About Me

Foto saya
A beautiful girl in His eyes. A girl with a BIG dream, BIG vision, with BIG passions for her town. Interested in a lot of things. Talkative and longing to travel in many new places. Is thinking hard what she can do to her country.

Kamis, 26 April 2012

Cerita Wirausahaku: Cokelat Isi ^^

Selama beberapa waktu ini, lagi sering ditanya-tanyai orang tentang apa sih yang sedang gue lakukan. Gue, lagi sibuk bisnis. Bisnis apa?

Bisnis cokelat isi. Udah buka toko sendiri lo... ya meskipun kecil hehe.



Karena ceritanya emang puanjaaang.... so gue harap kalian sabar dengan tulisan di bawah ini hehe. Tulisan ini menceritakan gimana semuanya itu mulai. Kalo menengok ke belakang, rasanya sudah jauh juga apa yang kulalui (walaupun of course jalan ke depan masih puanjaaaang juga) sejak November 2011 hingga April 2012. Tak terasa, setengah tahun sudah berlalu. Gosh!



Gue harap tulisan ini bisa menginspirasi buat kalian, terutama anak-anak muda yang tertarik buat berwirausaha. Ahahaha! Kaya Merry Riana aja :p Iya sih, gue emang terinspirasi banget sama sosok yang satu itu. Tapi, I have my own story to tell....


Here we go:



Apabila saya menengok ke belakang, saya tidak tahu harus berkata dan merasakan apa selain perasaan bersyukur yang sangat dalam.


Semua ini berasal dari 1 kata yang luar biasa ampuh: VISI. Entah darimana dan bagaimana datangnya, saya tiba-tiba memiliki visi pada pertengahan bulan November 2011. Saya tahu apa yang harus saya lakukan…. Saya tiba-tiba menjadi tahu untuk apa saya diciptakan di dunia ini. Salah satu cara untuk merealisasikan visi itu, adalah dengan berwirausaha. Saya lebih memilih menggunakan kata “wirausaha” daripada bisnis karena rasanya kata itu mengandung makna yang lebih dalam. 


Untuk beberapa saat, saya merasa begitu excited dengan apa yang saya dapat. Setelah setahun berdoa dengan sungguh-sungguh untuk meminta suatu VISI, akhirnya saya mendapatkannya juga! Saya tidak bermaksud lebay, tapi selama setahun itu saya benar-benar mendesak Tuhan dan menggedor-gedor pintu Sorga untuk meminta visi. Saya tahu, tanpa visi, hidup saya tidak ada artinya. Dan saya sangat sangat tidak mau menjalani hidup ini seperti kebanyakan orang, yaitu ngeflow saja. Saya tahu Tuhan pasti punya maksud saat Dia menciptakan saya. Dan kenyataannya memang benar demikian. Bukan hanya kepada saya, tetapi juga kepada Anda!


Mendadak, seluruh tubuh dan jiwa saya sangat dipenuhi minat dan hasrat yang sangat kuat akan ilmu bisnis. Saya berubah drastis, dari orang yang dulunya sangat berorientasi kepada akademis bahkan menjadi mahasiswi unggulan di ilmu hubungan internasional, menjadi orang yang sangat haus untuk belajar bisnis. Saya hanya tahu saya harus melakukannya, saya benar-benar tidak bisa berdiam diri. Ide-ide mengalir deras di pikiran dan benak saya. Karena tidak tahan, saya pun menuliskan ide-ide tersebut (padahal biasanya saya tidak pernah menuangkan satu ide pun dalam bentuk tulisan).


Inilah VISI saya: saya akan mengubah kota asal saya, Purworejo, menjadi kota yang lebih maju dan produktif. Saya ingin menghilangkan label “kota pensiun” pada kota itu! Saya rindu untuk menggerakkan generasi mudanya. Saya ingin terjadi pemulihan atas kota itu, termasuk pemulihan keluarga (karena banyak sekali keluarga yang berantakan di Purworejo). Dan salah satu hal yang ingin saya lakukan adalah dengan membangun suatu restoran, tapi restoran itu haruslah lebih daripada sekadar tempat untuk makan. Restoran itu akan mempunyai tempat konseling dan pelatihan bagi anak-anak muda dan keluarga. Restoran itu akan dibuat menjadi tempat yang sangat indah dan nyaman, tetapi itu hanyalah sarana. Restoran bukanlah tujuan akhir saya.


