About Me

Foto saya
A beautiful girl in His eyes. A girl with a BIG dream, BIG vision, with BIG passions for her town. Interested in a lot of things. Talkative and longing to travel in many new places. Is thinking hard what she can do to her country.

Rabu, 17 Agustus 2011

Happy Birthday, my country....

Kalo Indonesia ini bisa dipersonifikasikan alias jadi hidup, saya rasa dia akan menangis tersedu-sedu sampai tidak ada lagi air mata yang keluar. Mari kita sebut dia sebagai Ibu Ratih alias Ibu Merah Putih huehehe.
Yah, karena anak-anaknya masih suka "bertengkar" dan ribut-ribut sendiri. Padahal mereka semua lahir di rahimnya, di pangkuannya. Mereka juga dibesarkan dengan semua sumber daya alam yg ada dari dirinya. Mereka berpijak di tanahnya, mengelola tanahnya, makan ikan-ikan dan tumbuh-tumbuhannya, tapi mereka akhirnya berbalik semua menghkianati dia! 

Ibu Ratih sejak semula berusaha mengajarkan anak-anaknya untuk saling mengasihi, saling membantu, tepa selira dan tenggang rasa. Ajaran gotong royong, ewuh pakewuh, dan berbagai petuah serta nasihat lainnya sudah berusaha ditanamkan dalam diri putra-putrinya. Bahkan semua nasihat itu sampai diirikan oleh tetangga-tetangganya yang lain, seperti Bapak Brunei, Ibu Malay, Tante Vientiane, sampai ke Oom Belgy. Dalam waktu belajar yang berkisar antara setengah tahun hingga belasan tahun itu, mereka banyak belajar tentang kekayaan alam dan adat istiadat yang ada di tempatnya Bu Ratih. Tak heran bila mereka sering mengirim anak-anaknya untuk belajar di rumah Ibu Ratih. Tak jarang, anak2 itu betah dan kerasan sekali tinggal di rumah Bu Ratih sampai-sampai mereka menganggap Bu Ratih sebagai ibu mereka sendiri dan memanggilnya "Ibu", dan enggan pulang alias balik kandang ke rumah masing-masing. Banyak dari anak-anak orang itu yang menemukan tambatan hati dengan anak-anak Bu Ratih. Orang tua mereka pun sering memuji IBu Ratih karena rupa anak2nya yang begitu elok nan rupawan, dengan kelakuannya yang sudah terkenal akan ramah tamah dan kesantunannya.

Dulu, Ibu Ratih boleh berbangga hati mendengar semua pujian itu. Tapi sekarang ia hanya bisa tersenyum kecut!! Ia sekarang sudah dalam tahap skeptis dan pesimis yang kritis, akut, parah, kronis. Ia tak lagi yakin apakah dirinya masih sebegitu baik di mata para tetangganya, mengingat kelakuan anak2nya di dalam rumah yang sudah demikian parah dan menjijikkan. Bila ia teringat semua itu, ia hanya bisa menitikkan air mata. Anak2nya, yang kini adalah generasi ke-4 dan ke-5 dari anak2nya yang dahulu, telah mengkhianati makna perjuangan kemerdekaan yang dengan bercucuran darah dikobarkan oleh kakek dan neneknya. Para cucu dan cicit yang diliat Bu Ratih sekarang, adalah orang2 yg telah mengkhianati konstitusi negara ini. Mereka jadi politikus, bukan untuk mengabdi pada rakyat, tapi untuk diri mereka sendiri dan kepentingan partainya. Berpolitik bukan lagi pekerjaan yang noble atau mulia, tapi hanya sebagai pekerjaan sampingan, ato malah buat cari pekerjaan baru dari yg dulunya pengangguran. tak heran bila semua para cecunguk kecil itu menjadikan pekerjaannya sekarang sebagai ladang uang belaka. 

Kalau Bu Ratih mengingat tabiat atau watak anak2nya sekarang yg demen banget korupsi alias nilep uang rakyat, ia tak bisa tidur semalaman. Entah sudah berapa malam yang ia habiskan tanpa memejamkan mata sedikitpun. Padahal ya ia sudah berdoa siang malam tak putus2nya pada Tuhan YME, tapi anak2nya gak sadar juga. Padahal Tuhan juga udah kasih berbagai macam bencana, mulai yang dari alam sampai krismon dan kelaparan, eeeeh anak2nya ini bener2 tegar tengkuk dan minta digaplok habis2an.

