About Me

Foto saya
A beautiful girl in His eyes. A girl with a BIG dream, BIG vision, with BIG passions for her town. Interested in a lot of things. Talkative and longing to travel in many new places. Is thinking hard what she can do to her country.

Sabtu, 12 November 2011

Kebanggaanku, Identitasku

Warning:posting saya kali ini mungkin rada sensitif.... tapi percayalah bahwa tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyinggung siapapun. Ini murni hanya pendapat subyektif belaka.


Ada 2 kejadian menarik yang terjadi beberapa hari ini. Yang pertama adalah diselenggarakannya SEA GAMES di Palembang & Jakarta, Indonesia. Pesta olahraga ini terbilang spektakuler, dan kita sebagai orang Indonesia cukup berbangga hati karenanya. Edisi Kompas tanggal 11 November 2011 menulis demikian:


"Inilah pesta olahraga Asia Tenggara terakbar, paling banyak mementaskan cabang olahraga, 44, menggusur SEA Games 2007 Thailand (43). Dari segi peserta pun paling besar, sekitar 14.000 atlet, pelatih, dan ofisial (dua pertiganya atlet), mengalahkan SEA Games Manila 2005 yang diikuti 5.336 atlet. Jumlah nomor pertandingan pun luar biasa banyak, 548 (setara jumlah emas yang diperebutkan). Ini juga membuat SEA Games 2007 yang menawarkan 436 emas tak lagi mengusung rekor." 

Jujur saja, saya sebagai orang Indonesia merasakan kebanggan tersendiri membaca kalimat itu. Meskipun bbrp hari sebelumnya selalu diberitakan kalo persiapan SEA GAMES itu banyak kendalanya en banyak yg belum siap, tapi mengingat bahwa pesta pembukaan malam ini berlangsung dg lancar, ada perasaan membuncah bangga di dada saya. Saya terharu. Andaikan saya bisa hadir disitu, sebagai pembawa obor, atau apapun, wah saya mungkin sudah menangis. 

Kedua, saya baru saja membaca buku yang sangat mengusik hati dan jati diri saya. Buku itu berjudul Garis Batas, karangan Agustinus Wibowo. Sebuah buku yang menceritakan perjalanannya keliling negara2 Asia Tengah berakhiran -stan: Afghanistan. Tajikistan. Kirgiztan. Kazakhstan. Uzbekistan. Turkmenistan. Isinya baguuuuus sekali. Sekali lagi, i totally recommend this book to read!!! Ga rugiii keluar duit Rp 95.000 buat baca buku ini hehe. Penerbitnya: PT Gramedia Pustaka Utama. 

Sebelumnya, saya juga baca buku yang ga kalah bagusnya juga. Judulnya Patriot, karangan Maria Audrey Lukito. Kali ini penerbitnya BIP (Bhuana Ilmu Populer). 

Guys, dua buku ini yang ingin saya bahas disini. Dua buku yang super duper bagus, dan begitu mengusik nurani saya serta membuat saya berpikir untuk terus mencari dan mendalami jati diri dan identitas saya. Oya, gambar dua buku tersebut kaya gini nih:







Yang pertama, saya ingin bahas bukunya Agustinus secara singkat. Bukan resensi yang saya tulis, tapi apa yang paling ngena di otak & hati saya. Jadi selama perjalanannya keliling negara2 bekas Uni Soviet itu, Agustinus ini banyak sekali menyaksikan, mengalami, dan menarik pelajaran penting. Tapi yang ngena banget buat saya itu, perjalanan dia dalam mencari identitas dirinya. Siapa dia sebenernya? Di negara2 tersebut, dia banyak menyaksikan dan turut merasakan betapa orang2 tuh bisa sangat dikotak-kotakkan berdasarkan SARA. Sukunya, agamanya, bahasanya, rasnya, warna kulit dan bentuk matanya, dll. Dia banyak menyinggung soal keragaman etnis dan budaya di setiap negara yang dia kunjungi, juga banyak menyinggung soal/rasa nasionalisme di tiap2 bangsa. Pengkotak-kotakkan tersebut, dan juga perlakuan yg berbeda, sedikit banyak berasal dari sistim yang diterapkan oleh pemerintah di negara itu. Tapi dari warganya sendiri juga ada perasaan berbeda, perasaan "kekitaan" yang membedakan aku dengan kamu, kita dengan mereka. Dan terjadilah penarikan garis batas itu, suatu garis imajiner. Garis yang tak kasat mata, yang membatasi antara aku dengan kamu, kita dengan mereka. Kita tidak sama dengan mereka. Bahasaku beda dengan bahasamu. Agamamu beda dengan agamaku. Cara hidup kita beda dengan cara hidup mereka. Kita tidak boleh menikah dengan mereka karena blablabla. 

