About Me

Foto saya
A beautiful girl in His eyes. A girl with a BIG dream, BIG vision, with BIG passions for her town. Interested in a lot of things. Talkative and longing to travel in many new places. Is thinking hard what she can do to her country.

Senin, 21 November 2011

Cerita Di Balik Prakdip

Di post-post sebelumnya, saya janji mau tulis tentang praktik diplomasi (prakdip). The session was officially ended yesterday, 20th November 2011, di gedung KAA. Di kegiatan yg bernama prakdip ini saya banyak sekali mengalami & merasakan sendiri campur tangan dan kerja Tuhan. Saya sudah berjanji pada diri sendiri, saya akan punya sesuatu untuk dituliskan terkait prakdip. Dan apapun hasil prakdip ini, saya persembahkan buat Tuhan Yesus. Ternyata benar :) Saya banyak diberi kemenangan-kemenangan oleh Tuhan, dan tiap kali ingat itu, rasanya WOW banget guys. Apalagi ini baru fresh from the oven, prakdip selesai kemarin di gedung KAA. Tapi bukan kemenangannya yang penting, melainkan proses pembentukan karakter saya lewat prakdip. Saya begitu menggebu-gebu untuk menulis ini karena saya berharap banyak yang akan terberkati oleh tulisan ini, terutama perihal masalah dalam kerja kelompok dll. Dalam hidup, terutama soal kerja, kuliah, sekolah, kita ga akan bebas dari yg namanya tugas kelompok. Dan saya ini termasuk tipe orang yg jauh lebih suka tugas individual daripada kelompok >.< Tapi justru disitulah Tuhan bentuk saya habis-habisan. 


So, tulisan ini didedikasikan untuk Tuhan Yesus. Here's for you, Lord! Here we go.... (Oh ya, tulisan ini lagi-lagi panjaaaang, karena prosesnya juga panjang, 3 bulan. Jadi pastikan kalian punya waktu luang buat menikmati bacanya hehehe).



First of all, mungkin ada yg bertanya-tanya. Prakdip itu apa seh?? Prakdip itu secara garis besar sama dengan acara-acara ala MUN (Model United Nations). Teman2 yang suka baca blog saya pasti sudah pernah baca tulisan saya tentang MUN di arsip bulan Oktober awal, dimana saya bersama partner jadi The Best Delegate :') Benar-benar kasih karunia Tuhan, kasih karunia Tuhan banget. 

Di jurusan HI (hubungan internasional), prakdip merupakan salah satu ujian yg paling akbar, paling besar, dan kalo saya tambahin sih, paling berat hehe. Di mata kuliah prakdip inilah (yg bobotnya 4 SKS, terbesar kedua setelah skripsi 6 SKS), semua pelajaran dan ilmu dan teori dan pengetahuan yg kami pelajari selama 6 semester sebelumnya akan benar2 dinilai. Bukan hanya itu, keterampilan dan kecakapan dalam public speaking, seni berdiplomasi & bernegosiasi, juga akan bener2 dinilai.


Dan tidak seperti mata kuliah yang lain, dimana mahasiswa dan mahasiswi bisa bolos seenaknya, bisa titip absen, dan bisa ngulang, prakdip ini SERIUS. Dalam artian, mau itu tipe mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang), aktivis kampus, mahasiswa brilliant and cemerlang di akademis, mahasiswa abal-abal, dll, tiba-tiba "dipaksa dan terpaksa" untuk jadi bisa jadi serius buanget kalo bicara soal prakdip. Kita tidak bisa seenaknya bolos tiap kali ada pertemuan rapat dengan delegasi ato dengan dosen, karena pengaruhnya ke nilai besar sekali. Kalo gagal, harus ngulang tahun depan, tapi akan sekelompok dengan adik-adik kelas di bawahnya. Nah, ini jelas jauh lebih repot. Adik2 kelas jelas ga akan terlalu kenal kita dan sebaliknya. Mereka pasti sudah punya preferensi sendiri2 soal pemilihan anggota kelompok. Dan asli, prakdip ini SERIUS. Jangka waktunya itu sekitar 3 bulanan, mulai dari pemilihan kelompok (ini bisa terjadi bahkan dari setahon sebelumnya!!), menghadiri kuliah prakdip, termasuk UTS & UAS. UTS berlangsung di pertengahan Oktober, sedangkan UAS di akhir November. Untuk UTS biasanya univ saya mengadakannya entah di hotel ato di kampus sendiri. Sedangkan UAS, selalu berlangsung di KAA. UAS ini hampir pasti selalu dihadiri oleh perwakilan dari Kemenlu, media, bahkan orang asing kadang2 pun juga dateng buat liat. Hebohnya lagi, di tahun saya ini UTS dan UAS dua2nya dihadiri oleh perwakilan Kemlu dan media, dan pihak Kemlu dibolehkan untuk turut memberi penilaian plus kritik dan saran terhadap prakdip. Bahkan di UASnya, prakdip kami dilihat oleh anak2 PNMHII (Pertemuan Nasional Mahasiswa HI se-Indonesia).


