About Me

Foto saya
A beautiful girl in His eyes. A girl with a BIG dream, BIG vision, with BIG passions for her town. Interested in a lot of things. Talkative and longing to travel in many new places. Is thinking hard what she can do to her country.

Senin, 17 Oktober 2011

Big Girl: How Jesus cries for girls out there....

Gue lagi baca novel berjudul "Big Girl", karya Danielle Steel. Novel ini gue pinjem dari murid les gue. Tadi pas ngelesin, dia sedang asik kerjain soal, en gue tungguin gitu sambil bengong. Terus gue iseng2 tanya, "Punya buku bagus buat dibaca gak?" Dia jawab ada, en sodorin Big Girl ini. pertamanya gue rada males baca pas ngliat, gue rasa ini novel bukan tipe gue banget deh. Tapi begitu baca 1-2 halaman pertama, ternyata bagus bow!! And i just couldn't stop reading it!
Setelah pulang dari ngelesin, gue belanja sebentar ke supermarket, masak sup krim, baca koran online, en terusin baca lagi. Gue baca terus, en baru sampe halaman 70, tapi gue decided to stop for a while to write down apa yg gue rasakan dari membaca novel ini karena bagus banget. En kebetulan halaman 70 itu bab 4 berakhir en mau masuk ke bab 5, so kagak nanggung2 amat lah hehe.  Kayak gini nih cover bukunya. Maybe some of you have known about it:  


Buku ini bercerita tentang kisah seorang cewek bernama Victoria, yang merasa asing di tengah2 keluarganya (terutama ortu) yg begitu perfect dan berusaha buat mencari jati dirinya sendiri. Kedua ortu Victoria, Jim & Christine, digambarkan sebagai pasangan yang sangat perfect dan sempurna. Jim digambarkan sebagai pria yg atletis, tampan, pekerjaan sangat mapan, everything a woman could dream of. Christine juga begitu: so beautiful, popular in high school, prom night's queen, etc. Mantap deh. What a perfect couple!

Mereka kecewa saat Victoria lahir karena:
1. yang lahir itu cewek, bukan anak cowok seperti yg mereka harapkan.
2. Victoria sama sekali tidak mirip dg ortunya. Jim & Christine digambarkan berkulit gelap, dg rambut coklat dan mata coklat, wajah luar biasa cantik dan tampan, body ramping, sedangkan sejak lahir dan seterusnya Victoria berkulit putih terang, rambut pirang lurus, mata biru, dan bertubuh gempal. Wajah Victoria pun tidak mirip ortunya, ia lebih mirip dengan neneknya Jim dan bahkan hampir2 kaya Ratu Victoria. Namanya pun diberikan sesuai dengan namanya Ratu Victoria. 

Singkatnyaaa. Victoria tumbuh dalam rasa ketidakpuasan orang tuanya atas dirinya. Mereka mengkritik habis2an penampilan Victoria: mulai dari muka, berat badan, bentuk badan, apakah dia sudah punya pacar ato belum, sampe ke otak. Her mother said, "Don't be too smart. Men don't like too smart women. You've got to be very atractive too." Mama dan papanya mendorong dia untuk ikut gym semata-mata biar berat badannya turun.

Ketika Victoria 7 tahun, dia punya dd cewek. Lagi2, sebenernya ortunya tuh ngarepin dapet anak cowok tapi lahirnya cewek. Cuma bedanya.... anak perempuan mereka yg kedua ini digambarkan cantik sekali. Like an angel dropped from the Heaven. This second baby girl really resemblanced the look of their parents with such a perfect & divine beauty: brown ringlets, slim body, brown eyes, etc. Everything her parents are wishing for! Sedari kecil, Victoria sudah merasakan timpangnya kasih sayang yg diberikan orang tuanya kepada mereka berdua.

