About Me

Foto saya
A beautiful girl in His eyes. A girl with a BIG dream, BIG vision, with BIG passions for her town. Interested in a lot of things. Talkative and longing to travel in many new places. Is thinking hard what she can do to her country.

Rabu, 09 November 2011

Analogi Mencari Sepatu dalam Mencari Pasangan Hidup

Gue pernah baca di salah satu buku rohani tentang boys & girls relationship. Tapi lupa baca di buku or majalah apa. Di salah satu kalimatnya tertulis kurang lebih seperti ini (gue tulis seingat gue yah. Yang penting intinya tetep sama hehe): Wanita, sama halnya sangat selektif ketika mereka memilih sepatu, seharusnya juga bersikap selektif dan penuh pertimbangan dalam memilih dan menentukan pasangan hidupnya, kepada siapa mereka hendak memutuskan untuk berkomitmen seumur hidup. Pas gue baca kalimat itu, agak2 bingung sih. Soalnya gue termasuk orang yang jaraaaaang banget beli sepatu =.= Tapi siang ini, gue ngerti bow!! gue dapet esensinya!!
Kenapa? Soalnya, pagi-siang tadi gue habisin waktu di dua mall cari sepatu sama temen2 sekelompok prakdip (praktik diplomasi) gue :p 

Cerita dikit soal prakdip ya. Prakdip masih ada satu kali sidang lagi buat UASnya. Kali ini sidangnya di gedung KAA (Konferensi Asia Afrika), di Bandung. Ga tanggung2, sidang nanti bakal dihadiri delegasi PNMHII (Persatuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia), utusan dari Kemlu, en media. Bahkan kadang suka ada orang asing yang ikutan dateng ke KAA cuma buat liat. Soalnya prakdip Unpar itu terkenal sih hahaha. Kaya ajang MUN-MUNan gitu deh (model united nations). Hohoho bangga jadi anak HI Unpar ^^


Nah, selain substansi sidang yg sangat dinilai dosen, hal lain yg gak kalah penting adalah soal PENAMPILAN!! Sudah menjadi rahasia umum di HI Unpar kalo tiap kali prakdip, entah itu UTS atau UASnya, semua pingin terlihat cantik dan ganteng. Jarang-jarang kita bisa berpenampilan ala diplomat: pake kemeja resmi, celana/rok bahan, stocking, sepatu hak tinggi 5-12 senti, plus blazer en dasi. Dan fyi, kemejanya itu bukan kemeja biasa. Pokoknya yang modelnya harus bagus en wow banget. Terus yang ada model cewe en cowonya (kalo dalam 1 delegasi ada cewe & cowok). Kalo bisa juga yang seragam sama blazer en sepatunya.


Bisa jahit, bisa juga langsung beli jadi. Tapi itu semua butuh waktu yang gak sebentar coz harus ngumpulin semua orang, bikin jadwal yg semua orang bisa, en hunting baju bareng. Ato kalo mo jahit, ya harus milih tukang jahit yg bagus dimana en janjian buat ketemuan fitting. Belum harus beli kainnya sendiri di pasar. Kalo pingin bikin baju yg bagus, harga kainnya juga biasanya cukup mahal, apalagi kalo bahannya bagus kaya yang silver gitu.


Untuk beli semua itu, bisa habis beratus-ratus ribu rupiah. Kakak kelas gue bahkan ada yang sampe habis berjuta-juta demi buat penampilan prakdip jadi bagus banget!! Itu belum menghitung aksesoris dan duit buat make up di salon. Puji Tuhan bangeeeeeet, salah seorang anggota kelompok gue tu jago banget make up-in orang, so kita ga perlu kluar duit buat ke salon hohoho ^o^ 


Oke, singkat cerita, siang ini gue en 2 orang anggota prakdip yang cewek, pada pergi hunting sepatu high heels warna item mengkilat buat dipake di UAS Prakdip. Nah, di tengah-tengah pencarian sepatu itulah, ditambah dengan bercandaan sama teman2, gue jadi dapet inspirasi buat nulis ini, kenapa pencarian sepatu bisa dijadikan analogi yang tepat dalam pencarian pasangan hidup :P Oh ya, tulisan ini ga hanya berlaku buat wanita saja loh, tapi juga buat PRIA.


