About Me

Foto saya
A beautiful girl in His eyes. A girl with a BIG dream, BIG vision, with BIG passions for her town. Interested in a lot of things. Talkative and longing to travel in many new places. Is thinking hard what she can do to her country.

Selasa, 12 April 2011

Kesalahan AS dalam Menyerang Vietnam

1.      Letak kesalahan paling utama para pembuat keputusan di Amerika yang menjadi awal bencana bagi Amerika sehubungan dengan Vietnam, menurut tulisan McGovern, adalah keputusan Amerika yang secara gegabah memutuskan untuk berperang di Vietnam! Menurut McGovern, yang juga pernah menjadi calon presiden AS untuk periode 1972-1976, Amerika sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang Vietnam. Amerika tidak mengenal Vietnam: sejarahnya, kehidupan orang-orangnya, bahasanya, budayanya, geografinya, mental warganya, dan masih banyak lagi. Pendek kata, Amerika sama sekali tidak mengetahui sedikitpun mengenai karakter (medan) “musuh” yang hendak dimasukinya! Amerika hanyalah “berjudi” dan main untung-untungan (gambling)dalam hal ini. Tanpa sedikitpun memperhatikan atau mempelajari kondisi Vietnam, AS langsung melakukan tindakan militer dengan mengirimkan berbatalyon-batalyon pasukannya.

Alasan-alasan mengapa AS tetap bersikukuh untuk mengobrak-abrik Vietnam adalah sebagai berikut:
1.      Membendung pengaruh dan menyerang(counter attack) Jepang sebagai respon dari ambisi ekspansinya untuk berkuasa di Asia Selatan.

2.      AS ingin membangun sekutu dengan Prancis dan negara-negara Eropa Barat lainnya untuk membendung pengaruh paham komunisme Soviet. Apabila mereka mempunyai aliansi yang kuat di Eropa, maka merekapun akan mampu untuk mempunyai aliansi yang kuat pula di wilayah-wilayah laain. Karena itu, AS memutuskan untuk membantu Prancis dalam memerangi perlawanan rakyat Vietnam dan juga negara-negara Indochina lain (Laos dan Kamboja) yang saat itu masih berada di bawah jajahan Prancis. Persepsi Amerika bahwa semua paham komunis berasal dari Soviet, dan bahwa Beijing (China) memainkan peranan yang signifikan di negara-negara Asia Tenggara, masih sangat kuat dan AS ingin sekali menghentikan hal tersebut.


3.      Faktor individu dalam perubahan kepemimpinan AS. Saat AS masih di bawah kepresidenan Franklin Delano Roosevelt, beliau bisa dikatakan sebagai orang yang cukup mengerti Vietnam dan wilayah Asia Tenggara lainnya. Perkataannya mengenai Vietnam, yang dikutip dari tulisan McGovern adalah:

“The French have milked that area [Vietnam] for one hundred years [sejak tahun 1958]. The people of Vietnam deserve something better.” Roosevelt menginginkan agar negara-negara di Asia Tenggara berada di bawah Dewan Perwalian (Trusteeship Council) PBB selama dalam masa transisi, lepas dari negara penjajahnya menjadi negara yang merdeka. Bahkan, Roosevelt, bersama Churchill dan Stalin adalah orang yang memprakarsai dibentuknya PBB melalui piagam Atlantic Charter. 

Sayangnya, Roosevelt keburu mati pada tahun 1945, dan digantikan oleh Presiden Harry S. Truman yang mengerti sedikit sekali mengenai wilayah Asia Tenggara. Truman lebih berfokus pada bagiamana menjadikan Prancis sebagai sekutunya daripada meneruskan ide-ide dan kebijakan Roosevelt mengenai Vietnam dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Ia menolak mentah-mentah permintaan bantuan dari Ho Chi Minh untuk melawan Prancis, padahal sebelumnya Ho Chi Minh mempunyai hubungan yang cukup erat dengan tentara-tentara AS dalam melawan Jepang.

Kesalahan fatal kedua yang dibuat oleh AS adalah sebagai berikut:  Konvensi Geneva yang terbentuk tahun 1954 untuk mengakhiri perang di Vietnam, menghasilkan adanya gencatan senjata di seluruh Vietnam, terbentuknya garis pemisah di 17˚ yang memisahkan Vietnam menjadi utara dan selatan, serta memerintahkan adanya pemilu untuk terbentuknya satu negara Vietnam. AS bukannya mendukung pemilu Vietnam, malahan mendukung kelompok separatis Vietnam atau Viet Minh untuk menolak pemilu tersebut. Yang ada di pikiran AS, adalah bahwa dengan pemilu pun, paham komunis akan tetap berkuasa, dan AS sangat tidak ingin hal itu terjadi. Jadi, menurut pikiran “gendeng” AS adalah bahwa pemilu itu tidak sah, tidak valid, sampai paham demokrasi benar-benar bisa ditegakkan disana, sekalipun mungkin pemilu itu diikuti dan didukung oleh seluruh rakyat Vietnam. Hal ini adalah sesuatu yang disesali oleh McGovern, lantas untuk apa AS susah payah memperjuangkan Konvensi Geneva bila pada akhirnya AS menentang sendiri keputusan Konvensi tersebut??!

