About Me

Foto saya
A beautiful girl in His eyes. A girl with a BIG dream, BIG vision, with BIG passions for her town. Interested in a lot of things. Talkative and longing to travel in many new places. Is thinking hard what she can do to her country.

Minggu, 13 November 2011

Ngomong-ngomong Soal Nasionalisme; Siapa bilang Kemlu Gak Penting?; dan cuap-cuap lain...

Gara-gara post kemarin, plus ditambah baca buku Garis Batasnya Agustinus Wibowo sampe habis bis, en ditambah baca postnya Sylvia Sumitro tentang Jati Dirisaya jadi pingin nulis tentang nasionalisme, terutama menyangkut identitas saya sebagai WNI Keturunan. 

Pertama-tama, say mo bilang kalo ngomongin soal ini saya ga bisa lepas dengan ngomongin bukunya Agustinus Wibowo. Soalnya justru dari buku dialah perasaan nasionalisme saya diubek-ubek =.= Buku Garis Batas itu bagus bangeeeeet. Bagusnya itu karena Agustinus gak sekadar menulis tentang pengalamannya jalan2 ke negara2 bekas Soviet sbg backpacker, tapi dia juga betul-betul melukiskan kondisi masyarakat disana, berikut bahasanya, budayanya, adat istiadatnya, cara hidupnya, dan lebih-lebih.... perasaan tentang nasionalisme dan identitas diri seseorang. Saya rasa penulisan tentang nasionalisme itu ada sekitar 60% di buku itu. Tapi jangan khawatir, di buku itu juga ada banyak foto-foto Kazakhstan, Kirgiztan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan kok!! So jangan keder gara2 mbayangin rasanya buku ini isinya kok tulisan semua hahaha :p 

Malah, saya barusan beli lagi buku Agustinus Wibowo yang lain, kali ini menuliskan perjalanannya di Afghanistan. Judulnya juga unik, Selimut Debu. Kaya gini nih: 



Memang keren en unik banget si Agustinus ini, dia milih jalan2 bukan ke negeri2 yg udah sering banget dikunjungi orang, kaya ke Paris, New York, Jepang, Ausie, en negara2 Eropa or Asia lainnya. Dia justru milih ke negara2 bekas pecahan Uni Soviet yg semuanya berakhiran -Stan, mayoritas beragama Islam, terbelakang, medannya sulit (berupa gunung2 terjal, en terjalnya itu benar2 guileee mantep banget), pengangguran, harga barang mahal, menutup dirinya, en sangat tidak ramah dengan turis asing!! Tapi buat saya, ya justru itulah yang unik, asik, en menarik :D  Kalo baca cerita orang2 yang ke kota2 modern kaya Hongkong, Macau, Las Vegas, en New York Paris mah udah biasa. Tapi baca cerita Agustinus ini benar2 membuka mata dan wawasan saya, bahwa dunia ini ga cuma Amerika en Eropa. Bahwa dunia ini juga masih ada negara-negara seperti yang tertulis di atas, dengan budaya dan bahasanya sendiri serta cara hidup yang unik. 

Emmm.

Mengenai nasionalisme dari orang Kirgiz, Kazakh, Uzbek, Turkmen, dan Tajik, silakan beli sendiri bukunya ya hehe. Soalnya saya ga bisa jelasin dengan bahasa sendiri saking complicatednya -.-' Percaya deh, tulisan di buku itu enak sekali dibaca en gak ngebosenin sama sekali!! Kita bakalan seperti ngikut sendiri petualangan Agustinus disana: jadi backpacker lusuh, ditangkep polisi, imigrasi yang korupsinya ga kalah tokcer sama Indo, birokrasi yang ruwet en berbelit-belit, medan jalan yg susah, desa dan tempat2 yg terisolasi, perang, dll. Kita juga akan tahu en belajar sistim politiknya yang komunis, indoktrinasi yg ditanamkan ke warga, perasaan kebingungan soal pencarian jati diri en identitas, konflik wilayah, etnisitas dan budaya mereka, dll. Waaah seru seru ^^ Apalagi buat saya ini bacaannya so HI gitu loh hahaha LOL.

