About Me

Foto saya
A beautiful girl in His eyes. A girl with a BIG dream, BIG vision, with BIG passions for her town. Interested in a lot of things. Talkative and longing to travel in many new places. Is thinking hard what she can do to her country.

Minggu, 03 Juli 2011

Orang-orang pemberani

Sekarang2 ini gue lagi demen bikin artikel buat dimuat di koran-koran, seperti Kompas, Pikiran Rakyat, dll. Baru sedikit sih, so belum ada yang dimuat. But that's okay karena justru dari situlah gue semakin terpacu buat memperbaiki & meningkatkan tulisan gue hehe.

Hari ini gue baru buka email, en disana artikel yang gue kirimin ke Kompas dibalikin donk.... Tapi disertai juga dengan kritik en saran2nya yang membangun, jadi gue lempeng2 aja bacanya, yang jelas tidak merasa kecewa atau tertolak. Sebelumnya udah sering baca sih, kalo mo kirim artikel di koran, jangan bosan2 menulis.... janga bosan2 melatih tulisan. Gapapa juga ditolak berkali-kali, toh kita juga mencoba. En siapa tahu, tanpa disadari kualitas tulisan kita sudah membaik dengan sendirinya? Hohoho ^^
Di bawah ini gue copy paste tulisan gue yang dikirim balik oleh Kompas. Berhubung sudah ditolak, gue rasa gapapa untuk dimuat & dipublikasikan di blog sendiri :p Tulisan gue itu mengomentari soal pemancungan kasus Ruyati, TKW asal Cirebon di Arab Saudi en contek massal UAN SD yang diungkap Ibu Siami di Surabaya.


Orang-orang Pemberani

Berita kematian Ruyati yang dihukum pancung di Arab Saudi, keberanian Ibu Siami mengungkapkan contek massal yang terjadi di sekolah anaknya, adalah dua contoh yang menggambarkan bahwa rakyat kita sejatinya terdiri dari orang-orang yang pemberani. Di satu sisi, mereka berani untuk mengungkapkan kebenaran, sekalipun (mungkin) mengetahui bahwa untuk itu mereka harus siap dibenci dan dikucilkan orang banyak. Sedangkan di sisi lainnya, mereka berani mengadu nyawa dalam bekerja di negeri orang demi menghidupi keluarganya agar mampu keluar dari jerat kemiskinan. Selain itu, mereka juga orang-orang yang tetap tegar menghadapi hidup, sekalipun keadilan tampanya tidak pernah berpiha kepada mereka.

Ruyati, Darsem, dan 23 tenaga kerja wanita (TKW) lainnya yang sedang bersiap-siap menghadapi hukuman mati di Arab atau negara manapun, sebenarnya pergi ke negeri orang tanpa bermaksud membuat onar atau membuat repot negara ini. Tujuan mereka hanya satu: bagaimana mencari uang dengan cara halal demi menyekolahkan anak-anak mereka serta membebaskan keluarga dari jerat kemiskinan! Sekalipun peluang itu terdapat di negeri orang, yang sistim hukum, budaya, dan sosialnya sangat berbeda dari negara sendiri, mereka tetap maju tak gentar dan terus berjuang. Segala persyaratan, mulai dari harus membayar ini itu, pengurusan dokumen-dokumen, mau mereka lakoni sekalipun mereka adalah masyarakat yang notabene buta hukum. 

Setelah sampai di tempat kerja, mereka berusaha menyukakan hati majikan mereka dengan bekerja sebaik-baiknya. Namun apa daya, keterbatasan pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki membuat mereka menjadi sasaran empuk cacian dan pukulan yang bertubi-tubi oleh sang majikan. Kesabaran manusia ada batasnya. Untuk beberapa lama mereka rela menanggung siksaan fisik, verbal, atau seksual yang mereka alami, kadang dengan menutupnya sendiri rapat-rapat di dalam hati. Bila mereka tersandung kasus hukum karena membunuh majikan, kabur, mencuri, atau hal-hal lainnya, itu semata-mata karena mereka sudah begitu terhimpit dan terdesak atas perlakuan semena-mena yang mereka. Jelaslah mereka tak punya niat untuk menciderai, apalagi membunuh atau melakukan tindak kejahatan lain di negara tujuan! 

Di pengadilan, mereka tidak mendapat pembelaan yang adil. Sangat jarang mereka bisa menyewa pengacara, atau meminta bantuan hukum untuk mendampingi mereka di pengadilan. Sehingga dalam setiap persidangan, bisa dipastikan mereka tidak mendapat kesempatan yang sama untuk menuturkan kejadian yang mereka alami sebagai korban. Hukuman yang seharusnya mencerminkan keadilan, sebenarnya sama sekali bukan keadilan bagi mereka, karena keadilan dari sisi mereka tidak pernah diungkapkan di meja hijau tersebut. Sifat berani mereka tercermin dari keberanian menghadapi putusan pengadilan yang dijatuhkan atas mereka. Mereka tidak lari, karena, yah mau lari kemana lagi?

