About Me

Foto saya
A beautiful girl in His eyes. A girl with a BIG dream, BIG vision, with BIG passions for her town. Interested in a lot of things. Talkative and longing to travel in many new places. Is thinking hard what she can do to her country.

Jumat, 17 Februari 2012

Diskusi Yuk: Kebijakan Baru Kemdikbud

Teman2, sudah pada tahu kebijakan baru yang dikeluarin Kemdikbud belum? Itu loh, kebijakan yang mengatakan kalo agar bisa lulus, mahasiswa mulai dari S1 sampe S3 harus menulis karya yang diterbitkan di jurnal ilmiah. Mahasiswa S1 harus menghasilkan makalah di jurnal ilmiah (lokal), S2 di jurnal ilmiah nasional, dan S3 di jurnal ilmiah internasional. Menurut saya topik ini menarik sekali buat didiskusiin, jadi saya mau bahas en angkat topik ini di blog. Please feel free to comment yaaa. Semakin banyak yg comment semakin rame nii ^^ Hahaha.
Kebijakan tersebut banyak menimbulkan pro dan kontra. Saya baru membaca dua artikel yang membahas dua hal tersebut, kalo mau baca bisa di SINI dan di SINI. Saya tertarik untuk mengulas kebijakan tersebut di bawah hihihi.



Hmmm. Apakah saya setuju dengan kebijakan di atas? Tadinya sih setuju-setuju aja. Tapi setelah saya pikir lebih lanjut en baca dua artikel di atas, terus tanya pendapat beberapa orang, saya ga setuju secara total seperti dulu lagi hehe. Tapi di tulisan ini saya akan jauh lebih fokus buat mahasiswa/i S1.


Pendapat yang setuju mengatakan, kebijakan ini sebaiknya di-endorse oleh para perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, karena ini bisa mendorong para mahasiswa buat jadi lebih produktif, lebih terdorong buat nulis. En katanya kebijakan ini berawal dari keprihatinan Menteri Pendidikan kita, kalo jurnal2 ilmiah di Indonesia itu masih kalah jauh dibandingkan negara2 tetangga, seperti Thailand dan Malaysia. Jangan bandingkan dengan Singapura, Jepang, dan China, apalagi AS dan negara2 Eropa, yang bahan tulisannya sudah berkualitas. Karena itu, Bapak Menteri berkeinginan agar Indonesia juga mampu menyaingi mereka. Pak Menteri bahkan bilang, "Mahasiswa itu kuliah S1 4 tahun lho. Masak menulis saja tidak bisa?" Pendapat tersebut sebenarnya baik, bahkan punya tujuan yang mulia. Menurut saya itu pandangan yang optimis banget dan merupakan suatu kebijakan yang mau gak mau pasti memecut dan 'memaksa' mahasiswa untuk bersaing, bukan hanya di kalangan internal tapi juga eksternal dengan mahasiswa2 dari negeri lain. 


Tapi masalahnya.... apakah itu merupakan solusi yang tepat? Dipikir-pikir enggak juga, soalnya:
1. Begitu banyaknya tulisan yang diterbitkan secara tidak langsung akan menurunkan kualitas tulisan. Soalnya gini. Di Indonesia itu kan ada banyak universitas. 3000an lebih lah kira-kira. Nah, tiap universitas punya setidaknya 3000 mahasiswa. Kalo mahasiswa disuruh nerbitin jurnal ilmiah, akan timbul kerepotan besar, seperti:

a. tidak semua mahasiswa itu bisa menulis. Jangan salah paham, bukan berarti mereka bodoh atau ga bisa menulis dalam arti yang sesungguhnya. Yang saya maksud adalah menulis dalam artian untuk jurnal ilmiah. Saya justru berpendapat, daripada nulis skripsi, mending kerja praktik aja (KKL). Itu jauh lebih berguna daripada sekadar bikin karya tulis. Menurut saya loooh. Lagipula kan ada mahasiswa yang untuk kelulusannya dibolehkan memilih: lulusnya mau lewat jalur skripsi ato enggak. 