Hebatnya, Victoria sama sekali gak dendam loh. Dia malah sayang buanget sama ddnya, Grace. Dia mencurahkan semua kasih sayang yg dia punya untuk ddnya itu. Grace pun juga sayang banget sama ccnya. 

Di posting ini gue bermaksud untuk menuangkan perasaan gue setelah baca sebanyak 70 halaman (tapi tulisannya kecil2 dan bermakna banget, jadi serasa udah baca 200 halaman haha):
  
Dalam banyak hal, gue merasakan apa yang dialami Victoria. I truly sympathize for her, rasanya tokoh ini tuh seperti nyata banget. Two thumbs up for Danielle Steel!! I myself grew as a not really beautiful girl, whereas i have a perfectly handsome father and beautiful mother. Beneran, I'm not making this up. I'm not boasting to say that my dad is really handsome, and my mom is still shockingly pretty in her 40s. To open up a little bit about myself & my background, my parents got married when they are still very young: my dad was 18 and my mom 17. Their wedding celebration is said as the most biggest celebration in my little town. They have me when my dad was 21, and my mom 20. (Sadly that their marriage didn't last long...) So, hampir sama dengan di novel Big Girl ini, ketika Jim & Christine menikah di umur 22. 

Victoria itu TIDAK JELEK. Tapi dia "standar-standar saja." Not because she was ugly. But she was plain, and that's all. Waduh guys, gue ngerti banget kalimat ini. Ngejleb banget, nusuk banget. Persis kaya yg gue alamin dulu.

Sejak remaja, gue suka merasa minder, karena tidak merasa cantik. I felt awful, like a beast :( I felt that I am not as beautiful as other girl. Gue selalu merasa iri melihat kecantikan orang lain, dan merasa iri melihat teman2 gue yang sudah punya pacar ato dikecengin orang sedangkan gue belum. I used to think, this is because I am not beautiful. I am ugly!! Tapi itu doeloe hahaa. Bedanya gue dengan Victoria di tokoh itu, (which makes me feel REALLY REALLY GRATEFUL), adalah yang pertama, gue akhirnya lahir baru dan kenal dengan Tuhan Yesus Kristus, dan yang kedua, dd gue cowok haha. Jadi hubungan antara sodara cewe-cewe dengan cewe-cowo maupun cowo-cowo, sedikit banyak berbeda juga yah :p Dede cowo gue ganteng banget, he is totally like my father. I look a lot like my mom, but not as beautiful as her. 

Sedari kecil, gue juga menunjukkan prestasi yg cemerlang. Hampir selalu masuk 3 besar sejak SD sampe SMA. Which is why, kadang gue berpikir, apakah gue susah dapet cowo karena gue terlalu pintar, sama seperti si Victoria ini?? perkataan ibu Victoria bahwa cowo2 tidak tertarik dengan cewek yang "terlalu pintar" sedikit banyak menusuk hati gue. Gue tahu, itu tidak benar. Sama sekali tidak benar. Tapi ya tetep kerasaaa gitu lo. Secara, gue sudah pernah di posisi Victoria selama 18 tahun!! 

Seperti Victoria, gue juga terobsesi untuk punya body ideal. Di novel ini, Victoria digambarkan punya berat badan yg naik turun. Sometimes she loses 10 pounds, the other times she will gain 5 another pounds plus another five. Dietnya naik turun gitu. Selalu turun banyak, tapi pasti diikuti naik banyak lagi. Kayak gue banget, kalo lagi niat diet, gue bisa turun 2 kg hanya dalam 1 minggu. Tapi habis itu, i'll gain another pound. Victoria suka banget makan junkfood dan yg manis2, yang kurang lebih sama kaya gue. Victoria ikut gym, gue juga iya. Victoria berusaha unutk jalan dan berenang, gue juga begitu. Yah, pendek kata, itu seperti gue banget yg ditulisin di dalam novel, dengan latar belakang kebudayaan & negara yg berbeda hehe. 