Kemudian, si engkoh Agustinus ini merefleksikan dirinya sendiri, bagaimana dirinya, sebagai seorang keturunan Tionghoa di Indo, dia juga mengalami didiskriminasi sewaktu kecil. Dikata-katain "Cina... Cinaaa....." atau "Singkek....singkek...!!" ato yang lebih nylekit lagi, kalo kata Cina itu diucapkan dalam bahasa Jawa dimana huruf 'a' diucapkan 'o' seperti pada kata-kata 'sogok', 'godok', 'kodok', dan 'golok'. Alias jadi "Cinooo.... Cinooo...." Saya juga pernah dikatain seperti itu, and believe me, it was painful. 

Nah, kemudian, di buku kedua yang ditulis oleh Maria Audrey Lukito. Buat kalian yang belum tahu siapa Audrey ini (tapi rasa2nya dia udah terkenal banget deh), dia itu orang yang PUINTAAAAARRRRRR SEKALI. Ini saya kutip langsung dari resensi di balik bukunya:

"Maria Audrey Lukito adalah sosok teladan anak bangsa yang patut kita banggakan. Bagaimana tidak? Gadis genius ini telah memecahkan rekor MURI PERTAMANYA pada usia 10 tahun, yaitu ketika ia lulus ujian TOEFL internasional dengan skor tertinggi 573. Bahkan, ia memecahkan rekor TOEFLnya sendiri di usia 14 tahun dengan skor 670. Dan, tak hanya itu, ia juga membuat berbagai prestasi dalam bidang akademik lainnya, seperti:
  • Menghafal kamus bahasa inggris sebanyak kurang lebih 650 halaman pada usia 11 tahun.
  • Menyelesaikan pendidikan SMU dan melanjutkan studinya ke perguruan tinggi di Amerika pada usia 13 tahun.
  • Meraih gelar sarjana pertamanya di bidang fisika hanya dg menempuh 3 tahun pendidikan dan lulus dengan predikat Summa Cum Laude pada usia 16 tahun.
  • Dan, masih banyak prestasi lainnya yang juga telah dicatat oleh MURI.
Misalnya neh, dia masuk anggota kehormatan Phi Beta Kappa. Saya gatau pasti itu tuh organisasi naooon. Tapi kayanya bergengsi banget buat orang2 dengan otak professor gitu. Terus, yang bikin saya ngiri banget sama dia, Audrey itu bisa bahasa Prancis, Russia, Mandarin, dan mungkin bahasa2 lain dg sangat fasih dan lancar, dengan belajar dalam jangka waktu yg sebentar banget T.T

Ada kejadian unik & pribadi bagaimana saya bisa kenal Ci Audrey. Maksudnya kenal lewat dunia maya juga, belon sempet ketemu langsung hehe. 

Dulu, saya sering denger orang menyebut-nyebut nama Audrey ini. Semua pujian diberikan kepadanya. Dan pas itu, karakter saya masih jelek huehehe :p Soal karakter yang jelek ini pernah saya tulis di post berjudul Kenangan Masa Lampau, sampe-sampe saya dimusuhi oleh hampir seluruh teman pas saya studi di Taiwan. Akhirnya, pelan2 karakter saya ini diubah dan dikikis sama Tuhan Yesus. Salah satu karakter jelek saya adalah ini: IRI HATI. Sampe kuliah pun, ketika saya denger namanya Ci Audrey, saya langsung merasa iri hati. Iriiii sekali. Saya jg ingin bisa seperti dia!! Saya juga bisa kok kaya gitu. Aaaah gitu aja dibangga-banggain. Dan sejuta perasaan sirik lainnya. Sigh.... =.= Memang karakter iri hati ini pemurniannya susah. Dan masih berlangsung sampe sekarang hehe. Tapi udah gak kaya dulu looo.

Dan suatu hari, pas saya ke Gramedia, saya liat buku Patriot ini. Saya liat siapa pengarangnya, ternyata si Audrey yang sering dibangga2kan orang itu. Saya langsung males banget buat beli. Saya tinggalin tuh buku di rak, tapi entah kenapa ada perasaan kuaaaat sekali buat beli dan membaca buku itu. Akhirnya saya beli. 