Oh ya. Ngomong-ngomong soal sentimen nasionalisme.... 

Saya, dan mungkin juga orang2 WNI Tionghoa lainnya, pernah merasakan kebingungan ini. Pernah bertanya-tanya, sebenernya aku ini orang mana. Milik siapa. Dibilang orang Indo asli bukan, tapi juga bukan WN China. Tanpa bermaksud mengungkit-ngungkit masa lalu, saat pengkotak-kotakkan etnis masih ada, mungkin kita sering merasa bukan milik siapa-siapa. Orang China bukan, orang Indo juga bukan. Di Indo dikatain "Cina... cinaa..." tapi kalo pas ke Zhongguo sana juga berasa asing. Asing dengan budaya dan cara hidup mereka: yang pake sumpit, yang kamar mandinya jorok en kalo cebok pake tissue (seumur-umur saya ga nyaman dg yg namanya cebok pake tissue tiap kali ke LN!! >.<), orang2 yg meludah sembarangan dengan suara keras "HOOOOAARRRGHHH CHUUUUUUHHH!!", dll. 

Pernah, pas saya studi di Taiwan dulu, saya ditanyain sama Xiao Laoshi (guru kecil) saya. Jadi ada yang namanya Da Laoshi, itu artinya guru besar yang ngajar di kelas seperti sekolah biasa. Ada juga yang namanya Xiao Laoshi alias guru kecil, satu murid dapet satu guru. Wohoho enak private banget ^^ Tugasnya Xiao Laoshi itu bantuin kita setiap hari buat kerjain pe-er, tugas, belajar buat ulangan, dll. Jadi kaya guru les. Orangnya juga masih muda-muda, alias mahasiswa dan mahasiswi tingkat akhir yang ambil jurusan Teaching Chinese As a Second Language. Bisa dibilang, peran mereka sebagai Xiao Laoshi akan dinilai juga sebagai tugas akhir hehe. Dandanan mereka buje buneng keren abiiiisss =.= ngelesin pake rok mini, tank top, en rambutnya dicat pirang or coklat hahaha. Banyakan yg jadi Xiao Laoshi tuh cewek, yg cowok cuma 2 orang tapi aduh guys, gantengnya amit-amit T____T saya pikir kalo saya dapet Xiao Laoshi cowo ga bakal konsen belajarnya hahahahaah!!!

Nah, balik ke topik *jadi nglantur*. Pernah suatu saat, percakapan saya en Xiao Laoshi saya ini ngebahas soal "jati diri" saya. 

Xiao Laoshi tanya, "Kamu sebenarnya orang apa? Orang mana?"
Saya terdiam. ......... bingung jawabnya!!! mau bilang orang Indo, yah sebenernya saya bukan orang Indo. Jujur yah, pas itu, ada perasaan tersendiri bahwa saya pun ingin diakui sebagai orang Chinese perantauan.... alias Hua qiao. Tapi pas itu saya ga ngerti istilahnya. Tapi kalo saya jawab orang Chinese, saya jelas bukan dari Republik Rakyat Tiongkok kan??? Nah lho. Terus saya berusaha jelasin, saya ini orang Chinese, tapi tinggal di Indo udah lamaaaaa banget. Hahah payah banget. 


Sekarang, saya tahu istilahnya orang Chinese perantauan, alias the overseas Chinese itu adalah hua qiao ren. Jadi ga bingung lagi kalo ditanya asal-usulnya. Tapi sekarang kalo ditanya orang asing, ato kalo pas lagi di LN, dengan bangga saya akan jawab, "I'm from Indonesia :)" Sejak kecil, yang diajarkan kepada saya adalah Pancasila, dasar UUD 1945, dan lagu-lagu nasional seperti Hari Merdeka, Indonesia Raya, Satu Nusa Satu Bangsa, Tanah Airku, dll. Dan saya seneng-seneng aja tuh, mungkin karena pas Orba saya masih kecil ya.... en pas umur 8 tahun, Orba sudah bubar. Jadi saya ga begitu merasakan yang namanya represi semasa Orba. 