1. Yang pertama dan terutama, mencari sepatu itu ternyata memakan waktu yang cukup lama T____T   Manusia, terutama wanita, tentu ingin dapet sepatu yg cocok dan nyaman dipakai di kakinya. Pernah pake sepatu yg ga cocok girls??? So pasti pernah donk hehehe. Gimana rasanya?? Aduuuh, menyiksa banget!! haiissh =.= makanya, kita (terutama wanita), saat berbelanja sepatu, banyak menghabiskan waktu untuk mencoba berbagai macam bentuk, model, dan ukurang sepatu. Kadang sampe harus memasuki puluhan toko, baru dapet yang cocok. Kita tidak mau membelanjakan uang hingga ratusan ribu rupiah hanya untuk beli sepatu yang cuma bisa dipake sekali doank, habis itu tersimpan rapi di gudang sampe berdebu. Sayang banget mah itu.... Kadang harus bolak-balik ke toko yang sama belasan bahkan puluhan kali karena bimbang dan tidak bisa memutuskan, "Aduuh beli gak ya? Beli gak ya?" sampe-sampe mbak penjaga tokonya udah bosen liat kita :p Tadi siang gue juga gitu, masuk ke toko Giovanni sampe 3 ato 4 kali en minta maaf sama mbaknya karena bolak balik tapi ga jadi beli sepatunya hohoho. Bahkan sampe agak sore pun, salah satu orang teman gue belum dapat sepatu en dia memutuskan untuk cari lagi di lain hari. 


Guys, kalo cari sepatu aja butuh waktu yang lama (ada loh yang cari sepatu seharian ga nemu satupun yang cocok), apalagi cari pasangan hidup (PH) yang sesuai! Kalo kita gamau dapat sepatu sembarangan dengan kualitas yg abal-abal, masa sih kita mau dapat cowo/cewe yang seadanya hanya demi alasan "sudah waktunya"?? Sekalipun mungkin kita termasuk dalam usia yang, menurut dunia, sudah telat buat punya pacar (alias kok belon punya-punya), tapi apa kita mau sembarangan kasih hati kita ke siapa aja asal ada yang mau?? Mencari PH yang benar-benar pas untuk kita, itu memakan waktu. Gue katakan "pas", BUKAN sempurna. 


Sepatu hanya dipake untuk jangka waktu tertentu. Katakanlah, 1-3 tahun kalo kualitasnya bagus en tahan lama. Sepatu pesta mungkin cuma dipake sekali doank. Nah, kalo PH itu selamanya nooh!! PH itu ibaratnya mencari pasangan atau soulmate untuk jiwa kita. Orang yg dengannya kita terikat untuk komit seumur hidup. Bisa 30 tahun, 40 tahun, 50, atau 60 tahun. Kalo sepatu rusak masih bisa beli yang baru, tapi kalo soal orang??? Well well well, sayangnya ga bisa :( i know it's sad, but that's the fact. Kita ga bisa toh gonta-ganti pasangan seenaknya. Yaaaa kalau maksa mungkin bisa. Cerai, terus kawin lagi. Tapi harga yg harus dibayar sangat besar. Itu sangat menguras jiwa raga dan tenaga. Emosi dan mental juga terkuras. Apalagi kalo dah punya anak-anak. Gue sampe detik ini yakin seyakin-yakinnya kalo artis-artis yg kawin cerai pasti hidupnya jauh lebih tidak bahagia daripada mereka yg monogami yg ikut standar Kristus. (Jadi bukan yang asal monogami tapi di belakangnya main selingkuh ya!! Atau monogami demi alasan mempertahankan keutuhan keluarga semata, atau karena kasihan udah punya anak-anak. No no no bukan monogami yg seperti itu.) Berbicara soal PH, kita juga berbicara soal manusia yang punya hati. Punya perasaan. Punya otak. Manusia yg bisa mikir en bisa sakit hati, en yang jelas ga bisa dibeli dengan uang, dituker, ato dibuang begitu saja!! 


