About Me

Foto saya
A beautiful girl in His eyes. A girl with a BIG dream, BIG vision, with BIG passions for her town. Interested in a lot of things. Talkative and longing to travel in many new places. Is thinking hard what she can do to her country.

Senin, 29 Agustus 2011

ISTRI PILATUS

Istri Pilatus merupakan salah satu tokoh wanita yg kagak ada, or mungkin hampir ga pernah dibahas di Alkitab or di kotbah2 hehe. Saya yakin kebanyakan dari kalian yg baca ini, pasti pernah nonton The Passion of Christ. Film yang kalo ditonton berulang kali, pasti tetep bisa bikin saya bergidik ngeri. Disitu, ada satu adegan yg menayangkan istri Pilatus walaupun sekilas:

1. Ia sangat berharap dan mewanti-wanti suaminya untuk "tidak ikut campur" dalam perkara Orang yang satu ini (alias Yesus).


2. Ia wanita yang bersimpati kepada Maria, ibu Yesus, dg memberikan kain putih untuk mengelap darah Yesus sehabis dicambukin para prajurit.

Tapi, lewat bukunya Antoinette May yg berjudul "Pilate's Wife" ini, gue banyak sekali belajar dari cara dan sudut pandang yg baru mengenai seluk beluk adat istiadat dan budaya Yahudi-Romawi pada zaman Yesus. O ya, buku ini saya dapat sebagai hadiah ultah yg ke-21 dari temen deket saya, Lia. Thank you yah Li hehehe ^^ kamu tau aja kalo aku ni demeeeen banget liat buku en punya buku baru :P

pengarang: Antoinette May

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2011


Saya pribadi sangat merekomendasikan buku ini kepada teman2 untuk dibaca. Kenapa? Yah, karena itu tadi, dari sini kita tuh beneran bisa ngerti konteks dan latar belakang budayanya orang2 Romawi dan Yahudi saat penyaliban Yesus Kristus. Memang sih kita ga akan lebih ngerti secara Alkitabiah, melainkan dari orang2 Roma dan Yahudi lah (alias dari perspektif orang awam) kita baru mengerti konteks penyaliban Tuhan Yesus. Dari buku ini, kita juga bakalan belajar lebih mendalam mengenai keterlibatan Pilatus dan Imam Besar Hanas dan Kayafas dalam penyaliban Yesus.


Dulu, sebelum baca ini saya tidak begitu paham konteks penyembahan berhala, Bait Allah (BA) yg dijadiin pasar en tempat jualan, sama arti hukuman salib. Kenapa coba, misalnya, salib itu dipandang sebagai bentuk hukuman yg paling hina?? Apa sih arti/konteks suasana penyembahan berhala saat itu? Kan jaman sekarang udah jarang banget yah liat2 orang membuat kemudian menyembah-nyembah patung gitu. Berhalanya udah beda bow.... udah lebih modern hehe. Tapi di saat itu tuh terasa banget, en dari buku itulah saya jadi merasakan betapa sedihnya hati Allah melihat umatNya yg pada menyembah berhala.

Biar teman2 jelas soal isi gambaran bukunya, saya mau cerita panjang dikit yah hehe. Secara garis besar, buku ini dibagi jadi 4 bagian. 

Bagian pertama bercerita soal masa kecilnya Claudia (istri Pilatus ini) dengan keluarganya. Claudia lahir dan tumbuh dalam keluarga yg sangat berkecukupan, coz bapaknya itu prajurit Romawi yg cukup berhasil en terkenal. Dia punya 1 kakak perempuan, Marcella. Claudia ini diceritakan kalo sedari kecil dia dikaruniai penglihatan2 khusus, dan biasanya penglihatan2 itu pasti terjadi alias 90% akurat.