Dari semua peristiwa-peristiwa itu, plus setelah baca bukunya Agustinus, saya jadi mikir. Kenapa sih asal-usul itu penting. Kenapa orang begitu ingin tahu asal dan identitas dirinya? Orang rela dateng lagi ke China buat zhao gen alias mencari akar. Akar sejarah nenek moyangnya ditelusuri. Saya ini datang dari daerah mana? Saya keturunan berapa di Indo? Nenek moyang saya datang ke Indo tahun berapa? Dsb.


Well, gak ada yg salah dengan itu. Wajar buat seseorang untuk ngerti asal usul dan budayanya. Terlepas dari identitas kita sebagai warga Kerajaan Sorga (ini yang paling penting yaaaah guys...), kalo kita bisa bener2 ngerti siapa diri kita, menurut saya, rasanya akan "kaya" sekali. Orang yang identitasnya tercerabut, yaaah gimana ya. Susah emang ngomonginnya. Gak tahu dia itu asal-usulnya gimana. Bayangkan guys, hanya sebuah identitas. Tapi itu bisa mempengaruhi banget kehidupannya en masalah perut. Buku Garis Batas bagus banget njelasin hal ini. Beli deh. Gak rugi wekekek.



Saya coba ceritain dengan bahasa saya sendiri:


Di negara-negara Asia Tengah sana, orang2 banyak yang merasa "hilang arah". Penciptaan negara2 -Stan sendiri itu karena dipecah belah Russia sebagai induk semangnya Uni Soviet. Mereka dibikinkan negara satu-satu, dibikinin identias baru, sejarah baru, dan berada di bawah kekuasaan Kremlin. Negara-negara itu ada karena dipecah-pecah, dibagi-bagi, hanya berdasarkan ETNIS. Etnis Kirgiz yang nomad, dibikinkan negara Kirgiztan. Etnis Uzbek, dibuatin Uzbekistan. Orang Tajik, dibikinin negara Tajik. demikian seterusnya.


Ngenesnya, pas Soviet runtuh --- dimana Perang Dingin juga runtuh --- negara2 ini pun berontak, lepas dari induknya. Dan mereka habis2an merombak identitas diri mereka. Budayanya. Bahasanya. Kewarganegaraannya. Dll. Dulu, bahasa lingua franca, alias bahasa yg dipake untuk mempersatukan semua negara Soviet adalah Russia. Tapi sehabis pecah, negara2 itu jadi benci dan anti sekali dg bahasa Russia. Bahasa Russia dihapuskan, dilarang. Semua harus bisa berbahasa Tajik, bahasa Kirgiz, bahasa Uzbek. Bahasa Russia, yang dulunya nomer satu, sekarang jadi nomer 2. Kebalik. Mereka yang tidak bisa berbahasa nasionalnya akan susah sekali untuk mendapatkan pekerjaan, tidak diakui negara, susah dapet visa, paspor, Dsb. Segala simbol dan unsur-unsur yang berbau Soviet dimusnahkan. Dihancurkan. Patung Lenin dan Stelin diinjak-injak. Lenyap! Etnis Russia, yang tidak bisa berbahasa Kirgiz atau Kazakh, sekarang gantian yang dikucilkan. 



Hayo. Mirip gak dengan Orde Reformasi di Indonesia setelah Orde Baru? Semua yang berbau Orba dan antek-anteknya dilenyapkan. Karena kita ingin sama sekali menghapuskan memori tentang perlakuan Orba yg tidak mengenakkan. Kita ingin mengubur dalam2 segala bentuk represi Orba, tidak mengingat-ingatnya lagi. 
Saya ga berani membayangkan, apa jadinya semisal, semisal lhooo ya, Indonesai ini dipintah diktator dengan ide gila ala Lenin dan Stalin untuk benar-benar meng-indonesia-kan semua penduduknya. Tidak boleh lagi berbahasa Sunda, berbahasa Jawa, Dayak, Batak, dan Minang. Semua harus berbahasa Indonesia. 



