About Me

Foto saya
A beautiful girl in His eyes. A girl with a BIG dream, BIG vision, with BIG passions for her town. Interested in a lot of things. Talkative and longing to travel in many new places. Is thinking hard what she can do to her country.

Rabu, 21 Maret 2012

PRIHATIN

Akhir-akhir ini, semua berita yg gue baca en gue denger bikin hati ini miris mikirin kondisi bangsa Indonesia. Terutama dari koran Kompas kemarin, 6 berita yg headline utama saja sudah membuat hati ini gerah. Mulai dari 6 pasang calon gubernur DKI, biaya kampanye politik yg semakin menggila, keserakahan en sikap pejabat yg ga pernah mikirin rakyat en hanya pusing mikirin gimana balik modal saat kampanye, artikel "Korupsi & Hati Nurani yang Telah Mati", sampai anak balita umur 8 tahun yg kecanduan merokok.

Yang waktu itu bikin gue sangat pikiran tuh, tentang berita anak umur 8 tahun yg udah kecanduan ngrokok. Bayangin deh, anak umur 8 taon, ya kira-kira kelas 3 SD lah. Udah kecanduan ngrokok. Dari berita yg gue baca, si bocah itu kalo lama dikit ga ngrokok, udah kaya orang yang sakau narkoba. Bisa menendang-nendang di lantai, menjambak-jambak rambutnya, matanya jadi ga fokus, en marah-marah sambil banting-banting meja. Terus sudah mulai bentak-bentak en menodong ibunya untuk dikasih rokok... kalo enggak ya dia akan begitu terus. Dalam 1 hari, dilaporkan bahwa si anak itu bisa menghabiskan 2 bungkus rokok!! Ngeri banget gak sih T____T Si anak merokok karena dia melihat pamannya merokok, dan juga sering sekali melihat orang2 dewasa lain yg merokok. Misalnya, duduk nongkrong2 di warung or pos ronda sambil merokok. Lha yang kaya gitu kan pasti bakal kelihatan sama anak kecil. Dari yg mulanya pingin tau, coba-coba, terus ketagihan.... Sekarang anak itu lagi direhabilitasi di KOMNAS Anak. 


Bukan hanya si bocah umur 8 tahun yg kecanduan merokok. Termuan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) begitu mengejutkan, dari tahun 1995-2010, anak2 berusia 10-14 tahun yg merokok mengalami lonjakan yg sangat tajam en signifikan. Jika di tahun 1995 jumlah anak yg merokok "Hanya" 71.000 orang, di tahun 2010 sudah menjadi 426.000 orang. Dan itu baru anak2 berusia 10-14 tahun, anak2 di bawa 10 tahun yg merokok belum terhitung... Menurut Kompas, anak2, bahkan balita yg kecanduan merokok, tentu kecerdasannya akan turun. Kesehatan jg terganggu, karena rokok berpotensi untuk menyebabkan kanker, gigi rusak, impotensi, gangguan kehamilan & janin dll. Oh my. Gileee. Baca kaya gitu, siapa yg ga miris? 



Dari segi sosial, anak2 yg kecanduan merokok ini tidak bisa mengendalikan kecanduannya. Mereka rela melakukan apa saja demi bisa menghisap sebatang rokok. Ada yg putus sekolah dan kerja jadi tukang parkir, terus duitnya dipake buat beli rokok T.T  Ada yg gak mau ke sekolah kalo belum dibekali rokok en uang saku Rp 10.000,00. Orang tua tak kuasa mengatakan tidak karena kalo tidak dituruti, mereka akan meledak en going nuts. Bahkan ada yg dari usia 11 bulan (11 bulan man!!! Gue sama sekali kagak bisa bayangin) sudah kecanduan rokok, en dalam sehari bisa ngabisin 4 bungkus rokok. Well, if you want to know it further, silakan baca di Kompas cetak tanggal 20 Maret 2011 kemarin, atau kunjungin di www.kompas.com. Benar sekali kata Arist Merdeka Sirait, Ketua Umum Komnas PA (Perlindungan Anak): bahwa negara telah kalah oleh kepentingan para perokok. Mengutip juga tulisan teman gue di blognya, http://kangridwan.wordpress.com, bahwa Indonesia merupakan surga bagi para perokok, dan neraka bagi orang yang tidak merokok. (Sekalian promosi: tulisan dia bagus-bagus!!!) Oh anak-anak Indonesia. Tanpa sadari, generasi penerus ini sudah hancur oleh rokok. Mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan karena mereka juga melihat hal ini dari perilaku orang2 dewasa lainnya, bahkan dari ortu mereka sendiri.