Acara prakdip, yang seperti MUN ini terbilang akbar di kampus saya, sampai-sampai butuh ratusan orang untuk jadi panitia. Yang jadi panitia ya adik kelas. Tradisinya itu, adik kelas akan jadi panitia buat kakak kelas, demikian seterusnya hehe. Puji Tuhan, prakdip tahun ini berlangsung dengan sangat luar biasa. 


Nah, karena prakdip ini dinilai secara serius oleh dosen, dan prakdip juga merupakan makul syarat yg harus ditempuh biar bisa ambil SKRIPSI (banyak temen2 yg plesetin jadi "skrip-shit", ada juga yg bilang "skrip-sweet" heheheh. Semua menentukan sikap kita dalam mengerjakannya!), maka semua teman2 HI angkatan benar-benar serius banget dalam memilih teman kelompok. Soalnya ini pengaruh banget ke nilai!! And so you know aja di kampus itu tipe mahasiswanya macem2, seperti yg saya sebut di atas. Banyak labelisasi. Ada gank ini ada gank itu, ada anak yg terkenal ini terkenal itu, dicap pinter, dicap freak, nerd, aktivis, kutu buku, dll. Jelas2 mereka yang tidak setipe ga akan mau jadi 1 kelompok. Mereka yg sudah terkenal ga mau kerja (or suka nunda2 gawe) hampir dipastikan ga akan dipilih jadi 1 kelompok. Semuap ada pilih orang2 yg enak untuk diajak kerja sama. Bahkan ada beberapa geng yang saya tahu itu sama-sama sepakat untuk split, karena mereka tahu kalo bareng kerjaan ga akan kelar-kelar en nilai prakdipnya jelek hehe. Ada juga yang couple sepakat untuk beda kelompok karena mungkin gamau urusan rumah tangga kebawa-bawa di prakdip heheh :p



Dimanapun yg namanya kerja kelompok (entah itu pas kerja, kul or skul) itu pasti ada, en mungkin banyak, yang namanya GESEKAN dengan orang lain. Pasti ada ribut-ribut en cekcoknya. Ga setiap sifat orang sama, kita harus mau dan bisa menyesuaikan diri dg sifat orang lain, bagaimana menghadapi dan mengakomodasi perbedaan pandangan yg ada. Gimana cara menghadapi konflik, gimana cara tetep united, dll. Makanya kan, teman2 HI saya juga bener2 selektif pilih anggota kelompok. Kami pilih yg benar2 klop, minimal bisa nyambung kalo diajak kerja.


Nah. Teman2 kelompok prakdip saya bukanlah mereka yang tergolong dalam kelompok akademis. In fact, mereka adalah orang2 yang terlibat aktif dalam kegiatan gereja. Bukan berarti mereka aktivis or what gitu loh.... yang jelas mereka lebih aktif di setiap kegiatan gereja daripada di kampus. Sedangkan saya sendiri, lebih aktif di kegiatan akademik kampus daripada gereja. Bukan berarti saya ga terlibat dalam kegiatan gereja juga or apa. Yah, you know what i mean :) Dalam setiap kerja kelompok, saya sih kalo jujur-jujuran ya lebih suka dg teman2 yg "sealiran" akademis hehe. Dengan teman2 kelompok saya ini, saya juga dekat, tapi lebih ke arah membicarakan soal lahir baru, kekristenan, penjangkauan jiwa-jiwa, en ngobrolin hal-hal begituan. Sedangkan untuk kerja kelompok bareng? Wohooo...nanti dulu. Saya sudah punya preferensi kelompok lain.


Kelompok prakdip saya terbentuk setahun yang lalu. Setahun yang lalu!! Pas saya lagi deket2nya dengan mereka. Sebenarnya pembentukan kelompok ini lebih karena tergesa-gesa juga sih, karena sudah ada isu yang berseliweran disana-sini soal siapa mau kelompok dengan siapa. Teman2 lain kabarnya sudah bikin kelompok sendiri2. Dan seperti biasa, i was freaking out intimidated by those unproved story and i quickly asked them how if we are in one group together. And hoplaaa... the group was established! 