Gue turut merasakan ketika Victoria merasa kesepian & tidak punya teman. Dengan latar belakang USA, sangat masuk akal ketika di sekolah, yang kita temui adalah cewe2 dg baju mini-mini dan dandanan yg jauh lebih tua daripada usia mereka, as if they were going on a date everyday. Cewe2 yg pinter dianggep geek & freak, dan susah untuk ditemui. Walopun gue tinggal di Indo yg kondisi sosialnya tidak separah di USA, tapi itu ya tetap kerasa sih (wlopun ga ekstrim). Gue sempat merasakan dorongan dan usaha yg sangaaaat keras demi bisa diterima di suatu kelompok yang populer. Gue merombak habis cara berpakaian & berdandan gue, yg mana itu sbenernya sama sekali ga cocok untuk gue. Just like Victoria did in the novel. 

Victoria tidak betah tinggal di rumahnya. ya iyalah, siapa yang betah kalo dibandingin terus-menerus?? En yg membandingkan itu orangtuamu sendiri guys. It's totally sad :'( Ketika Victoria mau masuk univ (en dia sengaja pilih univ yg jaooooh dari rumahnya di L.A), I could feel her joy. Rasanya begitu menakutkan untuk keluar dari rumah, tapi juga menegangkan & menyenangkan!! So excited. Yang aneh, Orangtuanya justru merasakan kesedihan yg mendalam saat Victoria hendak pergi. Perhatian & kasih sayang yg mereka berikan meningkat, meskipun jelas they adored Grace, their second daughter much more than they adored Victoria. Grace was the center of their family, and the parents, especially Jim, became her slave. Gue turut merasakan kegeraman yg dialami Victoria: kenapa orangtuanya baru merasa sedih sekarang, saat dia hendak pergi jauh?? Kemana masa selama 18 tahun ini? Kenapa mereka begitu mudah untuk menyia-nyiakan waktu? For the past 18 years, her parents were totally focus on the WRONG THINGS: her appearance, her ideal weight, how much boyfriends she dated, etc. Why couldn't they understand her thoughts, her brilliant minds, her academic records in school??

Dari novel ini, gue merasa sedih dan bersimpati sekali atas apa yg dialami Victoria. Sedikit banyak, gue merasa apa yg dirasakan Victoria itu mewakili apa yg dirasakan & dialami cewe2 di Barat: totally concern about their appearance, about their looks, how many boyfriends they can date and have sex with, etc. Semua gaya hidup ini jelas tercermin dari film2 produksi Hollywood. Dari novel ini, gue jadi semakin mengerti konteks kehidupan disono. Ga heran yang namanya majalah Set Apart Girl Magazine buatan Leslie Ludy itu suatu dobrakan & gebrakan yg luar biasa banget. Salut salut salut saluuuuut ^^

Guys.... my heart cries when I read this novel. My heart cries for millions of teenage girls outside there yg merasa dinilai hanya dari penampilan luarnya saja. Banyak kasus yg kena anorexia & bullimia. Dan gue percaya, ini sebenernya ga hanya terjadi di USA, tapi juga udah nyebar ke Indo juga. Ada bbrp teman gue yg pikirannya ke masalah cowooook mulu. Kalo udah mau putus, udah ada "ban serep" yang baru. My heart cries to see and to know this very wrong and totally, definitely wrong perception in every young girl's mind!! Kalo gue aja bisa sedih seperti ini, apalagi Tuhan Yesus. Hati-Nya pasti berduka mengetahu putri2Nya bisa merasa seperti itu, untuk percaya dg pemikiran yg ditanamkan oleh iblis. Itu pemikiran yg salah sekali. 