Bu Ratih teringat akan salah seorang putranya yang dulu sangat ia banggakan, Sultan Sjahrir, perdana menteri (PM) pertama di Indonesia. Ia adalah PM, tapi mau duduk bersama di atas lapangan rumput bersama rakyat jelata, en nonton LAYAR TANCEP!!! Bu Ratih suka senyum2 geli sendiri kalo inget itu, tapi ia juga bangga. Ia juga rindu akan ketegasan putra pertama dan keduanya, Soekarno dan Soeharto, yang tanpa tedeng aling-aling berani menindak tegas dan menghukum sodara-sodaranya yang nakal. 2 putranya itu bahkan berani ngajak perang anak-anak tetangga lain kalo mereka berani berbuat macem-macem sama sodara sebangsa dan setanah airnya. Pada masa mereka, anak-anak tetangga itu ga ada yang berani lo ribut-ribut sama Bu Ratih. Sekarang, kelihatannya tidak ada lagi anak2nya yang bisa ia banggakan. Ia justru kerapkali bersedih en merasa nelangsa sendiri karena keturunannya yang duduk di takhta singgasana justru sering mengeluarkan komentar atau pendapat yang menyakiti hati rakyat!! 

Bu Ratih ingat berbagai perlakuan tidak senonoh yang pernah dia alami oleh para tetangganya. Berbagai budayanya tidak hanya satu atau dua kali diklaim oleh tetangganya, tapi berkali-kali!! Bahkan sekarang bukan hanya budaya yang terancam, tapi juga wilayah rumahnya yang luas banget itu yang letaknya bersebelahan banget dengan wilayah atau rumah tetangga. Kalau rakyat disitu diabaikan terus, jangan kaget bila nanti anak2nya yang tinggal disitu bakalan ngungsi dan minta diangkat anak sama ibu tetangga yang punya rumah.

Bu Ratih, kini sedang berduka habis-habisan kalau ingat kelakuan anaknya yang satu ini, Nazaruddin. Ia berduka bukan saja karena ia marah, tapi karena ia juga kasihan. Bu Ratih marah mengapa putranya yang satu itu mau2nya korupsi --- atau dimintai tolong buat ambil bagian dalam perbuatan hina dina itu --- di pembangunan wisma atlet SEA Games Palembang. Tapi ia juga kasihan, karena Bu Ratih tahu betul, anaknya itu hanya korban dari tangan anak2nya yang lain yang gak kalah bejat dan jahatnya. Putra2nya yang lain, dg kedudukan dan jabatan yang lebih tinggi, telah memanfaatkan si bungsu dan si cilik Nazaruddin ini habis2an. Tak heran bila Nazar merasa diperlakukan sedemikian tak adil oleh kakak2nya, perlakuan yg sungguh menista dan melukai harga dirinya sebagai seorang manusia. Karena yang salah bukan hanya Nazar saja. Akhirnya Nazar pun memutuskan untuk kabur ke luar negeri, walaupun berhasil ditangkep balik di negaranya Oom Colombus en dipulangkan ke Ibu Ratih. 

Huru-hara tak berhenti sampai disini, karena masih banyak ditemui kejanggalan dan keanehan disana-sini. Bu Ratih sungguh tak habis pikir, skenario apalagi yang sedang direncanakan anak2nya??? Sampai kapan rakyat, yang juga putra-putrinya, hendak dipermainkan dalam permainan bedebah ini?? Bu Ratih tak tahu apakah ia masih bisa mengharapkan cucu sulungnya, Susilo Bambang Yudhoyono, dalam mengurusi tampuk pemerintahan yang ia pegang. Soalnya cucu sulungnya itu selalu galau dan gundah gulana, malahan sering "dipermainkan" oleh adik-adiknya. Bahkan Susilo sendiri pernah curhat, kalau 50% dari perintah yang dia berikan itu tidak dijalankan oleh para ajudannya. 