And you know what guys?? Begitu saya baca, saya ga bisa brenti baca. Saya baca dan bacaaaa....sampe selesai. Dan persepsi saya tentang Ci Audrey diubahkan sama sekali. Saya jadi kenal lebih dalam dengan Ci Audrey ini. Dia memang jenius sekali, tetapi, ternyata banyak hal2 yg sama sekali ga saya sangka terjadi dengannya. Misalnya seperti ini (saya berusaha menuliskannya dengan bahasa sendiri):
  • Ci Audrey tumbuh dalam perasaan kebingungan akan identitas dan jati dirinya. Sebagai WNI keturunan, identitasnya tercabik. Aku ini orang Indonesia, atau orang China? Guru-guru di SDnya, yang juga WNI keturunan, secara tidak langsung sudah menanamkan kebencian pada murid2 mereka bahwa mereka ini kaum minoritas, kaum lemah & tertindas di bawah pemerintahan RI.
  • Orang tua Audrey juga secara tidak langsung menanamkan hal yg sama dalam putrinya. Pernah saat Ci Audrey masih kecil, ia tanya sama papanya. Pas itu lagi musim pemilu, en kita sama2 tahu lah siapa partai yang menang terus saat itu. Audrey tanya, papanya milih partai apa. 
"Golkar", jawab papanya.
"Papa suka sama Golkar enggak?" tanya Ci Audrey kecil.
"Enggak...."
"Loh, terus kenapa pilih Golkar?"
Papanya diam bbrp lama. Dan perkataannya ini yang tengiang-ngiang di benak Audrey. "Drey, papa pilih Golkar, karena Soeharto itu sangat melindungi orang-orang Cina! Kita pilih dia, agar kita bisa terus hidup. Bisa terus cari nafkah. Biar papa bisa sekolahin kamu..." 


Jawaban ini selamanya "menghantui" Ci Audrey. Dia banyak memikirkan soal politik and what she could do to contribute to this country. Bisa dibilang, selama pertumbuhannya, Ci Audrey tumbuh dalam kebencian, kebingungan, dan kekecewaan yang mendalam terhadap semua hal di atas. Terhadap identitasnya. Terhadap jawaban guru dan orangtuanya. Juga saat ia melihat kenyataannya. Permainan politik yang kotor, pemerintahan yang korup. Dll. 


Tapi di balik semua itu, Ci Audrey sama sekali bukan orang sombong. Dia humble banget. Semua kepintaran dan prestasi2 yang dia peroleh, semua buku2 yang dia tulis, semua dia persembahkan untuk Indonesia. Dan tahu gak, di atas semua itu, dia percaya Tuhan Yesus!! Dia sangat kritis menghadapi pertanyaan2 tentang ketuhanan, kekristenan, dan agama. Di buku Patriot, dia menulis satu esai tentang argument yang, saya rasa, tok cer banget buat membantah argumen para atheis kalo Tuhan itu gak ada hehehe. Kemudian dia juga tulis interpretasi The Song of Solomon atau Kidung Agung dalam bentuk naratif, yang aje gile luar biasa sekali.... Esainya panjang2 en semua ditulis dalam bahasa Inggris, tapi enak banget dibacanya. I really couldn't stop reading it!! Tulisan itu sudah dicetak tersendiri dalam bentuk buku, judulnya Kidung Cinta, dan telah diterbitkan oleh Metanoia. Dia benar2 siswi teladan, yang selain pintar, juga intim dengan Tuhannya. Benar2 jadi terang en berkat buat sesama. 



Wah, itu semua hal-hal yang tidak pernah saya pikirkan atau bayangkan sebelumnya!! Saking pingin tahunya sama dia, saya langsung telpon penerbit BIP en tanya, apakah ada nomor atau email Audrey Lukito yang bisa dihubungin. Akhirnya saya diberi alamat emailnya, dan saya pun langsung email dia. Saya kenalin diri saya, dan utarakan kesan2 saya setelah membaca buku Patriot. Sejak itulah kami mulai beberapa kali imel-imelan hehe. Perasaan iri hati dan sirik saya hilang, diganti dg perasaan salut, kagum, dan juga simpati.... Bisa dibilang, saya kasihan dengan Ci Audrey. 


Saya paling kasihan dengan dia, karena she grew up with a deep resentment and anger toward her parents.... not knowing herself, searching her real identity. To which side do i belong? Indonesia? China? What is the point of having and doing politics? Dia memang lulusan fisika, tapi pemikiran2 dan esai2nya tentang politik juga ga kalah cess pleng. Saya sukaaa banget baca pemikiran2nya :) Ci Audrey benar2 sosok yang memikirkan bangsa & negaranya.