Kemudian, saya mulai berpikir keras, langkah apa yang harus saya lakukan untuk membuat visi dan impian saya itu menjadi kenyataan. Saya tahu saya harus mulai dan melangkah sekarang, tidak bisa ditunda-tunda lagi. Saya berpikir…. Membangun restoran pasti membutuhkan modal yang besar. Apalagi untuk membangun restoran dengan konsep seperti yang saya inginkan. Saya mengkalkulasi semuanya.


Di saat saya sedang galau dan merenung-renung itulah, ide baru muncul di benak saya. Saya ingin memulainya dengan berjualan susu jahe! Saya pernah mencoba minum susu jahe di suatu café di Bandung, dan rasanya lezat sekali. Saat itulah saya tahu, bila ini diproduksi dalam jumlah besar, hasilnya akan fantastis. Waktu itu saya percaya, produk ini akan laku. Hal ini didukung oleh beberapa hal: kebanyakan orang Indonesia sangat menyukai minuman susu jahe. Pasarnya akan bagus karena Indonesia mempunyai 240 juta orang lebih. Saya begitu ingin untuk mempopulerkan minuman tradisional tersebut menjadi suatu minuman siap saji, yang populer dan begitu digandrungi orang-orang. Bukan lagi minuman seperti shake-shake’an yang bergaya kebarat-baratan, tetapi minuman asli Indonesia sendiri. Selama ini, minuman susu jahe yang ada masih dijual berbentuk bubuk. Sedangkan saya melihat bahwa saya mampu menciptakan minuman susu jahe yang siap minum seperti susu Ultra. Pikiran saya berkembang kemana-mana. Suatu saat, saya tidak akan memproduksi susu jahe, melainkan minuman tradisional lain juga dan mempopulerkannya seperti beras kencur, kunir asem, dan temu lawak. Produk saya akan diekspor dan digilai oleh orang-orang luar negeri. Bukankah Indonesia sendiri dijajah karena rempah-rempahnya??!


Itu adalah impian saya yang mula-mula. Saya mulai mengatur strategi. Saya harus memproduksi susu jahe yang sangat enak, kemudian membuka café dan menjualnya. Setelah café, akan berdiri restoran. Setelah itu, saya akan mampu membuka pabrik sendiri dan mempekerjakan ratusan orang. Wah! Rasanya luar biasa.


Tetapi itu ternyata tidak mudah. Sama sekali tidak mudah. Saya banyak sekali menemui kegagalan.


Mula-mula, saya aktif melakukan uji coba resep sendiri di rumah. Saya meramu-ramu bagaimana cara membuat susu jahe yang enak. Saya mulai dengan langkah kecil-kecilan, membeli susu sebanyak beberapa mili-liter dan jahe 3-5 ruas. Saya cukup kebingungan mencari supplier susu. Pertamanya saya memakai susu Ultra yang plain, tapi perhitungan cost and benefitnya terlalu mahal. Kemudian saya beralih ke susu murni asli yang lebih murah. Untuk mencari jahe pun, saya mencari jahe yang bagus. Proses memasaknya pun berbeda-beda. Pertama memasak dengan cara A, tetapi susunya berasa kurang enak. Saya pun beralih memasak dengan cara lain. Saya terus berganti-ganti mengolah susu jahe dengan cara yang berbeda-beda, pokoknya sampai ketemu rasa yang lezat. Tidak terhitung banyaknya uang yang dikeluarkan untuk membeli susu murni, jahe, dan gula palem berkali-kali.