Mungkin juga di bagian ini kita bakalan ngrasa rada bosen....geje banget apaan nih cerita. Tadinya saya juga takut bakalan mikir gitu. Eeh ternyata kagak loh. Saya malah menikmati banget bacanya. So kalo mau benar2 menyelami masa kecil Claudia, sempatkanlah waktu yg benar2 senggang ya guys :) Mungkin baca ini kerasa ga penting banget tapi bagian pertama ini merupakan awal untuk mengantarkan pembaca ke bagian berikutnya yg kagak kalah seru. Soalnya di bagian satu inilah kita akan benar2 kenalan sama sang tokoh utama, Claudia. Kita akan mengenal apa kesukaannya, kegemarannya, ambisi2nya, ketakutan2nya, bahkan termasuk dewi sesembahannya sekalipun, Dewi Isis (dewi sesembahan orang Mesir).

Bagian kedua, bercerita tentang babak kedua dalam kehidupan Claudia. Di bagian ini dia udah berumur kira2 16-24 tahun. Yah sebenere masih muda sih tapi zaman doeloe anak segitu kan dianggapnya dah gede. En Claudia married sama Pilatus juga umur 17an taon. 

Bagian ini merupakan bagian yg paling menarik, karena disini kita akan diajak mengenal dan menyelami lebih dalam lika-liku kehidupan Claudia. Mulai dari gimana cara dia ketemu en berusaha untuk mendapatkan Pilatus lewat guna-guna/mantra (asli seru abis guys), kematian keluarganya, perjumpaan dan perkenalannya dg Maria Magdalena (namanya di novel ini adalah Miriam dari Magdala), sampe ke bagian2 lain yg ga kalah seru (termasuk awal perselingkuhan Claudia hehe). Tapi bagian yg paling penting di sini menurut saya adalah, hubungan Claudia dengan dewi sesembahannya, Isis.

Saya singkapkan sedikit yah :) jadi, Claudia itu menggantungkan harapan2 yg sangat tinggi pada Isis. Itu wajar guys, karena setiap manusia --- terutama cewe --- membutuhkan rasa aman yg harus dipenuhi. Dan ia pasti berusaha untuk mencari sumber rasa aman yg bisa memenuhi dan memuaskan kerinduan2 serta kebutuhan jiwanya yg terdalam: rasa takutnya, ambisi-ambisinya, rasa khawatirnya, harapan2nya, dll. Banyak sekali yg menggantungkan rasa aman itu pada pacar-pacar dan suami mereka. Nah, kalo dalam kasus Claudia, dia menggantungkan semua itu pada Isis. Lha wong dia nggaet Mas Pilatus dg berdoa mati-matian sama Isis en minta bantuan mantra sama pendeta wanita di kuil Isis. Kalau kita sungguh2 membaca alur ceritanya, kita akan merasakan kepedihan, ketakutan, kecemasan, dan hal2 lainnya yg dirasakan Claudia. Oh, betapa ia sangat bergantung pada Isis! Jujur saja sih saya merasakan simpati dan kasihan yg dalam buat istri Pilatus ini. Kenapa? Karena dia tidak mengenal Yahweh, Allah yg hidup (Allah disini banyak disebutkan dg kata Yahweh oleh orang Yahudi). Saya sangat kasihan, andai saja saat itu dia mengenal Yahweh!! Isis dibandingkan Allah sama sekali bukan apa-apa. Isis itu hanyalah dewi yang mati, hanya patung tuangan dan buatan manusia. Mana bisa seorang allah yang mati memuaskan harapan2 dan rasa takut manusia?? Yah soal ini bisa dituliskan di post yg beda heheh.

Yang membuat saya kasihan lagi sama Claudia, adalah kadar cintanya dg Pilatus udah mulai berkurang. Ia sekarang hanyalah berstatus istri, tapi fungsi istrinya bisa dibilang udah kagak ada. Aduh, pas baca ini saya membandingkan, betapa kontrasnya nasihat2 menjadi seorang istri-ibu-dan pendamping yg baik, yg ditulis oleh Ci Lia, Ci Shinta, dan Ci Grace!  Yah jelas, gimana Claudia bisa mengerti apa itu arti percintaan & pernikahan yang baik dan kudus, bila ia sendiri tidak mengenal Allah! Ia mendasarkan rasa cintanya hanya pada ambisi dan perasaannya saja, dan berharap pada Isis yang sesungguhnya tidak bisa berbuat apa-apa.