Tapi tidak hanya itu.... Gue juga berduka untuk orangtua yg membesarkan anak2nya dengan menekankan pentingnya penampilan luar. Orang tua yang menempatkan harapan terlalu tinggi pada putra-putrinya seperti harapan mereka. Gue ga habis mikir, kok ada yaaa ibu-ibu, bahkan bapak2 (Jim & Christine adalah contoh ortu yg seperti itu dalam novel Big Girl) yg pingin putrinya punya body ideal biar bisa digebet cowok? Kenapa ada orang tua yang memperlakukan anak2nya secara berbeda? anak yg lebih pintar, lebih cantik, dan lebih wow pasti lebih disayang daripada anak yg lain. 

Guys, gue bersyukur sekali.

Gue bersyukur sejak kecil, gue banyak membaca buku-buku Chicken Soup yang berisi cerita pergumulan anak2, pra-remaja, dan remaja. Sejak usia 11 sampe 17 taon, gue langganan seri Chicken Soup. tiap kali ada buku yg baru, pasti gue beli. Isi-isi di dalamnya menggambarkan kebijaksanaan, dan banyak cerita2 yg menguatkan hati gue. "Oh, ternyata ga hanya gue yang bergumul dg masalah ini di sekolah. Oh, ternyata ga cuma gue yang bergumul dg soal penampilan, soal cowok, soal makanan, dll." Dari buku Chicken Soup, gue jadi tahu, mana yang benar dan tidak benar (namun harus gue tekankan disini, Chicken Soup jelas bueda sama Alkitab!! Alkitablah sumber kebenaran. Itu kan jamannya gue belon kenal Tuhan Yesus. Sumber kebenaran yg gue cari, ya dari buku-buku seperti Chicken Soup. Maklum, kutu buku sih hehe).

Gue bersyukur, sejak kecil mama gue sudah beliin kaset2 rohani. Umumnya yg gue denger sih lagu2nya Nikita hehe. Padahal guys, mama gue belum lahir baru saat itu. Tapi gak tahu, kenapa sejak kecil, gue udah didengerin lagu2 rohani, udah diajak sekolah minggu. Praise The Lord banget, walopun masa remaja gue ancur (ga punya gambar diri yg bener), tetap ada Firman2 yg gue inget dari lagu-lagu rohani dan pengajaran di Sekolah Minggu.

Gue bersyukur karena dd gue cowok!! Wahahaha. Ini intermezzo yah :p Gue tahu kok, entah dd cewe ato cowok, itu harus disyukuri. Dulu yah, gue pingin banget dapet dd cewe. Eeeh lahirnya cowok. Pertamanya sempet ngambek, tapi akhirnya jadi gapapa lagi. Malah sekarang hubungan gw dg dd gue itu baik banget :') En gue mengakui juga sih, dari baca novel Big Girl, gue mengetahui, betapa rivalry between girls sibling itu bisa menjadi sangat tidak enak. Di novel, memang Victoria & Grace dikisahkan sebagai kakak beradik yg sangat akur & saling menyayangi. they were bond to each other. Tapi kalo liat perlakuan orang tuanya itu loh.... Hiiih. bikin gue geregetan sendiri. Nah, kalo dd gue cowo, kan ya bisa dimaklumi kalo ada perbedaan perlakuan antara anak cewek & cowok :p 

Gue bersyukur, sejak kecil hingga saat sekarang, papa & mama gue sangat sangat mendukung prestasi gue di sekolah. They are very proud to know that I can proof to them what a wonderful achievement i can make in my study. Bukannya di-undermine kaya Victoria, "Punya otak pinter, apa gunanye? Emangnya itu bisa nyari cowok?" Ya ampun....!!! Oooh, how my heart aches to read it!!!