Proses pembuatannya juga cukup rumit dan melelahkan, terutama ketika saya kembali ke Bandung. (Keuntungan di Bandung adalah, bahan bakunya lebih mudah dicari dan didapat dibandingkan Purworejo.) Saya membeli susu murni langsung dari Lembang, kira-kira 30-50 menit perjalanan menggunakan motor. Kemudian saya harus mem-pasteurisasi susu tersebut agar suhunya pas 70 derajat Celcius. Untuk itu, saya harus membeli termometer khusus sendiri yang harganya juga terasa memberatkan di kantong mahasiswa hehe. Proses pasteurisasi susu harus diawasi betul-betul agar susu tidak pecah. Karena semuanya masih manual, maka terasa melelahkan juga. Setelah itu saya harus membersihkan dan menumbuk jahe, kemudian mengolah dan merebusnya bersama susu. Itu semua dimasak di atas panci yang cukup besar dan harus diaduk-aduk. Untuk pertamanya tidak masalah, tapi akan sangat menguras tenaga bila saya harus memproduksi pesanan dalam jumlah yang besar. Karena semuanya masih dilakukan seorang diri, membeli bahan bakunya terasa capek juga. Pernah sekali waktu saya membeli 13 liter susu ke Lembang (itu berat sekali!), dan saya berhati-hati mengendarai motor karena jalannya yang sungguh berliku-liku. Saya juga takut susunya jatuh.


Itu baru masalah bahan baku. Saya juga memikirkan bagaimana kemasannya, desainnya, pelabelannya, dan cara pemasarannya. Itu semua masih saya lakukan seorang diri, dan cukup menyita waktu, dan juga biaya. Tapi saya melakukannya dengan penuh semangat, karena saya mencintainya! Saya tahu apa yang saya lakukan. Mungkin kelihatannya mubazir, tapi saya tahu kenyataannya tidaklah demikian. Saya malah sangat menikmati setiap prosesnya! ^^ Untuk promosi, saya juga melakukannya sendiri, menggunakan mulut saya hehe. Responnya cukup baik, terutama untuk teman-teman dan jemaat di gereja saya.


Langkah terjauh yang saya capai bersama susu jahe ini adalah memasukkannya ke perusahaan retailer di Bandung. Perusahaan tersebut mempunyai konsumen di hampir seluruh Bandung sebanyak ribuan orang, dan mempunyai banyak loper untuk mengantarkan barang kebutuhan sehari-hari ke rumah-rumah penduduk. Barang-barangnya seperti susu, tahu, telor asin, beras, dan juga majalah dan koran. Belum ada susu jahe di sana, maka saya pun memberanikan diri untuk mengontak manajer yang juga sekaligus saudara pemiliknya dan bertemu langsung. Pertamanya tidak ada masalah. Sang pemilik dengan senang hati membantu saya, dan mengajarkan saya banyak hal-hal baru tentang bagaimana dia mengoperasikan perusahaannya. Saya senang dan bersyukur sekali karena saya mendapat kenalan baru hehe.


Singkat cerita, susu jahe saya masuk, dan saya harus siap untuk produksi dalam jumlah besar apabila mulai banyak pelanggan. Produk saya bahkan sudah diiklankan dalam selebaran iklan kecil (Ariwara) milik perusahaan tersebut. Saya begitu senang, dan sudah berpikir jauh, seperti misalnya mengontrak rumah untuk memproduksi susu. Bila sudah ada banyak pesanan, kondisinya tidak memungkinkan bagi saya untuk memproduksi di kost. Saya juga sudah kewalahan menanganinya sendirian, saya harus mempekerjakan orang. Dan di saat itulah saya mulai berdoa. Saya meminta kepada Tuhan seorang partner bisnis. Bukan hanya orang yang sekadar bekerja untuk dapat gaji bulanan, tapi juga seseorang yang memiliki jiwa memiliki untuk mengembangkan bisnis, seseorang dengan jiwa wirausaha, seseorang yang bisa dijadikan partner.


Tetapi….


Ternyata minat konsumen Bandung belum berjalan baik. Dari sekian ratus lembar Ariwara yang dicetak dan dibagikan ke rumah-rumah, hanya ada satu orang pelanggan saja yang ingin mencoba produk saya. Hanya SATU! Saya rasanya lemas sekali. Adalah sangat percuma untuk pergi mengantarkan satu hingga dua botol susu setiap harinya dari kost saya ke perusahaan yang jarakanya sangat jauh. Itu sungguh tidak efisien, karena boros bensin (motor saya adalah motor matic yang super boros), waktu, dan tenaga saya. Sungguh tidak sepadan dengan usaha yang saya lakukan dalam memproduksinya! Tapi waktu itu saya memantapkan hati untuk melakukannya. Bukankah kita harus setia dalam perkara kecil lebih dahulu?


