saya alami adalah ayat yang paling sering dikutip orang Kristen, Matius 6:33. Karena itu carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan DITAMBAHKAN kepadamu.

Saya sungguh-sungguh ingin cari dulu Kerajaan Allah (KA). Dulunya saya bingung dan frustrasi tiap kali baca ayat ini. Apaan tuh KA? Gimana cara carinya? Orang bilang, KA adalah situasi dimana nilai-nilai KA diwujudkan. Itu sih saya tahu, tapi yang paling penting, caranya gimana?? Situasi seperti apa? Setelah setahun bergumul dan terus-menerus meminta, barulah saya tahu bahwa cara untuk mewujudkan KA adalah dengan cari tahu apa VISI pribadi kita. Soal visi ini sudah pernah saya tulis, silakan baca di SINI.

Singkat kata, setelah saya tahu apa visi saya dan itu bisa tercapai dengan, salah satunya, melalui wirausaha, saya pun mengarahkan segenap energi dan pikiran saya untuk berwirausaha. Saya memulainya tanpa tahu langkah apa yang harus saya ambil, bagaimana caranya, dll. Pokoknya melangkah saja. Salah sih banyak, tapi justru dari kesalahan dan kegagalan itulah saya belajar banyak hal juga. 

Salah satu hal yang saya pelajari adalah ini: Memulai wirausaha memang butuh modal, tapi modal itu gak hanya uang. Selama ini saya juga berpikir kalau modal itu sama dengan uang. Tapi, melalui percakapan dengan seorang teman, saya tahu bahwa modal itu juga meliputi bakat dan talenta kita, passion kita, kelebihan kita. Pokoknya saya benar-benar mulai dengan apa yang ada pada saya.

Dan benar, Tuhan tambahkan semua yang saya perlukan, yang saya butuhkan. Mulai dari pengalaman, ilmu-ilmu tentang bisnis, koneksi-koneksi yang baru, partner bisnis, hingga teman-teman yang bisa menyediakan tempat, uang sewa, dan lain-lain. Semua sumber daya seperti tempat yang murah untuk membuat banner, brosur, dan spanduk, serta sarana promosi, semua Tuhan sediakan. Dan yang mengalami ini, bukan hanya saya saja, tapi kedua partner saya, Ratna dan Cindy pun, juga mengalaminya. Ratna telah sangat lama memiliki passion berbisnis yang kuat. Ratna bahkan mencoba bermacam-macam usaha sampai mentok sebelum membentuk tim bersama saya dan Cindy. Cindy memiliki mimpi untuk punya pabrik dan toko kue sendiri. Lihatlah, mereka berani melangkah untuk membuat diri mereka semakin dekat menuju impian itu, dan hasilnya adalah seperti yang saya tulis saat ini.

***

Bila kita habis-habisan untuk mengejar visi kita, maka Tuhan juga akan habis-habisan dalam memberikan perkenanan-Nya agar kita bisa mencapai visi itu, asal sesuai dengan destiny dan track yang Tuhan taruh di hati kita. (Soal itu, bisa baca uraian lengkapnya di SINI). 

Hope it bless you!! :D

any comments, questions, advice, critiques are highly appreciated :)


7 komentar:

  1. *Lompat2 ...Chayooo Noniiikk!! Namanya panggilan pasti bikin kamu ke bakar. Belok ke jalur lain, pasti balik2nya ke situ juga. Bener kata pastor-mu "..dengan 2 pilihan yang sama-sama sulit ini, Tuhan sedang melatihmu untuk bertanggung jawab atas dirimu.”

    Kalo kita ambil keputusan karena memang kita yang ambil, bukan karena orang lain, kita ga akan nyalah-nyalahin Tuhan atau orang lain. Sakit dan ga enaknya kita yang rasain dan kita jadi belajar banyakkkkkkkk...

    Chayooo yaa...Kalo cuma ikut-ikutan dan kemakan sama buku Merry Riana, kamu ga akan nulis sepanjang ini. Saya bisa rasain passion kamu..Maju terus pantang mundur, kalo belok, jangan lupa balik. :D ..God bless you alwaysss

    BalasHapus
    Balasan
    1. MAKASIIIIIH KAK LASMA!!! TERHARU BACA COMMENTMU hehehehehe.

      iya Kak, aku percaya, Tuhan ga akan ragu2 ingetin anak2Nya yg udah menyimpang en berbelok dari jalurNya :) thank you so much yaaa.... btw, mau coba coklatnya gak? heheheh :P coklat kami ga akan leleh & tahan 4 bulan :D *sekalian promosi*

      Hapus
  2. Cool! Sangat terinspirasi baca postinganmu yg ini :D hehehe~ tetap semangat yaaa~ :D Gbu~

    BalasHapus
    Balasan
    1. thank yooouuuu Anita ^^ mau coba pesen coklatnya? hehe. udah ada orang Surabaya yg pesen loh. n ongkirnya jg murah, pake JNE 12ribu doank, 2 hari sampe :) coklat ga akan leleh, bentuk masih utuh, n tahan 4 bulan.

      Hapus
    2. Boleh :D hehehe~ aku kontak di FB ya :D

      Hapus
  3. Hwaaa...
    bener Nik..
    aku bener2 ngerasa akhir2 ini Tuhan ngingetin lagi motivasiku buat wirausaha. Aku juga ada usaha, uda mulai dari Juli tahun kemaren malah. tp ini diujung kebangkrutan. Awalnya 6orang, jadi tinggal aku dan satu orang lagi yg gak bisa full time. Huhuhu..
    dan Tuhan banyak negur sih akhir2 ini, terutama soal motivasi. Padahal banyak yg dukung aku lho untuk usahaku ini. Kalo kamu kan ditentang, kalo aku justru banyak yg dukung, tapi akunya aja yg sombong, suka ngerasa kerja sendiri, dll.

    Semangat, Nik!
    pas di swiss km juga bs kok jualan ke orang2 swiss sana. kali aja mereka terkagum2 sm coklat isi cabe-mu. hahahhaha.. kan dingin tuh disana.. cabe kan bs menghangatkan :P *ngayal*

    BalasHapus
    Balasan
    1. thx uuuu Volare hehe. kamu usaha apa? En kenapa gitu kok sekarang bisa di ujung tanduk? ayo ayo semangaaaaaaaat!!! berbisnilah dg cara2 Tuhan & bukan dg cara manusia :D

      Ahahahahaha. ide bagus tuh kenalin coklat cabe ke Swiss hohoho ^^ tapi kayane susah je nek jualan disana. pasti harus fokus buat studi s2 dll.

      Hapus

hey guys, please leave your mark print here! it give me a boost to keep writing you know! ^^