b. Nulis jurnal ilmiah, itu kan enggak gampang. Pertama, lu kudu tau topik apa yang mau elu tulis. Nah, bayangkan bila 1 universitas ada 2000 mahasiswa (saya turunin jumlahnya deh, kayanya 3000 itu kebanyakan). Itu baru 1 univ di 1 kota. Misalkan dalam 1 kota/kabupaten ada 5 univ, berarti ada 10.000 mahasiswa. Terus dalam 1 propinsi, ada berapa universitas? Itu baru di 1 pulau, katakan misalnya Pulau Jawa. Belum terhitung univ2 lain di Sumaera, Kalimantan, Bali, NTT, NTB, Sulawesi, dan Papua. Sudah berapa banyak mahasiswanya? Dan dari sekian puluh ribu mahasiswa itu, kemungkinan untuk mendapatkan topik yang sama itu cukup besar. Itu baru masalah topik. Kemudian mengenai soal teori yang digunakan: apakah relevan untuk membahas topik itu? Apakah bisa membuktikan research question yang diteliti? Kalo untuk skripsi biasa aja mahasiswa butuh bimbingan dengan dosen dan lama waktunya adalah 1-2 semester, maka bila hendak diterbitkan di jurnal ilmiah, logikanya adalah mereka butuh waktu yg lebih lama untuk bimbingan dan penerbitan. Karena, menurut saya jurnal ilmiah itu kan untuk dibaca orang lain. Jadi ya harus lebih ketat dan akurat daripada cuma bikin skripsi biasa. Ya idealnya gitu kan hehe. Jurnal ilmiah bukan sesuatu yang main-main, gak bisa sekadar menulis. Harus dibuktikan apakah isi tulisannya bener ato tidak, valid ato tidak. Lah terus mahasiswa butuh waktu berapa lama ya biar bisa lulus sampe karyanya diterbitkan??



c. Persyaratan baru ini akan membuat mahasiswa menjadi kurang menghargai proses pembuatan dan penulisan jurnal ilmiah. Bila kebiajkan ini diterapkan, maka SEMUA mahasiswa mau gak mau, suka gak suka, harus berusaha biar tulisannya itu diterbitin di jurnal. Lah, bukannya jurnal itu harus selektif dalam memilih & memilah karya mana yang pantas masuk, karya mana yg paling baik?? Bila SEMUA mahasiswa DIHARUSKAN agar karyanya terbit, secara tidak langsung itu akan memaksa jurnal-jurnal yg ada untuk menerbitkan pula SEMUA tulisan tersebut. Akibatnya, jurnalnya jadi "jenuh". Saya gaktahu kira2 1 jurnal harus memuat berapa ratus, ato bahkan mungkin berapa ribu, karya ilmiah. Jurnal ilmiah kini bukan lagi menjadi sarana bergengsi, tapi hanya menjadi sarana buat menampung karya tulis mahasiswa -- yang belum tentu kualitasnya baik -- karena mereka dipaksa untuk melakukannya. Mahasiswa tidak lagi menulis jurnal karena mereka ingin, melainkan karena mereka harus dan terpaksa agar bisa lulus. Sangat mungkin bahwa mahasiswa akan tergoda untuk menjiplak tulisan/karya orang lain, soalnya buat bikin tulisan di jurnal ilmiah itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Buat skripsi aja at least butuh waktu 1 semester alias 6 bulan. Inilah yg saya maksud bahwa kebijakan ini akan menurunkan kualitas tulisan ilmiah.