Namun apa daya, proses itu hanya berlangsung selama seminggu karena satu pelanggan tersebut memutuskan untuk berhenti. Saya lega sekaligus kecewa. Lega, karena tidak perlu lagi mengantar-ngantar susu jahe sejauh itu dari kost’an saya ke perusahaan. Dan kecewa, karena dengan demikian bisnis ini harus berhenti. 


Tapi saya tidak mau berputus asa. Saya mulai mencari tahu informasi tentang tempat dimana saya bisa membuka stand dan berjualan. Saya memberanikan diri bertanya kepada beberapa pedagang yang membuka kedai makanan, bagaimana menyewa tempatnya, harus membayar kepada siapa, dll. Beberapa ada yang mau menjawab, tapi banyak juga yang tidak. Saya juga memberanikan diri memasukkan proposal penjualan ke salah satu food court di univ yang terkenal. Tapi semua hasilnya nol, nihil, sia-sia. Saya lemas sekali. Saya tidak tahu lagi kemana saya harus melangkah, tidak tahu harus melakukan apa lagi. Tampaknya impian saya untuk berwirausaha harus kandas di tengah jalan.



Jalan pun Terbuka

Jalan itu mulai terbuka, ketika di kampus saya melihat ada poster tentang Financial Revolution yang diadakan oleh Tung Desem Waringin (TDW), seorang pebisnis sukses di bidang properti dan motivator nomor satu di Indonesia (Ngakunya sih gitu hehe). Biaya untuk mengikuti seminarnya lumayan, sebesar Rp 275.000,00 unutk kelas ekonomi, Rp 425.000,00 untuk kelas VIP, dan sekitar Rp 900 ribuan untuk kelas premium (termasuk makan siang bareng TDW!). Seminar itu diadakan selama 2 hari. Saya ambil yang kelas VIP, karena buat saya, investasi itu cukup murah hehe :p Itu dapet 7 CD yang harganya ratusan ribu loh, plus workbook juga. Kalo yang kelas premium, selain makan siang bareng TDW juga dapet 11 CD. CDnya tuh kayak “Bagaimana Cara Mengalami Kenaikan Gaji 3x dalam Setahun”, “Memulai Usaha Sendiri tanpa Modal”, “Bagaimana Mempunyai Peternakan Uang”, “Bagaimana Membuat Uang Mengejar Anda”, dsb. Ya macem2 gitulah. Semuanya serba berbahasa fantastis. Ga heran banyakan orang yang pingin ikut….


Sebenarnya, buat ikut-ikutan seminar ala financial revolution itu saya sudah ngerti-ngerti dikit sih. Paling yang diomongin ya gitu-gitu aja, en saya yakin seyakin-yakinnya prinsip-prinsip yang diajarkan itu sebenarnya ada di Alkitab. Tinggal pinter-pinternya kita aja dalam mengemas sehingga mudah diterima oleh dunia. Saya ikutan itu cuma karena pingin tahu, TDW itu sehebat apa sih. Kok kayanya dia begitu populer banget. Lagian, ga salah juga kan kalau saya serap ilmunya, sekalian cari link dan kenalan dengan orang-orang baru disana. Siapa tahu saya bisa promosiin susu jahe saya hehe.


Siapa sangka…. Justru disitulah saya menemukan partner bisnis saya, bukan hanya satu, tetapi DUA!! Dan kami terus bekerja sama sampai sekarang hehe :p Dua orang tersebut adalah teman saya satu kampus juga, tapi berbeda jurusan. Ratna berasal dari jurusan teknik sipil dan Cindy dari teknik kimia. Sebelumnya kami sudah saling kenal tapi ya hanya kenal gitu-gitu doank, jarang main bareng karena beda jurusan. Singkat cerita…. Setelah ngobrol-ngobrol, kami sama-sama terkejut karena kami memiliki passion dan impian yang sama. Ratna sudah lama memiliki otak dan passion bisnis, saya baru saja mendapat kerinduan untuk berbisnis pada bulan November, sedangkan Cindy baru mendapat ide berbisnis di akhir Februari lalu. Ratna mempunyai banyaaaak sekali buku-buku tentang bisnis: mulai dari marketing, buku-buku motivasi, visi, Donald Trump, properti, dan lain-lain. Saya “kalap” melihat begitu banyaknya buku-buku itu ahahahaha. Dan akhirnya, jadilah kami bertiga sepakat untuk mendirikan suatu usaha bersama.