Tapi.... ternyata masih banyak juga orang2 di negara itu yang merindukan pemerintahan Soviet. Di bawah komunisme Soviet, semua orang punya pekerjaan. Semua orang dapat makan dan bisa sekolah. Walaupun SEMUA propertimu adalah milik negara dan bukan milikmu sendiri, tapi semua gratis. Sekarang, mereka justru banyak yg jadi pengangguran. Harga apa2 mahal. Ga jarang mereka harus bawa uang bergepok-gepok plastik untuk beli ini itu. 


Tidakkah itu mirip juga dengan kondisi Indo beberapa saat yang lalu? Ada opini2 yg merindukan kehadiran sosok pemimpin ala Orde Baru. Pemimpin yg tegas dan bisa memberikan stabilitas. 



Di buku itu, ada juga kisah seperti ini: ada orang yang tidak punya warga negara. Hah! Semasa Soviet masih bersatu, ada orang Turkmenistan yang sekolah di Uzbek. Ketika Soviet pecah, orang itu ga bisa balik ke negara aslinya gara sudah tidak diakui lagi (repatriasi orang2 ke negara asalnya susah sekali). Sedangkan di Uzbek, dia juga tidak diakui karena dia bukan etnis Uzbek. Akibatnya, paspor yang dia pegang menyatakan bahwa dia bukanlah warga negara mana-mana. Susah kan.... kalo terjadi apa2 sama orang itu, negara mana yang akan melindunginya??


Peristiwa ini, gambarannya sama dengan Orde Lama dulu. Ketika orang2 Indo banyak yang belajar di Russia dan Tiongkok, tiba-tiba ketika terjadi pergantian rezim Orde Baru, mereka di-ban. Semua hal-hal yang berbau komunis, dilarang. Tabu. Bahkan mahasiswa yang belajar di negara dengan paham komunis pun susah masuk Indo. Terus kalo gitu gimana yaa.... Mau balik Indo ga boleh. Tapi mereka juga ga bisa terus2an tinggal di Russia or China kan. Mau naturalisasi berapa lama??



Dari buku Garis Batas, saya jadi lebih menghargai peran Kementerian Luar Negeri (Kemlu) kita hehe. Wah, Mbak Dhieta yang baca ini pasti seneng banget :p Hmm kok kesannya saya kaya malah promosi buku ini ya T.T  Saya bukan niat promosi, tapi pengin biar dengan baca buku ini, wawasan kita jadi terbuka lebar dan lebih menghargai kerja pemerintah kita.



Mungkin banyak orang yg beranggapan, Kemlu itu kerjanya cuma ngawang-ngawang. En asik bisa jalan2 ke luar negeri. Well, setelah sekian lama belajar HI dan isu-isu seperti humanitarian intervention, refugees, global issues, assylum seeker, dll, saya percaya tugas Kemlu itu sebenernya gak kalah berat. Kemlu, melalui KBRI-KBRInya, bertugas untuk melindungi WNI dimanapun mereka berada. Coba guys, buka passport kalian di halaman pertama!! Disitu tertulis: 

Pemerintah Republik Indonesia memohon kepada semua pihak yang berkepentingan untuk mengizinkan kepada pemegang paspor ini berlalu secara LELUASA dan memberi bantuan dan perlindungan kepadanya, diikuti dengan terjemahan bahasa Inggrisnya. Di akhir halaman, tertulis juga: Paspor ini berlaku untuk seluruh dunia.



