About Me

Foto saya
A beautiful girl in His eyes. A girl with a BIG dream, BIG vision, with BIG passions for her town. Interested in a lot of things. Talkative and longing to travel in many new places. Is thinking hard what she can do to her country.

Jumat, 14 Oktober 2011

Kisah si Bapak Menteri

Cerita pendek dibawah ini hanyalah gambaran dan keluh kesah gue tentang apa yang terjadi di negeri ini. Segala penamaan, tokoh, karakter dan watak adalah fiktif belaka dan tidak dimaksudkan untuk menyinggung siapapun.

*** 

Pak Menteri Rasembodo sedang duduk termangu-mangu di teras depan rumahnya. Otaknya sedang sibuk, memikirkan banyak perkara. Dia sedang harap-harap cemas, menunggu panggilan dari Bapak Presiden. Entah lewat telepon, faksimile, BBM ataupun sms. Pandangannya kosong dan menerawang jauh ke depan. Tapi, pikirannya sungguh sangat butek.

Dia teringat empat bulan yang lalu ketika dia diadili di meja hijau, karena menjadi terdakwa dalam kasus korupsi sekian milliar US dolar. Uang yang sejatinya digunakan untuk membangun rumah sakit, puskesmas, dan sekolah di Desa Tak Kunjung Maju, Kecamatan Terkungkung, Kabupaten Sigara-gara, Provinsi Abal-abal itu, sebesar 40% masuk ke koceknya sendiri. Pak Rasembodo menghembus napas luar biasa lega ketika akhirnya dia divonis bebas oleh Pak Hakim Dobleh, yang dia beri komisi sebesar 5% untuk usaha pembebasan dirinya. 

Dia juga teringat kawannya yang bertugas menjadi bupati di daerah bernama Sibala-bala, yang berbatasan dengan negeri tetangga. Kawannya ini secara diam-diam membiarkan begitu saja penggeseran patok-patok perbatasan wilayah antara kedua negara. Entah itu patok yang digeser oleh rakyat sendiri, atau yang digeser oleh rakyat tetangga. Kawannya yang bernama Raden Sangkuni ini membiarkan hal tersebut terjadi, semata-mata karena 1 hal: kesejahteraan!! Patok-patok bergeser karena ada ketimpangan parah antara negeri sendiri dengan negeri sebelah. Warga merasa tidak diperhatikan oleh pemerintah. Di wilayah Raden Sangkuni, listrik masih byar pet, tidak ada fasilitas kesehatan yang memadai, dan rakyat susah cari sembako. Sedangkan di wilayahnya Datuk Assalam, wilayahnya terang benderang, banyak rumah sakit dan puskesmas, dan lumayan banyak toko-toko yang menjual sembako. Tidak heran bila melihat warga sendiri setiap 3 hari sekali pasti berbelanja bahan2 kebutuhan pokok di wilayah sebelah itu. Persetan dengan pemerintah, begitu mungkin pikir Raden Sangkuni. Kalo pemerintah tidak bisa mengurus wilayah ini, biarkan saja diurusin oleh pemerintah negara lain. Jangan lagi kaget bila warga pun beralih kesetiaan. 


Sayang seribu sayang bagi Raden Sangkuni, dirinya tertangkap basah saat dia turut membantu warga memindahkan beberapa patok, bahkan terbukti bersalah di pengadilan. Padahal Sangkuni sudah meminta bantuan kepada Pak Rasembodo untuk membebaskannya, apa lacur Pak Rasembodo sendiri tidak berdaya. Maklum, beliau kurang mengenal karakteristik hakim dan badan peradilan setempat. Jadi... daripada ikut-ikutan berperkara, lebih baik duduk diam dan mendoakan dari jauh saja. 


Namun sekarang, pikiran lain melanda benak Pak Rasembodo. Gara-gara skandal megamiliar 4 bulan yang lalu dan wacana reshuffle kabinet sedang heboh-hebohnya, beliau jadi khawatir dan pusing tujuh keliling. Dirinya takut bahwa posisinya sebagai Menteri Penjamin Kesejahteraan Sosial itu akan dicabut, dan digantikan oleh orang lain. Apalagi 2 minggu lalu, Pak Presiden sudah memberinya surat wanti-wanti kalo-kalo posisinya hendak digeser. Wejangan di akhir surat agar tetap sabar dan tawakal, serta ucapan terima kasih yang muluk-muluk tapi tidak tulus, terasa hambar. 