Usaha kami berasal dari ide Cindy, yaitu membuat cokelat. Tapi cokelat yang kami produksi berbeda dari cokelat-cokelat pada umumnya. Kami membuat cokelat isi, yaitu cokelat yang di dalamnya terdapat bermacam-macam isi, lebih dari 25 isi. Ada isi basreng (baso goreng seperti jajanan Maicih), mochi wijen, lemon cracker, lemon pastry, cheese cream, pasta cokelat, mint, green tea, kopi, hazelnut, hawflakes, marshmallow blueberry, lapis legit, dan lain-lain. Dan isi tersebut benar-benar ada isinya, jadi bukan sekadar berasa mint atau green tea saja, tapi ada potongan lapis legitnya, basrengnya, mochi-nya, marshmallownya, dll. Saya pribadi sangat tertarik dengan ide ini, dan kami bertiga sangat optimis bahwa usaha ini pasti berjalan baik. Pasti laris!!! Kami begitu menggebu-gebu dan bersemangat untuk menjalankan bisnis ini. Maka, mulailah kami bertiga melakukan bisnis ini, selain didorong dengan semangat dan kerinduan yang kuat untuk berwirausaha, juga untuk bisa mandiri dan membahagiakan orang tua.


Usaha ini memang berjalan laris. Kami mendapatkan banyak pesanan dari Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, kota saya sendiri Purworejo, bahkan pernah dikirim hingga ke Samarinda dan Makassar.


Nah, bagaimana ceritanya? Tentu semua itu tidak terjadi dalam waktu semalam, tapi memang tergolong sangat cepat untuk mulai pembukaan bisnis baru. Banyak suka duka, pengalaman pait manis yang kami alami, tapi kami sangat sangat menikmati semua prosesnya.

Kami tidak tahu bagaimana caranya, tapi kami merasa bahwa saat itu banyak sekali jalan yang dibukakan Tuhan bagi kami.


Pertama-tama soal tempat. Karena ingin membuka toko sendiri, kami pun mulai gencar mencari-cari informasi tentang tempat yang bisa disewa. Entah itu berupa ruko, menyewa beberapa petak di tempat usaha yang sudah terkenal (seperti Rumah Mode atau restoran ternama di Bandung), ataupun dengan sistim titip jual. Kami aktif bertanya kepada orang-orang, termasuk para pedagang yang berjualan di pinggir jalan. Semuanya nihil. Tidak ada yang bersedia menyewakan tempatnya, atau kalaupun ada persyaratannya ketat sekali dengan biaya yang mahal. Uang kami bertiga tidak mampu untuk membayarnya, karena kami sebagai mahasiswi juga masih dikirimi uang bulanan oleh orang tua. Kami sempat berkecil hati, but thanks God bahwa ada temannya Ratna yang ternyata mengontrak ruko sekaligus ngekos disitu. Dulunya dia buka rumah makan, tapi karena gak rame, akhirnya tutup deh. Setelah ngomong-ngomong, dia bersedia menyewakan tempatnya kepada kami sebagai tempat untuk membuka toko dengan harga yang termasuk sangat murah. Murah banget deh, pokoknya kaya nyewa kos-kosan gitu haha…. Itu juga karena kami belum membutuhkan toko yang besar, hanya berupa etalase saja. Teman Ratna itu sangat baik, dia juga mempunyai dua motor yang salah satunya nganggur dan bisa dipinjam Ratna kapan saja secara gratis! (tapi bensiinya tetap diisi hehe). Lama-lama kami pun jadi dekat juga dengan dia. We really really thank God for that.


Kedua, soal etalase. Kami membutuhkan etalase dimana kami bisa memajang cokelat kami. Berkat usaha keras Ratna dan Cindy, akhirnya kami menemukan ada orang yang menjual etalase dengan harga yang terjangkau. Tempatnya jauh booow…. Pokoknya dari Bandung Utara ke Selatan deh. Pendek kata, setelah bersusah payah menuju tempatnya dan menyewa mobil angkutan, akhirnya kami berhasil memboyong etalase tersebut hehe.