My parents never at once condemn or criticize my body or my face. Kritik & komentar mereka itu masih dalam tahap yg membangun, seperti misalnya: "Jangan terlalu banyak makan manis2 Nik, nanti kena diabetes lo." "Nik, makannya dikontrol ya, jangan terlalu banyak. Makan yg secukupnya." Papa gue bahkan pernah bilang gini, "Aduh Nik, masak kamu mau pake baju kaya gitu keluar? Sana ganti dulu! Yang lebih sopan donk!" Gue marah dibilang kaya gitu, tapi bersyukur juga!! Kenapa? karena gue tahu, papa gue sayang sama gue. Dia peduli banget sama penampilan gue yg di matanya dinilai terlalu terbuka atau cablak. Tulisan Ci Grace, Ci Lia, & Ci Shinta masuk banget nget nget disini deh hahahaha :D Papa & Mama gue juga tidak pernah mengatakan secara implisit, kalo gue itu jelek. Yah gue tahu sih kagak ada orang tua yg tega ngatain gitu ke anaknya, tapi di novel Big Girl, Victoria secara terang2an dibanding-bandingkan dengan adiknya. Entah itu oleh ortu mereka sendiri, maupun oleh teman2 ortunya. Victoria was totally aware that she was just invisible person inside her own family. 

Guys, perkataan itu punya kuasa besar. Kita bisa tahu, apakah perkataan itu diucapkan dengan tulus atau dengan sinis. 

Gue bersyukur lahir & besar di Indonesia. Kalo gue tumbuh di USA, waduh mungkin gue udah rusak karena pergaulan disana. (Yah, ini tergantung cara mendidik & membesarkan anak juga sih. Jadi peran orangtua juga besar disini).  Di Indo, yang namanya klik-klik, genk, dll itu juga ada. Tapi gue rasa tantangan pertemanan & popularitas di Indo tidak sebesar di USA ato negara2 barat lain. Kita masih punya yg namanya tepa selira, tenggang rasa, guyub rukun, dan nilai-nilai kearifan lokal lainnya. Peran keagamaan dan rasa hormat pada orang tua masih ditinggikan disini (walopun kadarnya juga udah mulai pudar sih). Well, yg namanya tantangan dalam pergaulan mah pasti ada, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Firman Tuhan bilang, pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yg baik. dan itu bener bangeeet.  

Gue bersyukuuuuur. Karena gue kenal Tuhan Yesus!! Gue tahu siapa jati diri gue sesungguhnya dalam Pencipta gue. Citra diri gue tidak lagi ditentukan dari apa kata majalah fashion, apa kata orang2, apa kata acara televisi, termasuk kata orang tua gue. Citra diri gue ditentukan & ditemukan dalam hubungan intim gue dengan Bapa di Sorga. Gue bukan lagi anak yg terlalu khawatir soal penampilan (lah, i'm not that type of girl! How can it be that the world judges who is the most beautiful woman of all, having beauty pageant contests and so on & so forth???), gue tidak lagi mengejar rasa aman di dalam pelukan pria-pria yg tidak jelas, dll. 

Salah satu hal yg memedihkan gue adalah ketika gue membaca cuplikan Victoria & Beau, pacarnya berikut ini:

But no matter how close they got to it, they never made love. She (Victoria) wasn't sure why, and she was afraid to ask. She wondered if he thought she was too fat, or if he respected her too much, or if maybe he was afraid, or if his near miss with his twenty-three-year-od stepmother had traumatized him, or his parents' divorce. Something was holding him back, and Victoria had no idea what it was. He obviously wanted her, and their makeout sessions grew more & more passionate, but their hunger for each other was never consummated, and it was driving Victoria insane. they were down to their underwear one night in her dorm room, and then he held her in his arms and lay there silently without moving for a long time, and then he got out of bed."
"What's wrong?" she asked him quietly, sure that it was something about her. Something wrong with her. Maybe her weight. All her feelings of not being good enough came back to her in a rush as he sat down on the edge of her bed.

"I'm falling in love with you," he said miserably, as he dropped his head into his hands.

"So am I with you. What's wrong with that?" She was smiling at him.

"I can't do this to you," he said softly, and she touched his red hair falling over his eyes. He looked like Huck Finn or Tom Sawyer. He was a boy. 