Ngomong2 tentang rokok, sekarang gue kepikiran buat ajak teman2 yg baca ini berdiskusi en pikir dalam2. Pertanyaannya gini:
What will you do if you are offered a very high and reputable job which against your personal value? 


Contoh kerennya: Anda menentang rokok, tapi Anda ditawari bekerja di perusahaan rokok terkenal. Gue melemparkan pertanyaan ini bukan tanpa alasan, karena gue baru2 ini juga mengalaminya: Ditawari gawe kerja di Sampoerna. Pada tahu kan pabrik rokok Sampoerna? Yah jujur, gue sih salut-salut aja sama perusahaan itu. Produk rokoknya macem2 bow. Mulai dari Sampoerna yang biasa2 aja en dimodifikasi macem2 sampe merk LA. Pendapatan per-tahunnya itu Rp 400 trilliun rupiah lebih, dan dia sudah diakuisisi oleh Phillip Morris International, Co dan merupakan pengakuisisian terbesar yang pernah dilakukan Phillip Morris (PM). Sudah rahasia umum bahwa orang2 yg kerja disana (staff) akan sangat sejahtera. Terjamin dah. Perusahaan ini adalah salah satu penyumbang tax TERBESAR kepada pemerintah. Yaa ga heran kalo debat di DPR soal penghapusan UU Tembakau mentok en ga kesentuh lagi smpe sekarang. 


Nah, what will u do?


Gue ga muna bilang kalo gue jg sangat tertarik maaaan kerja disono. Menarik kan topik ini buat didebatin ahueohueohueoheuae. Some people will say, yaah no matter whether u work there or not, people still smoke, baby. It's their choice!! U can't stop them. U just work for the company. True. But on the other side, actually you are also taking part in the circle of evil heheheh. Benar bahwa orang merokok karena pilihan mereka. Tapi bila dipikir-pikir, maukah kita, dalam hal ini gue, menyumbangkan pikiran dan kepintaran gue untuk memajukan perusahaan tersebut? The battle of realism and idealism. Some people will say that I am so damn stupid if I refuse the offering. 



Perusahaan rokok tuh pinter. Mereka tahu mereka memproduksi barang yang bikin orang addicted. As a compensation, they sponsored a lot of things, including sport. (Yang non sense menurut gue, kegiatan yang menyehatkan orang justru disponsori oleh perusahaan besar yang merusak kesehatan orang :p). Dan banyak lagi bentuk-bentuk CSR yang mereka lakukan. Mereka mengadakan lomba desain toko yang menjual rokok. Desain terbaik, bakal dapat hadiah jalan2 ke luar negeri hoho. SPGnya juga cantik-cantik lo... Ironic, isn't it? 

Buat kalian yg idealis, mungkin gampang buat bilang, "Gue sih ga akan masuk/ga akan terima." Hehehe. Gue juga gitu. Tapi bayarannya gede looooh. Siapa sih yg ga tergiur. Gue nih anak Tuhan, tapi gue juga butuh duit man.... Karena itu, penting banget utk cek lagi motivasi kita: kita nih kerja buat apa sih? apa yg kita kejar? just money??? I can't conclude the answer for this, so I will leave it to you :)



Hal kedua yang sangat gue sedihkan dari Indonesia, adalah tidak adanya tayangan tv berkualitas disini. Ini gue berbicara dalam lingkup general, karena bagaimanapun tetap ada siaran yg mendidik, seperti misalnya channel rohani di V Channel dan juga Metro TV, ANTV atau TPI. TAPI, siaran apa yg kebanyakan ditonton orang-orang, teman-teman?? Gue memang belum survey tapi gue berani tulis, lebih dari 70% orang pasti lebih sering menonton channel yang isinya kebanyakan sinetron picisan dan tidak mendidik. Sekali lagi, gak semua rakyat Indonesia begini loh. Ada kok yang tontonannya berita setiap hari (meskipun isinya negatif semuaaaa hixhixhix T____T). Tapi tetep aja masyarakat kita yg nonton sinetron2 gitu jauh lebih banyak.