But one year later.... hubungan kami kurang dekat lagi. Bukan karena musuhan or ada masalah, tapi lebih karena makin lama kami makin jarang ketemu en ngobrol bareng. I was so busy with myself engaged with campus activities, especially the academic ones. At that time, I interacted a lot with "others academic friends", and the discussions were so interactive and taught me a lot of perspectives. I was so enjoying myself hanging out with "those other type of friends". Ketika prakdip semakin mendekat, barulah teman2 mulai santer soal isu bikin kelompok. I myself clearly aware that i already had my own group. Ada kepinginan utk pindah dg kelompok lain yg dirasa "lebih cocok" gak? Off course ADA. En keinginan ini kuat sekali, tapi saya merasa ga enak jg buat ninggalin kelompok saya yg udah kebentuk. Masalahnya saya ini plin-plan, jadi sampe H-1 bulan sebelum prakdip was officially started, saya masih bingung apakah mau tetap stick to my already formed group ato bikin kelompok baru/join dg yg lain. Saya bahkan ditawarin loh buat join sama kelompok orang yg terkenal pinter-pinter di kampus.... but i declined by saying that i already had my own group, padahal dalam hati mah masih bimbang en ada unsur kepingin juga gitu gabung sama kelompok mereka. Saya sampai menyesal, kenapa yah bikin kelompok cepet2 (kelemahan saya yg lain: terburu-buru in making decision!! >.<). Belum lagi ada beberapa teman yang ikutan bilang, "Iya kamu sih bikin kelompok cepet2. Makanya lain kali dipikir dulu." Omongan mereka benar, tapi bikin saya makin juntrungan gak karuan. Sampe H-1 sebelum kelas prakdip yang pertama untuk pembagian negara dimulai, saya masih bingung: pindah gak ya, pindah gak ya, pindah gak ya..... Bener deh apa kata Firman, "Jika ya katakan ya, jika tidak katakan tidak. selebihnya berasal dari si jahat." Orang yg selalu bimbang dan ragu2 itu ga akan merasakan ketenangan & kepastian, dan saya sudah ngalamin ini berkali-kali.


Kenapa sih saya ragu tetap di kelompok ini? Karena saya merasa sudah ga dekat lagi dengan mereka. In fact, i doubted them. I doubted them by questioning. I really despised and underestimated their ability talking about HI matters. Selain itu, karena saya sudah kadung ngremehin mereka, saya males harus bimbing en pimpin mereka. Research ini, research itu. Terangin ini, terangin itu. Kalo sama orang yg pinter2 kan enak, ga usah susah2 terangin panjang lebar isu yg mau dibahas apa, kita diskusi mah lancar en mulus2 aja.

Makanya saya pingin pindah.


Anehnya, tiap kali saya tetapin hati buat pindah, hati ini gak tenang. Pernah suatu waktu, saya bener2 tetapin FIX "Oke gue mau pindah aja." dan mau telpon salah seorang temen gue (Itu H-1 prakdip coy!!). But quietly, Roh Kudus bilang gini di hati. "Nonik... itu gak bener. Kamu mau pindah kelompok, itu namanya egois. Egois karena kamu merasa mereka tidak capable untuk kerja bareng. Egois karena kamu merasa hanya percaya dg kelompok yang pinter2. Tidakkah kamu percaya padaKU, AKU sanggup memakai mereka yang kamu remehkan untuk melakukan sesuatu terhadap prakdip ini?" Jedeeeng =.=


Akhirnya ya wis saya stick to this group hehe. Just so you know.... banyak omongan tidak sedap yang sampai ke telinga saya soal kelompok saya ini. "Loui, kok kamu mau sih sekelompok sama si ini? Dia kan ga becus dalam kerja blablabla.... Dia kan serin g ngaret.... Dia kan sering molor... Gue mah udah slag sama dia" etc. Itu semua mengintimidasi saya!! Tapi saya katakan, "Iya, gue sekelompok dg mereka. Tapi saya percaya kok mereka bisa :)"


Benar2 gak nyangka, Tuhan memang berbuat sesuatu di dalam kelompok saya (Ya emangnya Dia pernah boong ya? Kan enggak). Tuhan ajarin saya betul yang namanya The Art of Leadership, tapi juga sama yang namanya arti dari leading and submitting.


Fyi, saya ini tipe orang yg DC (dominan-compliance) dan koleris-sanguinis, dengan hampir ga ada unsur phlegmatis as long as itu ga menyangkut kepentingan saya. Ego saya juga kuat sekali. Di hampir semua tes minat-bakat dan kepribadian, hasilnya sama :p Unsur dominan dan kepemimpinan saya, terutama di soal akademik, kuat sekali (tanpa bermaksud nyombongin diri hehe). Dalam setiap kelompok, mostly i take the position as a leader. Termasuk di kelompok prakdip, saya yg jadi leader. Masalahnya saya ini paling gerah kalo kerja sama orang yg suka nunda2 gawe or "kumaha engke lah", alias dg orang tipe S (steadiness). Bisa stress sendiri saya. Masalah kedua, 69% orang di muka bumi itu tipe S wakaka. Saya banyak ngalamin ini juga di kampus. Nah, kadang2 saya juga capek mimpin. Saya males harus terangin ke orang, gini loh kamu harus kerjain blablabla. Sekali2 saya pingin yg dipimpin en laksanain perintah. Soalnya jadi pemimpin itu kan tanggung jawab (TJ)nya gede. Dengan kelompok yg pinter2, saya ga harus repot2 memimpin karena rata-rata juga bertipe DC :p


Di prakdip, Tuhan beneran ajarin saya jadi pemimpin yg berhati hamba weheheh. Asli jadi pemimpin itu gak mudah. Ini poin2 yg Tuhan ajarkan:


1. ANDALKAN TUHAN & LEAN ON HIM ONLY.
Asli, begitu saya tahu inilah kelompok saya, di hari-hari pertama itu rasanya udah gak mood banget buat prakdip. Segala pemikiran negatif udah pada nongol di kepala saya: gimana kalo prakdip saya gak sukses?? Gimana kalo kelompok saya bentrok or malah pecah? Gimana kalo kelompok saya ga mau kerja?? gimana gimana gimana. Itu akhir Agustus, sedangkan prakdip itu baru selesai setelah UAS tanggal 20 Nov 2011. Buat saya, rasanya lamaaaaa sekale. Saya udah jerit2 dalam hati, "Tuhan Yesus!! Saya ingin pindah kelompok.... saya ga tahan...saya ga cocok sama teman2 di kelompok ini."