***


Guys, dua buku di atas yang saya tulis, sama-sama menceritakan pergumulan penulisnya tentang identitas dan jati diri mereka sebagai orang minoritas alias WNI keturunan. Dan saya, yang juga WNI keturunan Tionghoa, berdebar-debar saat membaca tulisan2 mereka. Entah itu tulisannya engkoh Agus saat jalan2 di negara2 Stan, ato pergumulannya Ci Audrey. Mereka sibuk mencari akar mereka. Nasionalisme mereka itu ke China, ato ke Indonesia? Mungkin pergumulan saya tidak separah mereka. Kenapa?



Saya lahir di Semarang, tapi tumbuh besar di kota kecil yang aman tentram dan damai sentosaaaa. Di Purworejo, itu antaranya Jogja & Magelang. Mama papa saya, engkong dan emak saya juga besar dan cari duit di Purworejo. Saya sendiri juga sebenarnya gak tahu-tahu amat akar identitas ato jati diri saya. Dari pihak papah, saya ini keturunan China ke-14 kalo gak salah. Tuh kan, masih ada kata "kalo gak salah"nya. Sedangkan dari mama, saya gatau generasi ke berapa di Indo. Emak dan engkong dari mamah saya sudah meninggal bahkan sebelum saya lahir. Mereka meninggal pas mama saya masih kecil :'(  Emak dari papah saya juga meninggal sebelon saya lahir karena kanker yang menjalar di seluruh tubuhnya. Jadi saya cuma ngalamin engkong dari papah, yang meninggal tahun lalu bulan November 2010. Saya pernah tanya2 sama engkong, "Kong, kita ini dari mana sih asalnya? Kita generasi ke berapa?" dll. Di antara semua cucu, saya yang paling suka ngobrol dan diajak ngobrol sama engkong. Pertama, karena saya cukup lama jadi cucu perempuan satu-satunya sebelum adik sepupu perempuan saya, yang paling kecil dan juga cucu terakhir, lahir (bayangin guys dulu temen main saya cowok semuuaaaaa!! Hahaahaaah). Kedua, karena saya suka ngobrolin politik, sejarah, dll terutama yang berhubungan dengan China. Ketiga, karena saya bisa berbahasa Mandarin hehe. Habis pulang dari Taiwan, saya ngobrol sama Engkong pake bahasa ibu nenek moyang saya itu, en engkong saya seneng karena sayalah satu-satunya cucu yg bisa bahasa itu :p  Aduuuh jadi kangen Engkong.... T.T  Tapi sedihnya, Engkong saya juga gatau pasti kami ini aslinya dari mana. Rada simpang siur gitu infonya. 

Saya bersyukur sekali, kota tempat saya tumbuh besar itu sangat2 kondusif (kalo saya sih ngrasanya begitu). Saya gak ngalami diskriminasi seperti di kota2 besar lain terhadap keturunan Tionghoa. Saya bahkan sekolah di SMP dan SMA negeri, dimana 95% teman-teman saya berjilbab. Dari satu angkatan, yang Chinese paling banter 7 orang, itupun 3 di antaranya udah campuran Chinese-Jawa. Tapi toh saya bisa berteman & bergaul baik dg mereka. Selama SMP-SMA, teman2 baik saya bukan orang Chinese. Makanya saya ga habis pikir sama temen2 Chinese yg ga bisa bergaul dg orang-orang non-Chinese :( Temen2 yang kalo pilih sekolah or univ, masih suka liat2 komposisi ato perbandingan ras-nya. Weleh weleh. Di belakang rumah saya, ada masjid yang sehari 5x berkumandang adzan. Di kos saya yang sekarang, di depan belakang juga ada masjid. pas SMA, saya juga sedikit banyak tahu pelajaran agama Islam dari teman2. Benar2 toleransi banget haha. Jadi kalo ada seminar ttg pluralisme beragama, gak usah koar2 teori guys, saya sudah menjalani itu sejak kecil. saya udah praktekkin langsung.

Keluarga saya, sama sekali ga pernah beda-bedain orang. Mau China mau Jawa, semua bisa berteman. Apalagi saya liat teladan papa saya banget soal bergaul. Di kota saya, orang-orang China bisa berbaur dengan luwes dengan orang Jawa. Malah mereka saling bantu-membantu. En pas peristiwa Mei 1998, kota saya gak sebegitu parah. Memang ada bakar2an bioskop dan gereja, tapi puji Tuhan ga sampe separah di tempat lain. Makanya.... saya tidak begitu trauma seperti orang2 Chinese lain ketika Mei 1998 disebut. Karena saya sudah hidup dengan toleransi dan pluralisme sejak kecil. Di kampus, teman2 saya makin beragam. Ada yang dari Batak (buanyaaak), dari Kalimantan, dari NTT, Papua, Lampung, Palembang, Manado, dll. En anehnya, saya justru seneeeeeng banget. Saya bangga. Soalnya saya suka sekali belajar keragaman etnis dan pluralisme budaya kaya gitu hehe. Saya malah sering tanya2 sama mereka, "Budayamu gimana? Bahasa daerahnya ini apa? Bahasa daerahnya itu apa? Coba ajarin donk...." Saya sampe pernah diskusi soal tata cara pernikahan dan kematian dengan adat Batak. 