"Yes, you can. It's okay." She tried to reassure him, as they sat there in their underwear.

"No, it's not. I can't.... you don't understand. this is the first time this has ever happened to me... with a woman... I'm gay...and no matter how much I think I love you now, sooner or later I'm going to end up with a man again. I don't want to do that to you, no matter how much I want you now. It won't last with us."
.....
"I never should have started it, but I fell in love with you the day we met."

"Then why can't this work?" She asked softly, grateful for his honesty, but it hurt nonetheless. "Why does it have to be so complicated? If you're falling in love with me, then why wouldn't it work?" She was near tears, of disappointment and frustration.

"Because you're not a man. I think you're some kind of ultimate female fantasy for me, with your luscious body & big breasts. You're what I think I Should want, but in reality I don't. I want a man." He was ebing as honest with her as he could be, and his referring to her "luscious" body was the nicest thing anyone had ever said to her. But no matter how luscious her body or how big her breasts, he didn't want her after all. It was rejection exquisitely packaged, but rejection nonetheless. "I'd better go," he said, slipping back into his clothes as she watched. (Big Girl, hal. 65-67).
 
Perhatikan baik-baik kalimat yg gw cetak merah di atas. Homoseksual. Konsep seksualitas yang salah. Permainan antara emosi dua orang manusia. Hati yang hancur berkeping-keping. Penolakan. BETAPA MENYEDIHKANNYA SEMUA ITU!!! I almost cried reading that part.

That's why gue merasakan perasaan yg begitu campur aduk saat membaca novel Big Girl. Gue ingin sekali agar cewe2 remaja, di Indonesia dan terutama di negara2 barat sono, tidak lagi mengejar image semata. Tidak lagi berusaha untuk diterima oleh lingkungan sekitar. Gue merasakan rasa lelah & frustrasi yg dialami anak2 muda, terutama para cewek, untuk berlomba-lomba menjadi cantik. Cantik, menurut standar dunia!! Padahal, mereka sudah cantik di mata Allah...

They surely need Jesus!!

Gue percaya. Tokoh Victoria, meskipun hanya fiksi, tapi ia menggambarkan realita, keadaan yg sebenernya. tentang kehidupan remaja2 yg sudah sedemikian dirusak oleh Iblis: gambar dirinya, seksualitasnya, dan lain-lain. I strongly encourage all of us, to pray for them.... Biar mereka boleh menemukan pembebasan di dalam Yesus.

Akhir kata, gue mau lanjutin baca novel ini lagi hehehe. Penasaran pingin tahu akhirnya kayak apa. Kalo ada yg menarik lagi, gue akan sambung lagi dalam tulisan di blog :) Tuh kan, baru 70 halaman aja udah bagus banget. Tulisannya tuh kecil-kecil, tapi isinya padat en jelas banget. Bahasa inggrisnya juga gak susah dipahami. Gue mungkin bisa termehek-mehek baca lanjutannya. Oh Victoria, Victoria. 

10 komentar:

  1. ahahahha ditunggu lanjutan novelnya, nik. :)) agree with what you said!!

    BalasHapus
  2. hehehe makasih Ci Grace :) Sip nanti pasti aku tulis lagi kalo lanjutannya makin seru haha.

    BalasHapus
  3. wah recomended tuh bukunyaa..pgen nyari ahhh =)
    thx buat infonya nik ^^
    btw km jadi ke sgp gak??
    oyaa nik..km emank anak yg luar biasa, pinter,cinta Tuhan,ramah, manis, pokoknya awesome lha..sapa dulu Sang Penciptanya?? ^^

    BalasHapus
  4. gile panjangg bgt ya novelna?? anw u suka warnai= ijo ya sa?
    gw jg br ganti background blog ahah

    BalasHapus
  5. @Ci Leni: Iya itu buku bagus banget Ci, plus inggrisnya juga asoy geboy enak banget bacanya hehe. Nah soal ke Sgp itu aku gatau jadi ato gak ya.... soale sampe sekarang belum bilang ke papa juga rencana pergi kesono gubraaaks. Cici gimana? aku takutnya malah nanti ngrepotin Ci Grace doank sih... kan pasti lagi sibuk2nya ngurus baby Jane.