Tapi saya tahu, kalo saya pindah, itu namanya saya EGOIS. Bagaimanapun, the show must go on. Walhasil selama memimpin kelompok ini (atas persetujuan kelompok tentunya! Saya ga langsung bilang, "Ok, saya yg pimpin." Saya tawarin dulu, ada yg mau mimpin gak. Karena gak ada yg mau, ya udah saya yg ambil alih), saya sangat sangat sangaaaaaat ngandalin Tuhan. Gambarannya, masa2 sebelum UTS itu kalo doa pagi saya bisa sambil nungging2 mohon penyertaan Tuhan banget. Saya mohon biar bisa dimampukan memimpin kelompok ini, which i know it's definitely NOT EASY. Dan ternyata, Tuhan memang mampukan saya sampai akhir, bahkan beri kemenangan2 lebih yg tidak saya bayangkan.


2.  Pelajaran kedua: TRUST YOUR MEMBERS. 
 Guys, saya ini orang yang paling susah untuk percaya dengan orang lain, apalagi kalo menyangkut hal2 yg saya kuasai. (Kalo hal2 yg saya ga bisa sih, misalnya soal desain, nah itu saya dengan rela hati ikut dan tunduk dengan perintah mereka hehe.) Saya belajar untuk tidak mendominasi dalam setiap pembicaraan dan isu yg dibahas di prakdip. Saya belajar untuk mempercayakan bahwa dalam setiap pembagian tugas, mereka bisa mengerjakannya dg baik. Saya berusaha untuk tidak memburu-buru mereka. 


Temen saya pernah bilang: ada 2 tipe orang. Pertama, mereka yg kerjanya itu nyicil dan tidak suka menunda2. Kedua, tipe deadliners, alias baru pas mepeeet banget baru kerja, tapi anehnya selalu bisa selesai en pasti jadi. So tahu donk saya ini tipe yg mana :p Saya berusaha untuk percaya dg mereka, sekalipun mereka itu tipe deadliners. 

Trust you members, it's important! Guys, di H-7 UTS prakdip, ada salah seorang anggota kelompok lain yang curhat ke saya. Dia merasa jengah en sebel sama leadernya karena merasa tidak dipercaya. Mendengar ceritanya itu saya sampe takjub dan tidak percaya. Saya takjub, ajaran Tuhan Yesus itu benar2 tokcer. 


3. ENCOURAGE & PRAISE YOUR MEMBERS
Menjadi pemimpin di delegasi prakdip saya (dapet negara South Africa nih hehe), saya akui bahwa saya orang yg paling banyak en paling sering ngomong. Tapi saya ga mau hal itu kebawa terus sampai di sidang. Saya juga ingin agar kelompok saya bisa merasakan hal yg sama. Saya belajar banyak hal, dg menjadi seorang leader, saya harus bisa meng-encourage mereka, praise them, and give them credits. I taught them how to do public speaking, how to convince the others, how to make good arguments and deliver it, how to not 100% dependent on the text, etc. 

Sebagai seorang leader, saya belajar untuk tidak membodoh2kan kalo anggota saya tidak bisa. Justru tugas sayalah untuk mengajari dan membimbing mereka, DENGAN PENUH KASIH. Well, ini juga yg sulit!! Soalnya saya ini orangnya ga sabaran en kesel kalo orang lain lama ngertinya. Di poin ini, kesabaran saya dibentuk habis2an sama Tuhan. Dan buah manisnya, saya ikut merasakan sukacita yang luar biasa setiap kali anggota saya berhasil membuat kemajuan. Tiap kali mereka berani ngomong di depan, saya salut. Tiap kali mereka berani menyatakan pendapat, saya bahagia. Tiap kali mereka berani membantah argumen saya, saya banggaaaa ^^


Leader yang baik, itu leader yg mau turut hepi dalam setiap kemajuan anggotanya dan mau mengerti mereka :)



4. LEARN TO SUBMIT TO THE OTHER WHO KNOWS BETTER THAN YOU
Dulu, saya suka dengerin kotbahnya Bu Iin Cipto. Dia nekenin banget yg namanya submit alias tunduk/patuh pada otoritas orang. Di prakdip, saya belajar juga hal ini, bukan hanya memimpin. 