Tentu saja kalo etnis saya disebut-sebut, saya ada perasaan kesentil gimanaaaa gitu. Gini-gini, isu SARA, apalagi etnis, itu sesuatu yang sangat sensitif. Dan kita kan ga bisa milih mau dilahirin jadi etnis apa. Di SMP-SMA dulu, bukan sekali dua kali saya ditanyai soal ke-China-an saya. Tapi saya sama sekali ga ada masalah dengan itu, karena saya & teman2 sudah sangat terbuka. Kalo gak tahu, ya tanya. Jangan berprasangka sendiri.

Saya ga masalah, apakah kata-kata China itu harus diucapkan "c-i-n-a" atau pake pengucapan ala inggris, diucapkan "c-h-i-n-a." Itulah hal2 yang saya syukuri, yang tidak semua orang Chinese bisa rasakan..... Saya sangat sangat bersyukur akan hal itu. 

Pernah suatu kali saya keceplosan ngomong "c-i-n-a" dan bukan "c-h-i-n-a" di depan guru les mandarin saya. Laoshi (guru) saya langsung negur, "Jangan ngomong kata itu lagi. Kamu harus bilang 'c-h-i-n-a' dan bukan 'c-i-n-a'. Itu kata-kata hinaan buat orang kita! Laoshi ga mau denger lagi kamu bilang kata itu." 

Ngomong2 soal nasionalisme. Standin position saya adalah: saya bangga sebagai orang Indonesia keturunan China. Saya super duper bangga punya nenek moyang orang China. China itu negara hebat. Budayanya. Bahasanya. Pembangunannya. Sistim pemerintahannya. Kemajuannya. Bahkan sekarang bahasa China itu mulai banyak dipelajari dimana-mana. Buat orang lain yg bilang basa Mandarin itu susahnya njlimet sibeleketek, buat saya asyik banget. Saya sejak kecil suka liat film silat sama papa saya. Suka main Tekken. Suka baca Samkok.... Kalo saya jalan2 ke China, saya jelas bangga. Bahwa nenek moyang saya berasal dari sini. 

Tapi guys.... hati saya juga bergetar kalo belajar budaya Indo. Liat kehidupan orang Sambas, orang Dayak, orang Batak. Liat tari-tarian dan nyanyian mereka. Saya bisa bahasa Jawa dengan lancar (anehnya, dulu saya ga begitu suka pelajaran bahasa Jawa!! Tapi sekarang jadi kangen... T.T). Saya bisa nulis Jawa dg bagus sekali, lebih baik daripada temen2 Jawa yang lain. Saya seneng banget main gamelan pas kelas 2 SMA. Pas SD, saya ikut ekstrakurikuler tari Jawa. Saya bangga dan pingin belajar keragaman budaya Indo. Saya ikut gimanaaa gitu tiap kali budaya Indo ada yg diklaim oleh negara tetangga. Saya miris mikirin masalah2 yang dihadapin negara ini. Saya nangis dalam hati liat pemimpinnya kok kaya gitu.

Pendek kata, saya mencintai dua negara ini. Saya bahkan bingung dan gatau harus dukung sapa kalo liat pertandingan badminton antara China dengan Indonesia. Saya tentu berjingkrak-jingkrak kalo Indonesia menang, tapi kalo China menang, saya juga ada kebanggaan tersendiri. Di dalam tubuh saya, mengalir darah China. 

Tapi guys, apakah saya nangis kalo tahu China punya masalah? Enggak. Apakah saya sedih dan prihatin kalo pemimpin China korup? Enggak. Apakah saya kepikiran kalo China punya konflik ato sengketa dengan negara tetangga? Enggak. Walaupun saya mendalami pembelajaran soal China di kuliah, tetapi saya ga ambil pusing soal isu China-Tibet atao China-Taiwan. Mau gimana hasilnya kek, monggo. Silakan. Tapi kalo sengketa perbatasan Indo-Malay??? Saya sedih liatnya. Saya mikirin hal itu. Saya berpikir, apa yang saya bisa lakukan untuk bangsa Indonesia. Berbeda dengan kebanyakan orang, saya justru ingin bekerja di indo bagian tengah ato timur. Boseeeen banget tahu Indo cuma dari Jawa en Bali doank. Indonesia ini kaya. Luaaaaas. Indaaaaah. 