Andai sepatu-sepatu yang dipajang di toko-toko itu bisa ngomong, mereka mungkin akan teriak2, "Pick me! Pick me! oooh come on pick meeee...." Mereka semuanya ingin dibeli kita, dimiliki kita. Tapi sayangnya, we can't pick them all. We can only pick one (or maybe two or three) pair of shoes that fit most to our feet. Demikian juga, buat cowo2, kalo bisa pingin milih semua cewek *haha dasar maruk*. Buat cewe2, pada triak2 pingin dipilih sama cowo yang lewat. Tapi sayangnya, kita ga bisa berbuat seperti itu. Kita hanya bisa pilih satu orang untuk menjadi PH, ga bisa dua atau tiga. Tuhan juga menciptakan Adam berpasangan dengan Hawa, bukan dengan Hawa dan ..... siapa lagi getoo (i can't think of any names!). Kenapa ya kok manusia diciptain hanya dengan 1 pasangan, bukan 2 atau 3, atau 10? :P Gue belum tahu jawabannya, tapi mungkin biar dengan satu orang itulah kita bisa berkomitmen total seumur hidup. Bisa menikmati saat2 berduaan dengannya, dengan rasa yang begitu intim dan perhatian yang tidak terbagi. Jangankan pacaran, dalam temanan biasa aja gue akan lebih bisa mengenal seseorang bila kita benar2 berduaan: makan berdua, main berdua. Gue bisa kenal dia luar dalam en ngobrol2 masalah yang "berbobot". Perhatian gue juga tidak terbagi-bagi ke orang lain. 


2. Penampilan sepatu itu bisa menipu. Dalam memilih sepatu, seringkali gue tergoda buat beli semuanya (kalo gue punya berlian sekarung sih why not....) karena modelnya yang cantik-cantik. Tapi, pada kenyataannya kita membeli sepatu lebih karena keperluan dan kebutuhan, bukan sekadar rupanya yang menawan. Bolehlah beli sepatu sekali2 karena suka sama modelnya. Tapi hal ini kan ga bisa dilakukan terus-menerus. Kalo kita lagi beli sepatu yang memang karena perlu, en di saat itu kita juga ingin beli sepatu karena modelnya yang cute, mana yang akan lebih kita dahulukan? Tentu beli sepatu yang memang lagi dibutuhkan! Dan ternyata banyak sepatu yang modelnya cantik-cantik and look so wow, tapi begitu dicoba, ternyata gak muat/ga cocok di kaki kita. Ato kalopun muat, ternyata sakit di jari kaki, rasanya kaya dijepit en dijejalin masuk secara paksaan gitu. Ato kalo tidak, buat dipake jalan, di bagian tumitnya malah kedodoran, serasa mau lepas gitu. Apapun masalahnya, entah itu kesempitan sampe kita kesakitan atao kedodoran, sepatu itu jelas akan sangat tidak enak untuk dipake jalan. Kita ga akan bisa jalan dengan nyaman dengan sepatu seperti itu. Sepatu itu justru akan menghambat kita melangkah. Sebentar-sebentar kita akan membetulkan sepatu yang menggelayuti kaki kita, dan jadi nggak fokus sama hal yang seharusnya kita kerjakan. Sepatu yang seharusnya menjadi alas kaki yang nyaman, justru menjadi alas kaki yang menyiksa!! Arrrggh. Begitu dicopot, jari kaki udah merah en bengkak semua, bahkan mungkin tumitnya lecet sampe berdarah. Hiii. Milih mana guys, sepatu yang cantik sekali seperti sepatu kacanya Cinderella, tapi berdarah-darah saat dipake, ato sepatu kulit biasa tapi yang nyamaaaan banget dipake? Tentunya yang kedua kaaan ;) *asal tahu diri aja makenya, jangan sampe sepatu kulit dipake buat datang ke acara prom night wekekek* Dan biasanya, sepatu yang seperti itulah yang tahan lama.


Guys, pacaran pun seperti itu. Ada cowo/cewe yang dari luar look so damn handsome or beautiful, who is too hard to resist. Kita seringkali tergoda untuk dapat pasangan yang rupanya kaya Edward Cullen atau Jacob Black, tapi ternyata.... dia justru membuat kita "sakit" dan menghambat kita bertumbuh dalam perjalanan courtship tersebut. Dalam hubungan, kita bukannya bertumbuh, tapi justru sibuk untuk sebentar-sebentar "membenahi" atau mencoba mengubah/membetulkan pasangan kita. Waktu kita habis untuk bertengkar dan cekcok yang ga perlu. "Kamu harusnya begini begini!! Blablabla...." Penampilan PH kita akan pudar seiring dengan berjalannya waktu. Kekuatan fisik seseorang akan melemah, kecantikan dan ketampanan seseorang juga akan hilang. Bila PH kita udah jadi engkong-engkong atau nini-nini, udah gak cantik/ganteng lagi, udah gak kuat lagi, udah sakit2an, masihkah kita bisa bilang, "Aku mencintaimu" setiap harinya dengan tulus? Pernikahan bisa berjalan awet karena cinta sejati yang ada di dalamnya, yang tumbuh dan mengakar kuat di dalam Kristus. 