Salah seorang anggota kelompok saya ini pintar sekali soal mode & fashion, plus make up. Make up buatan tangannya udah terkenal, beberapa kali dia diminta buat rias pengantin. Penghasilan juga lumayan. Padahal dia cowok loh. Modis banget deh pokoknya! Seleranya oke punya :)


Dalam hal ini saya berusaha untuk menundukkan diri dg setiap keputusannya soal baju prakdip. Di post2 sebelumnya, tentu teman2 sudah baca kalo prakdip ini, saking seriusnya, sampe penampilan pun dinilai. Hal yg wajar bila demi prakdip, mahasiswa rela mengeluarkan uang lebih dari 500ribu cuma buat urusan kostum (tentu dg berusaha seminimal mungkin menekan budget).


Karena saya bukan ahli fashion dan make up (malahan jarang banget dandan, kecuali kalo ada acara2 tertentu), maka saya percayakan hal ini dengan teman saya. Belajar percaya soal ini juga susah2 gampang. Saya harus belajar untuk mengendalikan diri menghargai & mempercayai pilihannya. Beli bahan ini. Jahit di tukang jahit ini. Pakai anting yg model begini. Pakai sepatu yang model begitu. Jangan beli yang seperti ini, jangan beli yang seperti itu. Dll. Tapi saya percaya juga ke dia. Kenapa? Karena saya percaya dia yang lebih mengerti soal penampilan untuk kelompok!! Ini tugas kelompok coy, BUKAN individu. Saya tidak bisa bertindak suka-suka atau seenak saya ingin pakai baju ini atau itu. Saya belajar untuk mempercayai dia. Bila saya berusaha semaksimal mungkin untuk tampil bagus dalam hal materi/substansi sidang, maka saya percaya bahwa teman saya ini juga berusaha semaksimal mungkin untuk tampil perfect dalam hal penampilan. Dan kami melakukannya demi KELOMPOK, bukan untuk sendiri2. Setiap orang punya bagiannya masing2 untuk bisa berkontribusi.


5. MEDIATE EVERY CONFLICTS WELL & BE DARE TO FACE THE CONFLICTS
Dalam setiap kelompok sendiri pun, pasti ada yg namanya slag, gesekan, benturan, dll. Di kelompok saya juga iya. Uniknya, 2 orang yg sering slag ini justru curhatnya ke saya. Si A bilang, "Saaa gue ga suka sama pendapatnya si B karena blablabla." Si B pun juga bilang hal yg sama ke saya. Saya jadi ngrasain dan memahami sudut pandang masalah dari dua2nya, sembari berusaha tetap netral.


Di sini, saya diajar untuk mendinginkan & mendamaikan suasana, bukannya ikut ngompor2i hehehe. Saya jelasin ke A, kalo dari sudut pandang si B itu jalan ceritanya gini. Saya jelasin juga ke B, kalo dari sudut pandang A ceritanya gini. Saya juga mendesak mereka buat ketemu langsung, jangan main kucing2an lewat saya :p Gimanapun kalo konfrontasi sama orangnya pasti lebih clear (konfrontasi disini bukan sama dengan lempar2 piring ya). Saya ga muna, susah loh jadi penengah. Terkadang saya juga ke-sway, ikut kebawa arus, jadi pingin nyalahin si A ato si B.


Tapi leader yang baik adalah leader yg mau berusaha untuk tegas en take position, find solutions how to mendamaikan suasana, bukannya lari or bikin masalah tambah runyam. 


6. HAVE A HUMBLE HEART
Biarpun kita leader, kita harus punya hati hamba buat terima masukan dari kelompok. Kalo anggota kelompok kita sifatnya ceplas-ceplos sih mungkin kita gampang tahu kelemahan kita (cuma ini bisa jadi konflik sih hehe). Nah, anggota kelompok saya ini orangnya nurut-nurut semua. Takutnya justru kalo kesel or ga setuju dipendem sendiri. Sedangkan keputusan saya kan ga mungkin menyenangkan semua belah pihak. Nah, saya menyikapinya dengan berusaha meng-encourage mereka, kalo ada masalah or ganjalan di hati tolong langsung omong ke saya. Kritik saya, serang saya, apapun. Jangan dipendem sendiri hehe. Sehabis prakdip, rencananya sih saya mau ada evaluasi sama kelompok.


7. AGAIN, LEAN ON GOD ONLY AND TURN TO HIM EVERYTIME YOU FACE PROBLEMS
Saya pikir, kelompok saya itu baik2 saja. Karena sampai sehari sebelum UAS itu kami ga pernah ada masalah ato cekcok2 apapun. Segala gesekan bisa ditangani dg baik. Bahkan ada kelompok lain yg yang leadernya curhat ke saya sambil nangis-nangis karena kelompoknya mau pecah, semua pada ngilang en ga kerja sama sekali. Saya sampai trenyuh dengernya. Padahal leadernya cowo loh! Dia udah ga tahan en mau pindah aja katanya. Thx God mereka bisa bertahan, bahkan general statement-nya pas UAS pun masuk sbg salah satu statement terbaik. I'm so proud with his decision to stick in his group.