Makanya, membaca buku Agustinus Wibowo & Maria Audrey Lukito, saya sedikit banyak ikut merasakan apa yang mereka rasakan.... Agustinus banyak menulis refleksinya di buku Garis Batas, pengkotak-kotakkan manusia itu bisa dari pemerintah, bisa dari warganya sendiri. Dari pemerintah, sudah kita alami dari penjajahan Belanda. Orang Belanda/penjajah itu warga kelas 1. Orang China dan keturunan warga kelas 2. Baru penduduk lokal warga kelas 3. Sedih banget kan?? Dasar otak manusia yang gendeng, dikelompok-kelompokkan kaya gitu hanya berdasarkan warna kulit. Mereka pikir, kualitas otak juga diliat dari warna kulitnya T.T

Tapi ternyata sampe Orde Baru, itu masih berlaku. Ketika semua yang berbau China dilarang. Ga boleh pake nama China. Ga boleh rayain Imlek dan budaya2 China lainnya. Masih kudu pake SBKRI (THANKS GOD SEKARANG UDAH GA LAGI....). Inilah yang namanya pencerabutan identitas manusia secara paksa guys. Jika ingin merendahkan martabat manusia, gampang. Hilangkan saja akar identitasnya. Larang dia untuk berbahasa dengan bahasa aslinya. Larang dia untuk tahu akar budayanya itu darimana. Dan cekoki dia dengan ideologi baru!! Saya jadi bingung. Katanya negeri ini adalah negeri yang merangkul semua perbedaan di bawah semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Tapi kok ya ternyata masih ada pembedaan perlakuan seperti itu. 


Laoshi saya lagi-lagi cerita, dirinya sakit hati tiap kali denger lagu "Satu Nusa Satu Bangsa". Kenapa? karena dulu waktu dia kecil, murid2 disuruh baris, "dipaksa" nyanyi lagu itu. Ada pemaksaan penanaman dan pemberian identitas baru dalam diri seseorang. Saya sedih banget denger penuturan Laoshi saya. Buat saya, lagu-lagu nasional kita itu indah dan menggetarkan kalbu. Saya bisa nangis saat menyanyikannya, apalagi kalo saya terpilih untuk mewakili Indo di luar negeri. 

Apa yang saya lakukan, itu saya lakukan dengan penuh cinta untuk Indonesia. Untuk Indonesia, bukan untuk China!

*** 

Demikianlah sudut pandang saya atas isu nasionalisme dan kebangsaan heheheh. 2 buku tersebut benar2 membuka mata dan memperluas wawasan saya, terutama soal kondisi negara-negara di Asia Tengah bekas Soviet. Ternyata ada juga negara --- malah saya rasa sebagian besar negara --- yang memperlakukan warganya dengan berbeda-beda. Diskriminasi selalu ada. Apartheid di Afrika Selatan. Pembantaian kaum gipsi, orang Yahudi, dan ras non-Aria di masa Hitler. Di negeri kita ada. Bahkan di negara-negara seperti Kirgiztan, Tajikistan, Uzbekistan, dan Kazakhstan pun hal itu ada. 


Selain habis liat pembukaan SEA GAMES, baca buku Garis Batas dan Patriot, saya nulis ini juga diinspirasi oleh tulisan Sylvia Sumitro, mahasiswi kedokteran di Suzhou, China. Di negeri orang pun, ada hal2 yg bisa kita lakukan guys. Misalnya, Sylvia bersama teman2 Indo membentuk SISC (Suzhou Indonesia Student Community). Mereka memperkenalkan budaya Indonesia dg cara-cara yg halus: lewat olahraga, masak-memasak, menari, dll. Tidakkah itu membanggakan? Pas saya baca itu, dada saya rasanya sesak sekali.... saya bangga. Saya terharu :')  Kisah lengkapnya bisa dibaca disini, Suzhou Indonesia Student Community

Di tengah-tengah rasa nasionalisme yang semakin pudar, jangan menyerah. Jangan putus asa. Yakinlah bahwa Tuhan punya maksud dengan tempatin kita di Indonesia, bukan di Inggris, di Amrik, ato di Afrika. Dan buat saya pribadi, saya percaya banget mengapa Tuhan pilihkan saya dengan identitas sebagai orang Indonesia keturunan Tionghoa. Ada rencana indah & besar-Nya di balik semua itu! :)

Be blessed.

Nonik.