Gue sangat menyayangkan, belum banyak film2 edukatif di Indonesia seperti di luar negeri. Misalnya seperti channel BBC, CNN, AlJazeera, National Geographic, Discovery, dll. Well, buat kita yg punya en langganan IndoVision di rumah sih no problem ya hehe. Tapi yg belum punya?? Dari 259 juta rakyat Indonesia, banyakan mana antara yg bisa mengakses tayangan beredukatif dg yang tidak? Industri perfilman kita masih saja berputar-putar di tayangan yang berbau mistis, murahan, kacangan, bahkan sering sekali mengandung unsur kekerasan (terutama kekerasan verbal). Film-film kita tidak menyebarkan unsur2 yang mendidik kepada masyarakat. Kebanyakan adalah sinetron yang isinya tuh rebutan istri-anak-harta-pacar, dan seringkali sangat tidak masuk akal. Film2 yang memang bagus, seperti Laskar Pelangi dkk, masih kalah banyak. Well... bila masyarakat kita disuguhi tontonan ini setiap harinya, yaaaa bagaimana mereka bisa menjadi generasi penerus yg berkualitas?? Apa yg mereka tonton dan serap setiap harinya itu pasti akan mengendap di pikiran dan alam bawah sadar mereka. Secara tidak sadar, perilaku kekerasan di televisi, seperti mencemooh orang lain, merasa tidak laku en tidak keren kalo belum punya pacar dll, akan terbawa dan tercermin jg dalam perilaku sehari-hari :(


Ada juga film yang isinya mengumbar aib orang lain, terutama dalam hubungan dengan lawan jenis dengan metode hipnotis. Gue pas nonton itu sampai mikir, apakah pasangannya (entah masih pacaran ato udah jadi suami istri) tidak sakit hati? gak kepaitan tuh? itu kan diumbar di depan publik man!! Bisa jadi yah para penontonnya tu dibayar. Tapi gue bener2 ga habis pikir, tujuan orang yg bikin acara kaya gitu tuh apa coba?? Apa tujuannya? Puaskah mereka dg mengumbar aib orang lain? Kisah para selebritis yang kawin cerai, tidakkah itu jg menyebarkan pesan bahwa gapapa kok kalo kawin cerai. lama2 cerai itu menjadi sesuatu yg normal karena semakin banyak orang yg melakukannya. Gue percaya, mereka saat menikah tentu TIDAK ADA niat untuk bercerai. Tapi melihat semakin maraknya hal ini terjadi.... rasa2nya pernikahan adalah sesuatu yg murahan. Dan kalo terjadi masalah besar, gampang sekali perkataan "Gue mau cerai" atau "kalo gini kita cerai aja" itu diucapkan keluar.


Kemudian, bagaimana dengan film-film berbau mistis yang, maaf saja, picisan? Film2 yg menampilkan berbagai keluarga setan di Indonesia: pocong, genderuwo, kuntilanak, suster ngesot, sundel bolong, dll. Mbok ya kalo mau bikin film kaya gitu tuh bermutu dikit kaya Eclipse atau Harry Potter gitu loh.



***


Teman2 yg baca ini, mari berdoa sejenak untuk Indonesia. Berdoa biar pemerintah, terutama Menteri Kominfo en Komisi Penyiaran Indonesia bisa lebih selektif dalam menayangkan tayaran bagi masyarakat. Berdoa biar pemerintah mau mendorong lebih banyak lagi terciptanya film-film bermutu yg berkualitas tinggi. Dan berdoa, biar pemerintah ga kalah dengan kepentingan industri rokok.... 


Gue percaya Indonesia ada di hati Tuhan. Tuhan ingin liat anak2Nya bisa jadi terang, di bidang apapun yg kita lakukan. Salah satu caranya adalah dg kejar visi yang udah Tuhan taruh hehe (lagi demen nih ngomongin visi ^^). Visi untuk memulihkan generasi ini. Tidak ada visi yg lebih rendah dibanding yg lain. Panggilan menjadi artis tidak lebih rendah dibanding menjadi pengusaha or pendeta (remember Agnes Monica??).