Tapi ternyata, H-1 UAS Prakdip di gedung KAA pun, kelompok saya juga diguncang masalah. Ga sampai mau pecah sih, tapi goncangan ini benar2 mendadak  yg lumayan berat en bikin stress semua anggota. Salah satu dari kami sampe nangis saking udah gondoknya. Saya bener2 bingung dan ikut kalut juga, bahkan ikut kesel sama satu orang ini. Saya cuma bisa masuk kamar dan doa sungguh2, minta sama Tuhan, baiknya gimana. Saya harus bersikap apa. Saking keselnya, kebayang muka orang itu aja saya udah males en marah lagi. Saya minta dimampukan untuk mengampuni orang itu, dan saya juga minta maaf lewat sms ke dia. Keadaan benar2 serba tidak pasti pas itu, padahal tinggal beberapa jam lagi dan pukul 6.30 pagi kami sudah harus ada di KAA. Tahu gak guys, saya benar2 bergantung pada 2 ayat pas itu:

"Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya." (Mazmur 126:5-6)
Harapan saya cuma di ayat itu!!! Rasanya tu bener2 kaya bergantung di seutas tali yg tipis banget en itu mao jatuh ke jurang. Saya tahu ilustrasi ini lebay, tapi buat anak HI, konflik mendadak di H-1 sebelum UAS di gedung KAA itu bisa jadi kiamat kecil kalo ga diatasi dengan baik. Buat dunia, harapan pada ayat dicemooh habis2an. Berharap itu ya harusnya sama duit, sama koneksi, kepintaran & kekayaan. Masa hanya berharap pada ayat =.= Saya juga ngrasa terintimidasi. Saya bahkan ragu berpegang pada ayat itu. Saya bener2 butuh mukjizat pas itu! Saya ga sanggup lagi. Tapi saya percaya, bersama Tuhan, tidak ada yang mustahil.


Singkat cerita, semua berjalan beres dan kelompok kami tetap bersatu sampai di akhir sidang. Yeeeey!! ^^


***
Di akhir UAS, seperti biasa dibacakan closing ceremony dari presiden sidang, panitia, dan dosen. Setelah itu ada penghargaan yg diberikan. 


Guys.... siapa sangka bahwa delegasi saya mendapat 3 penghargaan sekaligus???! Kami mendapat:
1. The Most Favorite Delegate
2. The Best Working Group B
3. Outstanding Delegate, ini buat saya pribadi sih hehe, karena nama saya disebut. Tetapi walaupun begitu, ini berkat kerjasama kelompok. Kelompok saya jug berhak menikmati hasil ini.


Setiap kali saya mengingat moment-moment tersebut.... dimana nama saya disebut dengan lantang, "And the category of outstanding delegate goes to.... LOUISA VERONICA HARTONO!!!" Dimana saya dan kelompok maju ke depan mimbar.... Saat saya disalami oleh dosen dan difoto sana-sini.... Saat banyak teman2 delegasi dan panitia menyelamati saya.... Dan guys, tempatnya itu di Gedung Konferensi Asia Afrika yang lebaaaaaaaaarrrrr sekali. Di hadapan para dosen dan para semua mahasiswa HI angkatan 2008. Saya merasa seolah, Tuhan Yesus tersenyum bangga melihat saya. Saya bisa merasakan tangan-Nya terus memegang saya. Rasanya juga Tuhan seperti mau bilang ke yang lain, "Jangan remehkan Nonik. Dia anak-KU yang kukasihi. Aku menyertainya. Aku yang membuatnya berhasil." Oooh God.... mau sujud syukur rasanya pas terima placard penghargaan. 


Saya tahu bakal ada award2 semacam ini. Dan karena saya orangnya lebih berorientasi kepada hasil, saya takut saya justru terbeban dg ambisi buat dapat award. Dari awal saya cepat2 doa dan lepasin semua ambisi itu. Saya bilang ke kelompok, "Kita tahu bakal ada award2-an. Fyi, gue sama sekali lepasin keinginan buat dapat award2 itu. So, jangan dibawa stress ya.... jangan under pressure. Jangan beranggapan karena gue pingin dapet award, kalian jadi stress. Tapi, bukan berarti kita kerjanya juga santai2. Kita lakukan terbaik yg kita bisa, en serahin segala sesuatunya ke Tuhan. Oke oke :) " Kelompok gue jawab, "Siaaaaap" hahaha.



***


Teman-teman....


Mahasiswa lain di saat-saat pertama boleh menertawakan & meragukan pilihan yg saya ambil. Mereka bahkan ikutan mempertanyakan kapabilitas kelompok saya getoooh. Tapi, bila saya menengok ke belakang, SAYA TIDAK MENYESAL. Pilihan yang Tuhan suruh saya ambil, sungguh tepat. Saya bisa saja gabung dg kelompok prakdip yg pinter2, tapi karakter saya tidak akan ditempa seperti ini. Justru karena mereka pinter2, saya akan lebih mengandalkan mereka daripada mengandalkan Tuhan. Saya mungkin justru lebih banyak cekcok sama mereka karena sama2 merasa yg paling pintar. Dan yg jelas, saya ga akan belajar dg susah payah arti sebenarnya dari memimpin!! Saya ga akan tahu yg namanya the art of leading & submitting. Saya ga akan belajar cara untuk meng-encourage orang, tidak akan merasakan sukacita melihat kemajuan anggota kelompok yg saya pimpin, dll. ( Berkat prakdip, saya jadi lebih menghargai pemimpin saya di gereja, entah itu supervisor usher ato divisi2 lain.)