Iya iya kita ngenes liat ratusan kasus TKI yang dihukum mati di luar sana. Kita juga prihatin kok keliatannya pemerintah ga bisa berbuat apa-apa. Tapi setidaknya, ketika saya melihat passport saya sembari mengetik ini, saya merasa dilindungi oleh Pemerintah Indonesia. Saya jadi ngerti, oooh itu tuh gunanya lapor diri ke KBRI tiap kali ke luar negeri!! Jadi biar kalo ada apa2 sama kita, kita bisa terlacak. Bisa diberikan perlindungan. Bisa dibantu. Ada koko kelas saya, yang dulu pergi ke Ukraina, dia dibantu banyak sama KBRI kita disono. Dikasih tumpangan gratis, diajak puter2 kota Ukraine sama mobil dubesnya, dll. Waah enak ya hehe. Nah, mungkin kalo ke kota2 besar ala Tokyo, New York, London dan Paris, peran KBRI ga begitu kerasa penting. Lha wong banyak orang dan komunitas Indo disana!! Tapi gimana kalo ada orang seperti Agustinus Wibowo yang suka jalan2 di negeri yang "nyleneh-nyleneh"? Peran KBRI pasti terasa luar biasa penting. KBRI itu seperti penjamin kita di negeri asing. Pelindung kita, bahkan mungkin penyelamat kalo terjadi apa-apa. 



Guys, bayangkan kalo ada orang yang tidak punya warga negara seperti kasus orang Turkmenistan di atas (saya sendiri jadi ga yakin nyebut dia itu orang Turkmenistan). Kalo ada apa2, ga ada yg bisa melindungi dirinya. Negara yang menangkap dia juga mau mengadukan kepada siapa? melapor kemana? Contoh yang lebih dekat: ratusan ilegal imigran yang setiap tahunnya meluber ke negara kita demi kabur ke Australia, terutama etnis Rohingya. Rohingya itu WN mana, saya juga ga ngerti. Ngakunya Bangladesh, tapi Bangladesh ga ngakuin mereka. Terus dibilang juga mereka itu etnis minoritas di Myanmar. Entah Myanmar mengakui mereka ato tidak, tapi kalo mereka sampe kabur dari negaranya demi cari suaka or penghidupan yg lebih baik di Australia, hmmm there must be something wrong with the treatment that they got. Gimana kalo, misalnya, orang2 Rohingya itu tidak mau mengakui Myanmar sebagai negara asalnya?? Terus kalo imigran ilegal itu ketangkep di Indonesia, mereka mau diapain guys? Mau dilaporin kemana? Bagaimanapun kita adalah salah satu negara yang meratifikasi konvensi HAM Internasional, yang salah satunya mensyaratkan untuk melindungi setiap pengungsi dan pencari suaka dengan cara-cara yang hormat dan manusiawi alias memanusiakan manusia. Hadoh bahasanya :p 



Gini-gini kita harus bersyukur tinggal di Indonesia. Habis baca buku Garis Batas, saya jadi tahu ternyata masih banyaaak negara2 lain yg keadaannya lebih ngenes daripada kita. Negara2 yg iklimnya ekstrim. Apa-apa mahal, dan mata uangnya sudah merosot sekali. Negara yang terisolasi, dan semua internet di-ban!! Semua warnet diberangus. Negara yang masih terlibat perang saudara berkepanjangan seperti di Afrika. Negara yang batas2 wilayahnya ga jelas. Misalnya, di perbatasan Kirgizstan-Uzbekistan, ada secuil wilayah Uzbekistan yang masuk ke Kirgiztan, tapi dihuni oleh etnis Tajikistan. Buset rempong gak tuh =.= Buat kesono kita harus 6x digeledah oleh kantor imigrasi yang selalu minta disuap!! Buat masuk, Harus keluar melewati imgirasi negara Uzbekistan dulu, masuk ke Kirgiztan, masuk lagi ke Uzbekistan. Demikian juga buat keluarnya, dengan urutan yang dibalik. Beeh. Negara-negara Asia Tengah itu banyak yang berupa "pulau", tapi dikelilingi dengan daratan negara lain, bukan dikeliling air.