Masuk bab 3, ceritanya udah makin klimaks wohooo ^^ di sepanjang cerita ini jangan disangka hanya ngomongin soal percintaan doank ya. Enggaaak. Kita juga akan belajar soal kondisi politik dan budaya di masa itu, gimana keadaan Yahudi saat dijajah Romawi, kenapa orang2 Yahudi (Yudea) bisa benci banget bayar pajak, dll. Waah, kalo udah baca itu ya, pas baca Alkitab, kita jadi makin kaya pemahamannya deh.

Di Bab 3 ini, ceritanya Pilatus sudah makin naik pangkat di jabatannya. Pilatus kini sudah ditempatkan untuk jadi gubernur yang menguasai wilayah Yerusalem dan Galilea, yah pendek kata wilayah tempat Yesus melayani, berkeliling, mengajar, dan nanti disalib. Pilatus di bab ini diceritakan udah mulai sering gaul en diundang ke istana dan pesta2nya Herodes Antipas, serta imam besar Hanas (Annas). Claudia juga sering diajak turut serta. So, biarpun Claudia dan Pilatus itu udah sama2 selingkuh --- Pilatus, tanpa sepengetahuan Claudia, punya simpanan bernama Titania en punya anak laki-laki dari hasil perselingkuhannya. Sedangkan dari Claudia sendiri ia punya anak perempuan. Sayangnya, anak laki2 itu meninggal. Tapi anak cewenya pun tetap sangat disayang kok hehe --- tapi dalam berbagai acara kenegaraan mereka tetap sering tampil berdua. Dengan kata lain, Claudia sering menemani Pilatus kemana-mana,dan mulai sering dapat penglihatan tentang Seseorang yg disiksa dan bermahkota duri. Claudia sangat ketakutan tiap kali dia dapat mimpi/penglihatan seperti itu, dan mulai memperingatkan Pilatus untuk berhati-hati dan ga usah dekat-dekat dengan orang yang bernama Yusuf Kayafas itu. 

Bagian ke-4 yg merupakan bagian terakhir, tentu saja nyeritain soal sekuel terakhir dalam perjalanan hidup Yesus en peran Pilatus disana heheh. Mulai dari Yesus yg dielu-elukan di Yerusalem sampai ketika ia dihadapkan di Pilatus, ketika Yesus wafat, dan ketika ada gempa bumi yg dahsyat & tirai bait Allah terbelah jadi dua.


Walaupun demikian, ada bagian dalam buku ini yang membuat saya sangat2 tidak setuju. Buku ini menuliskan bahwa, lagi-lagi, Yesus menikah dengan Miriam alias Maria dari Magdala ato yg disebut dg Maria Magdalena!! Aiisshh --.--" En adegan perkawinannya itu disebutkan di Kana, tempat Yesus membuat air menjadi anggur. Katanya itu pesta pernikahannya Yesus, en Claudia juga hadir disitu. buset deh... Saya gatau apakah ini hanyalah cerita dari sudut pandangnya Claudia (dan Antoinette May) juga.


Terlepas dari itu, semua percakapan dan alur cerita di buku itu bagus sekali. Ada sesi adegan dan percakapan yg menurut saya baguuus banget, saya memutuskan untuk mengutip percakapan itu disini. Yah bocoran dikit buat temen2 yg mau baca hehe, syukur2 tertarik beli :p *saya harus dapet komisi promosi nih....*


****


(Ini adegan ketika Claudia diminta Pilatus untuk memberitahunya ttg orang2 berkuasa Yahudi melalui penglihatannya.)