Di kelompok saya ini, saya ngandelin Tuhan bener. Saya banyak kali ngrasain kok Tuhan ga nolong2 ya padahal waktunya udah genting banget, tapi pertolonganNya ga pernah sedikitpun terlambat :'| Saya bahkan belajar esensi dari submission to the authority dari anggota kelompok saya. Tanpa sikap ketundukan dari mereka guys, kepemimpinan saya nol besar artinya. Saya terharu banget liat sikap submit mereka. 



Oh ya, mungkin habis baca sepanjang ini, di benak kalian terbayang kelompok saya yg anggotanya ga becus ya haha. Jangan lupa, mereka itu anak2 gereja :) Jadi konsep mengenai leading, submit to the authority, forgiveness, lean on God, etc itu kami sudah tahu semua haha. Cuma yg bikin saya semula enggan untuk sekelompok dg mereka, adalah ya karena saya ngremehin mereka itu tadi. Gile, bener2 egois kan?? Sangat sangat egois. Justru karena di kelompok inilah, yang namanya kesatuan berkat unsur submission ini kerasa banget. Saya malu, karena biasanya kalo saya diatur orang itu suka tanya "KENAPA?!!!" tapi anggota saya, jarang sekali mempertanyakan keputusan yg saya buat. Mereka sepenuhnya percaya kepada saya. Mereka tahu, bahwa apapun yg saya putuskan, itu adalah yg terbaik bagi kelompok. Mungkin bagi teman2 lain, orang yg sangat menonjol saat sidang adalah saya. Yang lain hanya nebeng doank alias free rider. Tapi saya tahu kebenarannya tidaklah demikian. Mereka berusaha keras untuk belajar mengikuti substansi sidang. Mereka berusaha keras untuk ikutan ngomong. Buat saya, ini jauh lebih berharga daripada sekelompok dg orang2 pintar tapi enggan belajar. 


Hal lain yg saya hargai & senangi dari kelompok saya, adalah kami percaya pada Allah yg sama :) Kami berdoa sebelum dan sesudah UAS, ketika akan wawancara ke kedutaan Afsel, dan juga sama-sama bawa prakdip ini ke dalam doa. Kami belajar bersama dari yg namanya memimpin, untuk taat pada pemimpin, bahkan untuk mengampuni orang yg sudah bikin kami kueselll H-1 sebelum UAS prakdip. Kami (terutama SAYA!!) belajar untuk lepasin ego ingin dapet yg terbaik. Kami belajar hanya untuk bener2 lean on God. Kalo kami bisa berhasil, itu karena Tuhan. Kalo selama sidang kami sehat, itu juga penyertaan Tuhan. Asli guys di Bandung nih lagi musim penyakitan. Cuacanya ga enak, dingiiin tapi bawa penyakit. Brr.


Perkataan Tuhan benar: "Apakah menurutmu AKU tidak bisa melakukan sesuatu di prakdip lewat kelompokmu ini, Nonik?"


Dia bisa, oh sungguh Dia bisa. Dia mengajari dan membenutk saya akan banyak hal. Dia bahkan memberikan LEBIH daripada yg saya minta dengan penghargaan2 di atas. Padahal, kalo saya ga jadi outstanding delegate gimana?? buat saya gapapa. I don't care, karena pas itu yg jadi fokus saya adalah bisa memimpin kelompok saya dg baik. Kepikiran jadi outstanding delegate pun kagak, saya ga berani minta. Itu sudah muluk-muluk, mengingat mahasiswa pinter2 yg lain di HI pun buanyaaaaak. Bersaing dengan mereka saja saya sudah keder bayanginnya, apalagi dg kelompok yg saya punya yg dulunya saya remehkan. Bener2 deh Tuhan itu berbuat sesuatu T_____T



Guys.... saya mau bersaksi: Dunia boleh bilang, keberhasilan dan kesuksesan itu ngandelin otak. Dunia boleh mengajarkan, keberhasilan & kesuksesan itu ngandelin kekayaan, jabatan, koneksi. Jadi, bergaullah dg orang yg pinter, dg orang yg kaya, dg orang yg punya jabatan tinggi. Tapi saya sudah membuktikan hal sebaliknya. Saya mengalami sendiri hal itu.


Pintar saja tidak cukup. Otak saja tidak cukup. Jabatan dan duit jelas ga akan menolong. Itu bisa hilang kapan saja. Tetapi kita punya TUHAN yang luar biasa, yg selalu lebih dari siap --- bahkan ingin --- untuk menolong kita, selama kita mau berseru pada-Nya. Pertolongan Tuhan lebih daripada apapun yg dunia bisa berikan. Teman2 saya yang lain mungkin berhasil karena usaha sendiri. Tapi saya & kelompok saya berhasil jelas-jelas karena campur tangan Tuhan.... 