P.S Thank yah yang udah mau baca sampe selesai hahaha.... Moga2 kalian ga bosen en ga ngrasa ini kepanjangan, berhubung menjelaskan masalah ini butuh penjelasan yang tidak sedikit pula :p


14 komentar:

  1. " We don't have any racial enmity toward people from different race.......at least until he want to marry my little sister"

    Lupa baca ungkapan ini di buku mana, tapi gw setuju, rasialisme itu tetep ada di alam bawah sadar, terlepas dari apa yang kita pikirin.
    Gw pikir sih masalah ke-china-an itu lebih ke arah perbedaan fisik daripada masalah perbedaan negara ato nasionalitas. Gw pribadi sebel kok dengan pemerintah China yg nyensor internet seenak udel pake Great Firewall ( walopun gw bisa ngerti kenapa mereka lakuin itu).

    Gw pikir, pada dasarnya manusia lebih suka berkelompok dengan orang yang paling mirip dengan dirinya. Dan udah pasti kemiripan yang paling jelas itu ya fisik. Apalagi, masalah ras di sini kan seringkali juga berkaitan dengan perbedaan agama dan ekonomi.
    Mungkin masalah rasial baru ilang sesudah beberapa generasi kawin campur dimana perbedaan fisiknya ilang.

    just my 2 cent ^^

    BalasHapus
  2. nicee.. emang nih perlu kembangin semangat nasionalisme, bukannya kebencian.. Kadang memang bukan dari kita yang begitu, tapi kalo memang kita berniat tulus, pasti bisa berbaur :)

    saluutt ama elo juga nih, memang jarang orang Chinese bisa berbaur dengan mudah, mungkin karena doktrin2 orde baru, dan kadang masih ada beberapa orang yang masih anti-Chinese..

    Proud to be Indonesian!

    BalasHapus
  3. Waaa.. Ga nyangka di akhir post-nya ada aku disebut2, hehehe..
    Km memang selalu menggebu2 yaa Nik kalo ngomongin nasionalisme.. Indonesia harus bangga punya org2 seperti km ;)

    Tadinya aku mau comment aja, tp kok jadinya panjang kayaknya (kebiasaan deeh, hahahaha..), jadi mungkin bakal aku jadiin post sendiri aja kali yaa, wakakkaka..

    Yg jelas, aku jg bangga kok jadi orang Indonesia tp keturunan Tionghoa. Aku bangga sama bangsa & negaraku (Indonesia, karena jelas2 aku memegang passport INDONESIA) dan jg sama nenek moyangku (China) =)

    BalasHapus
  4. @tukang bakmi: bener Ko. mau gamau memang harus diakui kalo masalah fisik juga berpengaruh. Dan kita serasa lebih klop, lebih diterima, lebih di"rumah" sendiri bila membaur dg orang2 yg fisiknya sama, apalagi kalo cara ngomongnya/bahasa (daerah)nya sama. Waaah klop deh haha. Dan ga bisa dipungkiri juga, selama Orba itu memang ada pembedaan ekonomi & politik yg kerasa kentel banget. Sehingga pas peristiwa Mei 1998 itu ya emosi orang2 udah ga bisa dibendung en ditahan2 lagi liat perbedaan ato gap yg udah sedalem jurang.

    @Xang Thio: hehe iya makasih :) Betul, kita harus kembangin rasa cinta Indo, bukan kebencian!! Kalo soal pergaulan...hmm gimana ya. Sensitif banget sih ngomongin ini. Aku rasa, selain faktor indoktrinasi dari pemerintah, faktor dg cara apa & bagaimana seseorang dibesarkan itu berpengaruh. Kalo anak dari kecil udah diajari ga boleh beda2in orang berdasarkan SARA, aku rasa itu akan tertanam sampe dia besar. Terlebih, anak akan sangat look upon their parents. Jadi kalo kita udah punya anak nanti, cara besarin anak itu juga berpengaruh banget hehe.

    En sorry nih mo tanya, kamu tinggal di Medan kan? gimana pergaulan disana? Dari temen2 Chineseku yg orang Medan, katanya masih ada gap banget yah?

    @Sylvia: looooh ndapapa Syl justru aku seneng nek komenmu tu panjang2 hahaha.... ayo ayo ayoooooo nulis tentang tema/topik ini ^^ kita bangga jadi WNI :)

    BalasHapus
  5. @Sylvia lagi: oya Syl, ada cerita sendiri kenapa aku menggebu-gebu kalo ngomongin Indo hahaha. Soalnya dulu aku justru buenciii banget jadi orang Indo. Aku pingin pindah jadi warga negara laen. Ini juga bisa jadi pos tersendiri :p

    BalasHapus
  6. Oh yaaa?? Waaahh, ayoo2 diceritakan!! Bakal jd post yg menarik nihh, hihii..
    Post-nya udah jadi en udah di-publish, td masi mengalami beberapa kali editan dan ditambah2in, hahaha..