Kemudian soal produksi. Untuk penjualan perdana, kami membeli sebanyak 8 kilogram dark chocolate beserta semua bahan pengisi yang kami perlukan dan plastik-plastik pembungkusnya. Kami mengolah cokelat dari pukul 10.30 hingga hampir pukul 12 malam!! Dan itu berlangsung selama 2 hari.We made almost 1000 pieces of chocolate, 950 pieces to be exact with various kind of fillings. Tired? Absolutely, but we were so excited doing that!! ^^ Kami bertekad, 950 butir cokelat itu akan kami terjual habis. Cara yang paling jitu untuk melakukan hal ini adalah dengan melakukan promosi habis-habisan.


Kami gencar melakukan promosi melalui twitter. Kebanyakan orang yang datang ke toko kami melalui keberadaan toko ini melalui twitter hehe. Selain itu, kami juga membuat spanduk, banner, dan brosur sendiri ^^ Kami mencetak 500 lembar brosur dengan desain yang dibuat Cindy (thanks God gue dapet partner yang bisa nge-desain!! Ahahaha), dan mulai membagi-bagi brosur seperti Merry Riana :p Terutama untuk Cindy dan Ratna yang mau turun ke jalan dan membagi-bagi brosur tentang produk cokelat kami. Tapi kami memilih tempat yang strategis dimana brosur itu akan menarik perhatian orang, yaitu di tempat-tempat yang ramai didatangi orang seperti di daerah factory outlet Dago, Setiabudhi, dan café-café di Riau. Kami juga menyebarkan brosur kepada beberapa orang teman kami.


Mungkin ada yang bertanya, bagaimana dengan modalnya?? Well, we used our own money to establish this business. To tell you the truth, modal awal yang dibutuhkan untuk memulai bisnis ini adalah sebesar Rp 3 juta. So each of us gave Rp 1 million. Itu sudah termasuk biaya etalase, pembuatan spanduk, banner, brosur, dan pembelian bahan-bahan baku untuk produksi perdana kami. Belum termasuk uang sewa tempat sih, tapi karena yang punya teman sendiri, uang sewanya bisa dibayar di akhir bulan hehe. Pokoknya pakai dulu :p


Cukup banyak juga orang-orang yang bertanya bagaimana kelanjutan usaha susu jahe saya. Well…. Untuk itu saya bisa mengatakan bahwa untuk sementara susu jahe itu harus dipending dulu. Susu jahe membutuhkan modal yang cukup besar untuk memulainya…. Saya tidak ingin menjual susu dalam bentuk botolan saja. Saya ingin menyajikan susu jahe tersebut secara mewah, eksklusif menggunakan mug beserta tatakannya, seperti di café-café gitu deh hehe. Berarti saya harus mengeluarkan modal untuk membeli mug, cangkir, tatakan, dan sendok pengaduk. Saya juga membutuhkan alat semacam coffee maker untuk bisa menghangatkan susunya. Itu semua membutuhkan modal yang cukup besar. Proses pengolahannya juga cukup sulit, setidaknya butuh waktu 2 jam untuk memproses 8 hingga 10 liter susu. Lalu, bagaimana pula cara membawanya ke tempat berjualan? Tadinya saya memang berencana untuk menggabungkan ide susu jahe ini beserta ide coklat milik Cindy, tetapi akhirnya disepakati bahwa susu jahe harus dipending dulu. Tunggu coklatnya laris dan ada modal, nah barulah kami bisa memperbesar kapasitas berjualan kami, baik dari segi jenis produk maupun tempat berjualan.



Hari-hari Pertama

Setelah semuanya beres dan siap, kami pun mulai membuka toko kecil kami. Berbagai macam bentuk dan jenis coklat siap untuk didisplay. Toko kami pertama kali buka pada hari Sabtu, and we did hope at that time karena pas weekend, akan banyak orang Jakarta yang datang. Pasar yang kami sasar memang untuk orang-orang kelas menengah ke atas, terutama dari Bandung dan Jakarta. Tapi harapan kami meleset besar! Pada hari Sabtu, bisa dibilang hampir tidak ada satu orang pun yang datang ke toko kami T____T Saya hampir putus asa, tapi semangat Cindy dan Ratna menguatkan saya lagi untuk tetap bersemangat. Kedua teman itu memang memiliki jiwa wirausaha yang lebih besar daripada saya hahaha. Bersyukur sekali saya bisa bertemu dan berpartner dengan mereka!