Daripada upgrade penampilan luar kita, mendingan upgrade penampilan di dalam diri kita :) Kecantikan yang dari dalam itu, akan memancar ke luar loh....


3. Ada harga ada rupa. Guys and girls, sepatu yang baik dan uenak dipakai itu biasanya --- en seringkali --- harganya mahal. Bahannya juga enak banget, entah dari kulit ato apapun itu. Yang jelas enak dipake di kaki, dan tidak akan menyakiti kaki hehe. *Asal ukurannya pas loh ya!!* Dan biasanya, sepatu yang seperti itu tuh muahal. Entah sepatu cowo atau sepatu cewek. Papa gue pernah beli sepatu yang harganya hampir sejuta. Tapi benarlah yang dikatakan pepatah, ada harga ada rupa. Biarpun mahal, tapi kualitasnya oke, dan biasanya tahan lama. Kita ga akan pake sepatu itu sembarangan. Kita akan pake sepatu itu di acara-acara dan pesta-pesta yang bergengsi en dihadiri orang2 ternama :p Kita jelas ga akan pake sepatu itu di tempat2 yg kotor, basah, lecek, en penuh lumpur. Kita akan menjaganya sepenuh hati. Kenapa? Yah karena harganya mahal!! En kita sudah merogoh kocek dalem-dalem buat beli sepatu itu. Sepatu-sepatu tersebut dibuat dengan bahan yang bagus, tahan lama, bukan dengan bahan atau kualitas murahan yang cepet rusak. Gue pernah nih beli flat shoes, harganya murah, tapi ternyata sakit dipake bow! Walhasil sepatu itu dah ga pernah gue pake lagi.



Selain itu, sepatu seperti ini juga dijual di toko-toko yang bagus. Ga mungkin lah pasar-pasar second ato di pasar loak... Kalopun ada, pasti itu sudah BEKAS PAKAI. Bukan yang baru lagi. Bukan yang brand new lagi. Kita makai bekas alas kakinya orang lain :p 



Sama halnya dengan mencari PH. PH dengan kualitas yang top, yang Christ-made quality *hahaha* harganya juga mahal :p Dibutuhkan penantian yang seringkali puanjaaaaang *hayooo gue bisa merasakan cewe2 bilang, "Betul betul betuuuul T___T*, pergumulan yang selalu ada, dan penantian yang tidak pasti. Kita sudah doa siang malam, tapi rasanya pangeran atau sang putri idaman tak kunjung datang.... Tapi gue yakin, saat si doi datang, we will treasure him/her as a precious jewel :D Kita akan memperlakukan dia sebagaimana Allah memperlakukan dia. Aaaaa so happy ^^  Beda halnya kalo PH ini ditemui dengan cara yang 'sembarangan', kasarnya asal samber or asal milih. Kaya gue dulu gitulah. Langsung jadian sama orang lewat dunia maya hahaha =.= Mau treasure dia apaan, lah wong cara dapatnya juga gampang banget kok. Disini gue ga bermaksud membahas cara ketemu si doi yang tepat loh ya! No no no. Tiap orang kan situasinya beda-beda. Ada yang ketemu langsung, ada yg dikenalin, ada yg lewat dunia maya tapi bisa langgeng.


Yaaa gue ga bilang loh ya perlakuan kita ke dia bakalan perfect. Inget, ga ada manusia yang sempurna. Tapi, karena kita mau belajar dari Kristus, maka kita akan belajar juga dari-Nya carau untuk memeperlakukan pasangan kita dengan baik :) Baca lagi deh tulisan Ci Shinta soal Mencari Ayah yang Baik untuk Anak-anakku. en tulisan2nya Ci Grace. Disana udah dijelasin secara panjang lebar soal cari PH hehe. 