Bu Ratih juga teringat akan keturunannya yang sedang berada di rumah para tetangganya: di Encek Singapore, Aunty Aussie, Uncle Sam, Uncle Holland, Tante Francais, Oom Germanio, sampai di Kung-kung Zhong Guo dan Pho-pho Nipon. Bu Ratih gelisah, anak2nya itu tak juga kunjung pulang ke ribaannya. Mereka sudah terlalu betah tinggal disana, dengan segala fasilitas mewah yang tersedia & mereka nikmati. Padahal, Bu Ratih sadar betul, bahwa masa depan generasi ini juga ada di tangan mereka. Sebagai cucu cicitnya yang berpendidikan tinggi, punya integritas dan idealisme, mereka bisa mengharumkan rumahnya lagi wangi seperti dulu. Sayang seribu sayang, rumah Bu Ratih kini sudah terlanjur busuk, busuk sekali. Sehingga ia cemas, jangan2 orang mendengar namanya saja sudah enggan berkunjung. 

Walaupun demikian, Bu Ratih pun sepenuhnya maphum (=paham), kalau keengganan putra-putrinya untuk pulang itu bukan dari salah mereka sendiri, karena anak2nya yang ada di rumah pun enggan untuk menyambut kepulangan dan kedatangan mereka!! Anak2nya, yang duduk di tampuk pemerintahan ini, tidak mau memberi fasilitas yang layak & memadai bagi adik2nya yg kini tengah merantau di tanah orang untuk melakukan riset dan penelitian di rumah sendiri. Uangnya sudah keburu habis dipake buat korupsi bow.... Dan ibu Ratih pun kembali mencucurkan air matanya bila teringat anak2nya yang lain, yang kini tengah mengabdi di pedesaan dan pelosok2 rumahnya sebagai guru, tenaga kesehatan, atau arkeolog, tapi nasibnya ga dipeduliin oleh para kakak di Jakarta. Aiiish, anak2nya yang di Jakarta itu emang sudah ga punya rasa lagi. Rakyat dibiarkan berjibaku dan main hantam sendiri demi mencari sesuap nasi. 

Akibat contoh kakak2nya itulah, anak2 Bu Ratih yang masih muda juga ikut-ikutan mencontoh perbuatan yang keliru alias sama ngawur dan ngesotnya. Misalnya, gemar pake dan beli produk bajakan. Mulai dari software di laptop mereka, sampai ke nonton VCD-DVD, musik, game, film, dll. Bahkan beli sepatu, tas, dan dompet serta jaket bermerk aja harus dibajak dulu! Bu Ratih sungguh ngeri membayangkan apa jadinya nanti kalo perbuatan anak2nya ini diketahui oleh para oom-oom dan tante-tante di negeri seberang, bisa2 mereka ditangkep dan dimarahin di rumah mereka. Betapa malunya bila hal itu terjadi!! Anak sendiri ditangkap, dihukum, dimarahi, dan dipermalukan oleh tetangganya!!

Bu Ratih merasa malu. Merasa gagal. Ia gagal mendidik anak-anaknya. Dan ia hanya bisa berdoa, serta menunggu lahirnya generasi baru yang sungguh-sungguh mencintai rumahnya sendiri dan berbuat baik untuk negeri ini.

***

Semalam, ketika saya habis pulang les kira2 jam 20.15 WIB, di perempatan lampu merah seperti biasa saya liat anak2 kecil yang ngamen, minta2 duit. Tapi yang berbeda, udara malam kemarin itu dingiiiin sekali. Bukan main, Bandung pas itu dingin banget. Dan salah satu dari anak kecil itu menangis. Usianya kira-kira 3 atau 4 tahun, tapi badannya kecil dan ringkih sekali. Ia dipangku kakak laki2nya yg berusia 6-9 tahun, ditenangkan dan dihibur-hibur. Jeritan dan tangisannya sungguh menyayat hati saya. Pas itu, saya naik motor sambil pake sweater hangat dan jaket fakultas yang lumayan tebal. Tapi anak-anak itu hanya pakai kaos dan celana pendek biasa, bahannya pun tipis.

Dan saya berpikir, "Di mana negara?? Katanya fakir miskin & anak2 terlantar dipelihara oleh negara...." 

Ibu Ratih benar. Tampaknya kita hanya bisa menangis dan meratapi kondisi rumah kita yang rusak!!

*** 

Tapi jangan berhenti sampai disitu. Ayo berdoa juga buat bangsa ini ya kawan-kawan.... :)

0 komentar:

Posting Komentar

hey guys, please leave your mark print here! it give me a boost to keep writing you know! ^^