"Ada seorang pria...." kataku pada akhirnya. "Namanya Yusuf..."
"Demi Jupiter!" teriak Pilatus. "Mereka semua bernama Yusuf!" Ia mengamatiku dengan serius, mendesak, "Bagaimana tampangnya?"
"Pria besar, tapi berwajah tirus. Berbibir tipis... Tak jauh lebih tua darimu, tapi ia sombong... angkuh."

Pilatus menatapku,nyaris terpana. "Kau menggambarkan Yusuf Kayafas. Kudengar ia pria yang paling kejam. Ia menjadi imam besar dengan menikahi putri dari imam besar terdahulu. Kini kekuasaannya hanyalah nomor dua setelah kekuasaanku. Apa yang bisa kauceritakan padaku tentangnya?"

Aku menatap api. Ada begitu banyak bayang2, sosok yang berubah-ubah. Apa artinya? Kayafas ini, imam perkasa... "Kekuasaan adalah segalanya baginya, melebihi rakyatnya, bahkan melebihi Allah yang dilayaninya." Seakan dari tempat yang jauh, kudengar diriku memperingatkan Pilatus. "Berhati-hatilah terhadapnya. Ia akan mencoba memanfaatkanmu.

Persis di belakang Kayafas, sosok lain muncul ke dalam pandangan. "Oh!" Aku tercekat perlahan. Ada sesuatu yang sangat kukenal... Jika saja aku bisa melihat pria itu lebih jelas. Aku berpaling pada suamiku. "Kayafas pria jahat. Tapi ada yang lain...."

"Musuh lain?" Pilatus mencondongkan tubuh, meraih tanganku. 

"Aku tak bisa melihatnya. Ia berada di balik penglihatanku, tapi kurasa ia bukan musuh. Ada kebaikan - lebih dari kebaikan. Seseorang yang bisa... mengubah dunia. Ia sama sekali tak seperti Kayafas...." Firasat mencengkeram jantungku. Aku tahu, tanpa mengetahui, bahwa bentuk2 yang nyaris tak kulihat mempunyai arti penting yang jauh melebihi hidup kami. Aku dan Pilatus tak ada artinya dalam rencana besar ini, tapi aku merasakan adanya drama mengerikan yang menunggu untuk melanda hidup kami. Ketika sosok tersembunyi itu bergerak ke arahku, aku melihat mahkota duri.

"Oh, Pilatus, menyingkirlah darinya!" Aku memohon. "Kau harus menghindari pria itu sebisa mungkin. Akan ada masalah, masalah yang menyeramkan. Nama baikmu akan... dikacaukan pria itu dengan cara yang mengerikan. Menyingkirlah darinya. Kau tak boleh terlibat dengan cara apa pun di antara Kayafas dan orang asing ini."

Suamiku menyaksikan dengan gelisah, ketakutan tampak di matanya. "Siapa pria yang akan mengubah dunia ini?" Pilatus menggeleng tak sabar. "Tampaknya ia seperti salah seorang Zealot gila itu."
"Aku tak tahu siapa dia." Aku hampir menangis.
"Kalau begitu lihatlah --- lihatlah lebih dalam!"

Penglihatan2 itu berubah. AKu berjuang mengartikannya. Walaupun malam itu panas dan pengap, rasa dingin menegakkan bulu-bulu di lenganku. Seorang pria, sendirian, berdoa di taman. Pedang-pedang. Sebuah salib. Tidak! 
(hal. 427-428)


***


Percakapan kedua yang saya kutip adalah adegan ketika Claudia berbincang-bincang dengan Herodias, istri Herodes di istananya. Adegan ini benar2 sangat menambah pemahaman saya mengenai kematian Yohanes Pembaptis dari sudut pandang orang Romawi.

