About Me

Foto saya
A beautiful girl in His eyes. A girl with a BIG dream, BIG vision, with BIG passions for her town. Interested in a lot of things. Talkative and longing to travel in many new places. Is thinking hard what she can do to her country.

Minggu, 30 Oktober 2011

BIG GIRL (part 3)-done!

Sebenarnya sudah nyelesaiin baca Big Girl-nya Danielle Steel sejak lama. Tapi gara-gara ada prakdip dan hape ilang, jadi ketunda nulis lanjutannya deh haha. So, di postingan terakhir tentang Big Girl, dikisahkan bahwa Grace, adik Victoria, bertunangan dengan seorang pria yang "menyeramkan". Pria itu sama persis dengan ayah mereka berdua: tidak punya respek sama wanita, selalu mendominasi, posesif, dan hanya mementingkan penampilan fisik semata. Pendek kata, Grace hampir seperti menikahi ayahnya sendiri, dan Victoria, yang sayang banget sama ddnya, berusaha mencegah agar hal itu tidak terjadi.
Victoria tried to convince her sister so many times.... but didn't work. Grace tetap mau sama si cowo ini no matter what. Yang paling parah adalah, orangtua mereka setuju, terutama sang bokap. Why? karena calon mantunya itu, selain ganteng selangit, juga anak orang koaya roaya. Dan Jim Dawson (sang ayah), yang sangat narsistik, langsung setuju saja dengan pilihan Grace. Yang dipentingkan oleh dirinya adalah soal gengsi dan image, bahwa putrinya dipersunting oleh orang penting. Sang ibu pun cuma bisa manggut2 en nurut doank. 



Yang menyedihkannya.... Kira2 2 bulan sebelum pernikahannya, Grace memergoki kalo calon suaminya itu selingkuh. En she totally broke, devastated. Tapi yg bikin gue geregetan, Grace tetep keukeuh mau married sama orang ini. Udah terlanjur kepincut sih :( ga mau ditinggal dia. Ckckck. Si cowok, selain berusaha merayu-rayu bahwa dia ga akan ngulangi lagi, juga mengancam Grace bahwa kalo dia ga mau terima dg peristiwa selingkuhannya itu, ya udah ga usah nikah aja. No problem for him. Jelas aja Grace en bokapnya gamau hal itu terjadi. Terus yang bikin gue judeg abis, bokapnya itu bukan malah membela or melindungi putrinya, tapi bilang, "Gapapa. Itu normal. Pria pasti bakal kaya gitu dulu sebelum married.... That's a normal thing, nervousness before marriage." Buset lah!! Bener-bener gendeng bapak satu ini. Hanya Victoria saja yang punya pikiran salah bahwa jalan yang dipilih adiknya itu akan menuju kesengsaraan seumur hidup. Grace memang akan hidup sangat enak dengan suaminya, tapi dia tidak akan bahagia. Ia hanya akan hidup di bawah bayang2 dan kekuasaan suaminya. Nelangsa banget dah.



Oh ya, di akhir cerita, diceritakan juga bahwa Victoria akhirnya punya cowo. Seorang pria yg benar2 sayaaaaaang apa adanya en TULUS banget sama Victoria, no matter what. Namanya Collin. He never mattered about Victoria's look, Victoria's weight, Victoria's job, etc. He loved Victoria unconditionally. Collin ini juga punya orangtua yang rada-rada "bermasalah", his parents constantly underestimated him & compared him to his decent-older brother. Jadi, dulu Collin tu punya kakak cowo, yg huebat banget. Atletis, tampan, pinter, WOW banget. Ibaratnya seperti Gracie-nya Victoria :p tapi sayang, koko-nya Collin ne suatu hari meninggal. Dan orangtuanya entah kenapa selalu berada dalam kesedihan terus-menerus atas kematian anaknya ini. They couldn't move on, nor let go of the past. Jadi sejak kecil, Collin juga udah hidup di bawah bayang2 kakaknya ini. He was the invisible child in his family, just like Victoria. Tapi dia tumbuh jadi seorang pria dewasa yang sehat jasmani dan rohani hehe. Karena itulah dia dan Victoria cocok banget, en he could totally understand Victoria inside and out. 



Again.... bahkan masalah pasangan hidup (PH) pun dibanding2in sama Jim Dawson, ayah Victoria. orang pilihan Gracie dipuja-puja, tapi pilihan Victoria dihina. Kenapa? lagi-lagi masalah status. Cowo pilihan Gracie itu orang berada, sedangkan Collin hanya berprofesi sebagai pengacara (walopun menurut gw, jadi pengacara itu keren bow. Penghasilannya kan juga gede). Jim mau ikut ambil bagian yang cukup besar dalam resepsi pernikahan putrinya, including pre-wedding session, bachelorette party, etc yg semuanya makan biaya guede banget. Tapi kata2nya ke Victoria tuh nylekit banget. "Biaya nikah adikmu dah gede. Jadi, kalo besok-besok lu mau nikah, jangan harap bisa dapet yang kaya gini. Mendingan lu elope (kawin lari) aja sekalian." Goooshh..... gue aja sebagai pembaca sampe ngrasa gimanaaa gitu. Miris banget T_____T


Novel ini berakhir happy ending buat Victoria, tapi gue rasa berakhir sad ending buat Gracie yang akhirnya jadi kawin sama cowo tajir itu (bahkan namanya pun gue lupa nulis saking ga sukanya! Haha). Happy endingnya bukan berarti Victoria ketemu en nikah sama pangerannya (kaya di novel-novel lain aja -.-'). Tapi happy endingnya bahwa Victoria akhirnya punya rasa kepercayaan diri yang kuat.... dia akhirnya merasa bahwa dirinya itu LAYAK DICINTAI, luar dan dalam. She finally could set herself free from the image's trap set by her parents. She finally knew that SHE IS LOVABLE, inside and out. 