PH yang seperti ini, juga ga akan ditemui di sembarangan tempat. (Wah, kalau berbicara tempat yang tepat soal PH, bisa panjaaaang guys. Jadi ga usah dibahas ya. I'm sure you all know what i mean.)


4. Ada kalanya, sepatu kita tidak bisa dipake lagi karena kekecilan, rusak, atau ga enak dipake (bikin lecet doank). Kalau begitu kondisinya.... mau ga mau kita ga akan pake sepatu itu. Kita akan buang, kasih ke orang, jual lagi di pasar loak, atau dibiarkan tergeletak begitu saja di gudang. Lah wong ga ada gunanya lagi toh? Walaupun itu dibeli dengan harga mahal-mahal, tapi kalo dipake cuma bikin sakit, ya ngapain dipake. Lain halnya kalo sepatu itu dah ga bisa dipake karena memang dah bener2 jebol saking seringnya dipake. Nah itu malah bagus, artinya kan kita sayang bener sama sepatu itu hehe. 


Begitu juga dengan PH/pacaran. Ada kalanya.... ada suatu waktu dimana kita merasa si doi kok ga cocok ya sama kita? kok justru malah cekcok terus... kok ga sevisi, ternyata ga sepadan, dll. Bila begitu caranya, maka yaaa dengan rela hati kita harus menyudahi hubungan itu :( I know i know i knoooooow this is so damn hard to be done T_____T Apalagi kalo kita udah terlanjur nyaman banget sama dia. Udah ga berani melakukan tindakan 'gila' itu karena takut, "Ntar siapa yang mau sama gue? Apakah gue masih laku?" dll. Yah ini pintar2nya kita sih, mau tetap berhubungan dengan orang yang jelas-jelas "menggerogoti" kita, atau berani mengambil langkah radikal untuk menyudahi hubungan yang tidak sehat ini dan kembali menata hidup. 


Yang ditekankan disini adalah hubungan yang TIDAK SEHAT. Artinya tidak sehat ya tidak sehat. Pacar Anda adalah seorang abuser, baik itu physical abuser, emotional abuser, verbal abuser, atau sexual abuser. Perbedaan seperti kebudayaan, ras, cara dibesarkan di keluarga, menurut gue gapapa sih selama bisa diakomodasi kedua belah pihak :) Pokoknya tidak sehat disini benar2 yg artinya gak sehat, bukan yang kayak "pacar gue kok pemalas ya, suka ngaret, gak rapi," en sifat-sifat yang masih bisa diperbaiki lainnya. Indikatornya adalah apabila Anda merasa tertekan berhubungan dengan dia, merasa tidak aman, gak pede, terus menerus takut, terancam, dll, jelas-jelas ada yang salah dengan hubungan Anda. Gak perlu ke psikiater ato psikolog pun, anda seharusnya sudah tahu akan hal ini. Anda bisa memilih untuk jalan terus dengan risiko pernikahan anda yang kemungkinan besar akan berjalan sama, atau menyudahi hubungan ini dan menata ulang hidup Anda. Haha bahasa gue kaya psikolog ya -.- 



5. Dalam memilih sepatu, nasihat dari teman-teman itu penting. Makanya ga heran kalo cewe suka gerombolan beli sepatu ahauehauehaue. Soalnya dari teman2lah kita bisa tahu, sebenarnya sepatu ini cocok ato enggak di kaki gue. Bagus enggak, cocok gak dipake sama baju ini, pantes gak buat dipake ke acara ini, dst. Misalnya, tadi siang, gue merasa bahwa sepatu model A ini cocoook banget di kaki gue. En pas lagi! Tapi temen gue bilang, kurang cocok. Soalnya kegedean. En setelah gue coba buat jalan-jalan lagi, ternyata bener bow.... sepatu itu sedikit kegedean di bagian tumit. jadinya kalo dipake jalan itu kaya mau copot-copot gitu. Jadinya ya gak jadi gue beli deh :( Tapi lebih baik begitu daripada pas sidang nanti gue malah pikiran terus benerin sepatu... En gue kan pingin beli sepatu yang bisa dipake berkali-kali gak cuma buat sidang prakdip doank. Temen gue juga bisa tahu kalo sepatu itu kesempitan buat gue, sekalipun gue keukeuh sepatu itu bagus, modelnya bagus, dll. Temen gue tetep bilang "Enggak." Dan akhirnya, gue pun mengakui bahwa dialah yang benar :p