"Bisakah kita berbagi sofa makan? Hanya kita berdua?" Saran Herodias. "Setidaknya untuk sebagian dari perjamuan. Biarlah para pria membincangkan pembicaraan membosankan mereka di sofa mereka sendiri di samping kita. aku ingin mendengar tentangmu."
Tapi Herodiaslah yang banyak berbicara.  Dengan mengabaikan kira-kira 100 tamu lainnya, dan juga mengabaikan prosesi penari, penyanyi, penjinak ular, dan pelahap api yang beraksi di depan kami, ia berceloteh tanpa henti. Untunglah suara parau berat sang Ratu enak didengar. Ia punya pendapat menyegarkan mengenai segala hal: Kerajaan Romawi, busana, pengasuhan anak---terutama putri tertuanya, Salome. 

"Sulit dipercaya kau punya putri yang siap menikah," kataku, ketika Herodias akhirnya berhenti sejenak untuk meneguk anggur. 
"Oh, memang, kau akan melihatnya nanti. Malam ini Salome akan menari sebagai hadiah istimewa untuk ayah tirinya."
"Apakah kau dan Herodes punya anak?"
"Tidak." Herodias memberengut. "Kata orang2 Yahudi fanatik, itu hukuman atas 'dosa' kami. Pikiran mereka begitu picik, begitu tak adil. Bagi mereka, tak apa-apa jika Herodes menceraikan istrinya. PRia bisa melakukan itu kapan saja ia mau. Tapi, ketika aku menceraikan suamiku, saudara tiri Herodes---pria terkutuk yang sama sekali tak menyerupai Herodes----mereka menyebutku Izebel. Adilkah itu?"
"Tidak," kataku. "Tapi bukankah suamimu itu juga pamanmu?"

Herodias mendesah dengan tak sabar. "Kurasa itu sedikit melanggar peraturan, tapi kami keluarga yang berkuasa. Tentu kami punya hak untuk berbuat sesuka hati kami."
"Sebagian besar penguasa melakukannya," kataku mengiyakan.
"Aku begitu gembira kau mengerti. SIapa peduli soal hukum kuno yang ditulis ratusan tahun lalu! Kita hidup di masa kini. Tak ada orang lain yang peduli, seandainya bukan pembuat kotoran yang terkutuk itu."
"Siapa maksudmu?"
"Pasti kau sudah mendengar tentang Yohanes Pembaptis?"
"belum," kataku menggeleng. 

"Ia makhluk liar dari padang pasir dengan rambut kotor acak-acakkan, tapi orang berbondong-bondong menjumpainya. Mereka meninggalkan kapal mereka, domba2 mereka, kebun anggur mereka---semuanya. Bagaimana mungkin suamiku bisa memerintah negeri seperti itu? Aku mendesak Herodes menangkapnya, tapi para penasihatnya mengkhawatirkan adanya pemberontakan. 'Yohanes pria yang baik,' kata mereka. 'Ia tak memberikan ancaman berarti.' Jadi, disanalah ia, hari demi hari, memandikan orang di tengah belantara----daerah yang ingin dijajah suamiku."

"Pasti itu hanya kesenangan sesaat. ORang begitu cepat mengikuti apa saja yang baru. Memandikan orang pasti sesuatu yang baru. Tapi sebelum kau menyadarinya, mereka akan berpaling pada sesuatu yang lain."

"Itulah yang dikatakan Herodes selama beberapa saat---ia begitu toleran. Tapi kemudian Yohanes yang mengerikan ini mulai berbicara soal aku. Soal aku!" Mata Herodias berkilat ketika ia meletakkan anggurnya dengan keras. "Herodes sangat sabar, tapi aku tak bisa membiarkan nama baikku dicemarkan dengan cara seperti itu. Pasti kau bisa mengerti?"

Aku menggigil, merasakan datangnya peringatan. "Apa yang kau lakukan?"
"Yohanes sekarang berada disini, di penjara bawah tanah istana, menunggu untuk diadili. Herodes memikirkan hukuman cambuk, diikuti oleh pengasingan. Tapi itu terlalu lunak. Aku ingin menenggelamkan kepalanya dalam air mandinya sendiri."