Feel free to disagree with me :)

11 komentar:

  1. Soal rokok, aku sudah belajar nolak dari awal kuliah. Tau Beasiswa Djarum? Wah, di ITS itu sangat marak dan keren2 lho alumninya.. sebagian besar dari mereka jadi orang berpengaruh di kampus, sekolah di luar negeri, bikin bisnis sendiri, dll. Ada pelatihan leadershipnya, team work, dsb. Beasiswanya juga gede, dia nanggus SPP + biaya hidup. Wooww..
    Mamaku sendiri pernah nyuruh aku ikut beasiswanya. Tapi sejak SMA aku bertekad untuk gak memasrahkan diriku dengan dibiayai pabrik rokok. Aku percaya masih banyak kok perusahaan lain yang mau ngasih beasiswa tanpa rokok :)
    Mereka kayak gitu kan untuk menarik simpati aja. Biar rokoknya keliatan bagus di luar, baek di luar, tapi sebenernya... (isi sendiri)
    Dan jujur aja sih, aku gak tertarik kerja di sana walau dibayar tinggi. Moga2 aja pikiran seperti ini bisa terus tertanam ya, dan bukan gara2 kepepet uang, akhirnya menyerah..

    Kalo masalah film, aku kenal seseorang yang kerja di B Channel. B Channel ini salah satu stasiun TV swasta yang menayangkan tayangan2 yg bermutu. Bahkan kadang iklannya juga nyelipin ayat2 Alkitab lho.
    Terus berdoa aja bakal banyak orang2 yg takut akan Tuhan mulai terjun ke sekuler. Banyak kok sebenernya mutiara di tengah sampah dunia ini. Cuma karena jumlah sampahnya lebih banyak dari mutiaranya, jadinya gak keliatan. hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaah aku malah baru tahu ada B Channel. itu sama dg V Channel gak y? yg sering ada kesaksian itu lo.

      sayangnya ga semua tv punya channel itu :( Di tv kosku aja channelnya ya umum2, kaya metro tv, tv one, rcti, sctv, indosiar, global tv, trans tv, trans 7, antv, en tpi. kalo yg tv-tv lokal gitu gak ada hehe. En ga pasang indovision juga sih jadi ga bisa nonton film yg bagus2 huaaaaaaaa T____T

      Hapus
  2. Oiya, tulisanku gak bermaksud untuk menyindir orang2 yg kerja di pabrik rokok ya Nik!
    GAK SEMUA orang yg kerja di pabrik rokok itu merokok. hehehe.. ada juga orang2 yg serius emang mau bantu masyarakat. Cuma ya itu cuma idealisku aja sih :P

    BalasHapus
  3. oh iya donk!! aku tahu maksudmu kok hehe. tulisanku di atas jg sama sekali ga bermaksud menyinggung orang2 yg kerja di pabrik rokok hehe. Tidak bisa dipungkiri bahwa perusahaan rokok adalah salah 1 perusahaan yg membuka ratusan ribu lowongan pekerjaan. Makanya, sangat susah kan dilemanya. Realism vs Idealism. Sangat tidak mudah untuk memutuskan gak kerja di perusahaan rokok, ya dikatain macem2: sombong lah, sok, dsb. Salut sama kamu yg memutuskan buat ga diberi beasiswa perusahaan rokok.... kalo cuma beasiswa doank sih, kayaknya aku mau hahaha :p

    Soal CSR, itu kan memang upaya cuci dosanya perusahaan rokok huehehe.

    BalasHapus
  4. Gw ikut emosyong baca postinganmu ini Non. Dan juga bingung mau ngomeng apa saking banyaknya diotakku. Mungkin bisa beberapa note tersendiri. Tentang korupsi, tentang orang miskin, tentang gurita rokok, tentang film, tentang bla bla bla bla. Ga akan ada habisnya. Unlimited kayaknya.

    Let's start to agains that all, as we can. Melalui tulisan-tulisan propaganda, melalui diri kita dan lingkungan kita. Kalo udah punya power baru mungkin bisa ngehajar.

    hahaha

    Gw 4 bulan yang lalu menjadi satu dari 3 wakil UGM yang diundang oleh Sampoerna. Ada 69 mahasiswa2 terbaik se Indonesia dari 23 universitas favorit. (ada juga dari UNPar: namanya Angga, Yosefa, Livia.)Ditiketin pesawat, masuk hotel bintang 5, pelayanan prima, dll.

    Mereka memang menggunakan strategi yang tangguh. Musti dilawan dg strategi yang lebih joss juga.

