About Me

Foto saya
A beautiful girl in His eyes. A girl with a BIG dream, BIG vision, with BIG passions for her town. Interested in a lot of things. Talkative and longing to travel in many new places. Is thinking hard what she can do to her country.

Minggu, 08 April 2012

Apa Makna Paskah Tahun ini Bagimu?

*Warning: Ada kata2 dalam posting ini yg sengaja gak gue sensor untuk lebih menggambarkan apa yg gue rasakan. I do apologize for the inconvenience..."


Paskah tahun ini.... adalah paskah yang luar biasa buat gue. Bukan lagi sekadar perayaan, tradisi, atau ritual biasa.... Biasanya gue suka keki en jengah sendiri sama setiap hari-hari raya Kristen: paskah kek, natal kek, kenaikan Tuhan Yesus kek, dll. Kenapa? Karena gue gak pernah nangkep or dapat maknanya. Buat gue, hari raya ya hari raya doank. Ga ada spesialnya, ga ada istimewanya. Ga ada gregetnya apa-apa. Itu adalah hari sama seperti hari-hari lainnya, paling bedanya ada misa or kebaktian doank di gereja.


Tapi tahun ini.... TIDAK. Gue benar2 belajar sesuatu. Sampe heran juga, kok pas banget pas Paskah gitu lo. And gue percaya ini bukan kebetulan. Sesuatu itu adalah pengampunan. Dan pengampunannya bukan pengampunan yang asal2an, karena ini mengampuni ortu gue sendiri, terutama bokap.



As you might have known from my previous posts, dalam minggu ini gue mengalami kepaitan yang cukup parah sama bokap. Apa perbuatannya, ga usah dibahas lagi. Udah lewat dah haha. Kenapa gue bisa sangat kepaitan, karena selama ini gue selalu menjadi Daddy's girl. Bukan daddy's girl dalam artian gue selalu dimanja dan mendapat apapun yg gue inginkan, tetapi karena hubungan gue en bokap emang deket banget. Gue senang bisa membangga-banggakan hubungan father and daughter ini ke teman2 lain, dimana banyak dari antara mereka yg hubungan dg papanya mungkin ga bisa sedekat ini. Dan gue bersyukur karenanya. 



En you might have known as well from my previous post, that my parents got divorced when I was 8, dan gue dibesarin sama bokap. Karena itulah, sedikit banyak pola pikir dan cara pandang gue juga dipengaruhi oleh bokap. Apa yang terjadi dalam keluarga, including hubungan papa en mama gue sendiri, juga sedikit banyak dipengaruhi oleh bokap. Kasarnya, gue menjadi subjektif dalam menilai setiap permasalahan mereka, dalam artian lebih menilai ke bokap. Daddy is my superhero. He is my superstar, and i thought that he could never be wrong. Ada satu masa dimana gue pernah sangat membenci mama dan blamed her about everything. Tapi itu dulu ya. DOELOE. Now that I've known the truth, I love them both. 



Pemulihan en pelepasan luka batin gue dengan nyokap sudah terjadi dua tahun lalu (prosesnya sih akan terus berlanjut sampai sekarang. Yang gue maksud adalah titik baliknya. Got what i mean, right?). To make it short, ada satu kejadian ga enak antara gue en papa, yg intinya bikin gue sakit banget. Gue cukup shock juga dengan keadaan ini. Efeknya buruk dah. Hati gue pahit, so kata-kata yg keluar juga pahit. Sikap jadi kurang ajar, bahkan sama ortu. Orang2 terdekat gue pada kena semprot. Tapi yang paling parah adalah hubungan gue dengan Tuhan sendiri. Selama kira-kira 5 hari, gue marah-marah sama Tuhan. Gue meragukan Dia. Gue menganggap Tuhan itu bukan siapa-siapa melainkan seorang pembohong (sorry Lord T____T). Gue meragukan Dia dan semua janji2Nya. Yah gitu deh. Akibatnya apa? gue jadi merasa hambar banget... Ga ada damai. Ga ada sukacita. Seumur-umur gue ngikut Tuhan Yesus, rasanya belum pernah hubungan gue dengan Dia berada di titik serendah en sekelam ini. Rasanya jauuuuuh sekali. 