    @Ani: panjang, tapi bener2 seru banget lah Ni. Danielle Steel jago banget dalam mengaduk2 emosi para pembaca. top banget pokoknya deh ;D

    Gue suka warna yg kalem en pastel2 gitu Ni hehe. tapi kalo untuk pakean, gue suka warna coklat (dan berbagai variasinya), abu2, dan item :p kalo untuk warna2 pink muda, ungu muda, ijo muda en biru muda, gue suka itu buat dekorasi kamar hehe.

    BalasHapus
  6. iya ni sa bagus bukuna. pgn beli dmana ya di jkt? gramed gt? ato toko rohani??
    danielle steel ini pengarang novel ato christian book jg si sa?
    novel kan kayanya??

    sama sa warna2 pastel.
    tapi kalo lu buka lemari gw, yg lu liat baju gw warnanya item, putih, abu, cokelat ahaha. paling ga bsa pake warna lain ;p

    kapan k jkt? ajak stepgun jg

    BalasHapus
  7. Wah gue gatau Ni belinya dimana. soalnya ni juga gue pinjem dari murid les gue hehe. Harusnya sih di Gramed ada. Gue pikir gue ga akan suka novel2 beginian...gue pikir itu paling hanya novel2 picisan lain yg ceritanya cinta en sex melulu. Eh ternyata engga bow...bagus banget ini. Gue jadi tertarik pingin baca novel Danielle Steel yg lain,

    Gue juga kurang tau sih apakah dia penulis rohani juga ato bukan. Kayanya sih bukan, tapi tulisannya tu down to earth banget en sesuai kaya kehidupan kita sehari-hari gitu hehe.

    Iya tunggu ya gue juga pingin main ke Jakarta en ketemu loe. Ntar gue ajak Kezia juga yaaa. Ci Faninya sibuk ga sih? kalo ga sibuk, kita culik aja buat main2 sama kita hahaha. lu tiap harinya ngapain Ni? nganggur? :p kira2 bisanya hari apa kalo gue main kesono?

    BalasHapus
  8. hihihi gw jg mau nyari ah bukunya...^^
    iya nihh tkt nya malah ganggu ci grace, soal na dia kan baru ngelahirin jane malah kerepotan krn kita huahahhaha
    pusing ahh..ajak si Ani juga ke sgp atuh biar seru, ajak kezia,steph gun.. kpn yahhhhh bisa berkumpul begitu?? pengen ketemuan..klean mah asikk 1 kota

    BalasHapus
  9. Henny Setiawaty7 November 2011 00.38

    Liat2 blogmu, tertarik baca ini krn dulu aku suka baca danielle steel waktu masih SMA. Masih ada malahan novel2nya yg aku koleksi di rumah.
    BTW, Aku juga amat sangaaattttt bersyukur bahwa adikku cowok!!! dan ga pernah punya adik cewe!!! Kalo adek cewe seperti yang kamu tulis itu, suka ngajakin saingan bawaannya. Apalagi kalo kepribadiannya kurang. Maksud hati mo kasi sesuatu yang baik, bisa2 dianggap jelek...(-.-)Pada akhirnya karena kelakuan adiknya, keduanya bisa tersakiti. Makanya aku sangat bersyukur cuman punya 1 adik cowo :)

    BalasHapus
  10. @Ci Henny: hahahah bersyukurnya kita yg punya dd cowok :p padahal dulu pas mamaku hamil Willy aku udah ribut pingin minta dd cewek.

    BalasHapus

hey guys, please leave your mark print here! it give me a boost to keep writing you know! ^^