Sementara itu, Ibu Siami serta ibu-ibu lain dan para guru yang mengungkapkan keprihatian mereka atas kasus contek massal, juga berani dalam menghadapi konsekuensi akibat peranan whistle blower yang mereka mainkan. Mereka tahu, berbicara kebenaran seperti itu dan mengungkapkannya kepada publik sama sekali bukan hal yang mudah. Bayang-bayang akan dibenci, dikucilkan, diusir, bahkan diturunkan pangkat atau jabatannya, atau dimutasi ke daerah lain tentu terpikirkan, tapi nyatanya itu sama sekali tidak menghalangi niat mereka untuk menyuarakan apa yang benar.

Hal ini sungguh kontras dengan kelakuan para pejabat kita dengan segala pangkat dan kedudukannya. Dibandingkan dengan “para cecunguk kecil” ini, para pejabat bisa dengan licinnya mengelak dari tanggung jawab, enggan mengakui kesalahan bila tersandung kasus, saling lembar tanggung jawab, bahkan bisa membeli keadilan ataupun jalan-jalan saat sedang berada di balik jeruji besi. Dibandingkan dengan rakyat kita yang biasa-biasa saja dan tidak ada apa-apanya itu, para pejabat ini justru takut menghadapi kenyataan atau mengungkapkan kebenaran. Mereka takut untuk menanggung konsekuensi akibat perbuatan mereka, padahal perbuatan itu mereka lakukan dengan kesadaran yang penuh, berbeda dengan apa yang dilakukan para TKW atau murid-murid yang terpaksa berbuat sesuatu karena dalam keadaan terhimpit dan tidak punya pilihan lain. Para pejabat kita yang terhormat ini lebih suka untuk mencari hormat dan pujian dari orang lain, daripada maju ke depan dan mengakui bahwa dirinya telah melakukan kesalahan, kemudian mundur terhormat. Dibandingkan dengan rakyat, para pejabat kita lebih senang bungkam dan duduk diam-diam menikmati kebohongannya, karena kebohongan tersebut memberikan rasa aman dan zona nyaman bagi mereka. Mereka lebih peduli akan citra daripada kebenaran itu sendiri.

Dari uraian ini kita menemukan suatu ironi. Keadaan menjadi terbalik, pemimpin yang seharusnya bisa memberikan teladan keberanian kepada rakyat, ternyata justru sifat pengecut yang ditampilkan. Setiap hari kita disuguhkan dengan berbagai pernyataan abal-abal yang semata-mata hanya mempedulikan citra para pejabat! Para pejabat kita telah terlena dengan berbagai jabatan dan fasilitas yang mereka dapatkan untuk melayani diri mereka sendiri, dan bukan untuk melayani rakyat. Rakyat merasa dibohongi habis-habisan dengan setiap janji pemerintah. Pemerintah bisa berkoar-koar di luar negeri atas keberhasilan Indonesia dalam berbagai bidang, tetapi bila rakyat di rumah sendiri mengalami hal yang sebaliknya, itu sama saja dengan berbohong. Cobalah tanyakan dengan orang bule yang sudah sekian lama tinggal di Indonesia dan mengerti benar kondisi masyarakatnya. Mungkin  kita hanya bisa tertawa sedih saat menyaksikan pidato pemerintah yang bombastis itu. Di lain pihak, justru rakyat kecillah yang berani tampil dan menyuarakan kebenaran dan menjadi contoh bagi para pejabat. Tidakkah ini terbalik?

 Mungkin sudah saatnya para pejabat itu menempatkan diri mereka sebagai rakyat, atau lengser sejenak. Biarkan rakyat yang bersahaja yang memerintah dan memberikan contoh kepada para pejabat itu bagaimanakah seharusnya sikap pemimpin yang sejati itu. Pemimpin sejati adalah pemimpin yang mau ikut rekasa, yang melayani, dan bukan terus menuntut apa yang bisa mereka dapatkan. Tetapi, satu masalah masih menghantui: seberapa besar dan luaskah kekuasaan dan fasilitas yang harus diberikan kepada pemimpin itu agar mereka tidak terlena dan disalahgunakan? Itu yang menjadi soal penting yang harus dipikirkan oleh mereka-mereka yang masih peduli soal nasib bangsa ini, yang sudah di ambang kehancuran!

0 komentar:

Posting Komentar

hey guys, please leave your mark print here! it give me a boost to keep writing you know! ^^