About Me

Foto Saya
A beautiful girl in His eyes. A girl with a BIG dream, BIG vision, with BIG passions for her town. Interested in a lot of things. Talkative and longing to travel in many new places. Is thinking hard what she can do to her country.

Selasa, 12 April 2011

PERANG DUNIA 1 & Tujuan politik negara2 yang terlibat di dalamnya

Tujuan politik negara-negara yg terlibat dalam PD I sangatlah kompleks dan rumit. Semuanya memiliki kepentingan sendiri2 yg saling tumpang tindih dan susah dicari titik temunya pada saat itu. 

Austria-Hungaria: sehubungan dg terbunuhnya putra mahkota Austria-Hungaria (AH) Franz Ferdinand oleh anggota kelompok teroris Serbia, Gavrilo Princip, maka AH menggunakan kesempatan ini untuk menekan gerakan loyalis minoritas Serbia di daerah mereka, juga untuk memperlihatkan kekuasaan dan pengaruhnya di daerah Balkan. Saat itu, Austria dan Hongaria adalah satu kesatuan monarki dengan nama Dual Monarchy. Adanya gerakan separatis Serbia ditakutkan dapat meruntuhkan monarki tersebut, sehingga AH mengultimatum Serbia menyerahkan sang pembunuh untuk diadili, bila tidak ingin diserang. Penolakan Serbia tentu saja bisa menjadi dalih bagi Austri untuk menyerang. Tanpa diduga, Serbia mau tunduk pada tuntutan2 ultimatum dari Austria. Namun tetap saja Austria bersikap untuk siap berperang dg Serbia, apalagi setelah sekutunya, Jerman, berjanji untuk membantu Austria bilamana perang dg Serbia benar-benar terjadi. Hal ini karena sebelumnya Serbia sudah “wanti-wanti” dengan meminta bantuan Rusia, sekutunya, untuk membantunya apabila ia diserang Austria. Aliansi2 yang telah terbentuk sebelumnya antarnegara itulah yang sebenarnya memperburuk suasana dan memicu terjadinya perang, dimana masing2 pihak merasa punya konco untuk menemaninya berperang melawan pihak lain.

2.      Serbia: Serbia lebih menginginkan damai dengan Austria, dan bersedia untuk membuat konsesi/menuruti permintaan Austria. Dari faktor eksternal, kesediaan menerima ultimatum dari Austria ini cukup menguntungkan bagi Serbia, karena ia bisa mendapat simpati dari negara2 Eropa lainnya. Sayangnya, konsesi ini terhenti di tengah jalan. Serbia jelas tidak ingin sikap tunduknya terhadap Austria diartikan sebagai lemahnya kedaulatan mereka (dimana prinsip kedaulatan negara masih sangat kuat saat itu). Selain itu,  Perdana Menteri Serbia Nikola Pasic  juga dipusingkan dengan urusan krisis politik dalam negeri, ketegangan antara sipil dan militer, dan juga adanya kampanye pemilu. Konsesi damai dengan Austria diusahakan agar Austria tidak ikut campur urusan dalam negeri Serbia – yang merendahkan eksistensi negara Serbia – serta tidak ikut dalam investigasi pembunuhan tersebut. Dari faktor eksternal sendiri, ada tekanan dari Russia agar Serbia tegas dalam menghadapi Austria. Dalam hal ini, tujuan politik Serbia adalah demi memenangkan legitimasi dan dukungan dari dalam maupun luar negeri.


3.      Rusia: secara politik, Rusia lebih memilih perang. Ada 2 kepentingan yg hendak dicapai disini: di dalam dan luar negeri, dan keduanya saling berkaitan. Rusia masih ingat akan kekalahan yang memalukan dalam peperangan dengan Jepang tahun 1904 dan akan Krisis Bosnia tahun 190-09. Kedua hal tersebut sangat berpengaruh bagi peran Rusia (sebagai yang terbesar dari anggota Uni Soviet saat itu) dalam menjaga perdamaian dan kestabilan negara2 Balkan, dan masalah antara Serbia-Austria ini berpengaruh besar dalam menentukan kredibilitas Rusia, apakah masih mampu menjaga peran yang dimilikinya. Bila Rusia “kalah”, atau tidak bisa mempertahankan wibawanya, ia akan kehilangan wibawa dan simpatinya di mata rakyat dan akan terjadi goncangan politik dalam negerinya. Rusia (diam-diam) menginginkan keikutsertaan Inggris dalam peperangan ini, karena Rusia bersekutu dengan Prancis, dan Inggris sendiri bersekutu dengan Prancis (melalui “perjanjian moral” yang dibuatnya dengan Prancis untuk melindunginya dari serangan Jerman). Jadi, bila Rusia ikut perang, Jerman juga pasti ikut berperang, dan ujung2nya Inggris pasti ikut perang juga. Kekuatan perang Inggris yang besar, plus ia berada di pihak Rusia, dipastikan akan membawa kemenangan bagi pihak Sekutu ini, dan Rusia akan diuntungkan dengan memenangkan legitimasi di mata rakyatnya bahwa ia adalah negara yang kuat. Jelas bahwa saat itu, politik luar negeri yang asertfi dan agresif sangat dibutuhkan Rusia untuk menunjukkan bahwa dirinya tidaklah lembek.