Ada satu kejadian yang ga akan kami lupakan seumur hidup. Demi menambah modal, kami mencoba untuk berjualan macam-macam kripik di pasar Gasibu. Gasibu itu alun-alun di depan kantor pemerintahan Bandung alias kantor gedung sate. Tiap minggu pasar itu selalu ramai dan penuh pedagang-pedagang. Kami pikir, kalau kami jualan kripik, pasti laku keras! Kami mulai membeli lebih dari 10 macam kripik: basreng pedas, tempe kering, stik balado, kripik setan, kacang pilus, ayu ting-ting, macaroni, dodol, sale pisang, dll. Kami bungkusin kripik-kripik tersebut menjadi bungkusan-bungkusan kecil, dan kami hargai satu bungkus sebesar Rp 2.000,00. Kalau beli 3 bungkus, jadi Rp 5.000. pikir kami, itu adalah harga yang sangat murah, mengingat segmen pasarnya juga menengah ke bawah.


Siapa sangka bahwa selama satu hari itu dagangan kami nyaris tidak laku satu pun? Kami berkeliling menawarkan dagangan, berteriak-teriak dan promosi, tapi orang-orang hanya lewat dan tidak menggubris. Kami sampai terheran-heran sendiri, kenapa bisa begini? Bukankah orang-orang Bandung sangat menggilai kripik, apalagi yang pedas-pedas? Kami berteriak-teriak dan berkeliling selama lebih dari 2 jam, dan masih saja tidak ada satu dagangan pun yang laku. Kami mencoba mengubah strategi dengan menurunkan harga, satu bungkus kami hargai Rp 1.000,00. Kami bahkan bekerja sama dengan mahasiswa Maranatha yang lapaknya bersebelahan dengan kami, dan mereka jualan baju bekas. Nasib mereka sama seperti kami, belum ada baju bekas yang terjual satupun padahal mereka juga sudah berteriak-teriak selama hampir 3 jam. Satu setel pakaian dihargai sebesar Rp 25.000,00. Kami gabungkan dagangan kami, beli baju dapat kripik! Itu juga setelah banting harga, satu setel baju sebesar Rp 20.000,00 plus Rp 1000 untuk kripik kami. Wahahaha.


Ternyata dagangan kami, baik kripik maupun baju, masih tidak laku.


Kami tertegun dan bingung sekali. Padahal suasana begitu ramai! Mengapa dagangan kami tidak dilirik orang barang sedikit pun? Tapi orang-orang yang berjualan susu murni bisa ramai sekali. Padahal ukuran susunya kecil banget, ukuran cup 200ml doank. Dan itu dihargai Rp 3.000!! Gile.


And in the end…. Dagangan kami baru dikerubuti orang-orang setelah kami banting harga lagi dengan menjadikan harga sebungkus keripik Rp 500. Lima ratus rupiah!! langsung orang-orang pada datang dan membeli sebanyak 10 hingga 20 bungkus keripik. Bukannya, untung, kami malah buntung…. Kami sepakat tidak menjual lagi kripik-kripik itu, mulai mengemasi barang dagangan dan berjalan pulang sambil membawa kripik yang tersisa. Sebagian dari kripik itu telah dijual ke jemaat gereja, dengan harga seperti harga semula, Rp 2000 per-bungkus dan Rp 5.000 untuk 3 bungkus. Rupanya, bagi pasar segmen menengah ke bawah, harga kripik sebesar Rp 2.000 masih terlalu mahal. Sungguh berbeda dengan mahasiswa yang rela beli kripik Maicih seharga Rp 20.000 per bungkusnya! Alamak….


Suatu pelajaran yang sangat berharga hahaha.