Guys, menurut gue, novel ini bagus sekali dan layak dibaca. Totally recommended!! ;) Akhirnya yang happy ending itu bukan sekadar hepi-hepian yang lebay kaya di sinetron2 or telenovela. Novel ini, menurut gue, down to earth banget en sangat sesuai dengan perasaan yang kita rasakan sehari-hari, juga dengan kejadian2 yg kita temukan setiap harinya (entah itu dialami kita sendiri or orang lain).


Selama membaca novel ini (yang cukup panjang tapi sama sekali gak bosenin), perasaan gue campur aduk. Nano-nano. Gue sedih dan berempati dengan perasaan minder dan rendah diri Victoria selama hampir 30 tahun kehidupannya, yang selalu di-underestimate oleh orangtua sendiri. Gue kagum dengan sifat dan karakter Victoria yang benar2 dewasa. Gue seneeeeng banget pas akhirnya Victoria ketemu Collin, pas tahu Collin benar2 sayang sama Victoria dan ga kaya cowo2 brengsek yang sebelumnya deketin Victoria (pas adegan ini gue deg-degan banget, duh akhirnya gimana ya?? Apakah Collin jadi bareng sama Victoria ato gak?). Gue kagum dan terharu saat Collin berani membela Victoria di depan Jim saat diperkenalkan oleh Victoria. Dan akhirnya.... gue bersukacita saat Victoria akhirnya benar-benar sadar dan tahu.... bahwa dirinya itu layak dicintai. That she is lovable. She is worth to be loved!! 



Kejadiannya itu.... saat resepsi pernikahannya Gracie, pas mau acara pelemparan bunga. Victoria sebenernya juga pingin ikut nangkep rebutan bunga, tapi dia merasa malu dan ga layak, karena badannya yg besar en juga rasanya dah ga pantes lagi (secara dia udah hampir 30 tahun, sedangkan cewe2 yg pada rebutan buket bunga tuh umur 23an). Tapi, she finally decided to step forward, and from the distance she could hear Collin shouted to her, "YOU ARE LOVABLE!" Akhirnya, bunga itu berada di tangan Victoria, dan jeritan Collin yg paling keras :') aiiih romantis banget....


Habis baca novel ini, rasanya gue jadi makin pede :p gue juga tahu gue ini lovable, walaupun cara tahunya beda. Gue tahu gue lovable en gue dicintai, bukan dari hubungan dengan cowo tapi dari hubungan pribadi gue sama Tuhan Yesus. Hmmm.... berapa banyak cewe-cewe di luar sana yang merasa seperti Victoria hampir setiap harinya? Berapa banyak cewe2 remaja di luar sana yang merasa dirinya tidak layak dicintai? Yang merasa dirinya baru cantik kalo langsing banget, kalo punya tinggi sekian, kalo hidungnya begini ato begitu, kalo udah punya cowok? I guess there are many. 


Pesan moral dalam novel ini bagus banget. Bahwa kita semua ini lovable, kita semua layak dicintai. Kita adalah diri kita apa adanya. Do not compare yourself with others. You are you!! You are not somebody else. You are created uniquely, you are beautifully and wonderfully made. 


Oke deh, that's the review about the Big Girl. Hope it is useful to you ;)

3 komentar:

  1. Nice review...^^...Thank you buat bagi2nya :D

    BalasHapus
  2. Huaaa.....Sukaaaa...Thank's for writing this. Kembali mengingatkanku hal yang penting:
    We are loveable Non d^^b You're right! Kita sehat, cantik, dan bahagia, wanita-wanita yang mencintai hidup dan Allahnya *wink-wink* Kalau Allah mati bagi kita untuk membuktikan cinta-Nya, kenapa kita ragu kalo kita layak dicintai?
    Apalagi yang kurang?

    BalasHapus
  3. @Lasma: thank you Kak! you're very welcome... :)

    @Mbak Mega: kita ragu kalo kita ini dicintai karena kita sudah terlalu percaya dg apa kata dunia. Dunia berkata, "kamu jelek, kamu tidak cukup cantik, tidak cukup kurus, tidak cukup keren untuk dicintai. Standar agar kita dicintai hanyalah diukur dari apa yg kita pakai, apa yg kita makan, apa yg kita punya, dsb." Menyedihkan kan Mbak kalo liat situasi sekarang ini...terutama liat cewe2 remaja yg ditipu habis2an: operasi plastik, anorexia, bulimia, cari2 pacar terus, dll. Andai mereka tahu bahwa mereka begitu dikasihi oleh Yesus... mereka tidak akan menghabiskan waktu begitu lama untuk melakukan semua yg mereka bisa agar mereka dicintai & diakui oleh dunia :'(

    BalasHapus

hey guys, please leave your mark print here! it give me a boost to keep writing you know! ^^