d. Rasio dosen dan mahasiswa yang tidak seimbang. Di benak saya, piramida pendidikan Indonesia itu seperti piramida. Artinya, semakin tinggi tingkat pendidikannya, semakin sedikit jumlahnya. Lulusan S1 kita jelas lebih sedikit dibanding lulusan SMA. Apalagi lulusan S2, lebih-lebih lagi lulusan S3 ato yg sudah bergelar doktor dan profesor. Nah, sepintar2nya mereka, mampukah mereka menangani ratusan mahasiswa bimbingannya? Maksud saya bukan hanya sekadar mampu, tapi benar2 mampu membimbing, mengarahkan, menguji apakah tulisan mereka itu valid dan bukan asal nulis, dll. Dan sbg dosen kan kerjaan kita ga hanya membimbing. Ada hal2 lain yg harus dilakukan selain membimbing, seperti mengajar kelas, pengabdian kpd masyarakat, dan menuliskan jurnal ilmiahnya sendiri. 


e. Untuk universitas yg sudah punya jurnal ilmiahnya sendiri, mungkin kebijakan ini ga begitu masalah. Tapi buat yg belum punya gimana? Saya rasa utk punya/menerbitkan jurnal ilmiah sendiri tidak segampang kelihatannya. Harus ada tim redaksi yang tetap, mau terbit berapa bulan sekali, gimana biaya percetakannya, dll. 


f. Cara ngurusin hak cipta gimana? Siapa yg mengurusnya? Ngurus ijin hak cipta di Indonesia itu memakan waktu yang lama, berbelit-belit. Terus kalo hak ciptanya belum turun, apakah mahasiswanya harus menunggu sampe itu turun dulu baru bisa lulus? Terus selama lulus itu, mereka masih harus bayar kuliah gak? kalo iya, ya jerit2 lah orang tua gue wahahaha T___T


***


Jadi, bila kebijakan ini muncul karena keprihatinan akan sedikitnya jumlah jurnal ilmiah di Indo dibandingkan negara2 lain, saya rasa memaksa mahasiswa (apalagi yg S1) agar tulisan mereka diterbitkan di jurnal ilmiah bukanlah solusi yg tepat, en gak menyelesaikan masalah di akar. Belon tentu juga kan tulisan para mahasiswa itu dibaca, apalagi diadopsi menjadi kebijakan negara.


Daripada gitu, mbok ya pemerintah kasih dukungan aja buat para peneliti en profesor kita. Coba kalo kegiatan penelitian didukung. Berilah para peneliti subsidi & tunjangan yg bagus. Sehingga mereka bisa meneliti dg optimal tanpa harus khawatir gimana cara kasih makan anak dan istri, en ga harus cari2 kerja sambilan yang lain. Selain itu, permudahlah izin memperoleh hak cipta. Kemudian, pakailah hasil penelitian mereka untuk negara ini. Banyak hal loh yg bisa diteliti, seperti di bidang pangan, ekonomi, militer, kebudayaan, makanan, seni, lagu, energi, dll. Daripada kita ngundang peneliti dari luar kan pake peneliti sendiri. Dan daripada orang2 Indo yg pinter dicari en diburu oleh negara lain, ya kan mending kita berdayakan sendiri toh? Memprihatinkan sekali kalo brain drain masih terjadi. Orang kita yg pinter2 malah mengabdi buat negara lain karena ada fasilitas penelitian en tunjangan hidup yg layak, daripada di negeri sendiri!



Pada akhirnya, bila pemerintah sudah bener2 memperlihatkan keberpihakannya kepada para peneliti, maka ga usah dipaksa-paksa lagi, pasti banyak deh yg pingin jadi peneliti. Saya jamin itu!! Anak-anak muda akan melihat bahwa pekerjaan menjadi peneliti itu adalah pekerjaan yg mulia dan berguna bagi bangsa, karena karya mereka dihargai dan dilindungi. Hak cipta juga dibuat lebih mudah dan tidak bertele-tele. Mereka juga bangga karena hasil penelitian mereka akan dipake negara, entah itu dijadikan sumber referensi dalam pembuatan kebijakan, ato apapun. Jadi ini lebih baik daripada dipaksa-paksa buat nulis en nerbitin karya ilmiah yang pasti dilakukan dg sungut-sungut en menggerutu..... 