"Tapi tak apalah," demikian pikirnya. "Setidaknya selama tiga tahun lebih ini, aku telah menikmati kedudukan sebagai seorang menteri. Aku mempunyai kantor sendiri yang luas, ber-AC, dan bisa jajan sesekali." Kini benaknya menghitung-hitung lagi, berapa uang komisi dan uang proyek yang telah diterimanya selama tiga tahun lebih bekerja. Belum ditambah dengan gaji pokok dan tunjangan2. Kemudian ia tersenyum lebar. Secercah kepuasan tersungging di bibirnya. Setidaknya, masih cukup untuk membiayai si bungsu sampai tamat kuliah, dan untuk membelikan perhiasan2 bagi istrinya dan mengajaknya jalan-jalan ke luar negeri. Maklum, istrinya itu gemar sekali merengek minta diajak jalan-jalan ke luar negeri. Yang penting anak istri senang dan tercukupi!! Pak Rasembodo tergelak dalam hati. Cara apapun tak jadi masalah lah.


"Minumnya Ndoro...." Pak Rasembodo sejenak tersentak dan kaget. Teguran dari Kang Asep, pembantu yang sudah mengabdi di rumahnya selama 55 tahun ini mengagetkan diri dari lamunannya. Bahkan Kang Asep sudah mulai ngabdi kepada orang tua Pak Rasembodo ketika dirinya masih dalam kandungan.


"Oh, iya iya Kang." Pak Rasembodo mengubah posisi duduknya, dan mulai mencomot camilan berupa pisang goreng keju yang disuguhkan. Tiba-tiba matanya terhenyak melihat minuman yang disajikan.


"Apa ini Kang?" 


"Teh manis hangat, Ndoro."


"Ya ampun Kang, saya kan mintanya dibuatin Martini, bukan teh manis. Gimana sih? Udah budeg ya panjenengan?!" 


"Oooh.... maaf maaf, Ndoro...."


"Udah sana, masuk lagi. Ambilin saya sebotol Martini yang ada di lemari paling kiri di dapur itu ya. Kang Asep ni gimana, kaya ndak tau saya saja. Setelah bertugas di Swiss selama dua bulan, selera saya berubah Kang. Dulu saya memang doyan minum teh manis, tapi sekarang ndak lagi. Udah jadi Martini." 


"Oooh.. Iya iya Ndoro. Maafken saya belum tahu."

"Emang aku belum cerita ke kamu ya?"


"Belum Ndoro."


"Hmmm. ya sudah. Mulai sekarang kamu tahu harus menyuguhkan apa. Untung saya sudah beli berkrat-krat dus Martini. Itu saya simpan di gudang." Pak Rasembodo terdiam sejenak, kembali tenggelam dalam lamunannya sambil mengepul-ngepulkan cerutu kiriman temannya dari Kuba. 


"Ya Ndoro."

untuk sejenak keduanya terdiam.

"Ndoro...."

"Ya?"

"Ndoro lagi kepikiran soal isu reshuffle kabinet ya?" 

"Hah, kok kamu tahu?!"

"Terlihat di wajah Ndoro."


Pak Rasembodo terdiam. Kacung yang satu ini memang pinter nebak. "Ya iyalah Kang," akhirnya dia menjawab. "Bayangken, saya ini sudah jadi menteri, ngabdi sama Bapak Presiden selama 3 tahun. Sebelum presiden yang ini, saya sudah jadi jubir selama 2 periode. Sebelumnya lagi, saya jadi sekjen partai selama lima tahun. Siang malam saya kerja mikirin apa yang terbaik buat rakyat, harus bikin proyek apa lagi buat menyejahteraken mereka. Mosok tiba-tiba saya mau dicopot? Ndak mau saya ini lengser keprabon Kang."

"Loh, ya gak papa Ndoro. Setiap orang kan memang ada masa dan waktunya. Ada Masa untuk diangkat, ada masa untuk diturunkan. Pasti akan ada yang namanya regenerasi Ndoro."

"Tidak bisa! Kalo bukan aku yang menjabat, rakyat gimana nanti?"

"Aaah, yang ada di pikiran Ndoro, sebenernya perut rakyat banyak atau hanya perut Ndoro?" Kang Asep tersenyum menggoda. Tapi pertanyaan ini sungguh membuat panas hati Pak Rasembodo. Bibirnya hampir megap-megap saat menjawab. "Ya hati rakyat lah!" 

"Ya sudah kalo begitu. Yakin saja pengganti Ndoro nanti tak kalah pinter sama Ndoro."

"Tidak bisa begitu Kang," timpal Pak Rasembodo. "Tidak semua orang itu punya otak encer seperti aku. Tapi ndak usahlah kamu pikirin soal ini. Aku sudah siapin calon untuk menggantikanku kalo misalnya aku lengser. Itu lo si Pak Rahwana. kamu tahu kan? yang sering main ke sini. Dia udah teken kontrak buat kasih 10% penghasilannya ke aku tiap bulan. Dengan begitu, aku tetep masih punya penghasilan buat anak-anak dan bu juraganmu. Kamu juga masih bisa ku gaji. Hahahaa!" 