Jadi kalo Anda yg membaca ini sedang dalam situasi gentar karena sekelompok dg orang2 yg MENYEBALKAN, yg Anda tidak percayai, ato yg Anda anggap rendah/Anda sepelekan gak becus dalam bekerja, saya ingin sampaikan: JANGAN BATASI ALLAH. Ia mampu untuk melakukan sesuatu di dalam pekerjaan Anda, agar Anda bisa mengalami sendiri dahsyat kuasaNya. Asalkan Anda mau berseru & berserah, Ia pasti bertindak :)


"TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?
TUHAN di pihakku, menolong aku; aku akan memandang rendah mereka yang membenci aku.
Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia.
Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada para bangsawan." (Mazmur 118:6-9).


P.S  Tulisan ini didedikasikan untuk teman2 kelompok prakdip saya: Adita, Alvin, Monich, dan Willyus. It's really an honor & a pleasure working with you. I learn a lot from you!! :D

9 komentar:

  1. Wow! What an experience with God! =) Congrats for all those awards, Nik. Praise the Lord! Dengan teman2 sekelompok yg semuanya percaya Tuhan Yesus, you can totally give these awards back to Him for His glory =) YAY! Congrats again for you and your teammates.

    BalasHapus
  2. Menarik.. sering banget baca kata "PrakDip" di blog kamu ini.. Ternyata setelah membaca penjelasan yang mayan panjang ini.. baru deh kebayang gimana hebohnya si ParkDip itu..

    btw, pas hari Minggu kemaren (tanggal cantik 2011.2011) pas jam 6.20-an lah aku lewat gedung KAA dan ada orang-orang berbaju rapi, seragam.. ternyata itu kalian toh..

    Selamat ya udah jadi pemimpin yang baik :D

    BalasHapus
  3. K-E-R-E-N!!!
    Kamu keren, kelompok kamu keren, and most of all: Tuhan itu keren bgt yaaa :)
    Congrats lg yaaa atas pencapaian2nyaa, 3 awards euyy, hebaat2!! Happy for you, dear..
    Ditunggu foto2nyaa!! Hahahaha..

    BalasHapus
  4. @Ci Shinta: hehehe iya Cik!!! bener2 kebangetan banget aku ngremehin mereka cuma di masalah kepintaran doank. Aku ini sungguh picik. Sekarang Tuhan celikkan mataku dan CLIIING.... TERBUKALAH!! Hahaha. Teman2 kelompok yg percaya pada Tuhan Yesus, yg sama2 mau belajar tunduk pada pemimpin, yg juga mau belajar kerja keras, aaaah.... Bahkan di H-1 semalam sebelum prakdip, kami kan nginep bareng di hotel yg deket sama gedung KAA tuh. ada salah 1 anggota yg udah catet pertanyaan2 serangan dari kelompok lain & bikin jawabannya loh... So proud of him...

    @Ci Grace: loh, cici tinggal di Bandung juga?? Dimana C? ayo kapan2 kita ketemuan hehe. Iya hari minggu kemaren yg pada heboh di KAA itu ya anak2 HI Unpar, salah satunya saya wkwkwk.

    @Sylvia: Matur nuwun Nduk hehehe. all glory goes to the Lord Himself!! Syl, tau gak, aku ini mengalami kemenangan2, JIKA DAN HANYA JIKA aku melepaskan semua ambisiku. Udah ngalamin berkali-kali. Bisa pergi ke Jepang, jadi best delegate IMUN, dapet 3 penghargaan di prakdip, itu semua terjadi hanya pas aku serahin semua keinginanku di bawah kaki Yesus :)

    BalasHapus
  5. noniiiiiiiiiiikkk.. waaaaaaaaaa congraaaaaatttZ yaaaaaaaaa =)
    Praise the Lord yaaaaa.. :D
    anyway gue jadi blajar banyak dari tulisan loe yang ini.. Bener2 mengingatkan gueee..hehehe..
    slamaat yaa nonik skali lagiiiii =)

    BalasHapus
  6. Sama-sama Kes :D Glad that it can bless others hehehe. Btw loe diingetin tentang apa neh? ayo donk sharing... ^^

    BalasHapus
  7. Wuaahh...selamat ya sa.. Bener apa yg km tulis, berjalan dan menyerahkan segala persoalan ke Tuhan Yesus buah nya pasti baik, karakter kita pun dibentuk. Woohhoo..kagum jg sm prestasi mu sa.. 3 awards gt loh, hehehe.. :) Tuhan Yesus memang luar biasa !! Skali lagi selamat ya sa.. & ur team.. *km cantik loh sa (aku ada liat foto yg di tag tmn mu di Fb, hehehe)

    BalasHapus
  8. Makasih Ci Fajar ^^ ihiiiy jadi malu deh :"> Itu kan aku cantik karena riasan temenku. Dia yg pilihin en bikin konsep baju plus riasannya hehe. btw sudah ada post terbaru ci soal foto2 prakdip :) isinya upload'an foto semua hehe. monggo diliat.

    BalasHapus
  9. Betuul2, expect less, surrender all to Him and let Him surprise you! ^^

    BalasHapus

hey guys, please leave your mark print here! it give me a boost to keep writing you know! ^^