Selain itu, sekalipun kita memang lebih concern bangun ke arah dalam negeri, mau gak mau gak bisa dipungkiri kalo masing2 negara tuh punya yang namanya E-G-O biar dirinya diakui dan dipandang negara-negara lain, sekalipun itu negara yg menutup dan mengisolasi dirinya ala Myanmar ato Korut. Di negara-negara Asia Tengah juga ada beberapa yang begitu. Nah, disinilah Kemlu berperan. Kalo enggak, ya kita ga bisa tahu tentang The Great Wall of China. Menara Eiffelnya Prancis. Tembok Berlin. Menara Pisa di Italia. Piramida Mesir. dll. Orang2 sono juga ga akan tahu tentang Candi Borobudur, Prambanan, Danau Toba, Taman Nasional Komodo, Wakatobi, Raja Ampat, dll. Jadi, disini (harus) ada kerjasama yang erat antara Kemlu dan Kementerian Pariwisata.


Nah, dari pariwisata yang kita punyalah, negara kita dapat devisa. En devisanya itu bukan angka kecil. Kalo mereka masuk ke negara kita, itu harus lewat imigrasi dulu. En sebelumnya, ada perjanjian antara Indonesia dg negara2 lain kalo ada warga negara mereka yg mau masuk ke kita, dan kalo ada warga negara kita yang mau masuk ke negara mereka. Entah itu bebas visa ato harus pake visa, yang penting proses masuknya itu LEGAL DAN SAH DI MATA HUKUM. Jadi kita bisa tetap dilindungi secara hukum sekalipun di negara lain karena kita adalah turis, bukan penyelundup!! Waduh kalo udah ketauan masuk ilegal, ribet banget mah urusannya =.= Begitu pula, kalo ada WNA yang berbuat melanggar hukum di Indo, dia bisa ditindak dengan jelas dan tegas. Dll.



Kayanya cukup sekian cuap-cuap saya hehe. Saya berharap bangeeeeet, dari tulisan saya ini, di tengah segala kebobrokan dan masalah yang merundung negeri ini, Anda-anda yang membacanya bisa lebih cinta sama Indonesia.



6 komentar:

  1. *emosi* SAPA YANG BILANG KEMLU GAK PENTING? SAPA? AYO KITA HAJAR NON!!! hahahahahahahaha *kok aku yang emosi ya, ini kan jatahnya Dhieta,gkggkgkgkgk*

    BalasHapus
  2. hahaaah lucu banget Mbak Mega ni. aku sempet kaget loh Mbak pas bacanya huruf besar semua, kirain marah :p

    sejujurnya sih aku belum pernah denger ada orang terang2an ngomong "Kemlu gak penting" :"> tapi kan biasanya orang beranggapan, kerja kemlu itu cuma ngawang2, en enak bisa jalan2 ke LN terus. padahal tugas en tanggung jawabnya juga besar hoho...

    BalasHapus
  3. Hahaha, iyaaa, ak seneng banget... ^^ ada beberapa org yg memandang Kemlu penting, bikin ak lebih rela nyampe rumah hampir tengah malem :p tapi ya maklum jg sih klo banyak yg mikir kami ga kerja :D bad news is good news, yg bagus ga diekspose, yg jelek disebarin, ya sudahlah #elus dada#

    BalasHapus
  4. semangaaaat ya Mbak Dhieta!! ni udah ta bantu promosi Kemlu di blog hehehe :p yah maklumlah Mbak kan kita masih di negara berkembang, jadi urusan perut masih mendominasi haha :p

    BalasHapus
  5. cool... hehehehe... sure, i do love Indonesia.. Firman Tuhan bilang, usahakanlah kesejahteraan kota di mana engkau tinggal... dalam hal ini ya berarti Indonesia dalam arti luas.. thanks for sharing this nice post :) GBU.

    BalasHapus
  6. @Ci Grace Oey: iya Ci bener. Indonesia ini harus banyak didoakan dan bukan dikutuki or disumpah-serapahi hehe (dan saya lagi belajar soal itu...!)

    BalasHapus

hey guys, please leave your mark print here! it give me a boost to keep writing you know! ^^