Naaah. Di poin ini.... membicarakan betapa pentingnya komunitas & orang2 di sekitar kita dalam hubungan kita. Ada kalanya teman2, orang tua, koko-cici rohani sebagai pihak ketiga yg netral bisa lebih jeli, lebih murni dan lebih objektif dalam menilai hubungan kita sama si doi :) Mereka bisa kasih saran, kritik, masukan, atau warning kalo hubungan kita udah mulai nyrempet2 gak sehat kaya poin nomer 4 di atas atau udah memasuki "zona merah". Terkadang kita gak mau mengakui kan kalo sebenarnya hubungan ini bermasalah?? Mengenai ini sudah dibahas di note-nya Ci Grace, "Ada Mereka di Antara Kita" di fbnya TMMCC (Tuhan Masih Menulis Cerita Cinta). Silakan dicari sendiri ya hehe. 



6. Sekalipun susah bagi seorang wanita (bukan berarti pria ga susah, tapi lebih sering susah di wanita hehe) untuk menemukan sepatu yang cocok dengan dirinya, pada akhirnya toh ia tetap menemukan sepatu itu. Sepatu yang cocok dengan dirinya itu ADA. Hanya saja tersembunyi di suatu tempat dan belum ditemukan dirinya. 


Jadi.... meskipun di zaman sekarang ini banyak terdengar "Where are the Godly men/women???" yakinlah bahwa mereka tetap ada di luar sana. Kita hanya belum menemukan yang tepat :D Kapan ketemunya neeeh??? Sabar, sabar, sabaaaaarr. Tunggu waktu Tuhan :) He always has His ways, even tough we see no ways. Ingat ingat, PH yang berkualitas itu mahal harganya!


Ternyata kesamaan mencari sepatu dengan mencari PH itu banyak juga ya haha. Gue jadi beneran ngerti apa maskud awal tulisan di atas.  Wanita (dan juga PRIA), sama halnya sangat selektif ketika mereka memilih sepatu, seharusnya juga bersikap selektif dan penuh pertimbangan dalam memilih dan menentukan pasangan hidupnya, kepada siapa mereka hendak memutuskan untuk berkomitmen seumur hidup.



Hope it bless you guys :)



8 komentar:

  1. bagus sa i like it d haha..
    gw ada suka satu sepatu tuh penampilan luarnya aja bagus tp pas gw pake sakit teuing tp gw ttp suka. wakakak
    menyiksa diri sndri

    BalasHapus
  2. bener bener, banyak yang pada nanya juga ke gw, pertanyaan kaya gini
    "kok belum dapet2 pasangan sih? pilih2 lo ya? jangan kebnykan milih, ntar kepilih"

    dalam hati, "ya iyalah, gw aja pake baju yang mw gw pake setiap hari aja milih, apalagi PH seumur hidup"
    *jawaban diajarin temen gw pas kita share2

    BalasHapus
  3. WAh analogi nya benar juga yach.
    makasih postingannya memberkati.
    salam kenal yach. Gbu

    BalasHapus
  4. @Ani: hehe thx u Ni. iya kalo ada sepatu bagus banget tapi sakit or ga cocok dipake, rasanya berat banget taroh lagi di etalasenya huhuhu :(

    @Felisia: haha sabaaaar ya :) aku juga ngrasain dibilang gitu kok. Aku pernah baca juga tulisan yg bilang gini (lupa dari mana haiiish =.=) "Lebih baik tidak menikah daripada menikah tapi dengan orang yang salah."

    @Zia: makasih Zia :) glad that it can bless others. Salam kenal juga yaaa ^^

    BalasHapus
  5. wuahh.. sepatu.. me loves shoesss.. hehehe..
    yang poin nomor 2 gw setuju bangeett.. sering gitu gw jalan sm temen2 cwe (biasa kalo cwe ngumpul2 ngomonginnya sp? hoho..) cwo A ganteng lah, Cwo B hebat lah.. aduh si Cwo C kasian amet, Tuhan lagi eksperimen ye pas buat dia? padahal mungkin aje si C ini cinta Tuhan banget..
    ampun dah, gatel gw dengerinnya..
    trus banyak pula cwe yg gonta-ganti pasangan kayak sepatu (kepake neh analogi sepatu dalam hal lain.. hahaha); gw karena blm pernah pacaran, ngeliat mereka, mau ngomong jg ngerasa gak punya hak, akhirnya cmn tanya, bagaimana hubungan lu sm Tuhan, don't u think ur insecurity harusnya u serahin ke Tuhan? hehehe..