    Btw, ketika aku motoran dari Pwr ke Jogja, ada poster : 10 Musuh petani tembakau. Ada gambar2 tokoh nasional di situ. Ada kak seto bu menkes, mendag,dll.

    Bahkan mereka memanfaatkan petani tembakau sebagai "senjata". Menghasut mahasiswa agar "mendukung" atau minimal "memaklumi" keberadaan perusahaan rokok.

    Ah, sekian dulu deh.
    ntar malah jadi note di note orang.

    :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Wan. ayo ayo bikin post lagi hehe. Kalo bicara soal pelayanan en fasilitas dari perusahaan rokok, emang luar biasa... makanya, siapa sih yg ga tergiur utk dapet tawaran kerja di perusahaan besar tsb??

      btw, yg poster 10 musuh petani tembakau tu aku jg liat. Aje gile petani tembakau dijadikan tameng oleh perusahaan2 rokok... seolah2 mereka tu sangat pro-rakyat kecil banget. Padahal duit yg mereka raup dari industri rokok itu ribuan kali lebih besar drpd bahan baku yg mereka beli dari para petani tsb!! Ckckck.

      Oh ya, denger2, rokok di Indonesia itu jauh lebih kuat drpd rokok di luar negeri. Yg aku tau sih ini omongan dari jepang ya. Smpe2 orang jepang tuh "terkagum-kagum" liat perokok Indonesia yg katanya sama aja dg ngisep racun T____T

      Hapus
  5. Emang geram banged klo bicara soal rokok. Rata-rata dinegara barat, pemerintahnya punya undang-undang yang tegas ttg rokok makanya jarang ada anak-anak yang merokok disana. Tapi di Indonesia, konsumen rokok adalah anak-anak..Miris

    Liat aja nih video-nya..
    http://www.youtube.com/watch?v=DiyWK3fzTpA&feature=player_embedded

    Kita harus banyak berdoa utk Indonesia supaya dipulihkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak. masa ada video dimana anak balita ngerokok. En itu nyata, real.... gila. En lagaknya itu, seolah-olah ngerokok tuh tindakan yg keren banget. Herannya lagi, orang dewasa di sekelilingnya tu gak memarahi si anak ato mencabut rokoknya, tapi malah biasa2 aja. En terlihat seneng begitu di-video, sampe2 didatengin orang asing yg tergerak utk terjun ke lapangan sendiri en "meneliti" fenomena merokok di Indonesia.

      Hapus
  6. Wahhh kalo masalah rokok sih emang di Indonesia bener2 banget deh. Kalo pulang ke Indonesia, begitu masuk airport, 'wangi' yg tercium pertama kali adalah 'wangi' asap rokok!
    -.-' Di mana2 bau rokok .. di bis, di airport, ruangan ber-ac maupun gak. Aishhh .. Di negara2 Eropa sini juga banyak sih yg ngerokok, but minimal mereka respect ama orang yg gak ngerokok. Di tempat kerja dikasih ruangan khusus utk orang2 yg ngerokok. Jadi ke manapun kita pergi gak akan tercium bau asap rokok. Kalo di Indonesia, ada orang ngerokok di bis ber-ac, kita tegur, malah galakan orangnya "Bayar 2000 perak aja mau enak!". Lhooo???? Yg parah, supir bisnya juga sering terlihat lagi ngerokok sambil nyetir -.-'

    BalasHapus
    Balasan
    1. yah begitulah Ci :( angkutan umum di Indonesia paraaaah.

      Hapus
  7. Welcome to reality :) hahaha~ masalah ini kompleks banget, soal e saling berkaitan satu dengan yang laen dan sudah menjadi sistem (jadi inget kesaksian seorang Pengacara Putih -pengacara yg ga sama sekali ga mau main suap menyuap- dia bilang supaya kasus bisa naik sidang ajah kudu pake suap.... ew...) dan bis amati muda kalau mikirin penyelsaian semua masalah ini =.=

    Prinsipku sih lakukan bagian kita dan biarkan Tuhan lakukan bagianNya :) termasuk menetapkan prinsip2 dalam hidup kita who knows, Tuhan memakai hidup kita untuk menginspirasi salah satu pemimpin masa depan bangsa ini :)

    BalasHapus

hey guys, please leave your mark print here! it give me a boost to keep writing you know! ^^