Hatinya sedikit lega. Ia ingat bahwa kesuksesan Pak Rahwana selama ini tak lepas dari bantuan dirinya. Bisnis2nya, proyek2nya, bahkan pamornya di mata masyarakat meningkat, semua berkat campur tangan Pak Rasembodo. Selama ini, Pak Rahwana sudah ikut ndompleng nama dan jabatannya Pak Rasembodo, sebagai Menteri Pengawas Kemiskinan dan Penjamin Kesejahteraan. Awas saja kalo perjanjian di balik tangan ini diingkari... Semua borok-boroknya akan kubongkar, batin Pak Rasembodo.

Kang Asep terhenyak. "Tapi itu tidak baik, Ndoro.... " 

"Ndak baik gimana?"

"Ya ndak baik. Itu kan sama saja dengan menyuap dan menipu rakyat."

"Aaah, tahu apa njenengan soal politik?"

"Tidak tahu apa-apa Ndoro."

"Ya sudah. kamu diem saja."

"Ya Ndoro." Kang Asep tertunduk diam. Tapi kemudian ia bersuara lagi. "Tapi gimana dengan Bapak dan Ibu Ndoro? Dulu sebelum mangkat kedua beliau telah berpesan, agar Ndoro bisa jadi abdi dalem yang baik buat rakyat.... Kalo Ndoro bertindak seperti itu, saya rasa mereka tidak akan tenang Ndoro." 
  
Pak Rasembodo bungkem lagi. Entah kenapa, pembantu yang satu ini selalu saja mengacaukan impian2nya. Padahal semua yg dia lakukan itu kan bertujuan baik, agar dirinya dan anak istri bisa makan. Bisa mendapatkan pendidikan yang baik. Coba kalo dirinya ditahan dan dipenjara, waduh, siapa yang mau cari makan? siapa yg mau cari nafkah? Istrinya hanya peduli soal belanja dan window shopping di luar negeri. 2 anaknya sudah hidup mapan di luar negeri, sedang 2 yang paling kecil masih sekolah. Lagian jaman ini sudah edan dan jumpalitan. Kalo gak ikut2an edan, gak kebagian. Katanya kita harus selalu menyesuaikan diri dengan perubahan jaman? Lah sebenernya saya ini salah apa toh? Toh perbuatan saya tidak merugikan orang lain. Saya juga tetep kerja buat rakyat kok.

"Ndoro...." timpal Kang Asep lagi. "Eling Ndoro. Eling. Masih banyak rakyat di luar sana yang kelaparan. Kalo Ndoro nyuap Pak Rahwana atau bapak-bapak yang lain lagi, itu sama saja dengan Ndoro sudah nilep uang rakyat. Apalagi Den Bagus dan Kanjeng Rara sudah hidup mapan di luar negeri. Kan Ndoro tinggal menikmati masa tua dengan tenang. Saya khawatir ndoro nanti dikejar-kejar media lagi karena skandal ini atau itu."

Aaaah, sebenernya dikejar-kejar media itu ada enaknya juga. Bisa bikin sensasi tersendiri heheheh. Demikian batin Pak Rasembodo.

"Ndoro, ingat sama sumpah jabatan, Ndoro."

Buset, abdi satu ini harus disingkirkan dengan segera! Lama-lama gerah juga ane sama dirinye. Pak Rasembodo berkata, 

"Iyaaaa iyaaa Kang. Nah, sekarang Kang Asep ndak usah pikiran soal itu. Itu biar jadi pikiran saya. Tugas Kang Asep melayani saja di rumah ini dengan baik. Inget, yang nyekolahin anak-anak Akang itu juga saya. Sekarang, cepat ambilin saya martini!"

Kang Asep akhirnya terdiam dan tertunduk lesu. Sambil beringsut undur diri diri, dia membatin. Ya sudah, biar yang Maha Kuasa saja yang melembutkan dan menyadarkan hati majikannya ini. Ketika dia sudah separuh jalan, terdengar lagi teriakan dari belakang,

"Kang, jangan lupa bawain lagi pisang goreng kejunya. Yang banyak!"




Bandung, 14 Oktober 2011.

3 komentar:

  1. Hahaha, lucu banget ini, Nik... jadi inget komik Panji Koming yang di Kompas.... Lucu tapi tetap aja ironis and sarkastis gtu :p Huaaaah, emang harus banyak2 berdoa buat Indonesia ya. Masalahnya banyak bangeeetttt, hiks, hiks.

    BalasHapus
  2. heheheeee makasih makasih semua ;)

    BalasHapus

hey guys, please leave your mark print here! it give me a boost to keep writing you know! ^^