    BalasHapus
  6. @nike: wah iya yah!! Gonta-ganti sepatu=gonta-ganti pasangan!! gue malah sama sekali lupa nulis itu Nik!! haduuuh T___T soalnya ada teman gue yg insecure banget kalo belum punya cowo...kasian banget lah hidupnya. Bukannya gue mau njelek2in temen sendiri yah...gue juga sudah berbusa-busa ngomong soal Yesus ke dia tapi dianya masih belum mau terima. Yah sedih banget sih emang :'( dan gue percaya bukan hanya dia saja, tapi masih banyak cewe2 di luar sana yang juga merasa insecure kalo belum punya pacar, dan mereka mencari-cari rasa aman itu dg cara cari cowok. Andai saja mereka tahu bahwa rasa aman & puas yg diberikan Tuhan Yesus jauh melampaui yg bisa diberikan cowok2....

    BalasHapus
  7. SETUJUU!! Hahaha..

    1. We can't say that we fall in love with someone if we're only INTERESTED in their looks. Yup, itu mah namanya "INTEREST", not "LOVE". Ketika penampilan itu pudar, apa yg tersisa? Perasaan kita ke dia pun bakal ikut pudar kalo gitu. We have to be really in love with his personality & everything in him, yg mana ga akan hilang sampe kapanpun..

    2. Banyak org yg STUCK dlm sebuah hubungan hny karena "udah lama pacaran", "udah terlanjur sayang", dll, padahal kalo ditanya lg ke diri sendiri, mereka ga bener2 sreg mau spend the rest of their life with that person. Padahal kalo udah kayak gitu, buat apa diterusin yah? Letting go memang salah satu hal yg paling susah utk dilakuin T___T

    3. Setuju banget sama poin ke 5!! Di sini dlm artian temen2 ato org2 yg membangun loh ya, bknnya yg memberi masukan ato manas2in kita biar kita nggak sama org itu dgn ada maksud lain di belakangnya. Seringkali, org2 di sekitar kita tuh jadi "mata" buat kita di saat kita lg "buta". Tp kita seringkali ga mau denger krn udah terlanjur dibutakan sama perasaan semata. Pernah ngalamin sendiri soalnya, udah dinasehatin sama temen tp ttp ga mau denger, akhirnya ngerasain sendiri deh kebenaran perkataan mereka :'(

    Aku tau kenapa sepatu yg dijadiin analogi dlm memilih pasangan hidup. Karena ini pasti "ngena" bgt terutama bagi kaum cewe, soalnya menurut penelitian, most women love shoes the most! Dan katanya, meskipun cewe ngeluarin duit mahal buat beli sepatu, setelah beli pun, mereka ga akan menyesal karena udah abis duit banyak, instead, they're happy & puas krn uda dapetin sepatu yg dimauin =D
    Jadi, semoga in the end kita jg merasakan kebahagiaan & kepuasan yg sama bahkan lebih, yaa ;)

    *Comment-ku uda jd kayak 1 post sendiri nihh, maap yaa >.< Huehehehe*

    BalasHapus
  8. @Sylvia: gapapa Syl, really glad to see and read such a looong comment!! hahaha ^^ bener loh.

    i can't agree more with you. Banyak yg meneruskan hubungan itu sekalipun sebenernya mereka udah STUCK, gak move on kemana-mana. Jadi bahkan dalam courthsip pun buah-buahnya harus diliat ya hohoho. kalo gak membangun yaa....wajib ditanyakan pada diri sendiri: apa sih 7anku jalan sama dia? apa yg ingin kucapai? Apakah dia sepadan? bisa membantu visi-misiku? (Buat yg cowo terutama hehe). dll.

    BalasHapus

hey guys, please leave your mark print here! it give me a boost to keep writing you know! ^^