4.      Inggris: keterlibatan Inggris sebenarnya merupakan rentetan masalah2 dari kejadian2 dan keputusan2 sebelumnya oleh negara lain. selain “perjanjian moral” untuk melindungi Prancis dalam menghadapi Jerman, Inggris juga menyadari bahwa kestabilan di Eropa sangat tergantung akan keterlibatannya dlm perang. Salah satu kejadian pemicu yang menyebabkan Inggris ikut perang, adalah diserangnya Belgia oleh Jerman. Inggris & Belgia telah 75 tahun mempunyai perjanjian, berdasarkan permintaan Raja Belgia saat itu, bahwa Inggris akan melindunginya dari serangan pihak luar. Jerman sendiri menginvasi Belgia karena itu adalah jalan/rute tercepat untuk menguasai Paris.

5.      Prancis: Prancis nih kasian banget deh, dia ga punya interest apa2 untuk ikut perang. Keterlibatannya dalam perang semata-mata karena ia terikat dengan perjanjian aliansi dengan Rusia, yang mengharuskan Prancis untuk ikut membantu apabila Rusia perang dengan Jerman (dan Prancis tidak ingin aliansi ini rusak). Prancis tentunya tidak ingin terjebak dalam sengketa Rusia-Jerman, dan dalam hal ini Prancis lebih menginginkan damai antara Austria-Serbia daripada perang. Tapi seandainya terjadi perang pun, Prancis lebih menginginkan total war, yang ditunjukkan dengan keterlibatan Inggris, daripada sekadar continental war antara Rusia, Austria, Serbia, dan Jerman.
6.      Jerman: di antara negara2 lain, mungkin Jermanlah yang mempunyai kepentingan politik yang saling tumpang tindih:
a.      Pertama, Jerman mempunyai perjanjian dengan Austria-Hongaria yang akan melindunginya dari segala bentuk mobilisasi Rusia. Kemungkinan Rusia terlibat perang sangat besar, setelah persetujuannya untuk membantu Serbia menghadapi Austria, mengingat kekuatan Austria jauh lebih besar daripada Serbia waktu itu.
b.      Kedua, Jerman ingin membendung ambisi Rusia akan “Great Prorgam”nya, yaitu menjadikan seluruh seantero Eropa masuk ke dalam kesatuan Uni Soviet.
c.       Jerman menginginkan, bahkan mendesak Austria, untuk bersikap tegas terhadap Serbia. Jerman bahkan mendukung tindakan militer Austria. Menurut Jerman, perang lokal antara kedua negara akan jauh lebih bisa menyelesaikan masalah sebelum masalah ini berlarut-larut menjadi lebih pelik. Mengingat Serbia bisa dengan mudah dikalahkan Austria saat itu, maka pemberontakan Slavik di negara-negara Balkan pun bisa ditekan, dan akan memperkuat aliansi Jerman-Austria. Selain itu, Jerman yang menegaskan bahwa dirinya mendukung Austria, diharapkan dapat menjadi senjata penggentar (detterence) bagi Rusia agar dirinya tidak ikut berperang.
d.       Keempat, dan yang menarik, adalah bahwa Jerman berspekulasi. Ia berpikir bahwa Prancis tidak cukup kuat secara militer dan ekonomi untuk membantu Rusia dalam peperangan. Penting diketahui bahwa dalam perjanjian Prancis-Rusia, Prancis hanya akan membantu Rusia, jika dan hanya jika Rusia merasa terancam langsung oleh Jerman. Karena itulah Jerman berusaha sebisa mungkin agar ia tidak bertindak agresif, dengan demikian yang terjadi adalah perang lokal antara Austria-Serbia. Bagi Jerman, perang lokal antara Austria-Serbia akan dengan mudah melemahkan pihak Sekutu (Rusia, Prancis, dan akhirnya Inggris) dengan menghadapi mereka satu persatu daripada menghadapi mereka sekaligus dalam perang kontinental ataupun perang total.
e.      Di dalam negeri sendiri, Jerman tidak ingin pengaruhnya sebagai negara besar di kawasan menurun, seingin dengan meningkatnya ambisi ekspansi Rusia. Apabila Jerman bisa menghandle situasi ini dengan baik, ia akan memberikan legitimasi yang kuat bagi rakyatnya dan kestabilan politik di dalam negeri. Namun demikian Jerman sendiri tidak segan-segan untuk mencemplungkan dirinya ke dalam peperangan, apalagi demi menghadapi Rusia. Dalam hal ini, preferensi Jerman adalah local war, continental war, baru kemudian world war.

Semua pertimbangan tersebut, sayangnya tidak terjadi. Spekulasi Jerman bahwa Prancis tidak akan membantu Rusia tidak terjadi (karena Prancis, bagaiamanapun lebih memilih untuk “setia” terhadap sekutunya), dan dengan demikian, Inggris pun ikut serta dalam perang.

Semua faktor di atas menunjukkan betapa rumit dan kompleksnya pertimbangan serta kebijakan politik suatu negara sebelum memutuskan untuk berperang. Semakin banyak aktor, semakin tinggi pula tingkat kerumitannya. Keputusan perang akhirnya diambil, karena keterbatasan para aktor untuk bertindak dalam hal politik, diplomasi, maupun kajian strategis.

0 komentar:

Poskan Komentar

hey guys, please leave your mark print here! it give me a boost to keep writing you know! ^^