Karya ilmiah yang lebih banyak, belum tentu lebih bermutu. Yang jauh lebih menentukan itu isi dan kualitas SDMnya, bukan berapa banyak karya ato tulisan yg dihasilkan. 

7 komentar:

  1. Hmm...ikut ngasih komen tapi yg pesimis nih.
    Perasaan di kita tuh banyak aturan tapi ga pernah dilaksanain, ntar juga ilang sendiri. Kalopun peraturannya resmi, bakal muncul "solusi".

    Inget jaman kuliah dulu, mau kerja praktek bikin alat elektronik. Pergi ke toko yg jual chip dan komponen2 pendukungnya. Harganya pas nanya penjaga tokonya? 10 juta!
    "*#$^**^%$ mahal amat, mbak???"
    "Iya dek, itu udah termasuk laporannya sampe beres".
    Heh? gw cuman nanya chip loh, bukan mau beli skripsi tapi langsung ditawarin laporan kerja praktek 10 juta sampe beres.
    Harus bikin jurnal ilmiah biar lulus? Ntar juga bakal muncul jasa joki. Jadi menurut gw sih kebijakan ini ga bakal ada hasilnya selaen membuka lowongan pekerjaan buat lulusan mahasiswa yang masih nganggur.

    Dan tujuan kuliah di sini buat apa sih? Nyari ilmu ato nyari gelar? Kalo buat nyari ilmu ya wajarlah bikin jurnal ilmiah. Tapi kalo buat nyari gelar syarat lamaran kerja,.....???

    Btw, gw pas kuliah juga buat nyari gelar, bukan nyari ilmu ^^
    Sekarang baru sadar en pengen kuliah buat nyari ilmu XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. tuuuh kan, tambah lagi 1 argumen pesimis. Bahwa kebijakan ini hanya akan melahirkan "pekerjaan baru" alias jadi JOKI JURNAL ILMIAH!!! buseeet. weleh2.

      ternyata hal ini pun sudah terjadi sejak dulu ya :( huhu sedih deh. Kayanya tujuan mahasiswa kuliah sekarang ya buat nyari gelar Ko, buat nyari ilmu hehe.

      Hapus
  2. dapat link ini dari fb.
    Kalau menurut saya pribadi, kebijakan ini kurang tepat karena beresiko menghasilkan banyak sekali jurnal ilmiah yang tidak berkualitas (dibuat hanya agar mahasiswa bisa lulus). Dari sekian banyak jurnal, apakah semua akan diseleksi dengan baik? Siapkah menampung jurnal ilmiah dalam jumlah yang besar? (mulai dari yang abal-abal sampai yang sangat istimewa).
    Kalau alasannya ingin meningkatkan jurnal ilmiah yang dihasilkan dari negri ini seharusnya berikan suatu TANTANGAN bagi mahasiswa sehingga mereka akan mengerjakan jurnal ilmiah dengan kualitas yang terbaik yg mereka bisa kerjakan.

    Inti: Kebijakan ini=mengejar kuantitas, bukan kualitas. (Just my opinion)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yep it's true :)

      Yah begitulah tampaknya para pejabat di atas sana kurang pikir panjang dalam membuat keputusan...

      Hapus
  3. Baru diomongin, orangnya muncul XD
    http://www.thejakartaglobe.com/myjakarta/my-jakarta-berry-academic-ghostwriter/499056

    BalasHapus
  4. Ya itu, tukang bikin skripsi yang diwawancara di artikel jakartaglobe itu.
    Ntar kalo peraturannya jadi, bakal makin banyak joki tukang bikin jurnal ilmiah.

    BalasHapus

hey guys, please leave your mark print here! it give me a boost to keep writing you know! ^^