Mujizat Terjadi

Saya akan menyimpang sedikit, tapi ujung-ujungnya akan nyambung juga ke usaha ini hehe. Saya akan ngomongin dulu soal perpuluhan dan persembahan khusus hehe. Di benak saya, perpuluhan sudah menjadi sesuatu yang WAJIB diberikan. Gak ada tawar menawar, pokoknya perpuluhan ya harus dikasih dan dipersembahkan ke gereja. Tapi untuk persembahan khusus, saya masih bergumul dan anget-anget tai ayam hehe. Kalau lagi mood ya saya beri, tapi kalau keuangan lagi mepet, saya merasa malas memberi :(


Pada hari Minggu, 22 April 2012, saya entah kenapa tergerak untuk memberi persembahan khusus. Di hati saya terbersit sejumlah angka sebesar X, tetapi Roh Kudus berbisik di hati saya, berikan jumlah sebesar 10X. 10X! alias sepuluh kali lipatnya!! Saya sempat ragu-ragu. Kalau saya memberikan uang sebesar itu…. maka isi dompet saya akan berkurang banyak. Bulan April itu saya sudah habis-habisan buat bayar ini dan itu, jadi rasanya malas sekali mengambil uang lagi di ATM. Tapi akhirnya saya bulatkan dan mantapkan hati, beri aja. Gak usah khawatir, toh pasti Tuhan juga yang cukupkan. Gak mungkin juga toh saya dibiarin berkekurangan. So, saya berilah jumlah uang sebesar 10X itu.


Dan saya mengalami sendiri ayat di Maleakhi 3:10, bahwa tingkap-tingkap langit akan dibukakan ketika kita berani melepaskan dan memberi yang terbaik.


Pada hari Senin, toko kami didatangi orang dari disdus.com. Tau situs disdus gak? Itu semacam kaskus – dan pada awalnya ia memang jadi satu dengan kaskus tapi akhirnya misah – tapi ia memfokuskan diri di bidang kuliner dan makanan. Situs itu sudah lumayan besar dengan member sebesar 1,7 juta orang. Kami sangat kaget sekaligus bersyukur didatangi mereka! It’s really an honor to us. Mereka tahu produk kami dari twitter, dan tertarik dengan produk kami yang unik. So datanglah mereka dan menawari kami kerja sama hehe :p


Di hari Selasa, kami menerima “banjir” pesanan dari Jakarta, Surabaya, Jogjakartan dan kota asal saya sendiri, Purworejo. Hmmm, sebenarnya gak banjir-banjir amat sih hehe. Tapi dibandingkan hari pertama dan kedua buka, kami sangat bersyukur. Kebanyakan dari mereka juga mengetahui produk dan toko kami melalui twitter (so jangan remehkan kekuatan promosi online!), dan mereka memesan dalam jumlah cukup banyak. Wihiiii ^^ Berkat pesanan itu kami sudah dapat membayar uang sewa yang langsung kami bayarkan saat itu juga kepada teman kami. Kami juga telah mengetahui respon pasar dan mendapatkan setidaknya 5 rasa favorit, yaitu basreng (terutama untuk daerah Bandung), marshmallow blueberry, peanut butter, cream cheese, dan pandan soft cake. Semua rasa tersebut sekarang sudah sold out dan kami berencana untuk memproduksi sekitar seribu coklat lagi dalam waktu dekat. Kami juga menerima tawaran reseller dari beberapa orang, dan menerima pesanan untuk souvenir ulang tahun dan pesta perkawinan.


Saya sangat bersyukur…. Saya sangat terpuruk. Benar kata Firman bahwa barangsiapa menabur, PASTI menuai.


***

Jika teman-teman tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang produk kami, macam-macam rasa termasuk cara pemesanannya, silakan kunjungi toko kami di Jalan Ciumbuleuit 39, Bandung 40141 (di bawah Apotik Waringkas, satu ruko dengan bengkel dan tempat cuci motor), atau silakan kontak saya di nomor 0877-1519-4165. Kami juga berencana untuk membuat web tersendiri, tapi itu semua masih dalam proses hehehe ^^


Ada Saran, kritik, or comment? Feel free to tell me :) hehe.div class=

1 komentar:

  1. A very nice share..! Tuhan memberkatimu selalu ya, Nonik ^^

    BalasHapus

hey guys, please leave your mark print here! it give me a boost to keep writing you know! ^^