Rasa menggigil itu lagi. Tanganku sedikit gemetar ketika mengambil piala anggur yang ditawarkan kepadaku oleh anak berkulit putih dengan pipi dicat dan gaya berjalan gemulai.Tepat pada saat itu, para pelempar obor yang sedang menghibur kami pergi. Sejenak obor-obor meredup. Gendang dibunyikan, lalu para pemusik mulai memainkan musik yang belum pernah kudengar sebelumnya.

"Ah, putriku Salome," Herodias menunjuk dengan bangga.
Semua cahaya benderang ketika seorang gadis, dengan tubuh berlekuk dan sempurna, muncul. Kemiripannya dengan Herodias tak diragukan lagi. Ketika penari seksi itu berputar di depan kami, kostum tembus pandangnya mengembang bagaikan kelopak2 bunga eksotis. Salmoe menukik dan bergoyang mengikuti irama menggairahkan itu, bergerak semakin mendekat.... 
(hal. 441-444).


kemudian diikuti dg cerita Salome menari di depan Herodes dengan begitu sensualnya....begitu menggoda, sampai2 Herodes kepincut dan berkata, 

"Apapun yang kau minta Salome, akan kuberikan kepadamu, bahkan setengah dari kerajaanku."

Aku dan Pilatus bertukar pandang. Herodes tak punya kerajaan yang bisa diberikan tanpa persetujuan Roma.

Salome bergerak menuju sofa yang diduduki olehku dan Herodias. "Apa yang harus kuminta, Ibu?"

Herodias membisikkan beberapa kata yang tak bisa kutangkap. Gadis itu terkesiap. Sejenak wajah Salome berubah pucat ketika menatap ibunya. Herodias berbisik lagi. Senyuman mengembang di bibir penuh Salome. Kedua tangannya bergerak menuju pinggul dan kembali dengan membawa ikat pinggang ringkih di jari-jari tangannya. Ia diam sejenak, lalu melemparkan hiasan eman murahan itu kepada Herodes.

Ruangan hening ketika penari itu bergerak mendekati sofa Herodes dan berlutut dengan anggun di hadapannya. Rambut tebal Salome tergerai di bahu, gelap dan mengilat seperti sayap gagak, dilatari kepucatan lembut kulitnya. Perlahan-lahan ia mengangkat kepala, membalas tatapan bersemangat ayahnya.

"Satu hal, dan hanya satu hal saja," katanya dengan suara parau lembut yang sangat menyerupai suara ibunya. "Beri aku kepala Yohanes, pria yang mereka sebut Pembaptis. Bawa kepala itu padaku di sini. Bawa kepala itu di atas piring perak."


***


Saya kagum dan penasaran, bagaimana Antoinette May bisa membuat buku tentang Claudia seperti itu. Dari mana fakta2 yang dia dapatkan?? Beberapa mungkin memang sesuai fakta, tapi sisanya?? Bagaimana dia bisa tahu nama-nama keluarga Claudia? Apakah itu hanya karangan belaka atau gimana?

Well, terlepas dari tulisan yang mengatakan bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena, saya rasa buku ini layak untuk dibaca hehe.

3 komentar:

  1. baca ini jadi penasaran. :p dah coba pinjem bukunya di perpus. oya trus nemu websitenya pengarang buku ini, http://www.antoinettemay.com/weblog/home.html

    menarik ...

    BalasHapus
  2. I saw the book last week in Gramedia bookstore, was thinking to buy it.
    But now I think Im gonna buy it :p

    Sepertinya harus dibaca pelan2 dan dinikmati ya.. hehe

    Thanks for the review !

    BalasHapus
  3. @Mr. E: Yes, harus baca pelan-pelan biar kita bisa meresapi konteks sosial dan politiknya pas itu. However, i found that there are many in the books which are not true according to the Bible... btw, ini Mr. E siapa yah?

    BalasHapus

hey guys, please leave your mark print here! it give me a boost to keep writing you know! ^^