Gue tahu gue harus melakukan pemberesan. Dan satu-satunya cara dan jalan, adalah dengan mengampuni papa gue. Gue tahu, ngomongnya gampang. Tapi praktiknya, susah banget bow. Apalagi kalo yg menyakitinya itu orang terdekat kita sendiri. Ya gak? Padahal gue dulu juga termasuk gencar "berkotbah" soal pengampunan. Baru gue tahu.... setelah mengalami sendiri... ga segampang itu. Kakak PA gue berkata, pengampunan itu bisa digambarkan ada tingkat2nya juga: tingkat ringan, menengah, berat, sampai dewa. Tingkat ringan ya misalnya, kita maafin orang yg telat dateng dah. Ato supir angkot yang seenaknya nyrobot jalan kita. Tingkat menengah, misalnya.... apa ya. Hmmm. maafin sodara yg udah makan jatah makanan kita, ato ngilangin baju, ngilangin benda dll. Tingkat berat sampai tingkat dewa, u know sendiri lah: mulai maafin pacar yg mutusin karena alasan ga jelas sampai kelakuan ortu. Pengampunan tingkat ringan seringkali terjadi hampir tiap hari. Pengampunan tingkat sedang, yaaaa beberapa kali lah hehe. Tapi yang tingkat berat?? Woooo.


Sampai pagi ini, ketika gue teringat kembali akan perbuatan bokap... syakitnyaaaa. Gue kembali dibukakan bahwa bukan hanya kesalahan sekarang, ternyata perceraian mereka dulupun gue belum bisa 100% memaafkan. Gue belum bisa berdamai. Pokoknya masa-masa kemarin, borok-borok gue dibukain semua sama Tuhan. Kaya katanya Mbak Dhieta, hati gue lagi dioperasi. En yang busuk-busuk tuh pada dikeluarin semua. Gue kembali menangis dan menjerit. Hati gue serasa disayat-sayat en digores-gores lagi. Ego gue berkata, "Harusnya papa yg minta maaf, bukan guenya!!!" Tapi gue toh belajar dg sangat keras juga untuk berkata, "Papa, nonik mau maafin papa." En itu gue perkatakan dg tegas, bersuara lah pokoknya. Apakah langsung sekejap itu plooong dan mak wuuuussh?? I have to say NO. Butuh beberapa hari buat gue untuk bisa dengan tulus hati mengampuni papa. Pokoknya tiap kali inget, sakit. Soalnya ya like what I said, selama ini sosok bokap itu sempurna di mata gue. Jadi pas dia melakukan 'sesuatu' itu, image itu runtuh, hancur berkeping-keping. Tau kan maksud gue.... 


Kemarin malem, my dad sent me a sms, he apologized. Tapi gue diemin, ga gue bales. Masih jaim guenya. And this morning... he called me. He explained everything. I mostly just listened and said nothing.... only tears running down my cheek. Hati gue sih ga setuju dg semua yang dia katakan, dg pola pikirnya dll. Ingin rasanya gue bales teriak en 'menceramahi' bokap itu ga benar blablabla. Tapi gue tahu, itu bakalan berabe. Roh Kudus ingatkan, sudah cukup kelakuan gue yang kurang ajar sama ortu. Sudah cukup makian dan umpatan seperti "brengsek, kampret, kutu kupret, dan tai asu" yang gue lontarkan. Gue sudah putuskan bahwa gue mau mengampuni bokap, and that was it. Ampuni ya ampuni. Gak perlu lagi ngungkit2 lagi kesalahannya or apa yang dia lakukan. Semuanya sudah disegel, ditutup dg label "FORGIVEN".



Well, sehabis ditelpon itu, gue masih ada sisa kemarahan sedikit. Tapi gue sudah sepakat, ga akan mengungkit-ungkit lagi. Beneran loh guys, kalo kita ga ngampuni orang, kita sendiri yang rugi. Gue baru saja mengalaminya. Semuanya pahit lah. Hati pahit, muka pahit, kata-kata pahit, sikap pahit. En itu babar blas gak ada enak-enaknya. Gue jelas ga mau merasa seperti ini terus2an. Gue perkatakan keras-keras, "Tuhan, Nonik mau ampuni. Nonik tidak akan lagi mengungkit-ungkit kesalahan papa, dan juga kesalahan papa dan mama yang dulu-dulu." 


After i said that, i closed the case. And i felt peace immediately.


***


Di masa Paskah ini.... gue belajar sesuatu yang sangat berharga. Itu adalah betapa berharga dan indahnya suatu pengampunan. Pengampunan tidak hanya sekadar mengampuni kesalahan orang lain, tetapi juga memulihkan hati kita.... Pengampunan adalah sesuatu yang membebaskan.