Kesalahan ketiga yang dibuat AS, adalah bahwa AS gagal belajar dari pengalaman masa lalu. Saat Pakta Munich tahun 1938 berlangsung, pihak Sekutu, terutama Inggris dan Prancis, “mengizinkan” Hitler untuk mencaplok sebagian besar wilayah Czechoslovakia/Ceko, jauh melebihi perjanjian sebelumnya dimana Ceko secara sukarela setuju untuk menyerahkan sebagian wilayahnya (Sudetenland) berada di bawah protektorat Jerman. Anggapan Sekutu saat itu adalah perjanjian tersebut dapat memuaskan sebagian hasrat Hitler, dan berharap agar Hitler tidak lagi meneruskan ekspansinya di seantero Eropa. Siapa sangka Hitler justru menjadi semakin rakus atas ambisinya itu!

Sehubungan dengan hal tersebut, AS lagi-lagi salah besar dalam mempersepsikan Ho Chi Minh sebagai seorang Hilter Asia. Ho Chi Minh memang seorang komunis, walau demikian ia adalah seorang nasionalis Vietnam sejati yang sangat dihormati, didukung, dan mendapat legitimasi oleh rakyat Vietnam. AS, yang saat itu di bawah pemerintahan Nixon, juga salah mengira bahwa konflik Vietnam adalah tindakan agresi atau invasi Vietnam Utara ke Selatan, seperti halnya invasi Jerman ke Ceko. Padahal yang terjadi di Vietnam hanyalah pertarungan dua kelompok yang saling berebut pengaruh dan kepemimpinan di Vietnam: yaitu mereka yang berjuang melawan Prancis dan menginginkan kemerdekaan Vietnam, dan kelompok yang murni memberontak karena ketidaksukaan terhadap pemerintahan Vietnam Utara (di bawah Presiden Ngo Dinh Diem saat itu). Konflik Vietnam murni berupa perang sipil antara kelompok-kelompok domestik yang berseteru, yang sebetulnya sama sekali tidak membutuhkan intervensi militer AS. 

AS juga begitu panik akan terjadinya efek domino yang bisa menjalar di seluruh Asia Tenggara, yaitu bila Vietnam jatuh ke tangan komunis, maka akan diikuti oleh negara-negara lainnya, mulai dari Thailand, Filipina, Indonesia, Amerik,a Jepang, hingga merembet ke Hawaii dan San Fransisco. Itu semua benar-benar ketakutan yang sungguh tidak logis dan berlebihan, yang mengakibatkan 550.000 prajurit AS mengadu nyawa di Vietnam dengan kondisi geografis dan taktik perang gerilya yang sama sekali tidak mereka kenal. AS juga berpandangan, bahwa China saat itu adalah negara yang berperan sebagai agen atau antek Soviet untuk menyebarkan komunisme di Asia. Asumsi Amerika bahwa dengan memenangkan Vietnam, pengaruh China bisa dihentikan, juga salah sama sekali. Menurut McGovern, satu-satunya musuh yang paling dibenci Vietnam dibandingkan yang lain, jika ada, adalah China! Hubungan keduanya tidak pernah mulus, sejak China mulai melancarkan pengaruhnya di bawah kekuasaan Shih Huang Di pada tahun 221 SM. Peperangan melawan China telah berlangsung selama ribuan tahun bahkan pada tahun 39 setelah masehi, jauh sebelum Barat mendengar kata Vietnam. Bahkan begitu AS hengkang dari Vietnam, perang lokal yang terjadi adalah antara China dan Vietnam.

Keterlibatan AS di Vietnam bisa dipastikan, hasilnya kacau balau. Ratusan ribu prajurit AS terbunuh sia-sia di medan perang, bahkan masih banyak yang masuk dalam kategori MIA (Missing in Action) dan hingga sekarang belum jelas keberadaannya. Ratusan milliar dollar AS juga terbuang dengan percuma untuk membiayai perang di negara yang kepentingan AS bisa dikatakan minimalis di dalamnya, dan sangat nggak penting banget gitu deh.... 


*****
Sumber bisa kalian dapatkan di: 
  • Patrick J. Hearden, ed. Vietnam: Foru American Perspectives, 1990. USA: Purdue University Press, West Lafayette, Indiana.
  • Leroy Thompson, Regged War: The Story of Unconventional and Counter Revolutionary Warfare, London: Arms & Armour, 1994, Bab 3 mengenai Vietnam
  • Andrew F. Krepinevich, Jr. The Army & Vietnam, 1986. Baltimore & London: John Hopkins University Press, bab 6, "A Strategy of Tactics"

0 komentar:

Posting Komentar

hey guys, please leave your mark print here! it give me a boost to keep writing you know! ^^