    BalasHapus
  7. Aih, mewek baca post ini. Sebenernya ak punya emotional attached gtu sama Chinese, haha. My very bestfriend is Chinese, trus dulu skripsi ku ngebahas Negosiasi Identitas pada pasangan Tionghoa-Jawa dan pasangannya. Jadi kan banyak tuh pasangan yg ga disetujuin sama ortunya gara2 beda etnis, trus klo disetujuin pun, tetep harus banyak beradaptasi. Trus pernah juga bikin film dokumenter soal ciam si, ramalan yg di kelenteng itu loh, kelompok kami dulu datengin semua kelenteng di semarang... Huaaa.... seru lah pokoknya, sejak itu jadi berasa dekat gtu sama komunitas Chinese wkwkkwk. Tapi emang miris juga karena jadi tau gimana susahnya jadi minoritas. Makanya bravo banget lah buat Gus Dur, yang bikin komunitas Chinese di Indo jadi bisa mengekspresikan dirinya :D

    BalasHapus
  8. cici tulisannya keren keren banget dan saya bacanya sampe habis lohh... hahaha
    bener ngomongin soal negara sendiri seru bgt, tp suka sedih kdg banyak yg gak ngehargai negara sendiri dsn lebih suka sama luar, emang sih perkembang di negara luar emang maju pesat banget...

    BalasHapus
  9. @Sylvia: he'eh Syl ini gek mau ditulis hehe.

    @Mbak Dhieta: waaaah aku malah babar blas udah ga ngerti ritual2 gituan loh Mbak. Udah ga percaya ramal2an di klenteng....keluargaku sendiri udah ga ngerti soal gitu2an. Iyaaa bravo buat GusDur!! ^^

    @Ruth: makasih yaaaa Ruth.... :) iyah Ruth memang menyedihkan en miris sekali liat rasa nasionalisme itu pada mulai luntur... Perubahan itu harus dimulai dari masing2 diri setiap orang, seperti kata Ci Audrey: Kalo hanya saya saja yg berubah, saya bisa ngapain buat benerin bangsa ini? gitu hehe :p

    BalasHapus
  10. sa gw salut d sama lu haha. buku cover depanna ga gt bagus ya.
    gw tuh kalo baca buku harus yg coverna menarik and rapi wkwkw. klo ga gak bakal gw sentuh
    parahhhhh ahaha

    BalasHapus
  11. Salut gimana Ni? apanya yg disalutin? hehe.

    Wah Ni, itu buku sumpe bagus banget isi en ceritanya. Di dalem banyak foto-foto tentang Afghanistan, Kazakhstan, en negara2 -Stan lainnya. believe me deh, habis baca buku itu pikiran kita bakalan terbuka lebar, en banyak belajar hal baru ttg hal2 yg ga pernah kita bayangkan di luar sono hehe.

    BalasHapus
  12. Saya sedang cari tau tentang Audrey dan ketemu blog ini. Seneng baca curhat kamu, dan perasaan kagum kamu yang dalam atas buku Patriot. Kapan-kapan saya akan mampir lagi. :)

    BalasHapus
  13. c ,mau tanya berkaitan dengan isi buku itu tentang SARA
    gini, cm pengen nge share,apakah semua RAS chinese klo berteman atau berpasangan lebih mementingkan sesama jenis RASnya ?

    sedikit share boleh ya c :P , aku dulu pernah "nembak" temenku pas SMA , dia chinese ,trus ditolak soalnya gara2 beda RAS.
    trus temen2 ku yg cowo chinese jg bilang , "susah klo aku bukan RAS yg sama berpasangan dengan RAS chinese."

    sekedar pengen tahu aja c , tolong dijawab ya .xiexie :)

    BalasHapus
  14. c ,mau tanya berkaitan dengan isi buku itu tentang SARA
    gini, cm pengen nge share,apakah semua RAS chinese klo berteman atau berpasangan lebih mementingkan sesama jenis RASnya ?

    sedikit share boleh ya c :P , aku dulu pernah "nembak" temenku pas SMA , dia chinese ,trus ditolak soalnya gara2 beda RAS.
    trus temen2 ku yg cowo chinese jg bilang , "susah klo aku bukan RAS yg sama berpasangan dengan RAS chinese."

    sekedar pengen tahu aja c , tolong dijawab ya .xiexie :)

    BalasHapus

hey guys, please leave your mark print here! it give me a boost to keep writing you know! ^^