Gue kembali diingatkan, terutama saat di kebaktian hari ini. Betapa Tuhan Yesus juga sudah mengampuni orang2 yg menyalibkan Dia. Prajurit2 yg melecuti tubuh-Nya sampai udah kaya daging burger. Tuhan Yesus memaafkan Yudas Iskariot, muridNya sendiri yg mengkhianati Dia. (Hubungan murid-guru dulu itu begitu spesial, bisa melebihi hubungan ortu-anak!!). Dia memaafkan teriakan massa yg ikut2an berteriak utk menyalibkan Dia. Dia memaafkan orang2 Farisi dan ahli2 Taurat. Renungan dari Yesaya 53:3-7 mungkin bisa sedikit gambaran itu:


Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.



Gue berpikir.... Kelakuan gue kemarin sudah sangat kurang ajar. Kelakuan gue itu seperti halnya memakukan paku yang panas membara ke hati orangtua. Tapi kelakuan orang2 yg menyalibkan Tuhan Yesus dulu.... mungkin 1000x lebih kurang ajar. Itu benar2 kelakuan yg super bejat, naudzubillah super2 tidak pantas dilakukan oleh makhluk ciptaan terhadap Penciptanya. Tuhan yg mengetahui setiap jumlah helai rambut dari setiap mereka, yang merangkai otot2 dan daging mereka, mengatur denyut jantung mereka, tapi Ia diam saja saat disalib. Padahal, Dia PUNYA KUASA. Dia bisa memerintahkan 1 legiun malaikat untuk turun menolongNya saat itu juga. Jika Tuhan Yesus bisa mengampuni.... maka gue pun bisa. Gue bisa mengampuni, karena Tuhan Yesus yg memberikan teladan. Karena kasih dan anugrahNya yang memampukan. Dan saat gue melakukannya, gue juga merasa damai, bebas, lepas. 


Betapa berharganya pelajaran yg gue dapat di Paskah ini. Gue percaya, dan gue tahu, mengampuni orang tua, sama sekali bukan perkara yg mudah. Tapi yah, mereka juga manusia gitu. Mereka juga bisa jatuh dalam dosa. Mereka rentan berbuat salah.... Now I pray not only for my parents, for my family. Tapi jg buat orang2 lain juga... yg mengalami pergumulan sama. Masalahnya tentu tidak persis sama, tapi mungkin sama beratnya, atau malah lebih berat. I do not know what kind of struggle you are facing right now. Tapi gue mau bilang, bahwa sekalipun keadaan udah seburuk apapun, Tuhan itu tetap layak dipercaya, sekalipun Dia kelihatannya jg udah ga bisa dipercaya lagi HAUEHEUOHAUE. I've been there. Gue sudah ratusan kali meragukan Tuhan. Thinking that He's a liar. That He is unable. Dan gue pernah merasakan masa dimana tangan Tuhan sendiri benar2 menekan gue sampai gue jatuh tersungkur en terpuruk, ga tahu harus berdoa gimana lagi. Setiap kali ingat ortu, yang bisa gue katakan hanyalah "Tuhan, papa dan mama.... Papa dan mama...." sambil nangis-nangis. Tangan-Nya akan terus menekan dan membentuk gue, selama yang diperlukan. Gue sampe skrg ga tahu dg cara apa en kapan keluarga gue pulih. Sudah berserah setotal-totalnya sama Tuhan sekarang hehe. En pengampunan ini juga akan terus gue lakukan, ga cuma brenti di tahap ini, tapi atas kelakuan yang telah, sedang, dan bahkan akan dilakukan oleh ortu gue.



***


In the end, gue mau berterima kasih sama kalian para pembaca blog gue yang sudah mau berdoa buat gue. Please know that your prayer support, either you know me or not, means THE WHOLE WORLD to me. Knowing that there is someone out there who is willing to pray for me.... is really precious. Thank you yah... :'D 


Makasih juga buat Mbak Dhieta yang seminggu ini sabar mendengar keluh kesahku, termasuk kena cipratan omongan yg ga enak :( 


With prayer,
Nonik.

3 komentar:

  1. mirip Nik, bedanya dalam kasusku (sepele tapi karena terus-terusan jadi numpuk), papaku duluan yg minta maaf sama aku.. aku justru belajar darimu untuk bisa mengampuni duluan :)
    tetap semangat dan terus sama-sama belajar ya kita :)
    Tuhan Yesus memampukan dan memberkati!

    BalasHapus
  2. glad to know this nik.. =)
    Selamat naik 1 tingkat dalam sekolah kehidupan bersama Tuhan =)

    BalasHapus
  3. thx for share Louisa :) Keep move it ya :)

    BalasHapus

hey guys, please leave your mark print here! it give me a boost to keep writing you know! ^^